raditya dika dan pertanyaan trivia quiz-nya

Sore itu, Raditya Dika, si penulis komedi, datang sambil tersenyum malu-malu kucing ke kubikel saya.

Tata, salah satu anak Bukune yang ada di depan saya sudah menahan senyum sejak tadi. Sebelum Radith menghampiri kubikel saya, Tata sudah lebih dulu keluar dari ruangan Bukune dengan ekspresi menahan tawa. Tata menceritakan apa yang barusan terjadi di dalam.

Belum selesai saya mencerna cerita Tata, tawa membahana teman-teman Bukune dan tawa sumbang Radith terdengar. Lalu tak berapa lama, ia keluar dari ruangannya untuk menghampiri saya.

‘Mbak W, aku baru tahu loh yang soal si A dan si R,’ konfirmasinya. Cerita tentang si A dan si R ini ada di tulisan Note saya terdahulu yang berjudul ‘IS: Semua Mata tertuju Kepadamu’.

Saya mendelik. ‘Heh? Emang nggak pernah tahu?’ Kepercayaan diri saya mulai naik. Ternyata ada yang lebih kuper dari saya nih.

‘Nggak. Terus begonya lagi, aku tanya “Siapa si R itu” sama R-nya sendiri,’ terang Radith. Tawa Tata dan saya meledak berbarengan.

Radith garuk-garuk pantat.

***

Begitulah Radith.

Pembaca menganggap dia lucu. Saya dan teman-teman di Gagas-Bukune mungkin sudah tidak bisa lagi tertawa membaca tulisan Radith. Bukan karena tulisannya tidak lucu. Bukan. Tapi karena, in the real life, banyak hal tentang Radith yang lebih bisa kami tertawakan, meskipun saat itu jaaauuuh dari lucu. Dan Radith-nya pun tak bermaksud melucu.

Kalau saya ingat-ingat, ada banyak kejadian dengan Radith yang membuat perut saya sakit karena menahan tawa. Satu ketika, kami pernah melakukan perjalanan dengan mobil menuju Purwokerto untuk talkshow. Di dalam mobil, ada beberapa orang lainnya seperti Mas Fuad, Pak Tan, Pak Hikmat, Mbak Maurin, dan Pak Yayan

Ceritanya, kami harus bedol Montong 57 (markas besar kami) untuk mengisi acara di sebuah pameran buku yang diadakan Buka Buku. Di dalam perjalanan itulah terungkap kalau Radith sama sekali tak pernah tahu seperti apa rupa pohon salak. Kontan satu mobil tak percaya.

Namun, ekspresi bego Radith akhirnya membuat kami menerima kenyataan pahit itu. Radith tidak tahu pohon salak. Dan ia juga tak pernah tahu seperti apa pohon nanas.

‘Aku selalu berpikir nanas itu menggantung di pohon seperti mangga,’ tegasnya. Sampai sekarang, setiap kali ditanya tentang flora, dan dia tidak tahu rupanya, Radith selalu menjawab, ‘Lagian apa pentingnya coba tahu pohonnya kayak apa?’

Uji pengetahuan ini ternyata masih terus berlanjut. Hari terakhir di Purwokerto terungkap pula sebuah fakta. Selama ini Radith mengira, Purwakarta itu Purwokerto. Layaknya orang Jawa, a itu dibaca o. ‘Iya, kan, Mba W?’ Ia berupaya mencari dukungan. Pastinya saya nggak hanya tertawa, tapi juga menggeleng dengan tegas.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Ia mengucapkan itu di atas panggung ketika talkshow. Kontan saja semua penggemar asal daerah Bayumas dan sekitarnya yang datang—jumlahnya ratusan—teriak protes. ‘Purwokerrrrtooooo!’

Radith terdiam. ‘Loh, bukannya sama?’ tanyanya kepada audiens.

‘Beeeeeedaaaaaa!’

Lagi, dia garuk-garuk pantat di atas panggung.

Selesai acara, Radith segera menarik saya dan Mbak Maurin menyingkir ke sebuah kafe. Dia masih terus mempertanyakan soal Purwokerto dan Purwakarta. Saya pikir di panggung dia sedang melucu. Ternyata dia serius.

Dan lagi, saya harus menerima kenyataan pahit itu. Pengetahuan geografi Radith cekak.

‘Mbak, emang beneran beda?’
‘Purwokerto di Jawa Tengah, Purwakarta masuk Jawa Barat,’ terang saya. ‘Ada lagi Purworejo.’
‘Heh ada lagi yang lain?’ Matanya mendelik.
‘Itu di Jawa Tengah, Dith. Deket Yogya. Sekitar 2 Jam kalau pakai mobil.’
Mukanya tetap nggak terima. ‘Kenapa sih kasih nama aneh-aneh. Aneh ya?’

Kali ini saya memilih nggak menjawab selain menahan kentut.

***

Saya bukan hendak mengumbar kebodohan-kebodohan yang dilakukan Radith. Radith itu pintar. Dan serius. Serta sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan ‘absurd’. Tapi karena serius itu saya dan teman-teman di Gagas-Bukune kerap tertawa. Buat kami, keseriusan Radith adalah lelucon.

Pernah, di sebuah kafe, masih di Purwekerto, saya, Radith, dan Mbak Maurin sedang makan sambil menikmati nyanyian sepasang penyanyi kafe.

Penyanyi yang cowok, berperawakan kurus. Kepalanya ditutupi dengan topi ala rasta. Kepalanya digerak-gerakan ke depan-belakang. Untuk ukuran tubuhnya yang kurus, topi yang ia kenakan membuat kepala terlihat jauh lebih besar dan tidak proporsional.
Kami semua diam. Tidak ada yang bercakap. Konsentrasi penuh menikmati hiburan yang ada di depan kami.

‘Kok kepalanya kayak deodorant ya?’ celetuk Radith tiba-tiba. Radith melihat ke arah penyanyi dengan mimik serius. Lalu ia menirukan gerakan kepala penyanyi itu sambil mengangkat sebelah ketiaknya. Memberi gambaran seperti apa kepala deodorant itu kalau dipakaikan di ketiak. *)

Saya dan Mbak Maurin tertawa terbahak-bahak.

Pertanyaan-pertanyaan dalam hidup Radith terus berlanjut. Seperti Dora, The Explorer, Radith juga terus melakukan eksplorasi untuk pengetahuan yang baru saja ditemukannya.

Misalnya, ternyata telur asin itu terbuat dari telur bebek.

Hari itu, tak biasanya ia datang awal. Saya yang lagi serius dengan laptop saya tiba-tiba dikagetkan dengan kepala Radith yang muncul dari sisi atas kubikel.

‘Mba W, aku baru tahu satu hal loh’ Senyumnya lebar terkembang.
‘Apaan?’ tanya saya melirik curiga. ‘Udah tahu bentuk pohon nanas?’
‘Belum,’ jawabnya kalem. ‘Tapi, aku baru tahu kalau telur asin itu dari telur bebek.’

Tawa kencang justru bukan keluar dari mulut saya. Tapi dari kubikel di belakang saya. Pak Luluk, si Pemimpin Redaksi AgroMedia, penerbit yang fokus banget soal agrikultur, termasuk peternakan. ‘Serius lo baru tahu?’ tanyanya sambil terus tertawa.

‘Iya,’ Radith menjawab sambil masuk ke kubikel saya lalu duduk di atas meja. Ia menatap Pak Luluk dengan serius. ‘Padahal aku suka loh makan telur asin.’

Entah kenapa, saya sudah tidak bisa terkejut lagi. Saya sudah sering bikin trivia quiz buat Radith. Dan rata-rata dia tidak bisa menjawabnya, kecuali ternyata dia tahu seperti apa rupa pohon tebu.

‘Emang kenapa sih harus telur bebek, Pak Luluk?’ Radith memasang mimik serius.
‘Karena untuk telur asin, telur bebek lebih enak.’
‘Nggak bisa pake telur ayam aja?’ Halllahhh, kali ini saya yang takjub.
‘Bisa, tapi rasanya nggak seenak telur bebek,’ jelas Pak Luluk sabar.

Radith manggut-manggut, tentunya kali ini tanpa menggaruk pantat.

***

‘The unexamined life is not worth living,’ kata Socrates. Hidup yang tidak boleh dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani.

Tentu saja saja, Radith punya cara dia sendiri mempertanyakan kehidupan yang dijalankannya agar berharga. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan trivia quiz ala Radith sukses membuat saya dan teman-teman di Gagas-Bukune bisa tertawa di antara jadwal deadline. (Well, oke, sebenarnya kami tertawa sepanjang hari untuk semua hal, kok!)

Omong-omong, apakah Radith tahu buah gandaria seperti apa? [13]

 

*) Bayangan tentang ‘Kepala Deodorant’ di ketiak ini bisa dilihat di komik Kambing Jantan karya Raditya Dika dan Dio Rudiman.
**) tulisan ini diposting atas izin Radith. ditulis pada juni 2009 dan diunggah ke facebook saya.

 

 

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

1 thought on “raditya dika dan pertanyaan trivia quiz-nya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *