ralat: bukan cinta

Kita hampir bercinta.

Iya. Hampir saja. Siang itu begitu membara. Aku bahkan tidak tahu, apa yang menggerakkan kita. Dengus napas panasmu yang memburu, atau gesekan kulit yang lengket karena keringat. Kaubilang, mungkin karena bibirmu rindu disentuh bibirku.

Hahaha.

Masa iya? Bukankah semuanya sudah jelas buat kita. Cerita kita sudah usai. Selesai pada waktu yang kita pilih: dua tahun yang lalu. Lantas, kenapa juga masih mendamba?

Kau tak menjawab. Tentu saja. Sebab kau bahkan tak mendengar apa yang sedang aku bicarakan. Matamu terpejam. Bibirmu menjelajah leherku. Pelukanmu semakin erat. Entah kenapa, aku justru merasa semakin ciut.

I. Love. You.

Kaubilang itu di ujung ciuman panjangmu. Setelah gigitan basahmu di telingaku. Kau bahkan tak menyisakan ruang bagi udara di antara tubuh kita yang kian merapat.

Shit!

Apakah kaudengar umpatanku? Maaf, aku bukan kekasih yang romantis. Bukan pula perempuan yang manis. Harusnya, aku menjawab itu dengan kenes, ‘I love you, too’. Tapi, ini sebaliknya. Aku mengumpat pedas.

Aku tak ingin minta maaf sebab telah menjawab cinta dengan tahi. Aku hanya meminta maaf untuk ketidakromantisanku sebagai kekasih. Tidak. Ini bukan masalah ego atau gengsi yang selalu kita ributkan di tahun-tahun lalu. Mana berani aku bilang cinta, sementara sebagian dari hati kecilku sendiri ragu, bahwa ini hanya semacam… ya, semacam cinta, mungkin?

Maaf, aku bingung mencari padanan kata untuk itu. Nantilah, kubuka kamus. Mungkin ada di dalam kamus serapan tentang sesuatu semacam cinta.

Sayang, kalau kaubaca ini, aku hanya ingin mengajakmu lebih realistis. Cinta tak melulu terasa manis. Ia bisa miris. Kata cintamu membuat aku semakin mempertanyakan cinta. Percintaan dan persetubuhan pastinya beda, bukan? Apakah kau yakin, persenggamaan ini adalah sebuah percintaan atau tak lebih dari persetubuhan? Sekadar tubuh yang bergesek dan saling memuaskan, atau cinta yang memberi dan saling meluaskan?

Bukannya aku menganggap kau seorang pembohong. Untuk sebuah kata cinta di sela-sela ‘pergumulan’ panas kita, di antara deru napas yang memburu karena nafsu, kau terdengar naïf karena percaya dan mengucapkan semua itu sebagai cinta. Setidaknya, bagiku.

Mari bicara jujur. Aku pikir, apa yang kaurasakan bukan cinta.

Aduh, aku bayangkan, kalau kuucapkan ini di depanmu tadi siang, keningmu pasti langsung berkerut. ‘Susah banget sih mau mesra-mesraan ama elo!’ begitu sungutmu. Dan pelukanmu pasti mengendur. Lalu, aku akan memainkan cuping hidungmu dengan jari telunjukku. Mencoba merayumu, agar mau mendengar apa yang aku bicarakan. Kautahu, aku selalu merindukan ‘percintaan’ yang panas dengan percakapan yang intens. Tapi, siapa pula lelaki yang mau melayani pertanyaan-pertanyaanku di sela gemuruh berahinya?

Dan kau akan bilang, ‘Bisa nggak sih lo berhenti mikir pas lagi “beginian”?’

Lelakiku, tahukah kau, aku selalu tersenyum bila mendengar umpatan di sela ciumanmu? Kau terganggu. Tapi, kau juga mencandunya, kan? Akui saja!

Oke. Siang tadi, aku tak ingin menjelma menjadi mantan kekasih yang tak mesra. Setelah sekian lama tak bersua, rasanya tak lucu juga kalau aku merusak ‘interaksi’ kita siang tadi dengan pikiran-pikiran yang melintas di otakku.

Jadi kuputuskan;
untuk diam hingga bibirmu berhenti mencumbu dan tubuhmu tak lagi memelukku.

Sayang, aku tidak sedang menertawaimu. Aku hanya ingin tahu, apa yang kaupikirkan seandainya kubilang ini tidak lebih dari naluri binatang? Keinginan kita untuk keluar dari rutinitas. Mencicipi dosa yang membuat kita terlihat seperti dua orang pembangkang yang berusaha mengibuli dunia. Dua orang pendosa yang merayakan rahasia kecil di antara mereka dan bahagia karena berhasil menyimpannya.

Huh. Jangan khawatir. Aku tak akan tersinggung seandainya ini memang benar bukan cinta. Aku bahkan nyaris yakin, ini bukan cinta. Ini berahi, ini naluri liar kita.

Cinta tak pernah salah. Hanya saja, ia terkadang datang terlambat, atau sialnya lagi, salah alamat. Ketika itu terjadi, ia menjelma menjadi nafsu yang kemudian kita labelkan cinta.

Kau setujukan kalau manusia itu makhluk penuh intrik? Zoon politicon, kata Aristoteles. Agar tak terlihat murahan, kita menganggap persenggamaan ini sebagai persekutuan suci dengan mengatasnamakan cinta. Kau-aku hanya ingin terlihat sebagai manusia yang punya cinta, dan tidak diperbudak nafsu. Dengan demikian, kau dan aku menjadi benar dan bermartabat, serta tentu saja, tidak bejat.

Lelakiku, kalau kaubaca ini, aku tak tahu apakah kau akan tersinggung. Kalau setelah ini, kauputuskan untuk tak lagi menemuiku, buatku, itu tak apa. Tapi sungguh, aku hanya ingin jujur.

Inilah yang membuatku berhenti menciummu, tadi siang.

Lelakiku,
kita hampir bercinta.
Oops. Ralat.
Kita hampir bersetubuh. Siang tadi. [tigabelas]

Jakarta, satu hari di bulan Juli, 2008

*)picture taken from www.gettyimages.com

bumbu rahasia

SAYA bukan tukang masak. Tapi saya mengetahui sebuah bumbu rahasia yang akan membuat masakan apa pun menjadi enak.

Saya mengetahui bumbu rahasia ini dari sebuah buku. Sebuah buku bukan tentang resep masakan ataupun aneka bumbu masakan dari seluruh dunia.

Itu buku biasa. Berisi tentang kisah-kisah menarik dari banyak orang. Saya sudah lupa judul kisah yang mengungkapkan bumbu rahasia ini. Tapi ini kisah nyata tentang seorang anak yang sangat menyukai masakan ibunya.

Bagi si anak, ibunya adalah tukang masak ulung walaupun predikat chef tak disandangnya. Semua masakan buatan ibunya sangat lezat. Dan itu diakui oleh siapa saja yang pernah mencicipi masakan sang ibu.

Suatu hari, ketika mereka sedang memasak bersama, si anak bertanya kepada ibunya. Bumbu rahasia apa yang kerap ibunya masukkan ke dalam masakan sebelum dihidangkan. 

‘Apakah aku boleh mengetahuinya?’ Si ibu hanya tersenyum mendengar permintaan anak gadisnya. ‘Aku ingin memasak seenak Ibu,’ rengek si anak.

‘Suatu hari nanti.’

Entah apa maksud si ibu dengan suatu hari nanti. Apakah suatu hari nanti si anak bisa memasak seenak dirinya, atau suatu hari nanti dia akan memberitahu.

Tapi yang jelas, saat itu si ibu tidak memberi tahu anaknya bumbu apa yang ia masukkan. Si anak hanya tahu bumbu itu disimpan dalam toples kecil yang ditaruh ibunya di salah satu lemari dapur. Sayangnya, lemari dapur itu selalu terkunci.

Waktu pun berlalu. Si anak semakin dewasa, sementara ibu kian renta. Hingga suatu hari, sang ibu meninggal. 

Seusai pemakaman, si anak memilih duduk sendiri di ruangan dapur. Ia duduk di tempat biasanya si ibu duduk. Membayangkan bagaimana ketika ibu dan ia masak bersama di dapur. Bercanda. Menyantap hidangan di meja makan yang terletak tak jauh dari meja dapur. Semua kenangan itu muncul menyeruak di benaknya. 

Tiba-tiba, si anak teringat dengan bumbu rahasia itu.

Ia mencari kunci lemari dapur, lalu menemukannya di laci meja dapur. Dengan dada berdebar, ia membuka lemari dapur si ibu.

Di sana, toples si ibu masih ada. Berwarna putih terbuat dari porselen dengan gambar bunga mawar yang telah memudar. Perlahan ia mengambil toples itu. Ketika mem¬bukanya, ia menemukan sebuah kertas yang terlipat.

‘Aku selalu memasukkan cinta ke dalam setiap masakanku, Nak. Hanya itu bumbu yang aku punya.’

Begitulah tulisan di kertas dalam toples.

***

BARA Pattiradjawane adalah sosok yang mengingatkan saya tentang kisah itu sejak pertemuan pertama kami.

Siang itu, di sebuah kafe di Citos, Mas Bara—begitu teman-teman Gagas biasanya memanggilnya—bercerita bagaimana hangatnya dapur bisa menyenangkan jiwa. Bagaimana dapur nenek selalu menjadi tempat menenangkan dan cinta si nenek bisa ia rasakan di situ. Buat Mas Bara, meja makan selalu punya peranan penting untuk mengakrabkan manusia, apalagi keluarga.

Kisah-kisah di balik dapur ini kerap mewarnai percakapan kami yang memang bisa dihitung dengan jari. Namun, cerita-cerita di balik dapur yang dengan renyah ia tuturkan berhasil menyihir kami masuk ke dalam komporosphere*. 

Mas Bara tak suka menyebut dirinya chef. ‘Saya ini hanya tukang masak,’ katanya. Perjalanan karier di dunia masak-memasak diistilahkannya ‘karier kompor’. ‘Dan saya tukang masak yang suka menulis,’ sambungnya.

Mas Bara sadar dia bukan bintang dari acara atau bukunya. Ketika proses mengerjakan buku, ia selalu berucap, ‘Pastikan masakan dan tulisan saya jelas di sini ya. Mereka bintangnya, bukan saya.’ Untuk acara TV pun ternyata Mas Bara sama. Ia selalu meminta kamera meng-shoot masakannya, bukan dirinya. ‘Masakan saya adalah bintang acara saya,’ tegasnya.

Dan kami tahu, dia melakukan semua itu dengan cinta yang luar biasa. Bahwa masakan atau tulisan yang dibuatnya adalah manifestasi dari rasa cinta yang coba ia bagi.

Bekerja sama dengan Mas Bara selalu terasa menakjubkan. Teman-teman saya selalu pulang dengan binar-binar di matanya secapek apa pun pemotretan yang mereka lalui bersama Mas Bara. Dan, tentu, tak pernah habis cerita kembali mereka tuturkan tentang obrolan bersama Mas Bara.

Buat saya, Catatan dari Balik dapur Si Tukang Masak adalah dapur kecil bagi siapa saja: si doyan makan, si suka masak, si tukang nulis, atau penyuka dunia di balik dapur. Siapa pun boleh masuk dan menikmati cerita-cerita kecil yang berserak itu. 

Tak ada yang pasti tentang selera. You can love, you can hate. Namun, saya jaminkan, cinta itu yang akan kalian temukan di sini.

*)komporosphere adalah istilah yang saya ciptakan untuk menyebut dunia kompor. terinspirasi dari blogosphere

**) picture taken from gagasmedia.