baca-tulis

bocah-sawenduy-3
tiga anak pulau messah di taman bacaan pelangi sedang mengarang cerita yang gantian akan mereka bacakan kepada saya.
tiga anak pulau messah, kepulauan komodo, flores-ntt di taman bacaan pelangi sedang mengarang cerita yang gantian akan mereka bacakan kepada saya.

‘Bagaimana kamu bisa masuk ke dunia tulis-menulis?”  Pertanyaan sederhana dari Fiona, seorang kawan baru asal Australia beberapa hari lalu, membuat saya ditarik masuk ke masa silam dan membongkar-bongkar laci ingatan.

‘Saya pikir itu karena dua orang nenek dan seorang kakek saya,’ jawab saya cepat.

‘Bagaimana bisa?’ tanya perempuan yang pernah mengikuti pertukaran pelajar dan ditempatkan di Surabaya. ‘Kakek-nenekmu juga penulis?’

‘Bukan.’ Saya menimang-nimang untuk memulai cerita kepada Fiona dan Melissa. Keduanya datang ke Indonesia karena memenangkan sebuah kuis online yang berhadiah wisata ke Bali.

Lalu di sela-sela makan malam kami mulailah saya bercerita tentang orang-orang yang menjadi gerbang pertama saya berkenalan dengan dunia baca-tulis.

***

Seorang Pendengar dan Seorang Pembaca Kamus

Nenek saya seorang kepala sekolah dan guru Bahasa Indonesia. Ia seperti terobsesi agar semua cucunya masuk kategori kaum cerdik pandai. Sebelum duduk di sekolah TK, cucu-cucunya sudah harus pandai berhitung dan lancar baca-tulis. Sedangkan kakek saya, suaminya, adalah seorang pensiunan camat dan sangat gemar membaca. Cucu-cucunya, diharapkan membaca koran setiap hari dan tak pernah bolos menonton siaran ‘Dunia dalam Berita’ di TVRI. ‘Kalian harus tahu semua berita terbaru. Jangan jadi orang buyan,’ katanya. Dalam bahasa Melayu Palembang, buyan berarti dungu.

Nyek dan Yek—begitu saya memanggil nenek dan kakek saya—tak pernah menghilangkan aktivitas bermain dalam masa kanak-kanak saya. Hanya saja, untuk bisa bermain di luar rumah setiap sore hari, saya tak bisa semudah anak-anak lainnya.

Sepulang sekolah, selepas makan siang, dan sebelum suara teman-teman sepermainan terdengar memanggil-manggil nama saya ‘Windy… Windy… Windy’ dari balik pagar rumah, saya sudah harus merampungkan satu buku yang saya baca dengan lantang tanpa tersendat untuk nenek saya. Nyek akan duduk di kursi kebesarannya, mendengarkan saya membaca buku cerita itu sampai habis. Setelah itu saya baru diizinkan pergi bermain. Pulang bermain, sebelum makan malam, saya sudah harus selesai mandi dan duduk di ruang belajar untuk berlatih berhitung.

Lambat laun, buku yang harus saya baca pun habis. Sementara, waktu itu, jumlah buku cerita untuk anak belum sebanyak sekarang. Saya sudah berkali-kali membacakan dongeng ‘Keong Emas’, cerita ‘Pak Janggut’ di Majalah Bobo, Nina, Lima Sekawan, Tintin, Smurf, dan komik-komik lama perwayangan. Saya bahkan sampai hafal sehingga ketika membacakannya keras-keras, saya tak perlu lagi melihat halaman-halaman buku tersebut.

Nenek saya rupanya tak kehabisan akal. ‘Tiket’ saya untuk bisa bermain di luar rumah bersama teman-teman ditingkatkan. Saya tak lagi disuruh membaca, melainkan mengarang sebuah cerita setiap harinya untuk kemudian dibacakan. Ia tak pernah menyela atau mempertanyakan logika-logika ini-itu selama saya membacakan cerita-cerita karangan saya. Yang penting saya menulis cerita. Selesai membacakan cerita karangan saya baru diizinkan main bersama teman-teman. Entah itu berlari-lari di lapangan dekat rumah sewaktu main bentengan, turun ke got-got karena bermain petak umpet, memanjat pohon karena membayangkan diri adalah petualang yang sedang mengendalikan kapal api, masuk ke rumah-rumah tua terbengkalai mencari harta karun terpendam, menangkap belalang dan capung di padang ilalang untuk dipelihara.

Petualang-petualangan setiap sore bersama teman-teman inilah yang selalu saya olah jadi cerita untuk dituliskan dan dibacakan kepada Nyek besok hari. Saya ingat, cerita pertama karangan saya adalah kisah si pungguk yang ingin memetik bulan dengan memanjat pohon nangka tertinggi. Cerita ini terinspirasi dari permainan memanjat pohon nangka di pekarangan depan rumah. Saya berhasil memanjat sampai ke pucuk tertinggi dan ketika berada di sana, saya berpikir alangkah senangnya jika bisa sampai ke bulan hanya dengan memanjat pohon nangka ini.

Cerita soal pohon nangka yang menjulang mencapai langit berkembang karena setiap harinya saya harus membuat cerita baru untuk dibacakan. Berikutnya, saya bercerita tentang si petualang yang kelelahan dalam perjalanannya mencapai bulan sehingga ia memutuskan beristirahat di salah satu cabang pohon nangka. Ternyata di cabang itu tinggallah para peri madu. Para peri ini tak mengenal warna. Mereka tak paham mengapa si petualang sangat ingin memetik bulan. Dari si petualang lah para peri menjadi tahu soal warna-warna bunga yang kerap diisap madunya. Soal madu, saya tahu cairan manis ini pun gara-gara bibir saya jontor terantuk tiang ayunan sehari sebelumnya. ‘Sini dikasih madu biar kempes,’ kata Papa sambil mengoleskan madu ke bibir saya.

Petualangan untuk memetik bulan berlanjut. Para peri ingin turut. Mereka penasaran karena si petualang bercerita bahwa warna bulan seperti madu yang mereka isap, kuning keemasan. Kalau kalian bertanya bagaimana akhir cerita saya ini, saya sudah lupa. Namun, saya ingat betul judul ‘Si Pungguk yang Ingin Memetik Bulan’ adalah judul yang saya berikan lantaran Nyek berkomentar, ‘Ceritamu seperti pribahasa “Bagaikan pungguk yang merindukan bulan”.’

Apo itu artinyo—apa itu artinya?’ tanya saya sambil melulu melirik ke pagar rumah. Teman-teman sudah berdiri di depan pagar, menunggu saya diizinkan bermain.

‘Orang yang menginginkan sesuatu di luar kemampuannya.’

‘Jadi, aku beri nama Pungguk saja, ya, si petualang ini, Nyek?’

Pacak—bisa.’ Ia menjawab dengan logat melayu Palembangnya.

Semakin banyak saya bermain, semakin banyak cerita yang bisa saya karang untuk Nyek. Semakin rajin saya menumpuk cerita, itu berarti saya bisa bermain setiap hari.

Saya pikir, ini sama dengan apa yang saya jalani sekarang. Tulisan-tulisan yang saya buat adalah donatur utama untuk perjalanan-perjalanan yang  saya lakukan.

bersama anak-anak di desa salah satu desa yang berada di distrik suator, regensi asmat, papua barat, selagi menunggu kapal kayu yang kami tumpangi diperbaiki.
bersama anak-anak di salah satu desa yang berada di distrik suator, regensi asmat, papua barat, selagi menunggu kapal kayu yang kami tumpangi menuju kampung mabul diperbaiki.

Lain halnya dengan kakek saya. Yek adalah orang yang suka membaca koran, buku, dan kamus. Saya tak tahu mengapa di antara para cucunya, saya terpilih sebagai orang yang harus selalu membaca ulang berita-berita di koran yang sudah ia stabillo.

‘Wendy, kaubaca koran hari ini,’ begitu katanya selalu setiap pagi sehabis membaca koran di teras rumah. Saya akan duduk di dekat kakinya, membaca ulang bagian-bagian yang sudah diwarnainya. Soal saya yang dipanggil ‘Wendy’ akan saya cerita lain waktu. Namun, singkat cerita, nama saya adalah pemberiannya. Saya rasa ia sangat bersetia dengan cara baca bahasa Inggris. Ini baru saya sadari ketika saya tinggal di Cherokee, North Carolina, AS. Setiap kali saya menyebutkan nama saya ‘Windy’, petugas perpustakaan atau siapa pun yang sedang mencatat nama saya akan bertanya, ‘Windy dengan “E” atau “I”?’

Kakek saya juga suka mengajak berbicara berita-berita yang kami tonton semalam di ‘Dunia dalam Berita’. Ia akan memberi tahu mana berita semalam yang dibahas oleh koran pagi itu. Setelah koran, kami mulai akan membaca kamus. Ia akan mengajari saya beberapa kosakata bahasa Inggris dari kamus saku yang selalu disimpannya di kantong pakaian. ‘Namanya juga kamus saku,’ begitu katanya. Dari Yek juga saya belajar menggambar. Kami berdua suka duduk dan membuat sketsa-sketsa. Saya ingat, saya pernah sangat marah kepadanya karena ia mewarnai sketsa-sketsa hitam putih saya dengan pensil warna. Saya menangis, saya mengambek, dan saya melarangnya masuk ke kamar.

Setelah belasan tahun berpindah-pindah, saya kembali ke Palembang ketika melanjutkan kuliah di Universitas Sriwijaya. Saya dan Yek kembali berbagi aktivitas yang sama setiap pagi dan malam hari. Namun, ada satu aktivitas tambahan. Yek sangat suka membaca buku-buku mata kuliah politik yang ada di kamar saya. Ia lagi-lagi menstabiloinya sehingga saya mudah belajar. Sejak insiden saya melarangnya masuk ke kamar dulu, ia meminta izin agar diperbolehkan tetap membaca buku-buku yang ada di kamar saya. Saya akan meletakkan buku-buku itu di meja ruang tengah setiap pagi sebelum berangkat ke kampus. Malamnya, saya melihat buku-buku saya sudah penuh warna. Ia membuat catatannya sendiri yang diselipkan di setiap bab. Kakek saya bahkan suka bertanya apakah ada dari apa yang sudah ditandai muncul di soal ujian.

Yek adalah orang yang paling dekat dan berbagi banyak kemiripan dengan saya. Ketika ia meninggal, saya mengurung diri di kamarnya yang penuh buku catatan.

***

Seorang Pembelajar

para biksuni cilik di Yangon, Myanmar, membaca buku beramai-ramai selagi menunggu bus yang akan membawa mereka kembali ke wihara.
para biksuni cilik di Yangon, Myanmar, membaca buku beramai-ramai selagi menunggu bus yang akan membawa mereka kembali ke wihara.

Bila kedua orang pertama tadi pernah saya ceritakan beberapa kali di talkshow dan wawancara, nenek saya yang satu ini malah jarang.

Keluarga saya pindah ke Manado ketika saya masih duduk di kelas satu SD. Ketika pindah ke Manado, ada satu orang nenek saya yang ikut kami berpindah-pindah. Semua cucunya memanggil ia ‘Mamantet’, singkatan dari mama bontet. Bontet artinya kecil dan buntet. Ya, kira-kira sama dengan arti kata ‘kuntet’.

Mamantet adalah satu-satunya nenek saya yang buta huruf. Namun, ia orang yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki kemauan belajar tinggi. Saya lagi-lagi tak paham, mengapa dari semua cucunya, saya yang ditunjuk untuk selalu membacakan koran, berita kematian, surat-surat dari anak-anaknya yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, dan membacakan kisah-kisah dalam Alkitab selagi ia mengikuti kebaktian.

Seminggu sekali, setiap Kamis sore, saya akan kehilangan waktu bermain karena harus mengikutinya kebaktian. Mamantet seorang Katolik yang taat. Sebagaimana kebaktian berjalan, masing-masing peserta diminta membaca kisah-kisah dalam Alkitab. Sayalah pembaca kisah-kisah itu untuk dia, dan juga mewakili dia bila diminta untuk membaca. Kadang-kadang ada kertas doa yang diedarkan, setiap peserta mendapatkan giliran membacakan ayat-ayatnya, tugas sayalah yang membisikkan ayat-ayat itu ke telinganya untuk ia lafalkan agar didengar banyak orang.

Dari dia saya belajar, buta huruf bukan halangan untuk belajar.

Dan metode ini yang saya pakai sewaktu saya diminta mengajar menulis cerita di beberapa daerah di Papua. Beberapa peserta pelatihan penulisan kreatif buta huruf, pihak pengundang sempat gelisah dan baru menyampaikan hal ini sewaktu saya tiba di sana. Mereka kebingungan karena tak enak memulangkan yang buta huruf. Saya, saat itu, terkenang kepada Mamantet. Saya bilang, ‘Jangan disuruh pulang. Biarkan mereka ikut. Saya yang akan mengubah metode workshop. Kita akan belajar saja soal bercerita, baik tertulis maupun lisan.’

Saya minta waktu ke kamar kecil sebentar sebelum workshop dimulai. Padahal yang sebenarnya yang saya lakukan di kamar kecil adalah mencuri waktu untuk putar otak merancang metode-metode baru agar semua bisa terlibat dalam workshop penulisan kreatif ini sekalipun ia buta huruf.

Saat workshop berjalan lancar dan semua orang terlibat aktif, sesungguhnya lah hari itu adalah hari di mana saya yang belajar banyak. Mereka bercerita, mereka mengamati, mereka terlibat. Itu ruang kelas yang membawa saya belajar lebih jauh dan tak membatasi diri sendiri.

Mamantet adalah orang yang membuat setiap sore saya penuh dengan cerita. Saya akan membacakan semua berita di koran untuknya. Berita yang harus saya bacakan lebih dulu untuknya adalah obituary—berita kematian. Ia kerap bertanya berapa anak dan cucu yang dimiliki almarhum, berapa umur orang-orang yang ditinggalkan si almarhum, apakah ia memiliki gelar pendidikan, ada di mana saja anak-anaknya. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya harus memperhatikan obituary dengan cermat. Setelah obituary selesai, saya baru akan membacakan berita-berita di halaman depan. Ini pun ia banyak bertanya. Tugas saya mencari jawaban dari pertanyaannya di setiap paragraf berita yang saya bacakan.

Membutuhkan sedikit teknik mendongeng dan kemampuan menjelaskan bila yang sedang saya bacakan adalah karikatur karya G.M. Sudarta atau komik strip seperti ‘Panji Koming’ karya kartunis Dwi Koendoro. Saya harus menunjukkan gambar-gambar dan balon-balon percakapannya, lalu mendongenglah saya berdasarkan gambar-gambar dan apa yang tertulis di balon percakapan itu. Menjelaskan mengapa begini dan mengapa begitu. Mamantet akan mengamati karikatur atau komik strip lalu menunjuk-nunjuk balon percakapan sambil menceritakan ulang sesuai dengan yang saya sampaikan sebelumnya. Bila lancar, itu artinya ia paham. Kalau dia tertawa lebih cepat, maka itu pertanda sangat baik.

Pernah satu ketika saya pergi bermain tanpa membacakan koran untuknya. Hari itu saya kegirangan karena anak-anak kampung yang tinggal di dekat kompleks mengajak saya ke bukit dengan mengendarai kambing yang mereka gembalakan. Saya lupa dengan kewajiban saya. Kami bermain hingga matahari condong ke Barat dan suara vespa yang dikendarai Papa saya sayup terdengar memasuki kompleks. Bergegas kami dan kambing-kambing yang digembalakan turun. Saya masih ingat bagaimana tepi ilalang yang tajam menerpa sekujur tubuh dan wajah saya ketika kambing-kambing berderap menuruni bukit. Saya memeluk leher kambing yang menjadi tunggangan saya dengan erat karena takut jatuh.

Tiba di rumah, saya melihat Mamantet duduk di tepi jendela sambil membolak-balik halaman koran dengan wajah berkerut, seperti tengah mencerna jejeran huruf yang terbentang di hadapannya. Ketika melihat saya pulang dalam keadaan dekil dan tubuh penuh besetan, ia tak bicara satu patah kata pun. Ia melipat koran lalu masuk ke kamar. Ia juga tak mengadukan hal itu kepada papa saya. Sejak saat itu saya berjanji, saya tak akan keluar rumah sebelum membacakan koran hari itu untuknya.

Saya juga berhenti mengeluh dalam hati soal tidak bisa bermain setiap Kamis sore bersama teman-teman kompleks lantaran harus menemaninya kebaktian di mana pun itu. Saya tak lagi menatap iri anak-anak yang bermain di pekarangan selagi menunggu orangtua mereka kebaktian, sementara saya harus duduk di sebelah Mamantet selama kebaktian berlangsung.

