canonian, nikonian, and iphonian. #rekamjakarta #airport (Taken with instagram)
Category: Uncategorized
apakah itu kamu?

Lama pertanyaan ini menggayut di benak. Tentang kamu. Seorang—atau sebenda—yang tak cukup kata untuk dirapal. Bahkan terkadang kupikir, bahasa apa pun tak akan mampu mendeskripsikanmu dalam tunggal.
Bagiku, kamu absolut tapi penuh relativitas.
Kamu hadir dari balik ketidaksadaran. Menyelinap sopan tanpa disadari. Tiba-tiba, di sanalah kamu berdiam. Terus menatap, tanpa bicara.
Kadang aku rikuh dengan semua kesabaranmu. Keberadaanmu yang timbul-tenggelam. Antara ada dan tiada. Namun, pada saat tak terduga, menyeruak masuk dan mengendalikan semuanya. Tanpa diundang. Sialnya, kamu tahu, memang hanya kamu yang mampu melakukannya.
Tak perlu ajakan. Karena bahasa itu tak ada dalam kamusmu. Kamu selalu diinginkan, begitulah menurutmu. Jadi, aku biarkan saja kamu di sana. Memilih tempatmu sendiri. Menjadi penonton setiaku. Bukan, pecinta setiaku. Ini kelakarku. Dan saat itu kaubilang tak apa. Tak ada bedanya. Cinta itu tetap ada di situ. Tak perlu dicari, siapa mencintai siapa, siapa dicintai siapa.
Katamu, kamu selalu cinta aku. Banyak hal yang bisa berubah di dunia ini, tetapi ada satu yang selalu sama. Dari dulu sampai sekarang. Kamu selalu mencintaiku. ‘Aku ini cinta matimu,’ bisikmu malam itu lewat angin. ‘Bagaimana kalau aku yang cinta matimu?’ tanyaku, tak mau kalah. Kamu tersenyum simpul. Senyum yang dikulum itu selalu aku suka. ‘Tak ada bedanya, bagiku,’ jawabmu tenang, membuat ego kemanusiaan menguap entah ke mana.
Jadi, sampai aku mati, bahkan di sebuah kehidupan yang abadi kelak, kau jaminkan cintamu itu tak akan berubah. ‘Hanya kepadaku, kamu selalu pulang,’ ujarmu yakin.
Entah kenapa, alpa begitu lekat pada diri manusia. Aku alpa akan kamu. Kadang, memang ada rindu, namun gampang pula aku tak hirau. Nanti saja. Toh kamu selalu ada di sana.
Ya, kau selalu ada di sana, bukan?
***
‘Kapan kau akan meninggalkanku?’ tanyaku setelah sekian lama aku tak menemuimu.
‘Apa itu kapan?’
‘Kau tak muak dengan semua sifatku? Aku pelupa, aku sombong, bahkan mungkin, aku tak cinta kepadamu,’ kataku di suatu malam. Kita berdua duduk dalam gelap. Kau mendekapku. Semesta terasa kecil. Aku seperti satu di antara ribuan bintang yang melihat bumi dari sebuah sudut di jagat raya.
‘Sudah kubilang, aku ini cinta matimu. Aku ini tempat kau selalu pulang. Aku ini kekasih abadimu.’
Aku seperti melangkah di udara. Melayang. Melambung. Terbang ke galaksi. Semesta seperti bernyanyi. Itu kidung cinta yang indah. Kaubilang, bintang di sebelah kejora tersipu mendengarnya. ‘Lihat, pipinya memerah.’
Aku tertawa. ‘Itu Mars,’ kataku.
‘Kamulah Mars itu,’ jawabmu. ‘Kau tak perlu menjadi kejora untuk tampak cemerlang. Seperti Mars, kamu memang sudah berbeda dari sananya. Siapa pun menyadari keberadaanmu. Tak perlu menunggu langit cerah.
Kau berteman dengan malam. Kau bersahabat dengan gelap. Keduanya tak akan melenyapkanmu. Keduanya memantapkanmu.’
‘Dan seperti itulah aku bagimu,’ bisikmu. ‘Menguatkanmu, sekaligus melemahkanmu.’
Aku berusaha mencari matamu. Tapi yang kutemukan hanya dalam. Dalam yang tak berdasar.
‘Bagaimana aku bisa tahu itu kamu?’ tanyaku.
‘Apakah kau bisa mendengar suara angin?’
‘Apakah itu kamu?’
‘Bukan. Tapi, kalau kau mendengar angin serupa bunyi seruling, dan kau bisa melihatnya, saat itu kau tahu, aku sesuatu yang paling abadi untukmu.’
Melihat angin? You must be kidding me!
‘Apakah itu mungkin?’
‘Bukan mungkin, melainkan bisa.’ Katamu, kadang aku hanya ingin melihat sesuatu yang berwujud fisik saja. Padahal, keberadaan sesuatu bisa saja tidak kasat mata. Seperti cinta. Kau tak tahu seperti apa rupa cinta. Tapi cinta yang terbesar, bisa kau lihat dalam diriku, yang menjelma dalam dirimu.
‘Kamu memang pujangga ulung.’ Aku melengos.
‘Bahasa memang tercipta untuk memuja keindahanku.’ Lagi, kamu tersenyum. ‘Tapi kau tahu, tak ada bahasa yang benar-benar mampu menerjemahkan keberadaanku. Kamu sungguh tahu itu.’
‘Jadi, bagaimana aku bisa melihat angin?’ Aku coba mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kamu selalu benar. Dan aku tak ingin membenarkan omonganmu di hadapanmu.
Kau hanya menunjuk ilalang di padang rumput yang bergerak-gerak. Kau mengajakku ke dahan pohon, dan menyaksikan pucuk-pucuk daun yang bergoyang. Lalu, tanganmu terulur menyentuh rambutku.
Aku tersentak. Ini pertama kali tanganmu menyentuh rambutku. Ujung rambutku terlepas dari tanganmu, tersapu angin. Angin berdesir. Berembus. Semakin kencang, hingga pohon berderak. Rumput bergemerisik. Ia berdesau. Desaunya terdengar seperti suara tiupan seruling.
‘Kau baru saja melihat dan mendengar angin, Anakku.’
Aku terdiam. Begitu banyak hal sepele yang aku lupakan. Begitu banyak kejadian luar biasa, yang aku kecilkan.
Tanganmu meraih pipiku. Merangkumnya dalam satu genggaman. Matamu tetap dalam. Aku tahu, aku tenggelam di dalamnya.
‘Dan izinkan aku masuk ke dalam dirimu. Menjadi bagianmu. Jadilah kekasihku. Selamanya.’ Itu cara paling sederhana untuk saling mencintai.
‘Apakah itu kamu?’
Kamu tertawa mendengar pertanyaanku. Tawa yang gemerincing, bergaung seperti sebuah genta.
‘Kamu. Aku ada di dalam kamu.’
Sesederhana itu.
Starbucks-PIM 2, October 17th, 2009
kepada dia, ‘g’. untuk satu malam dengan satu bintang dan satu bulan di langit gelap.
*) image taken from www.gettyimages.com
the challenge: more food, less water. mekong delta, #vietnam (Taken with instagram)
the bikers. #luzern #lucerne #switzerland #autumn (Taken with instagram)
Jakarta, Indonesia: Kristanto, 10, covered with grease and dirt, gathers scrap metal from a burnt bulldozer following bloody clashes between security forces and religious followers in the port district of Tanjung PriokPhotograph: Romeo Gacad/AFP/Getty Images
writing itself is easy, being a writer is not easy though. it’s a long way to go. never ending process, unless you decide to stop.
surat cinta

AKU pernah sekali menulis surat cinta.
Setidaknya, aku menganggap itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang penuh dengan pernyataan sayang dan ungkapan kasmaran.
Surat cintaku tidak kutulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula aku masukkan ke dalam sebuah amplop berwarna merah jambu yang distempel kecup bibir.
Surat cintaku biasa saja.
Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pemberian si Pujaan Hati. Lelaki yang berhasil merebut hatiku dan rasa ingin tahuku, saat itu, tentang apa yang ia pikirkan.
Surat cintaku menyimpan ceritanya. Cerita tentang lelaki yang aku sebut berwarna biru. Langitku. Cakrawalaku. Angkasaku. Dan aku adalah angin yang mencumbui setiap jengkal luasnya dalam pandang yang tak bisa dibatasi. Tidak oleh siapa pun.
Buku harian cokelat itu adalah lembaran surat cinta kami. Hari pertama aku mendapatkannya sebagai hadiah, tak lebih sebuah oleh-oleh dari perjalanan liburannya ke negara bagian lain. ‘Aku tak tahu harus memberi apa,’ katanya. Aku tertawa saat itu. Tak berharap mendapatkan apa pun.
Tapi, begitulah dia. Seperti langit yang bisa kaulihat, tapi tak kauketahui batasnya, ia selalu penuh kejutan. Dia mengulurkan sesuatu berbentuk segi panjang. Tak dibungkus kertas kado yang cantik. Hanya kertas putih tipis yang pastinya langsung dari toko ketika ia membeli.
‘Hey, you don’t have to….’
‘Say that till you open it,’ sahutnya.
Aku membuka kertas putih tipis dan menemukan buku harian itu. Aku tak ingat. Sepertinya bibirku melongo membentuk huruf o. Entah kenapa, itu seperti buku harian yang selama ini ada di bayanganku. Cokelat, kuno, dan seolah sanggup menjaga semua rahasia yang kausimpan bersama waktu meski ia tak berkunci.
Dia tersenyum. Senyum yang manis. ‘Hope you like it.’
‘I do like it.’
‘I have no flower. I mean, I don’t want to buy a flower.’
‘I do not like flower.’
‘I know, but some men do that.’
‘You do not.’
‘I want. But I know, you do not like it. I choose this…as a substitute for a flower….’ Dia mengulurkan sebuah boneka kecil. Anjing berkepala tiga yang ada dalam buku Harry Potter. Hewan yang jauh dari imut, bahkan di buku dan film terlihat sangat mengerikan. Teman perempuanku tertawa ketika tahu boneka apa yang ia berikan kepadaku. ‘Masa kasih cewek boneka beginian!’ komentar temanku.
Begitulah dia. Romantis dengan caranya. Kau tak akan percaya. Aku pernah menuliskan surat cinta untuknya, dan berjanji memenuhi halaman dari setiap lembar buku cokelat itu dengan surat cinta yang serupa cerita.
Aku pernah menghabiskan malam memikirkannya. Mengingat setiap detik yang kami lalui di antara hingar-bingar pertemanan. Apa yang ia ceritakan. Ekspresinya. Tawanya. Wajah bengalnya yang sok inosens ketika berhasil mencuri cium di tengah jalanan kota. Dan hal konyol yang ia lakukan. Kadang, dengan sudut mataku, aku mengamati cara dia melihatku di antara keramaian. Sejujurnya, aku jatuh cinta pada caranya menungguku di ujung bangku kayu di tepi sungai itu, pada kencan tak resmi kami yang pertama di penghujung musim semi. Aku jatuh hati pada caranya bertanya, bagaimana bahasa bisa tercipta. Aku jatuh pada rasa jengah ketika ia tersenyum kecil tanpa banyak bersuara. Dan itu yang aku tuliskan dalam surat cintaku yang pertama untuknya.
Surat cintaku adalah Satu Kisah tentang Dia. Langitku. Biruku. Angkasaku. Cakrawalaku.
Seseorang yang pernah membuat waktuku bergulir begitu lambat dan manis. Seorang yang padanya aku pernah berharap, ada warnaku di bianglala miliknya.
Kalau kau berpikir harus ada kata cinta dalam surat cinta, maka bacalah surat cintaku untuknya. Tak ada satu pun kata cinta di situ. Hanya ada rekaman hal yang kuingat tentang dia sepanjang hari. Hanya ada cerita tentang mimpinya dan mimpiku. Berbagi cerita. Berbagi rasa. Berbagi rahasia. Berbagi tawa. Berbagi duka.
Begitulah surat cintaku. Aku hanya serupa pengamat yang menyukai objek yang dilihatnya dan mencoba mendeskripsikan. Bagiku, itu melampau rasa cinta itu sendiri. Tak ada yang mampu menjelaskan cinta, selain cinta itu sendiri. Dan pada akhirnya, semua kembali kepada merasakan. Bukan mengatakan.
***
AKU pun pernah menerima surat cinta darinya.
Setidaknya aku menganggapnya itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang terangkai penuh kata indah layaknya pujangga. Bukan. Dia tak pandai menulis. Beberapa pilihan katanya bahkan membuatku tertawa geli. Tapi, entah mengapa, aku tahu, ia menulis dengan jujur, dan berusaha keras agar bisa menulis dengan indah.
Surat cintanya tidak ditulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula dipenuhi kata yang romantis. Tapi, entah mengapa, surat cintanya terasa manis dan mampu membuat pipi menjadi semerah dadu.
Surat cintanya memang tidak biasa.
Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pembeliannya sendiri.
Surat cintanya menyimpan cerita tentangku. Ia mulai menuliskannya di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Begitulah kami berkirim surat cinta; lewat sebuah buku harian cokelat. Aku memulainya dari depan, ia memulainya dari belakang. Kami akan bergantian membawa pulang buku cokelat itu hanya untuk menulis surat cinta yang serupa cerita.
Terus seperti itu. Selang dan berseling. Kau tak akan pernah tahu, bagaimana kami bermain tentang peran tukang pos mengantarkan surat cinta. Bagaimana kami berbagi rasa. Seperti apa kami membagi rahasia. Kami seumpama dua mata-mata cilik yang setiap hari saling melempar kode. Bertukar sandi. Lalu, buru-buru pulang ke persembunyian masing-masing untuk menemukan jawaban teka-teki. Tentunya dengan dada berdebar dan hati yang seumpama bunga mekar. Tentunya ini berbeda dengan cerita dektektif benaran. Yang membaca kode sandi dengan hati cemas dan pikiran yang dipenuhi rasa ingin tahu, kapan tibanya hari naas.
Aku dan dia berjanji, akan bertemu di halaman tengah untuk memadukan kata di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Kami menganggap itu janji yang manis.
Sungguh.
***
APA yang kauharapkan dari sebuah kisah cinta yang pernah diwarnai surat cinta?
Aku pernah sekali menerima surat cinta dalam amplop biru yang wangi. Lidah amplopnya direkatkan dengan isolasi berwarna cantik : baby blue. Biru pucat, aku menyebutnya.
Surat cinta yang aku terima tidak ditulis di atas selembar surat bergambar hati dengan goresan ‘perhaps love’. Amplop itu hanya berisi dua kartu remi, masing-masing bergambar king dan queen hati, sobekan separuh dari satu halaman paling belakang buku cokelat. Ia pernah merobeknya. Hari itu, ia memutuskan untuk mengembalikannya kepadaku, sehari sebelum semuanya harus selesai, dan mengantarkannya sendiri kepadaku.
Senyumnya tipis, dan tetap manis. ‘Sometimes, king and queen cannot “sit” together in the real world. But, still you have that place in my heart.’ Hari itu, aku menjadi ratu tanpa takhta dan mahkota di hatinya.
That was the last time; we kissed each other.
Begitulah cerita cinta yang diwarnai surat cintaku berakhir. Tak pernah bertemu di ujung cerita.
Tak apa. Tidak setiap cerita dimaksudkan untuk bahagia bersama. Kita bisa berbahagia sendiri dan bertukar cerita agar yang lain merasakan bahwa hal biasa bisa menjelma luar biasa pada waktunya.
Setidaknya, aku pernah menulis surat cinta. [tigabelas]
Jakarta, 25 Juli 2008
*)image: love post office, seoul tower. taken by windy ariestanty
wake up! #jakarta #rekamjakarta #goodmorning (Taken with instagram)
a man from behind a window. soekarno-hatta airport, jakarta. #rekamjakarta






