shandong: tentang orang terbijak, tempat tersuci, dan seni bertanya (2)

kota tua weifang
kota tua weifang, ibukota layang-layang dunia.

Melayangkan Cerita, Melambungkan Budaya

Shandong bukan hanya tentang Konfusius dan daftar warisan dunia UNESCO. Shandong juga tentang upaya-upaya panjang merawat kebudayaan tua terus hidup tanpa tergerus zaman, di antaranya layang-layang dan kertas tahun baru di Weifang.

Ketika memasuki The Kite Museum di Weifang, ingatan saya berlari menuju ke sebuah pulau tua di Sulawesi Tenggara, Pulau Muna. Sejarah soal layang-layang berubah akibat ditemukannya lukisan cadas berusia lebih dari 4000 tahun di salah satu dinding gua di Muna yang menggambarkan aktivitas menerbangkan layang-layang. Layang-layang tertua di dunia ternyata tidak terbuat dari kertas dan tidak berasal dari Tiongkok, melainkan dari Pulau Muna, Indonesia dan terbuat dari daun kolope.

Continue reading “shandong: tentang orang terbijak, tempat tersuci, dan seni bertanya (2)”

shandong: tentang orang terbijak, tempat tersuci, dan seni bertanya (1)

salah satu bagian tembok raksasa (the great wall) di provinsi shandong. meskipun sebagain besar tembok sudah tidak utuh, tetapi kita masih bisa menyusurinya.
salah satu bagian tembok raksasa (the great wall of china) di provinsi shandong. meskipun sebagian besar tembok sudah tidak utuh, tetapi kita masih bisa menyusurinya.

‘Ada apa di Shandong?’ adalah pertanyaan pertama yang diajukan Alexander Thian setelah ia menjawab ‘mau’ dengan cepat ketika saya mengajaknya ke Shandong. Alex tentu saja bukan satu-satunya yang begitu. Pertanyaan itu dipastikan selalu menjadi pertanyaan pertama yang mengikuti saban kali mulut saya melontarkan ‘Shandong’.

Namun, mana ada ada yang salah dengan pertanyaan dan ketidaktahuan. Seperti kata Konfusius, mereka yang bertanya mungkin sesaat akan terkesan bodoh, tetapi mereka yang tidak bertanya justru terjebak kedunguan selamanya.

Jadi, saya biarkan Alex terus bertanya sembari saya sendiri mencari jawabannya.

Kalau kalian salah satu dari orang yang melontarkan pertanyaan serupa, maka ini (bisa jadi) jawaban yang akan mengantarkan kalian menemukan jawaban-jawaban lainnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
sebagian tembok raksasa cina (the great wall of china) ada di provinsi shandong.

Continue reading “shandong: tentang orang terbijak, tempat tersuci, dan seni bertanya (1)”

baca-tulis

tiga anak pulau messah di taman bacaan pelangi sedang mengarang cerita yang gantian akan mereka bacakan kepada saya.
tiga anak pulau messah, kepulauan komodo, flores-ntt di taman bacaan pelangi sedang mengarang cerita yang gantian akan mereka bacakan kepada saya.

‘Bagaimana kamu bisa masuk ke dunia tulis-menulis?”  Pertanyaan sederhana dari Fiona, seorang kawan baru asal Australia beberapa hari lalu, membuat saya ditarik masuk ke masa silam dan membongkar-bongkar laci ingatan.

‘Saya pikir itu karena dua orang nenek dan seorang kakek saya,’ jawab saya cepat.

‘Bagaimana bisa?’ tanya perempuan yang pernah mengikuti pertukaran pelajar dan ditempatkan di Surabaya. ‘Kakek-nenekmu juga penulis?’

‘Bukan.’ Saya menimang-nimang untuk memulai cerita kepada Fiona dan Melissa. Keduanya datang ke Indonesia karena memenangkan sebuah kuis online yang berhadiah wisata ke Bali.

Lalu di sela-sela makan malam kami mulailah saya bercerita tentang orang-orang yang menjadi gerbang pertama saya berkenalan dengan dunia baca-tulis.

***

Continue reading “baca-tulis”

kaki-kaki buku

para negotiator cilik dari pulau rinca, kepulauan komodo, flores.
barter motret dengan para negotiator cilik dari pulau rinca, kepulauan komodo, flores.

Sama seperti mimpi, buku-buku baik pun perlu diberi kaki agar ia bisa sampai ke pelosok Indonesia dan menjadi teman anak-anak.

AWALNYA terjadi begitu saja. Saya bertemu dengan sekelompok anak yang suka menjelajah Indonesia bagian timur sambil membawa buku-buku ke tempat-tempat tak terjangkau. Mereka membantu saya menemukan jalan besar di desa terdekat untuk bisa tiba di bandara tepat waktu.

Saya saat itu sehabis mengisi workshop Narrative Travel Writing di Makassar International Writers Festival 2014, memutuskan bermain ke Ramang-ramang. Hanya bermodal nekat, pengetahuan minim, dan tanya kanan-kiri, saya tiba di sana. Di sanalah saya bertemu lalu selanjutnya mengekori mereka menjelajahi daerah itu, lupa kalau saya seharusnya segera kembali ke jalan utama dan bergerak menuju bandara.

Sekelompok teman baru ini bercerita kalau mereka suka membawa buku-buku ke desa-desa kecil di Sulawesi ketika sedang traveling. Mereka memberikan buku-buku itu ke perpustakaan atau di rumah-rumah baca setempat. Saya terpukau, betapa mereka punya cara bijak dalam berjalan. Saya mencuri dan berutang semangat itu dari mereka.

Continue reading “kaki-kaki buku”

bahagia yang bertumbuh

Tree Triplets
tree triplets. seperti pohon, bahagia itu bisa bertumbuh.

Robin Lim masih ingat bagaimana bersemangatnya bidan-bidan muda yang ingin belajar menulis dari Alfred Pasifico, seorang jurnalis yang juga sahabat baik anaknya Lakota Moira dan Robi Navicula. Robin sangat bersemangat tentang konsep memberikan bidan kesempatan belajar menulis. Menulis buat Robin adalah sarana yang memungkinkan ia menyebarkan pengaruh baik, bukan hanya kepada perempuan yang melahirkan di Bumi Sehat ini, tetapi kepada lebih banyak lagi perempuan di luar Bali.

‘Aku sangat memercayai kekuatan tulisan. Kita dapat menggunakannya untuk hal baik dan buruk. Jadi aku merasa kalau aku memberikan sedikit hatiku kepada para jurnalis-jurnalis muda ini, meski hanya sebentar, itu bukan hanya sekadar membuat mereka bahagia atau akan membantunya dalam karier, tetapi juga memberiku banyak kebahagiaan yang akan terus bertumbuh.

Continue reading “bahagia yang bertumbuh”