menerjemahkan cantik

cantik itu sehat bermula dari mencintai diri.
tidak ada cantik yang sama.
tidak ada cantik yang sama. | kasan kurdi.

Tampil cantik dan menarik tak memiliki masa kedaluwarsa dan menua adalah bagian dari itu.

KAMPANYE #cantikitusehat yang digulirkan Ever-E250 baru-baru ini membuat saya teringat dengan obrolan soal cantik antara saya dan seorang jurnalis asing di Malaysia. Kepadanya saya menceritakan kisah seorang perempuan tua yang saya temui di sebuah salon langganan di Jakarta. Sebuah percakapan tak terduga yang banyak mengubah cara saya melihat diri dan menerjemahan cantik. Dari Oma—begitu saya memanggilnya—saya belajar bahwa diri yang dicintai akan selalu memberikan penampakan terbaiknya.

***

DULU, ada sebuah salon di daerah Benhil yang sangat sering saya datangi. Selain untuk mengurusi rambut, kesukaan saya kepada salon ini adalah karena pelanggannya beragam. Mulai dari anak muda hingga nenek dan kakek berusia lanjut.

Saya sangat suka duduk di dekat para pelanggan berusia lanjut, menguping percakapan mereka atau bahkan tak jarang ikutan menimbrung. Di salon ini, entah mengapa antarpelanggan bisa saling mengobrol meskipun baru bertemu dan memiliki latar belakang berbeda. Saya selalu beranggapan salon ini adalah sebuah melting pot. Si pemilik adalah seorang perempuan yang menjadi ‘pengikat’ kami semua.

Pergeseran saya melihat soal cantik dan menarik juga terjadi di salon ini melalui sosok seorang oma yang pagi itu menjadi kawan mengobrol.

‘Saya mau perawatan hari ini, ya,’ katanya kepada Tante N—begitu saya memanggil si pemilik. Tante tersenyum sambil mengarahkan Oma duduk di sebelah saya dan bertanya, ‘Oma ada acara apa? kok, pagi-pagi sudah ke sini?’

‘Ini hari ulang tahun pernikahan emas saya,’ jawabnya. ‘Sehabis misa sore nanti, kami sekeluarga akan makan malam.’

Mendengar jawabannya, saya menoleh lalu diam-diam menguping perawatan apa saja yang ia ambil. Oma di sebelah saya berumur sudah pasti di atas 70 tahun. Rambut putih peraknya tidak sepenuhnya menutupi semua bagian kepala. Selain creambath, Oma juga minta dirias tipis-tipis. Tak luput, paket perawatan kuku tangan-kaki serta lulur agar kulitnya tetap bersih dan sehat. ‘Saya mau anak-cucu saya lihat saya sehat dan terawat,’ tegasnya. Ia melirik ke saya. ‘Kamu perawatan apa?’

‘Rambut dan lulur, Oma. Saya habis keluyuran. Kulitnya dekil,’ jawab saya cengengesan sambil menjulurkan tangan yang warnanya cokelat gelap lantaran terlalu sering terpapar sinar matahari selama jalan-jalan.

bahagia itu cantik.
bahagia itu cantik. | peter.

‘Tapi bahagia, kan?’ Ia menimpali sambil melihat tangan saya. Saya kaget karena belum pernah seumur-umur ditanya segamblang itu oleh orang yang bahkan namanya saja saya tidak tahu. Oma menatap saya. Ia rupanya menunggu jawaban. ‘Iya,’ jawab saya tegas karena tidak punya jawaban lain.

Oma tersenyum. ‘Bahagia itu muncul karena kita menghargai hal-hal sederhana dalam hidup. Kulitmu cokelat karena kamu main ke daerah-daerah yang jauh? Tidak semua orang punya kemewahan itu. Tidak semua orang punya pengalaman yang kamu punya. Dulu, waktu neneknya Oma masih ada, dia selalu bilang, yang kulitnya cokelat pasti orang kaya.’

‘Kok? Kenapa, Oma?’

‘Karena bisa main ke tempat jauh.’ Oma adalah keturunan Belanda – Tionghoa. Dibesarkan oleh dua budaya itu, keluarga besarnya sering berpelesir pada musim panas untuk mencari udara hangat dan sinar matahari agar kulit mereka tidak pucat. Saya tergelak. Oma benar juga. Kulit cokelat saya adalah sesuatu yang seharusnya saya banggakan. ‘Yang penting kulitnya dirawat supaya selalu bersih. Oma aja masih rajin luluran.’

Saya mengamati kulit Oma. Titik cokelat terlihat di kulitnya yang pucat dan tak lagi kencang. Namun, entah mengapa, di mata saya Oma cantik. Ada lesung pipit tipis di pipinya saban kali ia tertawa. ‘Kebanyakan orang pasti mikir sudah tua, nggak punya rambut, kulit udah keriput, ngapain, sih, masih ke salon?’ Ia melanjutkan. Seorang pegawai salon sedang melakukan perawatan ke rambut Oma dengan sangat hati-hati.

‘Tapi saya memang pengin tahu, sih, kenapa Oma tetap rajin melakukan perawatan,’ tanya saya hati-hati.

Oma tersenyum. Ia bilang banyak orang yang tidak adil kepada dirinya lalu juga melakukannya kepada orang lain. Bukan hanya soal warna kulit atau bentuk dan ukuran tubuh yang menimbulkan diskriminasi dalam berpikir, tetapi juga usia.

Padahal, menurut Oma, merawat diri itu tak mengenal usia. Itu tanggung jawab kepada tubuh yang jadi kendaraan jiwa. Orang yang sudah berusia lanjut tetap harus merawat dirinya, baik raga maupun jiwa. ‘Oma melakukannya bukan untuk orang lain. Bukan untuk suami, anak, atau cucu, tetapi untuk Oma sendiri.’

merayakan usia, merayakan versi terbaik dari cantik.
merayakan usia, merayakan versi terbaik dari diri. | windy ariestanty

Saya menyetujui pikirannya. Kulit boleh berwarna apa saja—mau putih, kek; cokelat, kek; kuning langsat, kek, asal dirawat dengan baik. ‘Tubuh berhak dirawat, sama seperti jiwa. Mereka yang merawat jiwa, akan punya kesadaran merawat tubuh. Iya, toh?’ Sambil berkata itu Oma mesam-mesem sendiri melihat bayangan dirinya. Mbak yang menangani Oma jadi ikut senyum-senyum. Sayangnya, banyak orang suka merawat tubuh, tetapi tidak disertai merawat jiwa. Makanya, diskriminasi dalam “kecantikan” terjadi. Yang cantik, tuh, yang kulitnya cerah, yang langsing, yang rambut lurus, yang muda. ‘Kalau tua kayak Oma, nih, dan masih suka merawat diri, seringnya malah dikatain keganjenan.’ Kali ini ia tergelak mendengar omongannya sendiri.

‘Tapi ndak di salon ini, ya, Oma!’ Tante N menimpali dari ruang lain. Oma terkekeh. Saya yang awalnya menganggap ini akan jadi pembicaraan pengisi waktu di sela-sela perawatan diri jadi tercenung. Oma benar. Kalau dulu kita akrab dengan slogan ‘Di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat—mens sana in corpore sano’, maka jiwa dan pikiran yang sehat berada di dalam diri yang terawat. Cantik itu soal sehat jiwa dan raga.

***

cantik itu sehat bermula dari mencintai diri.
cantik itu sehat bermula dari mencintai diri. | kasan kurdi

USIA memang bukan untuk dilawan, melainkan dirayakan. Bukan pula untuk ditakuti, melainkan diterima sepenuh hati. Ia adalah angka yang berisi kumpulan pengalaman dan pengetahuan yang membentuk dan menampilkan versi terbaik diri kita hingga di titik sekarang. Ia adalah salah satu wujud kecantikan yang berproses bersama kita.

‘Diri yang dicintai dengan sungguh-sungguh adalah yang paling menarik dan cantik,’ kata saya mengutip resep cantik sehat versi si Oma kepada sang wartawati—sayang, saya lupa namanya.

Saya termasuk yang percaya bahwa kecantikan itu sesungguhnya selalu berkaitan dengan konsep kita mencintai diri. Tubuh sungguh tahu apakah dirinya dicintai dengan sungguh-sungguh oleh tuannya. Diri yang dicintai dengan sungguh-sungguh oleh pemiliknya akan menunjukkan penampilan terbaiknya, tak peduli berapa pun usia kita, apa pun warna kulit kita, atau pun seperti apa bentuk tubuh kita. Saya bahkan dengan sadar menghindari perkataan seperti ‘pengin rambut kayak si A’, ‘pengin kulitku kayak si B’, atau ‘pengin, deh, tubuhku kayak si C’. Kalimat-kalimat itu menunjukkan bahwa saya tidak mengapresiasi diri (dan tubuh) saya. Lantas bagaimana bisa diri yang tidak diapresiasi akan menunjukkan kualitas terbaiknya?’

Pikiran yang sehat membuat kita jernih dalam menerjemahkan banyak hal, termasuk tidak diskriminatif dalam soal kecantikan. [13]

 

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

20 thoughts on “menerjemahkan cantik”

  1. Lama juga tak membaca tulisan2 mbak Windy yang selalu menginspirasi, semoga terus memberikan pengalaman yang berbeda dari setiap tulisan walaupun hanya berdasar obrolan di salon tapi kalau dipahami ya isinya benar juga.

    1. hallo! terima kasih sudah singgah dan mau membaca unggahan terbaru ini. iya, sudah lama nggak ngeblog dan rasanya ngeblog ternyata masih sama: menyenangkan.

  2. kak W, selalu deh! tiap posting apapun selalu berhasil bikin tergugu. semoga selalu sehat, banyak melangkah dan bersenang-senang.

  3. Aku pun ikut tercenung baca statement dari Oma. Dan Kak Windy sukses menyampaikannya kembali kepada pembaca dengan baik. Suka banget sama diksi yang Ka Windy pilih.

    Soal mencintai diri sendiri, aku sangat setuju. Self-love itu perlu banget untuk tahu siapa diri kita, dengan begitu kita jadi tahu apa yg harus kita jaga dan potensi apa yg sebenarnya bisa kita maksimalkan.

    Terima kasih untuk postingan yang sangat menginspirasi ini.

    1. terima kasih banyak sudah mau singgah ke rumah 13: rewritten. senang kalau kamu menikmati unggahan terbaru ini. aku juga sewaktu menulisnya merasa senang hati.

  4. Oma keren! Cara berpikirnya sangat terbuka dan positif. Sepertinya banyak ketidakbahagiaan yang dialami sebagian orang itu bersumber pada fakta bahwa mereka suka membanding-bandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain. Padahal tiap orang punya keunikan masing-masing dan punya cerita hidup sendiri. Tulisannya bagus — topik yang dalam dibawakan dengan cara yang ringan dan renyah.

  5. Hatiku selalu hangat setelah membaca tulisanmu, Kak W.
    Terima kasih, melalui tulisan ini mengingatkanku kembali bahwa selalu mengapresiasi diri dengan tidak membandingkannya dengan kepunyaan orang lain.

  6. Hello Ka Windy, diriku bisa mampir kesini karna liat igstory Ko Alex aka Amrazing. Salam kenal Ka
    Izin repost kata-kata ini ka

    “USIA memang bukan untuk dilawan, melainkan dirayakan. Bukan pula untuk ditakuti, melainkan diterima sepenuh hati. Ia adalah angka yang berisi kumpulan pengalaman dan pengetahuan yang membentuk dan menampilkan versi terbaik diri kita hingga di titik sekarang. Ia adalah salah satu wujud kecantikan yang berproses bersama kita.”

    Terima kasih atas tulisan yang menginspirasi ini. ❤️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *