kāla kālī: mengganjilkan yang genap


Waktu tak pernah memberi jawaban, namun jawaban acapkali ditemukan ketika merasa nyaris kehabisan waktu.

Malam itu, sementara kaki tak putus-putusnya menekan dan melepas pedal rem lantaran jalanan yang merayap padat, otak saya justru berpikir keras dan menolak tersendat.  Saya dan Valiant belum menemukan judul yang dirasa pas untuk karya terbaru kami, sementara waktu yang kami miliki telah mendekati ambang batas.

Ya, kami berdua nyaris kehabisan waktu. Buku sudah harus naik cetak, namun belum ada satu pun judul yang dibuat bersama redaksi GagasMedia terasa pas.

Sebuah motor memotong. Saya sontak menekan pedal rem dalam-dalam. Semua orang di sekitar saya tampak berusaha mencari cela untuk bisa segera keluar dari kemacetan. Kami tak ingin waktu kami habis di jalan, padahal matahari pun sudah berganti tugas dengan bulan.


Light indicator berwarna merah di smartphone saya berkedip. BBM dari Valiant masuk. ‘Jadinya judul kita apa nih?’

Saya mengetik cepat. ‘Belum tahuuuu. Padahal udah mau naik cetak nih!’

Kami sering berkelakar, betapa kasihannya editor yang menangani kami. Dan kali ini, editor yang apes itu Gita Romadhona. Ia pun belum punya usulan yang pas untuk karya duet novella kami yang awalnya hanya bermodal kata kunci ‘ulang tahun’ dari Christian Simamora.

Saya dan Valiant, ketika mendapatkan tantangan untuk mengerjakan hal ini, nyaris tak pernah berkomunikasi sama sekali soal apa yang akan kami tulis. Kami menerima tugas dalam diam, seperti sepasang agen mata-mata yang mengunci mulutnya rapat-rapat. Valiant sempat mengunjungi saya sewaktu tinggal di Ubud. Tapi, kami sama sekali tak membicarakan tulisan. Malah sibuk ngobrol ini-itu dan jalan-jalan. Sesekali saling mengintimidasi satu sama lain dengan perkembangan tulisan masing-masing, yang padahal sebenarnya belum seperti yang digembar-gemborkan.

Ketika deadline tiba, dan Valiant main ke kantor, barulah kami berdua ngobrol. Buka-bukan kartu.

‘Lihat dong naskah lo,’ kata saya.

‘Naskah lo mana? Gue juga mau lihat naskah lo.’ Sahut Valiant dengan mulut dimonyong-monyongkan.

‘Nggak pede ah!’ Saya berkelit. Dipasangkan dengan Valiant itu sangat mengintimidasi. Valiant punya keahlian khusus dalam menulis yang membuat saya kerap berdecak. Dia ahlinya bermain-main dengan plot dan pandai menciptakan puntiran.

‘Maksud loooo?’ Valiant mendelikkan sepasang matanya. Saya terkekeh. ‘Baca dong.’ Kembali dia mencolek saya.

‘Tukaran ya?’ 

Baru setelah itu kami berdua tahu bahwa tanpa janjian kami memilih semua yang berbeda dan berkebalikan. Valiant memilih tokoh utamanya perempuan, sedang saya menjadikan seorang laki-laki sebagai tokoh utama.

‘Susah ya berpikir cara cewek,’ cerita Valiant.

‘Jadi cowok juga susah.’ Saya pun ikutan curhat soal pengembangan karakter yang kelaminnya berkebalikan dengan kami masing-masing.

Itu masih perbedaan karakter. Ketika berdiskusi lebih jauh lagi tentang proses kreatif, kami berdua terlongo-longo. Premis kami pun masing-masing saling berkebalikan, tetapi tetap bersetia pada kata kunci. Dan yang lebih mengagetkan, kata kunci itu kami terjemahkan dalam satu kata yang sama: waktu.

Kami berdua tanpa sadar memilih ‘cara’ ini untuk mengulur benang merah hingga bertemu di satu titik dan membentuk simpul. Entah hanya kebetulan, atau kami berdua memang cocok untuk selalu tidak sama. 

Iya, ini tentang waktu dan manusia-manusia yang bermain-main dengan waktu. Atau jangan-jangan justru sebaliknya, para manusia yang dipecundangi waktu? Seperti saya dan Valiant yang pontang-panting mencari judul menjelang detik-detik akhir. 

Dan hasilnya membentur tembok kosong. Nihil. Judul yang membuat kami tergerak bahwa inilah yang cocok merangkum kedua cerita tak juga berhasil ditemukan.

Mobil yang saya kendarai bergerak pelan. Saya mengamati nama-nama toko dan tulisan yang ada di billboard, berharap ada ide buat judul muncul dari situ. Nol besar. Tak ada petunjuk. Lalu saya mulai membuka KBBI yang ada di Iphone. merunut satu per satu kata yang memiliki relasi dengan waktu.

Tiba-tiba kata ‘Tempo’ muncul di otak. Saya memulai pencarian saya di kamus dari pengertian Tempo. Lalu berpindah ke Jeda dan Staccato. Sampai kemudian saya bergumam, ‘Sudah berapa kali ya saya mengalami kejadian seperti ini? Kesulitan mencari judul buat buku sendiri?’

Tepat ketika lagi-lagi kaki saya harus menginjam rem, kata ‘Kali’ membuat otak saya juga terdiam. Diam memikirkan apakah Kali bisa berarti waktu?

Kembali saya menyusuri kamus. Jalanan yang macet mendadak menjadi keberuntungan buat saya. Saya jadi punya waktu membaca kamus dan membuka mesin pencari di web browser safari.

Kata ‘Kali’ mengantarkan saya kepada laman-laman yang memuat penjelasan tentang Kāla dan Kālī. Dari penelusuran itu saya baru tahu bahwa nama Kālī yang merupakan salah satu dewi dalam kepercayaan Hindu ini berasal dari Kāla—nama panggilan Shiva, Dewa Kematian. Kāla sendiri juga bisa berarti waktu yang abadi atau gelap. Karena Shiva yang dipanggil Kāla adalah sisi maskulin, maka Kāli—yang merupakan sisi feminin—juga merupakan entitas dari ‘waktu’, ‘sesuatu yang melampaui waktu’, dan ‘kematian.’ Selain itu Kāli juga dianggap sebagai dewi dari perubahan.

Klakson dari mobil di belakang berbunyi nyaring—memberi tanda agar saya bergerak—menyadarkan saya untuk melepas pedal rem. Bersamaan dengan itu juga saya tahu, Kāla Kālī bisa menjadi judul yang pas untuk mengikat kedua cerita kami yang sangat berbeda ini.

Sesampainya di rumah, saya segera berkirim email kepada Valiant, memberitahukan usulan judul baru. Bagaimanapun ini karya berdua. Bukan lagi tentang apa yang saya suka dan apa yang Valiant mau. Dua cerita yang awalnya kami garap sendiri-sendiri, kini menjelma jadi satu. Tak bisa meniadakan yang satu, tak bisa pula sekadar mengadakan yang lain.

Seperti Kāla dan Kālī, kami adalah berpasangan. Maskulin dan feminin. Abadi dan mati. Namun, waktu telah mengganjilkan yang genap. Dua yang menjelma satu. Kembali kepada entitas utama yang tak pernah datang terlambat: waktu.

Selamat ulang tahun, waktu! 

*) image: kāli yantra taken from http://www.sics.se/~piak/yoga/yantra/

**) kāla kālī adalah karya terbaru valiant budi yogi dan windy ariestanty yang diterbitkan oleh gagasmedia

date a girl who travels

date a girl who travels

dummy seharga dua juta *)

Akhirnya, kawan baik saya, Alexander Thian, akan segera merilis buku solonya. Alex pastinya adalah orang yang paling berbahagia karena berhasil merampungkan buku solo ini. Namun, saya adalah orang yang bertepuk tangan paling keras melihat dia berhasil menyelesaikan buku ini.

silakan diintip nukilan dari buku solo perdana Alex: The Not So Amazing Life of @aMrazing. 🙂 


“Mengapa saya harus marah, Pak?”

“Rama memang begitu, Dek. Dia punya dunia sendiri. Dunia yang bahkan tak bisa dimasuki kakak-kakaknya. Cuma saya yang bisa menyentuh Rama tanpa ia menjerit dan tantrum. Teman sekolah, guru, kakak-kakaknya, tak ada seorang pun yang bisa menyentuh Rama.”

“Saya ngerti, Pak. Saya pernah baca tentang autisme….”

“Membaca dan mengalami. Dua hal yang sangat berbeda, Dek. Saya sudah kenyang dicaci-maki dan diledek. Katanya, Rama autis karena dosa saya. Katanya, autis adalah penyakit kutukan. Lama-lama saya jadi bosan sakit hati.”

“Orang akan berkata apa saja untuk menjatuhkan orang lain, Pak. Yang saya lihat, Pak Soni bangga sama anak Bapak. Iya, kan?”

“Dia punya apa yang orang lain nggak punya. Dan menurut saya, autisnya Rama justru membawa berkah buat saya. Dua tahun yang lalu, saya bahkan nggak ngerti bahasa Inggris sama sekali. Gara-gara Rama, sekarang saya ngerti kalau dia mulai ngoceh pakai bahasa Inggris.”

Gue terkesima dan mulai memahami arti dari blessing in disguise”. Selalu ada pelangi setelah hujan, dan selalu ada senyum di balik duka.

Sisa hari itu gue habiskan dengan melayani Rama. Well, sebenarnya yang terjadi adalah, gue ngobrol dengan Pak Soni, sementara Rama asyik mengotak-atik komputer gue. Memilih berbagai lagu, memasukkannya sendiri ke kartu memorinya, tersenyum-senyum saat lagu yang dia belum punya ternyata ada di komputer gue, dan sesekali menyanyikan bait-bait lagu yang dia hafal. 

Gue agak terkejut saat mengetahui bahwa Rama familiar dengan lagu-lagu zaman dahulu. Dia sangat suka dengan Queen. Bicycle Race yang tadi dia nyanyikan adalah lagu favoritnya, terutama di bagian bunyi bel sepeda. 

Yang membuat gue kagum, Rama hafal hampir semua lagu Queen. Dari yang terkenal dan melegenda seperti “We Are The Champion”, “We Will Rock You”, “Another One Bites The Dust”, sampai lagu Queen yang berbahasa Spanyol, “Las Palabras Del Amor”, yang relatif kurang terkenal.

“Rama paling suka diajak ke pasar loak. Berburu kaset bekas Queen. Kalau kondisi kasetnya kurang bagus, dia akan berusaha, gimana caranya supaya suara dari kaset itu nggak ngayun saat diputar.”

“Kenapa nggak beliin CD nya aja, Pak?”

Rama hates Glodok.”

Kepala gue otomatis menoleh. Anak yang gue pikir asyik dengan dunianya sendiri, ternyata mendengar percakapan gue dengan bapaknya, dan menyahut.

But why?”

Pertanyaan gue tak menemukan jawaban. Rama kembali asyik bercengkerama dengan layar, keyboarddan mouse. Kerut di dahi Pak Soni menunjukkan kekhawatirannya bahwa gue akan tersinggung.

“Dek…”

“Kalau Bapak minta maaf lagi, nama Bapak saya ganti jadi Mpok Minah.”

Untuk sejenak, Pak Soni terbengong-bengong sebelum akhirnya terbahak mendengar celetukan gue.

“HAHAHA. Kamu lucu sekali. Rama memang sering begitu, Dek. Dia tahu kita omongin. Kalau topiknya menarik, Rama akan nyeletuk sekali, setelah itu dia akan kembali ke dunianya. Maaf, ya…”

“Tuh, kan. Bapak minta maaf lagi. Mau dipanggil Pak Minah atau Mpok Minah?”

“Oh, iya. Saya lupa! Maaf… Eh…” Gue tergelak melihat Pak Soni yang salah tingkah.

Ada jeda yang akrab setelah itu. Hangat yang timbul karena telah menemukan kawan ngobrol yang seru. Pelanggan-pelanggan lain yang datang ke konter dilayani kedua Hyena. Hari ini adalah harinya Pak Soni dan Rama.


*) sebuah nukilan dari ‘the not so amazing life of @aMrazing: meributkan yang tak penting, menyepelekan yang penting’, karya terbaru alexander thian yang akan diterbitkan oleh GagasMedia pada September 2012.

**)copyright untuk gambar: @GagasMedia.