cerita dari gerbong: satu pertanyaan dari pompei

Akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan titik balik dalam hidup yang akan menjungkirbalikkanmu.

image

‘JADI, apa pertanyaan titik balik lo?’ tanya Mumun yang bernama asli Murni ketika kereta yang kami naiki bergerak meninggalkan Stasiun Napoli menuju Roma Termini. Kami berencana pulang ke Roma sore itu setelah gagal masuk ke Pompei, situs aerkologi kota kuno Romawi. 

Saya tercenung. Ada banyak pertanyaan di dalam hidup saya. Saya mengamini Socrates dalam pidato pembelaannya di pengadilan, ‘Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang tak layak dijalani.’ Persoalannya, di antara semua pertanyaan yang saya miliki, mana pertanyaan yang menjadi titik balik?

Kita lebih sulit memilih yang mana ketika memiliki banyak pilihan.

Bukannya menjawab, saya malah bertanya ke si Ahli Biologi ini, ‘Apa batasan dari pertanyaan titik balik itu?’

Mumun dan Vindhya—dua teman perjalanan saya—saling tatap. ‘Jadi begini, setiap orang pasti punya pertanyaan yang menjadi titik balik di dalam hidupnya.’ Mumun menjelaskan dengan sungguh-sungguh. ‘Biasanya jawaban dari pertanyaan ini akan mendorong seseorang melakukan sesuatu yang mengubah hidupnya.’ Kata Mumun, ini disebut dengan istilah ‘Saturn Return’. Masa yang mana seseorang memasuki babak atau fase baru di dalam hidupnya. Acap disebut sebagai titik balik kehidupan seseorang.

Saya melirik ke arah Vindhya yang duduk di hadapan Mumun. Dari kursi kereta yang saya duduki, wajah Mumun yang tampak samping terlihat sangat serius kendati sepasang mata bundar di balik lensa kacamata itu justru menimbulkan kesan jenaka.

‘Lo sudah berhadapan dengan jawaban dari pertanyaan titik balik lo?’ Saya melontarkan pertanyaan sekali lagi sambil melihat ke jendela kereta yang memantulkan bayangan Mumun. Kaca jendela kereta tak menyajikan pemandangan apa pun. Di luar gelap pekat padahal hari baru lepas dari pukul enam sore. Pada hari-hari awal musim dingin tahun ini, cuaca di Italia tak tertebak. Kemarin cerah dan hangat, lalu hari ini, hujan tipis-tipis sudah membasahi Roma sedari pagi ketika kami meninggalkan hostel, bahkan mengekori hingga Napoli dan Pompei. Alih-alih menjelajah Pompei, hari itu kami hanya menghabiskan waktu berpindah-pindah kereta lokal, mencicipi hujan yang menyambut kami di situs kota kuno itu, dan menelan kenyataan pahit bahwa gerbang situs reruntuhan Pompei telah tutup. Kami salah mencerna informasi. Pompei tutup pukul 5 sore, tetapi gerbang masuk ditutup pukul setengah empat sore.

‘Sudah. Pertanyaan itu membuat gue memutuskan keluar kerja dan melakukan trip ini.’

‘Kalau begitu, gue juga sudah, dong!’ Vindhya menyambar jawaban Mumun. Vindhya sudah lebih dahulu keluar dari pekerjaannya dan memutuskan menekuni dunia jalan-jalan yang disukainya. Dia bilang suatu hari ia  merasa terlalu sayang kalau harus menghabiskan hidupnya di jalanan ibukota hanya untuk menuju kantor. Ia memutuskan untuk memulai bisnisnya dan menanggalkan sepatu tumit tinggi yang kerap ia pakai bila bekerja. Vindhya yang saya kenal suka bersandal jepit dan bisa berlarian dengan kaki telanjang di jalanan. Mumun pun sama. Pekerjaan di bidang tambang yang konon menggendutkan dompetnya, ternyata bukan hal yang sesungguhnya ia inginkan. Satu pagi, ia terbangun dan merasa tak lagi senang meski pantai adalah pemandangan pertama yang dilihat setiap bangun tidur di pulau tempat ia bekerja. Anak pantai yang kehilangan gairah kepada pantai? Ini kondisi yang menggelisahkan. Ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja dan serius menjalankan blog perjalanan yang digarap bersama rekannya, Vira.

Keduanya bilang pertanyaan titik balik mereka adalah tentang apa yang sesungguhnya diinginkan. Jawaban dari pertanyaan itu membuat mereka melakukan apa dan menjadi siapa mereka hari ini.

‘Kalo lo, Pink (Ipink adalah nama panggilan Vindhya), lo yakin yang lo jalani sekarang adalah apa yang paling lo mau?’ Saya menelisik. Vindhya usianya paling muda di antara kami bertiga.

‘Yang pasti, gue mau laki kaya, ya. Kan, perlu dana buat bangun kota,’ selorohnya. Sejak mengunjungi Brugge, kota kecil di Belgia yang cantik dan seperti negeri dongeng, Vindhya mengubah cita-citanya. Dia akan membeli lahan untuk membangun kota kecil, bukan sebuah hostel. Bertiga kami tergelak. ‘Itu juga gue mau,’ sahut Mumun yang juga saya iyakan. Saya bilang ke mereka, punya pacar atau pasangan itu baik untuk keseimbangan hidup.

Tawa kami mereda ketika sadar kami adalah sekelompok kecil penumpang yang tak berhenti tertawa di gerbong itu. Mumun dan Vindhya kini menatap saya, menunggu jawaban dari pertanyaan yang kata Mumun umumnya muncul ketika seseorang berusia dua puluh delapan hingga tiga puluh satu. Bisa juga babak berikutnya terjadi ketika seseorang memasuki usia setengah abad.

Saya tidak bisa menjawab. Sedari kecil saya dididik tahu apa yang saya mau. Saya bekerja di bidang yang saya suka, selalu melakukan apa pun yang saya mau, menanggung semua risiko atas pilihan yang saya ambil, malahan pada usia yang jauh dari target saya, semua hal yang ingin saya capai telah terwujud. Saya bahkan pernah ada di fase, mimpi apa lagi yang ingin saya punya karena semua mimpi yang saya bangun sedari kecil sudah mewujud? Kegelisahan tentang apa yang saya maui pada usia ‘Saturn Return’ tak terjadi pada saya.

Tapi, saya tak bisa mengatakan itu kepada mereka. Pertanyaan di dalam hidup saya sudah bukan lagi apa yang saya inginkan, melainkan mimpi macam apa lagi yang harus saya punya.

Lima tahun lalu, saya kembali merumuskan mimpi saya. Mimpi yang tak berbatas agar saya tak perlu lagi mencari mimpi baru.

Mimpi saya adalah mewujudkan mimpi-mimpi orang lain. 

Bombastis bukan? Tertawalah, atau mencebil. Boleh saja. Saya pun terkadang melakukannya.

Teman saya, namanya Fuad, pernah bertanya, ‘Bagaimana mewujudkan mimpi itu?’

Saya bilang, saya bekerja di bidang yang memungkinkan saya mewujudkan mimpi orang-orang yang ingin menjadi penulis. Setiap kali lahir penulis baru, rasanya senang bukan kepalang. Satu mimpi orang lain telah menjadi. Setiap kali terbit buku baru, rasanya riang karena satu buku yang kami yakini telah ditulis dengan baik bisa dibaca lebih banyak orang. Ini mimpi yang tak berbatas. Tapi, satu ketika, teman baik yang juga mengajari saya banyak hal—ia tak mau namanya disebut—berkata dengan lugas, ‘Satu-satunya orang yang menghambat dan menghentikan diri lo adalah diri lo sendiri.’ Saya tentu keberatan. Selama ini, saya melakukan pencapaian sesuai target Saya bahkan lebih. ‘Tapi lo membatasi diri lo sampai situ saja. Lo mengenal kata “cukup” terlalu cepat. Lo memiliki “keseimbangan” pada usia yang terlalu muda.’

Saya lagi-lagi merespons dengan skeptis apa yang diutarakan teman karib saya ini. ‘Lalu apa buruknya hal itu? Toh, saya tak lantas jadi orang yang gampang puas.’

‘Lo yang gue kenal itu kompetitif, tetapi tidak ambisius. Padahal dalam bisnis, keduanya harus seimbang.’

Saya tak menyangkal teman saya. Saya memang kompetitif, tetapi tidak terlalu ambisius—itu saya tahu sejak lama. Saya tak gampang puas, tetapi ada saat tertentu saya memang mengerem laju saya karena merasa itu sudah cukup.

***

image

BERKEBALIKAN dengan kereta yang melaju pasti di atas rel besi, pertanyaan Mumun yang tak terjawab justru merayap lambat di pikiran saya. Mumun dan Vindhya terlelap. Saya sendiri pun sebenarnya terkantuk-kantuk, sayangnya pikiran saya terlalu sibuk. Perjalanan pergi-pulang Roma-Pompei menghabiskan waktu setengah hari sendiri untuk kami sekadar mendapati gerbang utama telah tutup.

Tak ada dari kami bertiga yang menyesali hari ini lantaran tak bisa masuk Pompei. Kami bahkan tertawa terbahak-bahak dan masih mencoba mengadu peruntungan dengan berusaha merayu si Penjaga Loket agar mengizinkan masuk. Itu pukul empat sore, bisa melihat Pompei satu jam sepertinya cukup menghibur. Tentu saja hasilnya nihil. Penjaga Loket itu berhati baja, ia tak luluh dengan tatapan memelas dari kami bertiga.

Buat saya sendiri, berganti-ganti kereta untuk tiba di Pompei adalah pengalaman menarik. Kami menyambangi stasiun-stasiun kereta kecil—saking kecil dan sepinya, penumpang yang menunggu di peron hanya kami bertiga dan dua orang lelaki. Ada satu orang perempuan yang menunggu juga di peron seberang kami. Saya menyukai perasaan waswas apakah kami telah melewatkan stasiun yang dimaksud karena tak ada pemberitahuan sama sekali sudah tiba di stasiun mana, menikmati penjelasan berbahasa Italia yang terdengar seperti suara kumuran air—saya tak mengerti bahasa ini sama sekali—dari seorang penumpang perempuan ketika bertanya apakah kereta yang kami naiki ini benar menuju Stasiun Pompei Scavi. Apalagi, pemandangan kota-kota kecil yang membentang di sepanjang jalur kereta—padang rumput dan peternakan, bebukitan, reruntuhan bangunan kuno sisa zaman Romawi, pepohonan yang dahan dan rantingnya melebar mencipta kanopi daun—adalah suguhan yang menyenangkan mata.

image

Lalu, apa pertanyaan titik balik saya? Saya memainkan buku-buku jari yang membiru dan terkelupas karena dingin sampai kemudian ingatan terantuk pada hari ketika bos saya bertanya apa yang sebenarnya ingin saya lakukan bila memutuskan tidak lagi bekerja di perusahaan ini. Kami bertemu di Gandaria City—di sela-sela acara GagasMedia-Bukune—sebulan  sebelum saya berangkat untuk perjalanan-35-hari ini. Saat itu, saya memberanikan diri menyampaikan kepadanya bahwa saya ingin merdeka.

‘Tak ada seorang pun yang mengekang kamu di kantor. Kamu diberi kebebasan dan kemerdekaan penuh,’ kata bos saya sambil mengisap rokoknya. Ia menegaskan bahwa saya mendapatkan itu semua. Saya pun mengiyakan. Siapa pun bersetuju, saya manusia beruntung. Bekerja di bidang yang saya sukai dan di tempat yang memberikan kemerdekaan dan kebebasan mutlak kepada saya. Juga bersama mereka-mereka yang menginvestasikan kepercayaannya sebegitu besar.

Saya orang merdeka yang menginginkan kemerdekaan (lebih). Tidakkah saya terdengar ambisius sekaligus egois? Lalu, setelah pertemuan itu, ketika saya memasuki lift untuk kembali ke lokasi acara Gagas-Bukune yang ada di lantai teratas mall, kepala saya hanya dihantui satu pertanyaan. Kemerdekaan macam apa lagi yang saya inginkan?

Saya terkesiap, seperti ada sesuatu yang menghentak. Namun itu bukan karena guncangan kereta, melainkan karena pertanyaan yang muncul. Mungkin, itulah pertanyaan titik balik yang jawaban akan menjungkirbalikkan hidup saya pada usia yang tak lagi berkepala dua.

Saya tahu sekali jawabannya. Saya ingin merdeka dari rasa takut kekurangan. Sayang, saya belum merdeka sepenuhnya. Belum bertemu cukup.

***

image

KERETA berderak, menimbulkan hentakan kecil sekali lagi yang membuat saya sedikit terguncang. Vindhya, dengan mata tetap terpejam, memindahkan kepalanya agar tak bersandar di jendela. Mumun tak terganggu. Ia tetap tertidur dengan mulut sedikit mencucu.

Hari ini cukup. Cukup bagi kami untuk tahu bagaimana caranya sampai ke Pompei dari Roma menggunakan kereta yang konon jalurnya paling membingungkan dan keretanya suka tiba tak tepat waktu. [13]

*) keterangan foto:

foto 1: perempuan menunggu kereta di peron seberang (foto diambil oleh @munindohoy)

foto 2: suasana dari dalam gerbong kereta menuju stasiun pompei scavi

foto 3: stasiun pompei scavi yang lengang

foto 4: (searah jarum jam) vindhya, mumun, gue di depan gerbang pompei yang telah tutup. arrrgh!

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *