story of ….: Happy Birthday GagasMedia

story of ….: Happy Birthday GagasMedia

creating the future

i remember, a few months ago i was interviewed by a newspaper about the publishing industry in indonesia. the journalist asked me how i could detect and create a trend in this industry. 

i took time to answer this question. i reviewed all that i have done with the team. some things work, some failed. reading the future has never been easy, though for some experts, it is possible. in fact, i am not an expert. i just know that a trend is a general tendency in the future. and it is called ‘a trend’ because people follow it.  

you create something from nothing. or you put some innovations into something that has existed. the keywords are create and lead.

so, here is my answer and my formula for creating a trend: we are able to lead in the future if we create the future itself. [13]

pengakuan: saya orang yang ditolak… *)


‘Kenapa kamu melamar ke GagasMedia?’ tanya pewawancara. ’Karena saya mau bikin buku bagus di sini. Buku terbitan kalian jelek-jelek,’ jawab saya lugas tanpa rasa bersalah. Sedetik kemudian saya menyadari, saya baru saja menggali lubang kubur untuk masa depan saya. Jujur dan bodoh memang tipis bedanya.

Sejak hari wawancara itu saya berpikir, hanya penerbitan bodoh yang akan menerima saya sebagai editornya. Perusahaan mana yang akan menerima calon pegawai yang pada saat wawancara sama sekali tak memuji produk perusahaannya? 

Jadi, ketika Pak Ipink yang waktu itu menjabat sebagai HRD Kelompok AgroMedia menelepon dan memberi tahu bahwa saya diterima bekerja sebagai editor di GagasMedia, saya sempat tercenung. Satu karena saya tidak terlalu berharap bekerja di penerbit ini. Kedua, saya memang tidak berharap diterima setelah jawaban terlalu jujur yang saya berikan. Ketiga—dan ini alasan utama saya, saat itu saya sudah tak terlalu peduli akan bekerja di mana setelah semua mimpi saya kandas.

‘Selamat ya!’ ujar suara laki-laki di seberang sana. Saya menyambut dingin ucapan selamatnya dengan sepatah kata ‘Hu’uh’. Pak Ipink terdiam, lalu berkata, ‘Kamu tidak percaya ya kalau keterima? Kamu keterima loh di Gagas!’ 

‘Iya, saya tahu. Terima kasih.’ Saya menjawab dengan kening berkernyit. Respons macam apa yang sebenarnya diharapkan lelaki ini?

        ‘Ada yang mau ditanyakan, Windy?’

        ‘Iya.’ Pendek dan cepat saya menjawab.

        ‘Apa tuuuh?’ tanyanya ramah.

        ‘Menurut Bapak, ada hal yang perlu saya ketahui?’ 

Sejenak keheningan kembali tercipta. Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh Pak Ipink waktu itu. Tapi saya rasa, saat itu kalau boleh meninjau ulang keputusan perusahaan, ia pasti akan mengajukan hal itu. Sayang, ia tak bisa mengubah keputusan manajemen untuk menerima saya.

Pak Ipink pun dengan sabar menjelaskan hal-hal yang perlu saya tahu. Termasuk pakaian apa yang sebaiknya saya kenakan. ‘Boleh saya pakai celana pendek?’ tanya saya lagi.

Kembali dia diam sesaat. ‘Aturannya cuma sopan dan rapi kok.’

Saya mengangguk-anggukkan kepala. Menganggap jawabannya pertanda boleh.

Tidak adalah Sahabat Terbaik Saya

Saya tak bohong. Menjadi editor memang salah satu impian profesi saya. Tapi, saya tak punya mimpi jadi editor buku. Apalagi di GagasMedia yang bahkan ketika melamar ke sana hanya satu buku terbitannya yang saya baca. Lainnya, ah, bukan jenis bacaan saya. 

Belum lagi, saya hanya menyiapkan dua lamaran. Satu ke majalah dan satu lagi ke koran. Keduanya saat itu yang nomor satu di Indonesia dari sisi kualitas isi dan penulisan. Lamaran ketiga, memang saya layangkan ke GagasMedia dengan alasan yang sudah saya sebutkan di atas tadi.

Singkat kata, saya tak bekerja di kedua media yang menjadi incaran saya sejak bangku kuliah. Takdir membawa saya bekerja di GagasMedia. Sebuah perusahaan baru  yang ketika saya bergabung baru berusia setahun beberapa bulan.

Tapi, saya memang harus mengucapkan terima kasih kepada kedua media yang telah menolak saya. Kalau saya bekerja di mereka, mungkin saya tak akan seperti hari ini. Saya ingat, HRD salah satu media yang mewawancarai memanggil saya seusai pengumuman siapa saja yang diterima. Lelaki tua itu secara khusus meminta maaf dan mengakui, dialah orang yang menolak saya untuk bergabung di media mereka.

‘Menerima kamu berarti membunuh semua kemungkinan yang bisa kamu ciptakan. Tanpa kamu, media ini sudah besar dan ternama. Kamu hanya akan menggarami lautan. Orang seperti kamu harus bekerja di sebuah perusahaan yang baru akan memulai dan mengembangkannya.’ Dia lalu menyuruh saya membawa lamaran ke sebuah stasiun TV baru yang merupakan saudara mereka.

Pergilah saya ke stasiun TV yang direkomendasikan ini. Lagi saya ditolak. Saya masih ingat apa yang diucapkan oleh pewawancara. ‘Kami sedang tak mencari orang pintar. Kami mencari yang bisa dibentuk.’

Sempurna!

Ditolak itu sakit. Apalagi tanpa tedeng aling-aling sebagaimana yang saya alami. Jadi, ketika saya memenuhi panggilan wawancara GagasMedia, saya menjawab seadanya. Pintar tak laku. Tinggal jujur yang saya punya. Pada kasus saya, saya malah tak peduli apa yang dipikirkan para pewawancara tentang saya. Sejujurnya, saya sempat merasa dunia saya runtuh. Sudah tak ada lagi bedanya bekerja di manapun, pikir saya.

Jadi, bisa dipahami kan mengapa Pak Ipink jauh lebih bersemangat daripada saya yang diterima kerja?

Orang yang mengalami penolakan berkali-kali cenderung menjadi dingin karena itulah cara yang dia tahu untuk melindungi perasaannya agar tidak sakit lagi. Hanya itu cara bertahan yang ia tahu.

Namun, lambat laun, saya belajar bahwa penolakanlah yang membuat saya menjadi lebih kuat dan kian tangguh. ‘Tidak’ kemudian menjadi kata penanda buat saya bahwa ada sesuatu yang perlu lebih saya gali sebelum berubah menjadi ‘Iya’.

Manusiawi dan Bisnis Manusia

GagasMedia mencairkan saya. Ia menjadi sekolah sekaligus rumah untuk saya. Ia menerima saya yang naïf dan telah ditolak ini. Dan juga memberikan kehangatan sebuah rumah dan keluarga untuk saya.

Saya belajar mendengarkan di sini. Belajar menerima dan juga memberi. Belajar tak takut berbeda. Dan belajar apa yang sesungguhnya disebut dengan kerja tim. Lebih daripada itu, GagasMedia mengajarkan saya untuk tetap bermain dan tertawa. 

Namun, pada tulisan ini, tanpa mengabaikan teman-teman GagasMedia yang sekarang, saya ingin mengenang mereka yang dulu merangkul saya. Yang merengkuh saya tanpa keraguan sedikit pun di awal karier saya sebagai editor.

Bekerja bersama F.X. Rudy Gunawan, Denny Indra (sekarang Manajer Produksi Kelompok AgroMedia), dan Jeffri Fernando—saat itu kami hanya berempat—adalah pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Mereka menjadi partner bekerja yang luar biasa. Ketiganya menerima keanehan dan kebodohan saya dengan lapang dada. FX Rudy Gunawan yang saat itu menjabat sebagai pemimpin redaksi GagasMedia adalah orang yang hampir setiap hari bertengkar dengan saya berkaitan dengan isi buku. Dan tentunya kekeraskepalaan saya.

Mas Rudy adalah orang yang meyakinkan saya tak perlu takut untuk berbeda. Saya dan dia bisa adu argumentasi sampai mulut berbuih-buih. Tapi setelah itu, kami tetap bisa duduk sambil berkelakar. Jeffri dan Denny adalah dua orang yang mengajarkan saya berkomunikasi dengan hangat. Keduanya adalah teman belajar dan partner bekerja yang luar biasa. Dulu, Denny suka geleng-geleng kepala kalau melihat saya berbicara dengan penulis tanpa babibu. Itu bukan hal buruk, tetapi berkomunikasi dengan penulis membutuhkan seni tersendiri.

Saya pun belajar seni berkomunikasi dan memenangkan hati penulis. Mengamati cara Denny berinteraksi. Denny orang yang sangat ramah dan mudah berbasa-basi. Sangat berkebalikan dengan saya yang cenderung sinis dan tak pandai berbasa-basi. Saya belajar melihat dari kacamata orang lain. Ternyata, menjadi seorang editor tak melulu berkaitan dengan konten dan penulisan. Namun juga memberikan rasa nyaman dan keyakinan kepada penulis serta memberikan ruang lebih untuk proses belajar bersama.

Profesi saya sebagai editor di GagasMedia membuat saya lebih humanis. Mengedepankan logika tanpa kehilangan perasaan. Saya belajar memahami karakter setiap penulis yang saya hadapi dan juga membaca pola pikir mereka. Dan percayalah, karakter penulis itu beragam dan terkadang di luar dugaan!

Di GagasMedia ini, saya tumbuh menjadi editor yang lebih manusiawi. Di sini saya diajarkan bahwa penerbitan adalah bisnis manusia, jadi mana mungkin pertimbangan manusiawi dalam mengambil keputusan diabaikan.

Lebih Baik

Satu malam, saya mengobrol dengan Mas Rudy. Kami sudah beberapa lama tak bertemu sejak dia mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi. Saat itu saya bertanya mengapa sastrawan seperti dia mau membuat penerbitan yang fokus kepada anak-anak muda.

‘Kamu harus ingat. GagasMedia didirikan dengan semangat regenerasi penulis. Kamu boleh melakukan apa pun di Gagas, tetapi jangan pernah melenceng dari semangat kenapa GagasMedia dibangun,’ katanya. Semangat ini yang memang saya pegang sampai sekarang. Dan ini pula yang saya sampaikan kepada teman-teman GagasMedia yang lain. 

Ketika tampuk yang dipegang Mas Rudy dilimpahkan ke saya, itu pula pesan yang melulu dia ulang. Regenerasi penulis. Beri penulis muda ruang seluas-luasnya. Tak akan ada penulis bagus bila tak dimulai dengan memberi kesempatan dan menciptakan ruang belajar.

Saya belajar bahwa menjadi penerbit itu bukan sekadar menerbitkan buku seorang penulis, tetapi juga duduk  dan belajar bersama penulisnya untuk bagaimana menulis dengan lebih baik.

Saya pikir itu kebanggaan saya sebagai editor. Menemukan bakat-bakat baru, membuat seseorang yang awalnya tak yakin bisa menulis menjadi bisa menulis, dan mengonsep sebuah buku. Tentu, saya juga bangga bisa mengedit tulisan seorang penulis ternama. Namun, kalau boleh menjawab jujur, kebanggaan terbesar saya adalah justru melihat penulis-penulis baru lahir.

Kepuasannya tak terkatakan.

      Dalam satu percakapan saya dengan Mas Rudy, ia bertanya, apa yang saat ini ingin saya capai lagi. Saya sudah meraih semua yang saya inginkan bahkan sebelum usia yang sudah saya tetapkan untuk pencapaian itu.

‘Entahlah. Sepertinya saya cuma ingin merdeka, mas.’

Mas Rudy tertawa. ‘Kita tidak pernah bisa benar-benar merdeka, Windy.’

‘Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?’

‘Membuat buku yang lebih baik lagi.’

‘Dan memang tak pernah ada akhir untuk yang satu itu,’ katanya sambil menoyor kepala saya. ‘Jaga semangat yang satu itu.’

Di Balik Kata Iya

Saya sempat bertanya kepada Hikmat Kurnia, Direktur Kelompok AgroMedia yang waktu itu mewawancarai saya. 

‘Pak, apa yang dulu membuat Bapak memutuskan menerima saya?’

‘Karena kamu bilang kamu mau bikin buku bagus.’

Saya melongo. ‘Bapak nggak kesal sama jawaban saya waktu itu?’

Pak Hikmat tertawa kencang. Saya suka heran bagaimana ia bisa punya suara yang sangat nyaring dan apakah ia bisa berbisik-bisik agar pembicaraan rahasia tidak terdengar orang lain?

‘Memang waktu itu kamu bilang apa lagi?’ tanya Pak Hikmat. Katanya, ia hanya ingat saya bermain-main dengan kursi putar yang ada di depan mejanya. 

‘Saya bilang buku terbitan GagasMedia jelek-jelek.’

Dia tersenyum lebar. ‘Setidaknya kamu punya definisi, mana yang disebut jelek dan mana yang bagus. Lalu, kamu punya mimpi membuat yang bagus itu.’

Saya tertohok. Ternyata, saya yang bodoh. 

      Pak Hikmat benar. Pada bulan-bulan pertama saya di Gagas, saya berjuang mempelajari apa itu chicklit dan ladlit. Kalau memang ini penerbit yang fokus ke penulis muda dan bacaan anak muda, maka saya yang harus belajar untuk membuat yang bagus itu. Mencari tahu bagaimana membuat chicklit, ladlit, dan bacaan remaja yang bagus. Proses ini memberikan cermin buat saya bahwa selama ini saya orang yang picik. Tinggal di menara gading. Menganggap yang keren itu hanya buku-buku bacaan yang saya baca. Semakin sering saya bertemu penulis muda, semakin mereka membuat saya rendah hati.

Tak akan pernah ada karya hebat lahir dari tangan mereka kalau tak pernah diberi kesempatan. Tugas kami sebagai penerbit ‘menemukan’ mereka.

We don’t run this business to make us and they feel good. We run this business to make us and they do better.

Itu yang saya yakini sampai hari ini untuk menjalankan GagasMedia. Dan saya yakin, teman-teman saya di GagasMedia pun meyakini hal itu. [13]

Jakarta, 4 Juli 2012

*) dan GagasMedia yang menerima saya. Selamat ulang tahun, GagasMedia. Terima kasih sudah menjadi rumah yang hangat buat saya.

**) ditulis dalam rangka ulang tahun GagasMedia yang ke-9 pada 4 Juli 2012

I got two messages from two different friends. they asked whether I had ever worried about making a wrong decision. sure, I worry about it but I always let myself make mistakes. what I am worried most is: I do not make any decisions. I prefer to know and accepting that my decision is wrong than doing nothing. don’t you think that life is about making decision time by time?

@windyariestanty

mengapa

IBARA Nozaki, seorang gadis keturunan Jepang. Badannya kecil dan bertenaga kuat. Usianya belum genap 16 tahun. Kedua orang tuanya telah berpisah. Sang ibu meninggalkan ayahnya. Lelaki yang sangat tergila-gila pada kebudayaan dongeng. Lelaki yang pergi meninggalkan Jepang menuju Inggris, demi obsesinya terhadap dongeng. Baginya, Inggris adalah negeri dongeng. Di mana waktu mengalir dengan lambat, manis, dan santai.

Ibara belum paham dengan mimpi. Ataupun obsesi. Dongeng merebut mimpi tentang keluarga yang ada di angannya. Sejak orang tuanya bercerai, ia tak lagi pernah bertemu dengan ayahnya. Ibara tumbuh menjadi gadis pemarah dan pemberontak. Membentengi diri dengan sikap keras. Hingga suatu hari, ia pergi menuju Rosegate, sebuah desa di Inggris. Rosegate bagi ayahnya adalah Tir Na Nog, negara dalam mitologi Inggris. Negara kemudaan abadi, sebuah tempat di mana kita tidak akan pernah menjadi tua.

Bagi Ibara, itu semua hanyalah shangrilla. Sesuatu yang utopis. Sebab, kebahagiaan yang manis hanyalah sihir negeri dongeng. Ibara takut bermimpi, takut berharap. Satu per satu yang dianggapnya berharga lenyap. Hal yang seharusnya tak terjadi, justru terjadi. Ibara menjerit. Ibara berteriak. ‘Mengapa?’

Lihatlah Ibara, terseok menahan sakit. Dan Ibara adalah kita. Membenci diri sendiri, yang tak mampu melakukan apa-apa. Hanya bisa marah-marah. Ketika kebahagiaannya terenggut. Atau ketika segala sesuatu tak berjalan sebagaimana yang kita mau. Mempertanyakan, ‘Mengapa’ dan berharap ada seseorang yang memberitahu jawabannya. Ibara (kita) lupa. Ada begitu banyak jiwa yang sedang mengerang. mempertanyakan, ‘Mengapa’ hidup terasa tak adil untuk mereka. Lalu…marah dan bersedih….

Mengapa seorang pemuda berusia 25 tahun harus tewas? Mengapa Amerika harus ngotot menyerang Irak? Atau, mengapa persoalan lumpur di Sidoarjo tak jua menemukan titik terang? Mengapa saya jatuh cinta lalu kemudian harus berpisah? Mengapa setiap hari televisi di seluruh dunia mengalirkan berita sedih? Mengapa pada hal yang buruk, bertumpuk lagi ketidakbahagiaan? Lalu, mengapa harus aku (kita) yang mengalaminya?

‘Mengapa’ dibanding dikatakan sebagai pertanyaan lebih mirip perasaan marah. Saat tidak mengerti kenapa terjadi sesuatu kesengsaraan, tidak dapat melakukan apa pun dengan kekuatan sendiri, karenanya manusia berteriak, ‘mengapa?’

‘Mengapa’ lebih dari sekadar rasa ingin tahu. Sebuah pertanyaan yang acapkali melahirkan jawaban yang tidak absolut. Bahkan mungkin, tak pernah ditemukan jawabannya. Ungkapan rasa marah yang berbaur dengan perih dan rapuh. Terloncat dari bibir manakala kita tak lagi memiliki kekuatan untuk berbuat apa pun. Nyaris putus asa, namun belum ingin menyerah.

Bentuk ekspresi keraguan, kekecewaan. Kebingungan yang diaksarakan. Tetapi, pada satu titik tertentu, ‘Mengapa’ adalah awal sebuah jiwa melakukan refleksi. Memandang ke dalam diri. Berbicara dengan diri sendiri. “Mengapa” ibarat cermin yang memantulkan bayangan kita. Membiarkan kita menanggalkan satu demi satu topeng yang terpasang di rupa. Hingga akhirnya, kita berdiri telanjang dalam kejujuran.

Seperti Ibara, selalu ada hari di mana saya acap bertanya ‘Mengapa’ tanpa menemukan jawaban. Pernah, berhari-hari saya larut dalam kemarahan. Saya lupa mengajak bicara jiwa saya. Sampai satu ketika, ia merangsak maju, memaksa saya mendengarkan apa yang ingin ia bicarakan. Jiwa, dengan sebuah proses yang tak bisa digambarkan menggunakan kata-kata, akan menuntun kita menemukan jawaban dari ‘Mengapa’. Entah melalui buku, papan pengumuman, siaran radio, atau seorang teman yang tiba-tiba mengoceh sesuatu. Ia bekerja dengan cara yang luar biasa. Saya percaya, jiwa tak pernah berbohong. Syaratnya hanya satu. Sadarilah, bahwa kita bukan sekadar tubuh yang berisi jiwa. Namun, kita lah jiwa itu yang bersatu dalam gerak semesta.

Suatu hari, kita akan bertemu seseorang atau mengalami sesuatu yang memberitahukan kepada kita jawaban dari pertanyaan ‘Mengapa’. Seseorang yang menyebabkan jiwa kita membuka diri ke luar. Jiwa akan memberitahu apa yang kita rasakan, berusaha mengerti dan dimengerti orang lain, dan ingin mengerti diri sendiri.

Lalu, dengan kekuatan sendiri, perlahan, kita akan menambahkan hal yang bisa kita lakukan satu demi satu. Dengan begitu hal yang menyedihkan atau membuat marah akan bisa berkurang. Temukan mantra ajaibmu. Kata-kata penyemangat yang terdengar bagaikan mantra sihir. Entahlah, kadang saya percaya bahwa sihir itu mungkin benar-benar ada. Bahkan, sihir selalu ada di dalam hati manusia. Sebuah sihir jiwa. Mengapa saya percaya? Sebab, saya yakin, bahwa hati manusia bisa digerakkan oleh kata-kata. [13]

*) ini adalah sebuah tulisan usang yang saya tulis sewaktu masih kuliah pada 2000 untuk kolom di majalah dinding ‘radikal’ milik lpm dianns. 

**) foto diambil oleh @windyariestanty