Satu hari, seorang Sinterklas tiba di rumah saya. Di Manado, beberapa hari menjelang Natal, akan ada Sinterklas datang ke rumah-rumah membagikan hadiah untuk anak-anak yang dianggap baik. Sebenarnya, tentu saja itu karena pesanan orangtua mereka. Namun, di rumah saya, orangtua saya yang keduanya memeluk Islam tak melakukan hal itu. Mamantet pun ternyata tidak tahu-menahu soal ini. Jadi, kami kaget sekali ketika ada Sinterklas datang mencari saya. Ia membawakan sekotak hadiah berisi cokelat-cokelat enak.

Ketika Sinterklas itu memangku saya, barulah saya sadar kalau ia adalah Pastor Belanda—begitulah saya memanggilnya—yang sering memimpin kebaktian yang diikuti Mamantet. Ia dan rekan-rekan kebaktian Mamantet yang membuat kejutan ini. Saya masih ingat yang ia katakan ketika saya duduk di pangkuannya, ‘Ini hadiah dari kami semua untukmu karena selalu menemani Nenek Maria kebaktian, membacakan Alkitab, dan menuntunnya berdoa.’

Aktivitas ini berhenti saya lakukan setelah saya duduk di bangku SMA. Mamantet memutuskan tidak lagi mengikuti keluarga kami yang sering berpindah-pindah. Namun, setiap kali bercerita—entah itu di talkshow, di workshop, sesi diskusi, ataupun ketika sedang membacakan cerita untuk anak-anak, sebenarnya yang saya bayangkan adalah saya sedang menceritakan ulang apa yang saya baca kepada Mamantet, Nyek, dan Yek.

***

That’s wow,’ kata Fiona sehabis mendengarkan cerita saya.

‘Sekarang, sih, bisa menceritakannya dengan senang,’ sahut saya. ‘Tapi dulu, sewaktu menjalaninya, sebagai anak kecil, aku masih ingat bagaimana rasa kesal dan malasnya. Lambat laun, semuanya menjelma kebiasaan.’

di launching buku 'lembar-lembar pelangi' karya nila tanzil di rumah sabur bali, bersama nila dan riyanni djangkaru, kami membacakan cerita-cerita membangun taman bacaan pelangi di timur indonesia yang ada di buku tersebut.
di launching buku ‘lembar-lembar pelangi’ karya nila tanzil di rumah sabur bali, bersama nila dan riyanni djangkaru, kami membacakan cerita-cerita membangun taman bacaan pelangi di timur indonesia yang ada di buku tersebut.

Kalau ada yang bertanya siapa guru pertama saya mengenal dunia baca-tulis dan bercerita, maka mereka bertigalah orangnya. Seorang kepala sekolah sekaligus guru Bahasa Indonesia, seorang pensiunan camat yang gemar membaca kamus, dan seorang buta aksara yang selalu ingin belajar.

Untuk mereka semua cerita saya buat. [13]

 

 

 

 

 

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

13 thoughts on “baca-tulis”

    1. doakan bisa segera, ya! sedang lebih banyak mencurahkan waktu ke writingtable.club dan juga mengembangkan platform perjalanan iwashere.id. bisa kamu follow akun ig dan twitternya: @iwashere_id.

  1. Salam kenal Mbak Windy. Tulisan Mbak Windy renyah, mendayu-dayu. sampai ke hati. I like it.
    Aku juga suka buku karena pengalaman baca Harry Potter yg tebal itu. Mulai dari situ jadi suka baca buku.
    Klo nulis diary dari kecil juga tapi lupa dapet dari siapa. Mungkin dari ibu bapak guru, dulu waktu SD kan suka diberi tugas menulis cerita kalo lagi liburan (cerita ttg liburan, ngapain aja)

  2. Selalu takjub dan menginspriasi cara penulisan Mbak Windy, dan setelah beberapa tahun jadi penggemar baru tahu siapa guru-gurunya. Semoga kakek nenek selalu tenang disana. Salut buat mbak W..

    Btw kalo gak salah bukannya Mbak W pernah tinggal di Malang ya? CMIIW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *