mencintai sampai mati

Ini tentang dia, cinta mati saya. Lelaki yang memiliki kebesaran hati seluas samudra, yang mencintai tanpa harap kembali.

PAPA saya (ingin) percaya bahwa pandemi virus corona akan berakhir April ini sehingga ia bisa mewujudkan perjalanan impiannya; kembali mengarungi samudra dengan menumpang kapal PELNI menuju Gorontalo. Ia menghabiskan sebagian besar masa baktinya sebagai jaksa di Sulawesi—bahkan menjadi jaksa masuk laut yang ditugaskan ke pulau-pulau terluar Nusantara, salah satunya di utara Indonesia—dan ingin melakukan pelayaran napak tilas.

Ia meminta saya mengatur perjalanan impiannya itu dan memastikan saya menemaninya. Ia ingin mengajak dua orang lain yang sangat bersetia kepadanya; pasangan suami-istri yang mengurusinya selama ini, Pak Bas dan Bu Atin. Saya mengecek jadwal transportasi, mengusulkan perjalanan dengan kapal laut ketika pergi dan kapal udara ketika pulang. ‘Itu menarik,’ ia menyetujui usulan saya.

‘Tapi, Papa harus sembuh dulu. Harus kuat. Kita tak bisa melakukan perjalanan ini kalau Papa masih lemah.’

‘Iya. Papa mau hidup hingga lebih dari 85 tahun.’

15 Januari 2021, kurang delapan tahun dari angka impian Papa, jiwanya terpisah dari hayat.

Cinta sampai mati. Pusara Papa-Mama. Mereka bertemu lagi dalam satu liang.

***

IA adalah orang yang paling harus bertanggung jawab atas segala rasa ingin tahu dan gairah saya menjelajah. Darat, laut, udara, untuk pertama kali saya kenali bersamanya. Di antara perjalanan-perjalanan kami, yang dulu sering saya gerutui, perjalanan dengan kapal laut memang sangat membekas. Ia ditugaskan ke Sulawesi Utara. Alih-alih memboyong keluarganya dengan kapal udara, ia memilih menaiki kapal laut. Saya masih ingat nama kapal PELNI yang kami tumpangi dari Tanjung Priok, Kambuna.

Di salah satu pelabuhan di Kalimantan dalam pelayaran ke Sulawesi. Papa, adik saya, saya, dan Mamantet.

Saya, setelah cukup dewasa, pernah bertanya kepadanya. Apa yang membuat ia memilih kapal laut, kereta api, bus, atau mengendarai mobil sendiri, daripada kapal terbang?

‘Agar kamu melihat lebih banyak.’ Karenanya, ia menyerahkan kewajiban mencatat apa saja di perjalanan kepada saya. Ada buku besar yang menjadi catatan perjalanan kami. Setiap hari saya harus menulis apa saja yang kami alami dan lihat. Dulu, saya melakukannya dengan malas-malasan. Sebab, kakak dan adik saya tak dibebani tugas itu. Sebelum tidur, saya harus menulis. Pagi hari, ketika sarapan, Papa selalu mengecek buku tersebut. Ia memastikan saya juga menulis detail waktu dan nama-nama tempat, orang yang kami temui, nomor kontaknya. SE-MU-A-NYA!

Ia melontarkan pertanyaan. Ini dan itu. Jika ada yang saya jawab ‘tidak tahu’, maka keningnya akan berkerut. ‘Papa minta kamu detail. Bagaimana bisa yang begitu saja kamu tidak tahu?’ Ia bilang, tidak apa-apa tidak tahu, tetapi pastikan kalimat tersebut diucapkan setelah semua upaya mencari tahu, bukan karena malas dan tidak detail, lalu memilih ‘tidak tahu’ untuk menyelesaikan.  Saya mengingat baik-baik hal itu, dan rasa-rasanya itu terbawa sampai sekarang.

Di atas PELNI, Papa membuat tur untuk anak-anaknya. Ia membawa saya turun sampai perut terbawah kapal hingga ke ruang kapten. Ia mengajak saya masuk ke area Kelas Ekonomi hingga Kelas Satu. Setiap pukul 8 pagi, ia mengajak saya berdiri di geladak kapal, menyaksikan ikan terbang berloncatan. Pada sore hari, kami sudah berdiri di buritan kapal, melihat lumba-lumba berlompatan mengekori alur putih buih, mengiringi kapal.

