mencintai sampai mati

DI ANTARA semua hal yang bisa saya ingat tentang Papa, persoalan kehilangan adalah yang paling buram. Kami seperti menghindari topik ini sejak kematian Mama.

Papa mungkin tak tahu, bahwa anak tengahnya tumbuh menjadi si pengamat, pengintai, dan penguping yang cukup ulung. Saya tahu apa yang ia tangisi di balik kamar, saya tahu seberapa kuat ia berusaha melepaskan dan mengikhlaskan semua. Saya tahu, betapa ia tidak baik-baik saja selagi berusaha baik-baik saja.

Sore itu mereka datang. Kakak dan adik saya di ruang atas yang memang diperuntukkan sebagai ruang belajar kami. Saya? Saya menyelinap turun dari tembok samping. Bahkan dalam gelap sekalipun saya bisa melakukannya karena hafal setiap pijakan di tembok yang harus ditapaki. Itu jalan rahasia saya meloloskan diri jika tak ingin belajar dan mau bersendiri.

Saban merayapi tembok samping, saya akan melewati jendela kamar tidur Papa. Lewat jendela itulah saya mengintip apa yang terjadi di kamar; Papa yang menangis sambil memeluk baju Mama hingga jatuh tertidur. Lorong kecil antartembok itu berujung di jendela ruang tamu, dekat teras. Di sanalah, saya mendengar apa yang dibicarakan mereka dengan Papa.

Mereka menangis meminta maaf. Papa, duduk dengan tenang tanpa ada kemarahan sama sekali, berkata, ‘Tangis kalian tak akan menghidupkan istri saya.’ Polisi yang menjadi penengah bertanya apakah jalur hukum yang akan Papa tempuh.

‘Apakah memenjarakan dia akan membuat anak-anak saya memiliki ibunya kembali?’

Papa memilih menutup kasus itu. ‘Saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh dengan mengingat, membenci, dan mendendam kepada orang yang menghilangkan nyawa ibunya.’

Di antara banyak hal, soal Mama memang terlalu rapuh bagi kami semua. Ia seperti bulu halus dalam genggaman. Terbuka sedikit saja, angin akan mudah meniupnya. Kadang, saya berharap, hati manusia bisa seperti pasir pantai saja. Kendati rapuh dan mudah retak, ia akan kembali seperti semula seusai disapu ombak. Dua minggu setelah hari itu, Papa baru keluar kamar, ‘terlihat’ seperti biasa, dan masing-masing dari kami pun menata hidup. Kami saling menjaga dengan tidak membicarakannya.

25 tahun berlalu tanpa pernah Papa tahu saya tahu. 25 tahun, bersama dia, diam-diam saya berlatih melepaskan dan memaafkan sembari memburamkan wajah-wajah mereka.

Foto Mama dan Papa yang saya temukan di dompet Papa.

24 Desember 2020, menjelang malam Natal, mata saya keruh oleh air mata. Saya gagal tidak menangis di hadapan Papa. Sehabis menyuapinya makan dan mengganti pakaiannya, kami berbicara tentang hal-hal tersisa yang dirasa penting. Tentang perjalanan impiannya, tentang orang-orang yang harus saya jaga, tentang ini-itu terkait hartanya, dan terutama tentang mencintai dan memaafkan.

‘Papa tahu, aku sayang sekali sama Papa.’

“Kenapa bicara begitu?’

‘Supaya Papa tahu.’

‘Papa tahu tanpa kamu bilang.’

‘Aku minta maaf kalau aku jadi anak yang menyusahkan Papa.’

Ia membesarkan matanya. Meraih tangan saya. ‘Jangan bicara begitu,’ suaranya bergetar. ‘Sebelum orang minta maaf, Papa sudah memaafkan. Papa justru merasa kamu tidak pernah merepotkan, tidak pernah bilang punya masalah apa dan butuh dibantu apa.’

‘Papa jangan mencemaskan aku.’

‘Papa tahu, kamu akan selalu baik-baik saja, tetapi tidak mungkin orangtua tidak memikirkan anaknya. Yang bisa Papa lakukan hanya menunggu kamu pulang.’  Ia menangis. Air mata saya kian bercucuran. Potongan memori masa kecil terpanggil kembali. Papa yang selalu punya cara-cara ajaib untuk menenangkan. Kebanyakan tanpa kata-kata.

Pada suatu malam, Papa menggendong saya yang berusia 6 tahun sambil menempelkan sebuah apel dingin ke pipi yang bengep karena gusi bengkak. Tangis saya berhenti. Dingin kulit apel yang menempel di pipi, punggung yang dielus-elus, dan tubuh yang diayun-ayun menimbulkan rasa nyaman. ‘Coba pejam matanya,’ bisik Papa.

Saya tertidur lelap dan terbangun di pelukan Papa. Ia duduk di kursi ruang tamu sambil memeluk saya semalamam. Kenangan itu membekas kuat dan menimbulkan kebiasaan. Saban saya merasa susah hati dan tak bisa tidur, saya kadang suka mencari sesuatu yang dingin di kulkas dan menempel-nempelkan permukaan benda itu di pipi.

Namun, malam itu berbeda. Yang sedang merasa kurang sehat dan tak bisa tidur adalah Papa.

‘Coba pejam matanya, Pa,’ kata saya sambil menyusut ingus. Matanya memandangi saya. ‘Papa kenapa tidak bisa tidur?’ Ia mengajukan pertanyaan yang saya sendiri tak punya jawaban pasti. ‘Karena seharian ini Papa tidur dan tidak banyak bergerak. Besok, kita coba jalan pagi. Mau?’

Ia mengangguk. Tangannya terulur meraih tangan saya, ia menekan-nekan, memberi tanda apa yang ia minta. Saya memijit tangan dan kakinya. Lalu, meraih tubuhnya, mengelus-elus punggungnya dengan satu tangan, seperti yang ia lakukan untuk saya sewaktu kecil. ‘Kamu jangan jauh-jauh,’ pintanya. Tak lama, dengkuran halus itu terdengar, ia pun perlahan tertidur dengan menggengam satu tangan saya yang lain.

Saya tidak tahu apakah saya, si pengamat, pengintai, dan penguping ini sudah menjadi anak yang baik untuk Papa. Namun, hal terpenting telah saya beri tahu langsung kepadanya. Sama seperti Papa, saya menyayangi dan mencintai dia tanpa harap kembali. Dan kepadanya saya selalu pulang.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

34 thoughts on “mencintai sampai mati”

  1. Mbak W, ikut berduka cita ya. Sebagai orang yang mengagumi tulisan-tulisan Mbak W selama ini, saya pun otomatis menaruh hormat setinggi-tingginya kepada pria yang berhasil membesarkan orang luar biasa seperti Mbak W. Semoga Beliau diampuni segal dosanya, dan segala ilmu yg diberikan kepada Mbak W menjadi amal yg tidak putus. Be strong, mbak.

  2. Halo kak W, banyak banyak terima kasih sudah mau membagikan tulisan dan ingatan tentang cinta matinya. Lewat tulisan ini, saya jadi tau beliau orang baik (dan tentu hebat) yang berhasil meneruskannya kepadamu sekarang. Saya mengamini kalimat kak W, ada papa dalam kak W sejak lama. Semoga terang dan damai selalu mengiringi.

    1. banyak terima kasih sudah mau membaca catatan yang dibuat dengan sekadarnya ini. saya hanya menulis apa yang terpikir, tanpa banyak berpikir. mungkin saya hanya butuh bercerita. semoga terang juga mengiringimu.

    1. Dari tulisan ini saya yakin ayah kak W adalah orang dan ayah yang baik. terimakasih sudah berbagi. semoga yg terbaik utk ayah dan kak W sekeluarga. semoga saya bisa jadi ayah kak W di keluarga saya.

      1. Semoga Alm. Papa mvak W diberi tempat yang indah. Sangat terharu membaca kisah cinta mati mbak W. Pasti ketika mengingat beliau ada rasa hangat di hati dan di pelupuk mata.

    1. aku terima kasih sekali sudah kamu temani melewati waktu-waktu itu. padahal, aku ingin sekali mengenalkan lunang kepada papa. aku sayang kamu juga!

    1. hai, v, lelaki ubud. selain peluk, belikan jug aaku rujak kuah pindang dan bebek betutu yang diungkep dalam sekam itu, ya. hahaha. banyak terima kasih, ya!

  3. Kak W, terima kasih untuk tulisan indah yang menceritakan betapa besar hati yang dimiliki oleh ayah Kak W. Semoga cerita tentang beliau bisa menyulut hati orang-orang untuk tetap menjadi orang baik. Semoga damai bisa mengiringi beliau dan juga mengiringi Kak W dan keluarga.

  4. Ahh aku hanyut dalam tulisanmu mbak.
    Dan berkali kali mbrebes mili, apalagi saat tiba di bagian malam Natal 24 Desember 2020.
    Selamat jalan papanya mbak Windy.
    Sugeng tindak Pak Sutrisno, swargi langgeng.

  5. mbak W, terima kasih tulisannya. ruang kosong itu akan tetap ada. dan karenanya, kita akan bersyukur. bersyukur menjadi anak Papa. lain waktu, jika rindu dan perlu dekapan Papa, masuk ke ruang kosong dan berdiam saja. niscaya, mbak W akan dipeluk erat. perlahan-lahan saja Mbak… nanti akan sampai masanya berjalan kembali. sehat-sehat ya.. ❤️

  6. Hallo… Mbak Wind…
    Aku turut berduka atas kehilanganmu… namun kagum atas segenap ketegaran yang kamu punya…
    Insyaallah Mama dan Papa Mbak Windy, telah berbahagia di tempat terindah yang Allah punya. Istajib Lana Ya Rabb.. Aamiin..

  7. Haii Kak W
    Papa dan kakak saya juga meninggal karna karna kecelakaan, dan mama saya pun melakukan hal yang sama, tidak membawa ke jalur hukum dan itu pelajaran hidup buat saya.

    Ternyata dulu waktu saya masih kecil papa pernah menabrak orang sampai meninggal dan papa saat itu harus sebentar ditahan, mama ketemu dengan keluarga korban dan meminta maaf, tau apa yang mereka lakukan ke mama?

    Dia ngasih mama uang sambil bilang, “Ini buat anak-anak sekolah karna masalah ini papanya ga bisa kerja kan, kejadian ini ga ada yang mau, kita berdua sama-sama korban”

    … Saya sangaaaat tersentuh dengan cerita itu, dan itu terulang dikeluarga saya.

    1. hai, silvi. terima kasih sudah menceritakan apa yang kalian alami. aku rasa, ada banyak orang berjiwa besar dengan cara-cara mereka. merelakan dan melepaskan memang kelas kita seumur hidup. kita mengenang dengan cara kita–bukan lantas disebut tidak rela. salamku untuk mamamu. semoga papa dan kakakmu pun beristirahat dengan tenang di tempat mereka semestinya.

  8. Mbak W, terima kasih banyak untuk cerita ini. Sebagai seseorang yang juga pernah mengalami kehilangan seorang Papa, saya banyak merasa tersentuh ketika membaca tulisan Mbak W.
    Cerita ini terus terang juga menginspirasi saya untuk kembali menulis, khususnya tentang Papa saya, supaya saya bisa terus mengingat memori-memori indah saya bersama Papa, bahkan mungkin bisa saya bagikan untuk anak-anak saya kalau saya punya anak nanti. Setidaknya mereka punya bayangan seperti apa sosok kakek yang dibanggakan ibu mereka.
    Saya turut berduka atas kepergian Papa Mbak W, tapi saya yakin Beliau sudah mendapatkan kedamaian abadi saat ini.

  9. Kak W terima kasih menulis ini. Saya jadi ikut merasa kehilangan dan nggak sadar pipi sudah banjir air mata. Papa Kak W sungguh baik, semoga beliau diberi tempat terindah di sisiNya. Peluk jauh.

  10. Turut berduka cita atas meninggalnya papa Mbak W, semoga diberikan tempat terbaik yaa.
    Terima kasih sudah berbagi cerita, ya, Mbak W. Sungguh terharu aku bacanya. Peluk hangat untukmu, ya.

  11. Mbak W. Terima kasih sudah menuliskan dengan baik tentang sosok papanya Mbak W. Tentang apa-apa yang sudah Mbak alami bersama beliau. Selebihnya, kami yang membaca tahu 2 hal; Papa mbak adalah sosok hangat dan menyenangkan lalu yang kedua Mbak W tumbuh dengan baik dari hal-hal itu. Turut berduka cita mbak. Terima kasih sudah berkenan berbagi cerita. Salam, Hera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *