after the rain

If I could bottled the smell of the wet land after the rain

I’d make it a perfume and send it to your house

If one in a million stars suddenly will hit satellite

I’ll pick some pieces, they’ll be on your way

In a far land across

You’re standing at the sea

Then the wind blows the scent

And that little star will there to guide me

If only I could find my way to the ocean

Im already there with you

If somewhere down the line

We will never get to meet

I’ll always wait for you after the rain

(after the rain, adhitia sofyan)

picture by tim galney, taken from www.gettyimages.com

suatu ketika, aku-kau pernah saling jatuh cinta

Aku selalu membenci bandara.
Bandara selalu mengingatkanku kepada ucapan perpisahan yang dingin. Punggung yang menjauh pergi, dan kepala yang tak pernah lagi menengok ke belakang.

Bandara mengingatkanku pada malam yang diguyur hujan. Menatap tempias air yang menimpa kaca jendela. Embunnya membentuk bulir vertikal. Seperti sengkarut yang menyilang di hati karena semuanya harus selesai. Padahal, aku belum menginginkannya.

Aku. Dia. Kami. Berpisah karena waktu kami telah berakhir. Bandara menjadi tempat yang terasa beku. Udara musim dingin, air hujan yang mengguyur deras, dan bangku bandara yang terbuat dari besi adalah bisu yang membuat gigil ketika tersentuh.

Aku tak meradang. Menatap kosong ke landasan pacu bandara yang menjadi pemandangan dari balik kaca di ruang tunggu. Membiarkan sekian kenangan menyeruak dari bilik otak dan menjelma jadi potongan gambar dalam benak. Jendela itu mengingatkanku pada jendela lain di sepanjang pertokoan sebuah kota. Kami berdua, dengan telunjuk saling terkait berdiri di depan sebuah bridal house. Kaca display memamerkan sepasang patung manekin lelaki-perempuan dalam sebuah busana pernikahan. Gaun broken white nan anggun dan tuxedo yang elegan.

‘Pernah membayangkan memakainya?’ Aku menggeleng sambil tetap menatap jendela display. ‘Aku membayangkannya memakai pakaian itu dengan kamu di sampingku.’ Suara itu membuatku menoleh. Coba menemukan sekelumit kecil ekspresi di wajahnya. Bibir merahnya melebar, membentuk garis senyum. Wajah itu mencerahkan. Namun, hujan tak kenal waktu. Perlahan ia turun mengguyur kami. Tergesa, dengan tetap membiarkan telunjuk saling berkait, kami berlari ke pelataran toko yang terlindung kanopi.

Hari itu, hujan meluruhkan semua.
Tubuh kami berhimpit. Saling memberi ruang untuk hangat. Mata kami tak saling melihat, namun telunjuk tetap saling terkait. Air hujan membentuk rintik di permukaan air yang menggenang. Dan, pertanyaannya membuat aku terkenang.
‘Tidakkah cinta membuatmu tinggal?’
‘Apakah cinta meminta kita untuk tinggal?’ Aku menjawab tanpa menoleh. Percikan air hujan membasahi dua pasang sepatu kami yang kini terlihat penuh bercak.
‘Aku bahkan tak berani memintamu tinggal.’
‘Mintalah. Mungkin aku akan tinggal.’
‘Dan itu yang aku takutkan. Membuatmu tinggal karena cinta.’

 Telunjuk kami tak lagi saling terkait. Sepasang tangan kini saling menggenggam. Menggenggam entah apa. Karena janji sepertinya tak laku di antara kami.


Dan ia beranjak. Menarik tanganku. Menggenggamnya erat. Berdua kami berjalan di bawah guyuran air hujan. Tak tergesa. Tak berlari. Sesaat, ia masih sempat menoleh ke arah jendela display bridal house. Lelaki itu menggeleng, lalu kembali berjalan. Dan tak pernah lagi menoleh. Aku bahkan tak berani memintanya untuk berhenti.

Aku selalu membenci bandara.
Bandara mengingatkanku pada ucapan perpisahan yang dingin. Hari itu, semua memang harus berakhir. Tak ada alasan untuk tinggal. Yang tersisa hanya keharusan untuk pergi. Cinta tak akan pernah sanggup membeli cita. Janji tak cukup untuk ditukar dengan hati.

Aku dan dia berpisah di pintu bandara. Punggung kami saling menjauh. Kepala kami tak lagi pernah saling menoleh. Kisah dia dan aku tersimpan rapi dalam kotak bernama ‘kenangan’: suatu ketika, aku-kau pernah saling jatuh cinta. [13]

*)tulisan ini dibuat beberapa tahun lalu ketika saya masih membenci bandara. sekarang, saya penyuka bandara berkat seorang nenek yang saya ditemui di bandara o’hare, chicago.

**) image taken from www.gettyimages.com