Jika makanan di meja kami bersisa, Papa menyuruh saya membungkusnya. Awalnya, saya malu melakukannya karena lirikan orang-orang di meja sebelah. Namun, Papa tenang-tenang saja. Sisa makanan yang dibungkus tidak dibawa ke kamar kami, melainkan ke area Ekonomi. Saya tak tahu bagaimana ia bisa berteman dengan orang-orang di sana. Ia bercengkerama kepada siapa saja secara alami. Lauk pauk yang dibungkus itu akan ia serahkan kepada mereka.

Ia selalu bangga memperkenalkan saya sebagai putrinya kepada orang-orang di kapal. Kapal PELNI berubah menjadi taman bermain buat saya. Setiap orang mengenali saya dan mengizinkan saya bermain di mana saja. Awak kapal suka memanggil nama saya, membagi cokelat ataupun penganan. Jika saya berjalan sendiri, mereka akan bertanya di mana Papa, lalu mengantarkan saya pulang ke kamar.

Setiap kali kapal berlabuh untuk transit, kami turun dan menjelajah tempat tersebut dengan menyewa angkot. Papa orang yang mengajari saya ‘membajak’ angkot berkeliling kota. ‘Sopir angkot adalah raja jalanan,’ jelasnya. Kata Papa, karena waktu singgah tidak panjang, maka ‘membajak’ angkot adalah cara efektif. Dan dia benar! Sopir angkot tahu jalanan serta jarang nyasar. ‘Kalau bisa duduk di sebelah sopir, duduklah di sebelahnya.’

‘Supaya apa?’

‘Supaya kautahu jalan dan berkawan. Biasanya, akan mendapat banyak cerita.’ Itu kiat lain dari Papa.

Kami berkeliling kota dan selalu singgah di dua tempat wajib: kantor Kejaksaan (karena ia harus melapor) dan pasar tradisional karena ia akan mencarikan makanan khas untuk kami cicipi. Setelah itu, kami kembali ke pelabuhan tepat waktu untuk menyaksikan riuh penumpang menaiki kapal.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

34 thoughts on “mencintai sampai mati”

  1. Mbak W, ikut berduka cita ya. Sebagai orang yang mengagumi tulisan-tulisan Mbak W selama ini, saya pun otomatis menaruh hormat setinggi-tingginya kepada pria yang berhasil membesarkan orang luar biasa seperti Mbak W. Semoga Beliau diampuni segal dosanya, dan segala ilmu yg diberikan kepada Mbak W menjadi amal yg tidak putus. Be strong, mbak.

  2. Halo kak W, banyak banyak terima kasih sudah mau membagikan tulisan dan ingatan tentang cinta matinya. Lewat tulisan ini, saya jadi tau beliau orang baik (dan tentu hebat) yang berhasil meneruskannya kepadamu sekarang. Saya mengamini kalimat kak W, ada papa dalam kak W sejak lama. Semoga terang dan damai selalu mengiringi.

    1. banyak terima kasih sudah mau membaca catatan yang dibuat dengan sekadarnya ini. saya hanya menulis apa yang terpikir, tanpa banyak berpikir. mungkin saya hanya butuh bercerita. semoga terang juga mengiringimu.

    1. Dari tulisan ini saya yakin ayah kak W adalah orang dan ayah yang baik. terimakasih sudah berbagi. semoga yg terbaik utk ayah dan kak W sekeluarga. semoga saya bisa jadi ayah kak W di keluarga saya.

      1. Semoga Alm. Papa mvak W diberi tempat yang indah. Sangat terharu membaca kisah cinta mati mbak W. Pasti ketika mengingat beliau ada rasa hangat di hati dan di pelupuk mata.

    1. aku terima kasih sekali sudah kamu temani melewati waktu-waktu itu. padahal, aku ingin sekali mengenalkan lunang kepada papa. aku sayang kamu juga!

    1. hai, v, lelaki ubud. selain peluk, belikan jug aaku rujak kuah pindang dan bebek betutu yang diungkep dalam sekam itu, ya. hahaha. banyak terima kasih, ya!

  3. Kak W, terima kasih untuk tulisan indah yang menceritakan betapa besar hati yang dimiliki oleh ayah Kak W. Semoga cerita tentang beliau bisa menyulut hati orang-orang untuk tetap menjadi orang baik. Semoga damai bisa mengiringi beliau dan juga mengiringi Kak W dan keluarga.

  4. Ahh aku hanyut dalam tulisanmu mbak.
    Dan berkali kali mbrebes mili, apalagi saat tiba di bagian malam Natal 24 Desember 2020.
    Selamat jalan papanya mbak Windy.
    Sugeng tindak Pak Sutrisno, swargi langgeng.

  5. mbak W, terima kasih tulisannya. ruang kosong itu akan tetap ada. dan karenanya, kita akan bersyukur. bersyukur menjadi anak Papa. lain waktu, jika rindu dan perlu dekapan Papa, masuk ke ruang kosong dan berdiam saja. niscaya, mbak W akan dipeluk erat. perlahan-lahan saja Mbak… nanti akan sampai masanya berjalan kembali. sehat-sehat ya.. ❤️

  6. Hallo… Mbak Wind…
    Aku turut berduka atas kehilanganmu… namun kagum atas segenap ketegaran yang kamu punya…
    Insyaallah Mama dan Papa Mbak Windy, telah berbahagia di tempat terindah yang Allah punya. Istajib Lana Ya Rabb.. Aamiin..

  7. Haii Kak W
    Papa dan kakak saya juga meninggal karna karna kecelakaan, dan mama saya pun melakukan hal yang sama, tidak membawa ke jalur hukum dan itu pelajaran hidup buat saya.

    Ternyata dulu waktu saya masih kecil papa pernah menabrak orang sampai meninggal dan papa saat itu harus sebentar ditahan, mama ketemu dengan keluarga korban dan meminta maaf, tau apa yang mereka lakukan ke mama?

    Dia ngasih mama uang sambil bilang, “Ini buat anak-anak sekolah karna masalah ini papanya ga bisa kerja kan, kejadian ini ga ada yang mau, kita berdua sama-sama korban”

    … Saya sangaaaat tersentuh dengan cerita itu, dan itu terulang dikeluarga saya.

    1. hai, silvi. terima kasih sudah menceritakan apa yang kalian alami. aku rasa, ada banyak orang berjiwa besar dengan cara-cara mereka. merelakan dan melepaskan memang kelas kita seumur hidup. kita mengenang dengan cara kita–bukan lantas disebut tidak rela. salamku untuk mamamu. semoga papa dan kakakmu pun beristirahat dengan tenang di tempat mereka semestinya.

  8. Mbak W, terima kasih banyak untuk cerita ini. Sebagai seseorang yang juga pernah mengalami kehilangan seorang Papa, saya banyak merasa tersentuh ketika membaca tulisan Mbak W.
    Cerita ini terus terang juga menginspirasi saya untuk kembali menulis, khususnya tentang Papa saya, supaya saya bisa terus mengingat memori-memori indah saya bersama Papa, bahkan mungkin bisa saya bagikan untuk anak-anak saya kalau saya punya anak nanti. Setidaknya mereka punya bayangan seperti apa sosok kakek yang dibanggakan ibu mereka.
    Saya turut berduka atas kepergian Papa Mbak W, tapi saya yakin Beliau sudah mendapatkan kedamaian abadi saat ini.

  9. Kak W terima kasih menulis ini. Saya jadi ikut merasa kehilangan dan nggak sadar pipi sudah banjir air mata. Papa Kak W sungguh baik, semoga beliau diberi tempat terindah di sisiNya. Peluk jauh.

  10. Turut berduka cita atas meninggalnya papa Mbak W, semoga diberikan tempat terbaik yaa.
    Terima kasih sudah berbagi cerita, ya, Mbak W. Sungguh terharu aku bacanya. Peluk hangat untukmu, ya.

  11. Mbak W. Terima kasih sudah menuliskan dengan baik tentang sosok papanya Mbak W. Tentang apa-apa yang sudah Mbak alami bersama beliau. Selebihnya, kami yang membaca tahu 2 hal; Papa mbak adalah sosok hangat dan menyenangkan lalu yang kedua Mbak W tumbuh dengan baik dari hal-hal itu. Turut berduka cita mbak. Terima kasih sudah berkenan berbagi cerita. Salam, Hera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *