
Saya tak yakin, sekalipun penghuni satu jagat raya ini berbicara dengan bahasa yang sama, maka komunikasi akan baik-baik saja.
Bahasa, bagi saya, hanya perangkat komunikasi. Diciptakan untuk memudahkan kita berkomunikasi. Namun, semakin saya sering traveling, semakin saya justru melihat, menguasai atau berbicara dengan bahasa yang sama tak menjamin kita bisa memahami lawan bicara dengan baik.
Traveling mengajarkan saya, bahwa kunci utama dalam berkomunikasi adalah niat. Saya menyebut ini bahasa tertinggi makhluk hidup: niat untuk saling memahami. Bahasa ini tak memerlukan aksara, tidak juga suara. Hanya niat untuk saling memahami yang kemudian mendorong saya membuka diri terhadap siapa saja orang yang saya temui dalam perjalanan.
Saya belajar ini dari seorang Kakek Australia dan Nenek Rusia yang berteman selama perjalanan mereka dari Vietnam ke Kamboja. Karena sering melihat mereka duduk berdua di perjalanan dan tampak seperti sedang asyik berbincang, saya menduga mereka awalnya pasangan. Namun, ketika bus kami berhenti untuk rehat dan makan siang, baru saya tahu, mereka berasal dari negara berbeda dan bukan suami-istri. Menariknya lagi, si Nenek yang berasal dari Rusia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris!
Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana kakek-nenek ini bisa berteman dan mengobrol selama perjalanan?
Saya pernah berpikir kalau saja saya menguasai semua bahasa di dunia ini, pasti akan sangat mudah berbicara dengan orang lain. Kalau tidak semua bahasa, setidaknya, saya harus pandai berbahasa Inggris yang notabene menjadi bahasa pergaulan dunia. Ternyata saya keliru. Menguasai banyak bahasa tak menjamin kita bisa dengan mudah berbicara dengan orang lain, apalagi sewaktu traveling.
***
Saya sempat senewen sewaktu traveling ke Seoul. Saat itu, saya pergi sendirian ke supermarket di dalam sebuah mall yang memiliki layar bioskop terbesar di dunia. Saya pikir, saya hanya perlu mencari handuk. Pasti mudah mencarinya. Namun, supermarket yang sangat besar dan petunjuk yang menggunakan huruf Hangeul membuat saya buta arah dan buta aksara bersamaan.
Saya mencoba bertanya ke pengunjung yang lain, apakah mereka tahu di mana saya bisa menemukan handuk. Tentunya saya menggunakan bahasa Inggris karena tak bisa berbicara bahasa Korea. Sayang, pengunjung itu tak bisa berbahasa Inggris. Mereka malah memanggilkan petugas toko yang melintas untuk membantu.
Petugas toko yang mengenakan celemek berwarna kuning memandang saya. ‘I need towel,’ kata saya.
Dia menjawab dengan bahasa Korea. Saya menggeleng. ‘I can’t speak Korean. Do you speak English?’ Dia menggeleng, meminta saya mengikutinya. Saya dibawa ke bagian informasi. Pramuniaga toko menjelaskan ke petugas informasi, si petugas informasi yang murah senyum itu malah membawa saya ke kasir. Saya coba menjelaskan ke kasir, menyampaikan dengan cara yang sama dengan sebelumnya. Kasir hanya menggelengkan kepala dan sibuk melayani pembeli yang lain.
Saya dicuekin. Dang!
Saya kembali ke petugas informasi. Akhirnya, putus asa karena tak ada satu pun dari kami saling memahami, ia dan pramuniaga toko membawa saya ke manajer supermarket. Saya tak pernah membayangkan untuk membeli sebuah handuk saja, saya harus digiring ke ruang manajer supermarket.
Seorang lelaki berpakaian kemeja putih-putih dengan garis-garis krem vertikal mengangkat kepalanya dari layar laptop. Saya menduga, dia mengira saya salah satu pengunjung yang tertangkap basah mencuri sesuatu di supermarket ini.
Petugas informasi menyentuh siku saya sambil terus berbicara dengan bahasa yang semakin membuat kepala saya pusing. Saya mengartikan asal, ‘Ayo, coba sekarang jelaskan apa yang kamu mau.’
‘I just need a towel,’ kata saya mulai kelelahan dan berharap manajer ini mengerti ketika berdiri di depan mejanya. Saya capek dipingpong ke sana kemari.
‘Huh?’ mata si manajer membelalak.
‘Yes, a towel.’ Saya mulai khawatir jangan-jangan pronunciation saya salah tadi sehingga mereka tak mengerti. Atau saya bicara kecepatan?
‘Neeee…,’ sambungnya mengangguk. Saya mengembuskan napas lega. Di Korea, bila mereka mengatakan ‘Neeee’ biasanya berarti positif, mereka mengerti atau tahu. Lalu, si manajer menggiring saya, diikuti dengan petugas informasi dan pramuniaga toko. Ketika melintasi lorong-lorong supermarket, pelanggan lain memandangi kami.
Tibalah kami di sebuah rak. Si manajer dengan senyum tipis menunjuk ke arah rak dan memandang saya dengan wajah puas. Petugas yang mengekor di belakang saya dan pramuniaga pun tersenyum. Mereka senang masalah saya terpecahkan.
Saya hanya bisa melongo di depan deretan rak berisi panci dan ceret air.
Beberapa pengunjung supermarket mulai berkerumun, menontoni saya. Tentu saja terasa aneh melihat seorang pembeli harus digiring oleh petugas informasi, pramuniaga toko, dan manajer sekaligus untuk membeli sebuah barang.
Saya menutup wajah saya dengan kedua telapak tangan. Saya mulai hilang kesabaran dan sangat ingin berteriak. Lalu, pelan-pelan, saya mengembuskan napas. Saya teringat dengan Nenek Rusia yang saya temui di perjalanan ke Kamboja. Tak bisa bahasa Inggris sama sekali tetapi berhasil menjelajahi negara-negara di Indochina seorang diri. ‘Think, Windy. Think. Did you miss something? It should be easy!’
Lalu, saya putuskan untuk berbicara pelan-pelan. Ini bukan salah mereka tak bisa memahami bahasa Inggris. Juga bukan salah saya yang tak bisa berbahasa Korea. ‘I need a t-o-w-e-l,’ kata saya kepada petugas informasi, pramuniaga, manajer toko, dan pengunjung yang mengelilingi saya.
Mereka berpandangan. Baik. Saya yakin mereka semua niat menolong saya. Lalu saya membuat gerakan orang mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, berpantomim. Mereka tertawa. Barangkali, mereka mengira saya sedang melakukan pertunjukan.
‘Anyone speak English here?’ tanya saya ke pengunjung. Mereka kembali saling berpandangan. Tiba-tiba dari balik punggung seorang lelaki, seorang perempuan mengangkat tangannya ragu-ragu. ‘Do you speak English?’ Saya ingin memeluknya.
Dia mengangguk ragu. ‘Not good,’ ia menjawab lirih. ‘Why didn’t you tell me you can speak English?’ Saya gemas. Perempuan itu dari tadi ada di sana. ia menyaksikan bagaimana saya berjuang dengan melakukan pantomim untuk membuat semua orang mengerti bahwa saya mencari handuk.
‘Can you tell him I need a towel?’
‘T…o…w…e…l…?’ Dia bertanya ragu. ‘You know towel?’ Saya bertanya memastikan.
‘Spell,’ katanya. Saya pun mengeja kata towel. Perempuan itu menulis sesuatu di tangannya. ‘Ti-O-double u-Ei-eL… towel,’ ejanya mengikuti ejaan saya. Rupanya ia mengubah huruf latin itu dulu ke Hangeul. Saya membenarkan ejaannya. ‘Neee!’ serunya.
Lalu, perempuan itu menjelaskan ke manajer toko apa yang saya cari. Manajer toko menepuk jidatnya. ‘Ne!’ Ia lalu menarik saya ke sebuah sudut. Semua orang mengekori kami. Dari kejauhan, saya melihat tumpukan handuk. ‘Yes, that’s what I am looking for!’ sorak saya. Semua tertawa senang. Manajer pun riang. Masalah terpecahkan! Saya mengucapkan terima kasih ke perempuan yang telah menolong saya.
‘Sorry, my English is not so good. I am not understand when you speak. You too fast,’ kata perempuan itu dengan bahasa Inggris terbata dan grammar yang kacau. Tapi saya tak peduli.
Dia, dengan semua keterbatasannya, telah menolong saya. Saya merasa tersentil. Kadang, ketika saya merasa bisa, saya tak memberi waktu untuk diri saya memahami atau berempati kepada orang lain. Subject learnt.
***
Apakah saya punya tip lain untuk ini? Tidak. Saya hanya perlu niat untuk bisa berkomunikasi dan memahami orang lain. Bahasa hanya alat pendukung. Tak ada satu teori pun yang bisa membuktikan, berbicara dengan bahasa yang sama akan menjamin kelancaran berkomunikasi.
Kamu masih suka salah paham, kan, ketika berkomunikasi dengan teman dekatmu?
*) photo taken by @windyariestanty. location: seoul, south korea
**) been published in ‘more magz’, may 2012.