tentang kehilangan

Lama,

aku telah tahu saat seperti ini akan datang. Saat di mana tiba-tiba kita merasa tak ada lagi waktu di esok hari. Saat di mana kita tahu, kita tak akan lagi berada di tempat yang sama esok pagi.

Kehilangan seperti matahari. Sesuatu yang pasti. Kalau tidak sekarang, besok akan terjadi. Ini hanya persoalan hari. Tak ada cara yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya. Kita hanya bisa menundanya untuk sesaat saja.

Aku tahu,

saat aku beranjak tidur dan terbangun esok, tak ada yang bisa aku ubah. Datang dan pergi adalah hal yang akan terus terulang. Berjumpa dan berpisah adalah dua sisi mata uang yang akan terus berdampingan. Hidup dan mati adalah roda kehidupan yang terus bergerak dengan konstan dan linear. Seperti hukum sebab-akibat, semua reaksi muncul karena ada aksi. Semua aksi memunculkan reaksi.

Sadari saja,

pertemuaan adalah ucapan selamat tinggal yang diisyaratkan pada permulaan. Menemukan adalah pertanda kehilangan yang datang lebih awal.

Begitulah, fragmen kehidupan terus diputar.

Apakah kau setuju denganku kali ini ?

Aku tak akan memintamu untuk tinggal. Aku ingin. Tapi aku tahu, itu tak akan banyak berarti. Kalau ada yang bisa membuatmu tinggal tanpa aku harus meminta, tolong beritahu.

Aku hanya tahu satu cara :

terima kasih untuk semuanya.

maaf, bila aku tak selalu menjadi seseorang yang manis.

Jakarta, 11 November 2009

picture: just let it go, taken from www.gettyimages.com

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

One thought on “tentang kehilangan”

  1. Aku sepakat dengan deskripsi fragmen yang satu ini. Upaya untuk tinggal, meninggalkan, atau upaya tetap hidup saat ditinggalkan sudah seperti siklus daur ulang yang diperankan oleh siapa-siapa, membuatku bergilir merasakan masing-masing perannya. Mau tak mau, suka tak suka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *