berhenti

‘Dia memutuskan berhenti mencariku,’ ujarnya dengan wajah kuyu. Kulit cokelat keemasan yang kerap kali berkilap bila terkena panas tak lagi terlihat menggoda. Kehilangan semua eksotisme yang menjadi identitas negeri tropis tempat ia berasal.

‘Kau merindukannya?’ tanyaku. Aku tahu rasa rindu itu. Perempuan itu juga memutuskan berhenti mencumbu bibirku. Ia tak lagi ingin meneguk cairan kenikmatan yang ia candui ketika bibir kami bertemu.

Ia mengangguk. Kulit kecokelatannya berkilat, terkena sinar lampu kuning yang berpendar temaram dari sudut-sudut kafe ini. Aku menggeser posisiku ke tengah meja. Tawa renyah dari pengunjung kafe yang lain terdengar memenuhi ruangan. Timbul-tenggelam di antara dentuman drum pertunjukan live music yang menjadi andalan tempat ini. Seseorang tamu yang sedang mencari meja menyenggol meja kami, aku nyaris terhuyung jatuh, sebelum seorang waiter dengan tangkas menahan tubuhku. Membantuku kembali ke posisi semula. Perempuan jangkung berambut panjang yang sedari tadi diam saja, mengangkat wajahnya dari layar iphone. ‘Terima kasih,’ bisiknya lirih ke waiter yang membantuku.

‘Kautahu rasanya kehilangan?’ Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Buru-buru kualihkan pandangan ke teman bicaraku di meja ini. Kami tak sengaja berkenalan karena perempuan itu, teman si Perempuan Jangkung yang duduk satu meja dengan kami. Ia suka duduk di pojok kafe ini dengan mengajak kami berdua. Dia memadankan kami. seolah berupaya menjodohkan. Padahal kami bukan kombinasi sempurna. Aku harusnya berpasangkan dengan dia, perempuan itu. Dia saja. Tanpa perlu kehadiran pihak ketiga.

Tapi, entah bagaimana ceritanya, malam-malam panjangku bersama perempuan itu tak lagi aku habiskan berdua saja. Mulai ada dia, yang menggoda dengan warna cokelat keemasannya. Yang beraroma manis. Juga sesekali si Perempuan Jangkung yang ditemuinya tidak setiap saat.

Aku sempat bertanya-tanya, apakah perempuan itu menyukai bau yang manis? Setahuku, dia lebih suka bau kayu daripada vanila. Bau rumput daripada bunga.

Kujawab singkat, ‘Tahu.’

‘Kapan?’

Aku menatapnya dalam.  Kebersamaan kita belakangan ini membuatku kehilangan waktu berdua saja dengan perempuan itu, perempuan yang tak suka rasa manis. Padahal, aku merindukan cuping hidungnya yang membaui aromaku. Aku menikmati halus pipinya yang kerap menempel di tubuhku ketika menyanggah dagu dengan tangannya. Terlebih, aku ketagihan menyentuhkan bibirku di bibirnya yang tipis dan jarang terpoles lipstik.

‘Beberapa saat belakangan ini,’ jawabku malas.

‘Sejak ia tak lagi mencari kita?’

‘Kita? Ia mencarimu, tetapi aku? Dia memburuku.’ Nada suaraku penuh penekanan. Menegaskan, betapa aku dan dia berbeda di mata perempuan itu. Tak peduli di mana pun ia berada. Ia bilang, ia menyukai aku yang berada di Praha. Aku dan dia juga pernah menikmati sore yang mendung di tepi Sungai Reuss, Lucerne. Lalu ketika berada di Brugge, Belgia, ia mengulas senyum manis sambil berkata, ‘Cheers!’ sebagai penutup malam di kota cantik itu. Masih kurang? Kuberitahu sesuatu yang membuatmu sadar bahwa kita berbeda. Ia pernah menelusuri jalanan gelap di Ubud untuk sampai di sebuah kafe berlampu merah-kuning-hijau karena mati kebosanan dan ia memilih aku menjadi temannya menghabiskan malam itu. Aku saja.

‘Di mana kamu saat itu?’ Nada sinis tak berhasil kuhilangkan.

‘Tak perlu mengurai kenangan. Aku mengenal dia sedari kecil. Jauh sebelum ia berkenalan denganmu di bangku kuliah!’ Dia menjawab sengit. Aku agak terkejut dengan kemarahan yang tertahan itu. Kami rupanya sama-sama terluka karena ditinggalkan.

Dan, seperti kaset tua yang usang, dia bercerita tentang masa kecil perempuan itu. Lagi. Ini salah satu hal yang tak habis kucemburui. Dia hadir pada masa kecil perempuan itu. Aku harus menahan sebal kalau ia mulai bercerita tentang pagi atau sore yang mereka habiskan di meja makan. Kadang juga, di kusen jendela. Perempuan itu suka duduk di bingkai jendela dengan menekuk kedua kakinya ke dada. Kata dia, itu pemandangan yang indah. Ketika sepasang mata bulatnya melihat ke langit dan menerka bentuk-bentuk awan. Aku ingin melihat perempuan itu begitu. Menerka apa yang dibayangkan oleh alam pikirannya yang belia tentang awan-awan itu.

Aku mengenalnya ketika dia sudah dewasa. Mengecap bangku kuliah. Perkenalan pertama kami pada sebuah malam di salah satu sudut kampus. Ia bersama teman-temannya berdiskusi tentang Tuhan. Itu pertama kalinya, aku berada di antara perdebatan tentang Tuhan. Aku biasanya hadir di kamar yang bisu atau kelab-kelab malam yang dipenuhi asap rokok. Tapi, malam itu berbeda. Mereka bicara tentang konsep trinitas, satu Tuhan-tiga agama. Perempuan itu bahkan bicara tentang ‘Sejarah Tuhan’, buku mahatebal yang malam itu jadi alas pantatnya di lantai. Dan itu juga pertama kalinya, bibir perempuan itu bertemu bibirku. Aku mengecap banyak bibir. Tapi bibir tipisnya yang bicara tentang Tuhan yang perempuan membuatku tinggal lebih lama. Itu ciuman pertamanya denganku. Dan aku menyukai rasa bibirnya.

Malam itu, aku membuat ia tersungkur di bawah majalah dinding fakultas yang kerap dipenuhi tulisannya. Aku tak menyesalinya. Sejujurnya, aku menyukai kenyataan bahwa kontrol dirinya makin menipis karena aku. Aku menikmati gelisah yang ia sembunyikan ketika menyadari aku mulai menguasai akal sehatnya.

‘Aku rasa, malam itulah dia sadar, ia menyukai aku.’

No way!’

‘Kenapa tidak?’

‘Tak masuk akal. Dia pandai mengontrol diri! Ia tak pernah kehilangan kesadarannya!’

‘Heh? Kau tak terima kenyataan bahwa perempuan itu mabuk kepayang karena aku?’ Aku mendengus. ‘Itu kenyataan.’

‘Aku tak pernah melihat dia seperti itu!’

‘Buatnya, kau hanya potongan kenangan masa kecil di jendela itu. Kau memang cocok menjadi teman seorang gadis cilik!’ Entah kenapa, aku ingin menggoda si Kulit Cokelat Keemasan yang beraroma manis ini. Aku suka melihat kilat kecemburuan di dirinya. Menyadari bahwa belum pernah sekalipun perempuan itu dibuat mabuk olehnya.

‘Lalu kau? Kau mengenal dia yang dewasa?’

‘Menurutmu?’

‘Ia mencariku….’ Suara itu terdengar lirih. Aku melirik. Lagi, ia tak tampak semenarik biasanya: berkilat menggoda, menerbitkan liur. Ia kini hanya seperti potongan pisang goreng di depanku.

Aku seperti tak puas menggarami luka. Ia harus membayar waktu-waktu yang membuat aku kehilangan keintiman bersama perempuan itu. Perempuan yang membawa ia masuk ke dalam kebersamaan kami sewaktu di Desa Ubud. ‘Kau pikir kenapa dia baru mencarimu lagi sekarang? Ketika ia tinggal di tempat kecil, macam Ubud?’

Ia tercekat. ‘Ia merindukan masa lalu?’

‘Mungkin. Ia hanya ingin kembali sejenak ke masa kecilnya. Menikmati rasa manis tanpa khawatir hari esok. Bersamaku, ia mengenal rasa pahit.’

‘Maksudmu…’

‘Kau tak lebih dari sepotong masa kecil yang ingin ia kenang. Mencarimu tak ubahnya seperti permainan masa kecilnya. Dan Ubud membuat ia punya waktu untuk mengenang masa kecilnya. Kau kenangan. Aku realitas, kenyataan.’ Kalimat terakhir adalah ucapan pamungkasku.

‘Tapi ia pun meninggalkanmu.’

‘Sementara.’

‘Kau yakin? Ia perempuan keras kepala.’

Lalu, dari arah pintu, tawa renyah yang kami rindukan itu terdengar. Perempuan itu, selalu dalam balutan baju warna hitam, dengan senyum mengembang, menyapa ramah semua pelayan kafe yang ia lalui.

‘Lihat! Dia datang.’

‘Ya, dia ada di sini.’ Aku menahan napas. Aroma rumput yang menguar dari tubuhnya tercium. Aku berharap bibir itu akan menyentuh bibirku malam ini.

‘Hey, lama banget baru nyampe!’ sapa Perempuan Jangkung Berambut Panjang.

Perempuan itu, perempuan yang kami puja berdua, mencium pipi si Perempuan Jangkung yang sedari tadi duduk bersama kami dalam diam tanpa  melepaskan pandangan dari dua gadget di tangannya—iphone dan BlackBerry. ‘Macet! Gila aja. Deadline dan macet. Kombinasi sempurna nggak tuh? And i will be having a meeting tomorrow morning. Perfect!’ celotehnya. 

But, we still have fun tonight! Today is Monday madness.’

Yeah, rite. Godaan berat nih! Bir sebotol cuma ceban ya?’ Perempuan itu menarik kursi di sebelah Perempuan Jangkung. Ia menghempaskan tubuhnya, duduk di hadapan kami berdua.

Perempuan jangkung mengangguk. ‘I have ordered a bottle of beer and fried banana for you!’

Perempuan kami terdiam. Memandang kami berdua bergantian. ‘No, thanks. I stop drinking beer,’ menatap tajam ke arahku, ‘and eating banana fried,’ sambungnya sambil melirik ke arah potongan pisang goreng bersaput gula halus di sebelahku.

Mata Perempuan Jangkung Berambut Panjang membelalak. ‘Are you fucking serious with that? I thought you were kidding!

I said stop, not quit.’ [13]

 *) sedang berhenti minum bir dan makan pisang goreng. 

**) ‘two stella artoises and the best friend’, picture taken by @windyariestanty

cinta yang meluaskan


Kau bosan bicara cinta?

Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.

Kenapa?

Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.

Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.

Sudah seberapa jauh kaupergi?

Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?

Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?

Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.

Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit. 

Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega. 

Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu.  Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu. 

Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?

Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.

Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.

Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.

Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan. 

Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.

Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.

Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku. 

Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.

Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.

Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.

Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?

Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?

Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.

Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat. 

Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.

Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar. 

Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.

Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?

Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan. 

Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.

Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci. 

Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.

Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya. 

Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.

Tapi, dasarnya tetap cinta.

Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.

Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.

Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu. 

Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.

Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.

Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.

Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.

Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.

Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.

Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.


Ubud, 13 Februari 2012

*) image: a slice of white moon on the morning sky. location: bukit, ubud. taken by @windyariestanty