Musim hujan ini, aku tiba-tiba teringat kepadamu. Merindumu. Mengangankanmu. Dalam kenangan muram kaca jendela yang mengabur, dan tempias hujan yang meninggalkan bercak pada kanopi di tepi jendela.

Hujan selalu membuat aku terkenang kepadamu. Pada sepasang kelingking yang saling mengait di bawah hujan. Pada basah yang meninggalkan lembap di telapak kaki hingga gigilnya merajai hati. Pada noda cokelat di atas sepatu kanvas karena tanah becek.
Aku tahu, aku jatuh cinta kepadamu. Bukan hanya sekali. Tapi, berkali-kali.
Kali ini, musim hujan datang terlambat. Hampir saja kenangan itu mengering. Mengerut seperti kertas basah yang usang. Yang kau keringkan di bawah sinar matahari. ‘Kita merindu matahari ketika hujan tak kunjung usai,’ katamu.
‘Untuk apa?’
‘Untuk menghangatkan.’
Tapi, di tepi jendela itu, diam-diam aku berharap hujan tak berhenti. Aku suka dinginnya. Aku suka lembapnya. Aku tak risau dengan noda di sepatu yang tak akan hilang. Aku suka jari kita yang mengait. Aku suka kulit tangan kita yang bergesekan.
Aku suka kau. dan aku tak merindu matahari.
Aku hanya ingin kau terus ada di sini. Kaulah musim panasku, yang mengeringkan sepasang kaus kaki basah dan meninggalkan rasa hangat di hati.
Kaulah yang membuat aku jatuh cinta berkali-kali kepada hati yang sama. Hatimu.
Ini mungkin tentang cinta yang itu-itu saja. Kau boleh bosan.
Tapi aku tak bisa bosan mencintainya. Tidak sedetik pun. [13]
Jakarta, 8 Maret 2010
*) sebuah cerita yang belum usai
**) picture taken from gettyimages.com