bumbu rahasia

SAYA bukan tukang masak. Tapi saya mengetahui sebuah bumbu rahasia yang akan membuat masakan apa pun menjadi enak.

Saya mengetahui bumbu rahasia ini dari sebuah buku. Sebuah buku bukan tentang resep masakan ataupun aneka bumbu masakan dari seluruh dunia.

Itu buku biasa. Berisi tentang kisah-kisah menarik dari banyak orang. Saya sudah lupa judul kisah yang mengungkapkan bumbu rahasia ini. Tapi ini kisah nyata tentang seorang anak yang sangat menyukai masakan ibunya.

Bagi si anak, ibunya adalah tukang masak ulung walaupun predikat chef tak disandangnya. Semua masakan buatan ibunya sangat lezat. Dan itu diakui oleh siapa saja yang pernah mencicipi masakan sang ibu.

Suatu hari, ketika mereka sedang memasak bersama, si anak bertanya kepada ibunya. Bumbu rahasia apa yang kerap ibunya masukkan ke dalam masakan sebelum dihidangkan. 

‘Apakah aku boleh mengetahuinya?’ Si ibu hanya tersenyum mendengar permintaan anak gadisnya. ‘Aku ingin memasak seenak Ibu,’ rengek si anak.

‘Suatu hari nanti.’

Entah apa maksud si ibu dengan suatu hari nanti. Apakah suatu hari nanti si anak bisa memasak seenak dirinya, atau suatu hari nanti dia akan memberitahu.

Tapi yang jelas, saat itu si ibu tidak memberi tahu anaknya bumbu apa yang ia masukkan. Si anak hanya tahu bumbu itu disimpan dalam toples kecil yang ditaruh ibunya di salah satu lemari dapur. Sayangnya, lemari dapur itu selalu terkunci.

Waktu pun berlalu. Si anak semakin dewasa, sementara ibu kian renta. Hingga suatu hari, sang ibu meninggal. 

Seusai pemakaman, si anak memilih duduk sendiri di ruangan dapur. Ia duduk di tempat biasanya si ibu duduk. Membayangkan bagaimana ketika ibu dan ia masak bersama di dapur. Bercanda. Menyantap hidangan di meja makan yang terletak tak jauh dari meja dapur. Semua kenangan itu muncul menyeruak di benaknya. 

Tiba-tiba, si anak teringat dengan bumbu rahasia itu.

Ia mencari kunci lemari dapur, lalu menemukannya di laci meja dapur. Dengan dada berdebar, ia membuka lemari dapur si ibu.

Di sana, toples si ibu masih ada. Berwarna putih terbuat dari porselen dengan gambar bunga mawar yang telah memudar. Perlahan ia mengambil toples itu. Ketika mem¬bukanya, ia menemukan sebuah kertas yang terlipat.

‘Aku selalu memasukkan cinta ke dalam setiap masakanku, Nak. Hanya itu bumbu yang aku punya.’

Begitulah tulisan di kertas dalam toples.

***

BARA Pattiradjawane adalah sosok yang mengingatkan saya tentang kisah itu sejak pertemuan pertama kami.

Siang itu, di sebuah kafe di Citos, Mas Bara—begitu teman-teman Gagas biasanya memanggilnya—bercerita bagaimana hangatnya dapur bisa menyenangkan jiwa. Bagaimana dapur nenek selalu menjadi tempat menenangkan dan cinta si nenek bisa ia rasakan di situ. Buat Mas Bara, meja makan selalu punya peranan penting untuk mengakrabkan manusia, apalagi keluarga.

Kisah-kisah di balik dapur ini kerap mewarnai percakapan kami yang memang bisa dihitung dengan jari. Namun, cerita-cerita di balik dapur yang dengan renyah ia tuturkan berhasil menyihir kami masuk ke dalam komporosphere*. 

Mas Bara tak suka menyebut dirinya chef. ‘Saya ini hanya tukang masak,’ katanya. Perjalanan karier di dunia masak-memasak diistilahkannya ‘karier kompor’. ‘Dan saya tukang masak yang suka menulis,’ sambungnya.

Mas Bara sadar dia bukan bintang dari acara atau bukunya. Ketika proses mengerjakan buku, ia selalu berucap, ‘Pastikan masakan dan tulisan saya jelas di sini ya. Mereka bintangnya, bukan saya.’ Untuk acara TV pun ternyata Mas Bara sama. Ia selalu meminta kamera meng-shoot masakannya, bukan dirinya. ‘Masakan saya adalah bintang acara saya,’ tegasnya.

Dan kami tahu, dia melakukan semua itu dengan cinta yang luar biasa. Bahwa masakan atau tulisan yang dibuatnya adalah manifestasi dari rasa cinta yang coba ia bagi.

Bekerja sama dengan Mas Bara selalu terasa menakjubkan. Teman-teman saya selalu pulang dengan binar-binar di matanya secapek apa pun pemotretan yang mereka lalui bersama Mas Bara. Dan, tentu, tak pernah habis cerita kembali mereka tuturkan tentang obrolan bersama Mas Bara.

Buat saya, Catatan dari Balik dapur Si Tukang Masak adalah dapur kecil bagi siapa saja: si doyan makan, si suka masak, si tukang nulis, atau penyuka dunia di balik dapur. Siapa pun boleh masuk dan menikmati cerita-cerita kecil yang berserak itu. 

Tak ada yang pasti tentang selera. You can love, you can hate. Namun, saya jaminkan, cinta itu yang akan kalian temukan di sini.

*)komporosphere adalah istilah yang saya ciptakan untuk menyebut dunia kompor. terinspirasi dari blogosphere

**) picture taken from gagasmedia.

cantik

INILAH siklus kehidupan.

Yang tua akan digantikan yang muda. Begitulah, satu-satu, daun yang berrguguran akan digantikan pucuk-pucuk daun muda. Termasuk dalam urusan tampil menarik.

Entahlah. Semakin uzur seseorang, ia semakin tak punya hak untuk tampil menarik. Saya tegaskan. Ini bukan teori mutakir abad 21, Kawan. Bukan. Ini teori yang bergerak mengikuti siklus hidup manusia atas nama kepantasan dan kelaziman. Dan sayangnya, kepantasan dan kelaziman untuk tampil cantik dan atau menarik hanya milik kaum muda. Semakin lama kita hidup maka semakin berkurang hak kita untuk tampil menarik.

Kadang, bukan kita yang sengaja meletakkan hak untuk tampil menarik seiring dengan usia. Namun, pilihan yang diberikan untuk mereka yang semakin tua tak lagi banyak. Bukan kita yang tanpa sadar menguranginya, namun pilihannya memang tak lagi variatif.

Apa memang harus begitu. Atau, kita saja yang selalu mengidentikan cantik dan menarik hanya untuk mereka yang masih muda. Mereka yang sudah tua? No way, silakan minggir! Toh, Anda sudah menikmati hidup lebih lama! 

***

‘ANAK saya bilang, “Mami sudah uzur. Kenapa juga masih ke salon?”.’ 

Perempuan itu memegang rambut bagian sampingnya yang sudah di-blow ulang. Mematut bayangan dirinya. Rambutnya di-blow tinggi, menutupi kulit kepalanya yang terlihat karena rambut yang semakin jarang. Untuk usianya yang sudah 70 tahun, harusnya rambut miliknya berwarna putih. Namun, berkat penemuan pewarna rambut dan hasil perawatan salon langganannya ini, ia tetap memiliki warna hitam rambutnya.

Pegawai salon tertawa. ‘Lalu, Tante bilang apa?’

‘Saya bilang, kita perempuan ini serba salah. Kalau kita tidak merawat diri, kita jadi kurang menarik. Kalo kita tidak menarik, orang bilang kita tidak pandai mengurus diri. Tapi, kalau kita sudah tua, dan tetap ingin merawat diri, orang bertanya, buat apa dan terkesan ada-ada saja.’

Ia menatap lurus ke arah cermin. Di kaca cermin itu, ia seperti bicara kepada dirinya sendiri. Menyadari bahwa hidup terus berjalan, dan usianya terus bertambah. Garis-garis di wajahnya semakin banyak. Bedak setebal apa pun tak akan bisa menutupi keriput itu. Lipstik semerah apa pun tak akan bisa mengembalikan warna asli pada bibir yang semakin pias. Bahkan, perawatan rambut yang kerap dilakukannya seminggu sekali tak akan mampu menambah ketebalan dan mengembalikan warna asli rambutnya secara alami. Waktu memang tak akan pernah bisa berbohong. Dan ia sadar, ia juga tak akan bisa mengelabui sang waktu.

***

SAYA tercenung mendengar pembicaraan yang terjadi di belakang punggung saya. Lewat cermin di depan, saya bisa melihat apa yang terjadi di belakang punggung. Nyonya si pemiliki salon yang tengah memotong rambut saya sepertinya sadar kalau saya menyimak penuh percakapan yang terjadi.

‘Tante itu, walau sudah tua tetap rajin ke salon,’ terangnya. Saya pun manggut-manggut. Rutinitas ke salon perempuan itu sudah saya curi dengar ketika baru akan melangkah duduk di kursi saya.

‘Tante akan merayakan ulang tahun perkawinannya di mana?’ Pegawai salon kembali bertanya kepada perempuan itu.

‘Anak saya akan menjemput saya. Saya tidak tahu ke mana mereka akan membawa saya dan suami. Mereka hanya meminta saya untuk siap-siap. Saya hanya ingin tampil cantik di hari ulang tahun perkawinan saya.’

Tante Pemilik Salon memandang saya dari kaca. ‘Dia suka lupa apa yang dia bicarakan. Tadi dia menceritakan hal yang sama ketika saya memotong rambutnya,’ kata Tante Pemilik Salon dengan nada suara yang rendah. Mungkin, ia khawatir ucapannya didengar si perempuan itu. ‘Dia suka bercerita apa saja kepada semua pegawai di sini. Tapi, dia sering lupa kepada siapa dia bercerita dan apa yang diceritakan.’

Saya tersenyum. Itu bukan hal yang konyol untuk saya. Kadang, seseorang butuh menceritakan suatu kisah berkali-kali kepada orang yang sama untuk meyakinkan, tak ada yang terlewatkan. Bisa jadi karena ia senang mengingat hal yang terjadi ketika menceritakannya. O, ya, tentu saja itu terkadang terdengar membosankan dan melelahkan untuk orang yang diberi cerita. 

‘Tidak ada yang salah kan kalau perempuan tua seperti saya rajin ke salon?’ Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pegawai salon, Tante Pemilik Salon, dan saya yang mencuri dengar terdiam.

‘Entahlah, saya merasa, orang selalu merasa kalau perempuan tua ke salon itu aneh. Padahal, saya hanya ingin menyenangkan diri saya, juga suami saya,’ lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari siapa pun. 

Diam-diam saya mengamini ucapannya. Dia benar. Entah, mungkin tak banyak yang sadar, kadang, ketika kita bertemu perempuan tua yang berdandan, kita melabelkannya nenek genit. Menganggap tak pantas lagi orang yang sudah berumur berdandan neko-neko. 

Saya teringat kejadian sebelum saya masuk ke salon. Mobil saya harus menunggu untuk parkir karena ada mobil lain yang melintang di area parkir. Saya penasaran. Lama sekali pemilik mobil ini keluar. Perlahan, pintu mobil terbuka. Saya menduga yang bakal keluar adalah ibu-ibu pejabat atau seorang perempuan muda yang lelet dan manja habis. Oh, oke, beginilah sinisnya saya menanggapi ibu-ibu bersasak tinggi dan perempuan-perempuan muda yang tak bisa bergerak cepat karena kemayu. Dan salon, sayangnya, sering dipenuhi perempuan seperti ini.

Satu menit berlalu. Saya mulai tak sabar. Penumpang mobil belum juga keluar. Dari pintu satunya keluarlah perempuan muda dengan pakaian suster. Saya semakin malas, oh, oke, pasti ini ibu-ibu muda yang tidak pengen anaknya merecoki jadwal salonnya sehingga perlu bawa suster. Lalu, suster itu bergerak ke bagasi mobil mengeluarkan tongkat kaki empat. Suster muda itu meletakkan tongkat di depan pintu yang telah terbuka. Ia menjulurkan badannya ke dalam, menarik seseorang keluar dari mobil.

Dan saat itulah saya melihat, rupa perempuan yang sedari tadi saya tebak-tebak. Seorang perempuan tua dengan kepala nyaris botak dan badan ringkih yang kurus. Untuk berjalan dengan tongkat berkaki empat pun, ia masih harus dipapah oleh satu orang lagi. 

‘Mau ngapain nih nenek ke salon?’ Saya sempat berpikir demikian. Refleksi, mungkin, jawab otak saya segera. Setelah memarkir mobil, saya berjalan mendahului si nenek masuk ke salon. 

Hari ini, tebakan saya melulu meleset. Nenek bertongkat kaki empat itu tidak refleksi. Ia duduk tak jauh dari saya. Tadi, ketika rambut saya dicuci, rambutnya pun dicuci. Ketika rambut saya dipotong, ia justru sedang memejamkan mata menikmati pijitan lembut di kepalanya yang sedang di-cream bath.

***

PERTANYAAN perempuan tua yang hendak merayakan ulang tahun perkawinannya menampar saya. 

Jujur. Kadang saya masih suka mencebil sinis ketika melihat perempuan berumur tampil dengan dandanan lengkap. Sering tak habis mengerti mengapa mereka melakukan hal itu. Saya lupa. Harusnya, saya bertindak adil sejak dalam pikiran.

Iya. Apa yang salah dengan perempuan berumur yang pergi ke salon? Berdandan habis-habisan dengan make up lengkap dan baju berpotongan modern? Bukankah memang sifat dasar manusia selalu ingin tampil menarik? Dan, tak ada hukum yang melarang hal itu bukan? 

Tampil menarik hak semua orang. Tak peduli tua-muda. Yang menganggap itu lucu, konyol, dan tidak pantas, justru kita yang masih muda. Menganggap semua keistimewaan itu hanya milik kaum muda saja. Dan ini pun didukung oleh industri kapitalis dunia fashion dan kecantikan. Industri kecantikan dan fashion hanya dibuat untuk mereka yang masih muda. Lihatlah iklan dan model yang dipakai. Bahkan, entah kenapa, saya merasa manekin yang ada di toko-toko pakaian pun adalah representasi dari kemudaan.

Kalau pun ada kosmetik bagi perempuan yang usianya semakin matang, pasti berkaitan dengan upaya pencegahan penuaan dini. Bagaimana menyamarkan kerut di mata dan leher. Bagaimana mengencangkan kulit paha dan perut agar selulit tak ada. Atau bagaimana agar bokong dan payudara tak kendur.

Tak banyak juga produk fashion dirancang untuk mereka yang sudah tua. Kalau kita berjalan-jalan ke mal, seluruh gerai toko memajang desain pakaian untuk mereka yang muda. Untuk yang tua, kita harus jeli menyibak satu per satu jejeran pakaian yang ada. Ujung-ujungnya, mereka memamerkan desain konservatif yang mengarah ke religiusitas : baju kurung dengan kerudung.

Saya bergidik. Menjadi tua itu menakutkan. Pilihan mendadak terasa homogen.

Tak heran kalau ada yang bilang, dunia anak muda adalah dunia penuh warna. Pilihan hidup mereka variatif. Sementara, dunia orang tua, dunia yang kelabu. Yang tertinggal hanya hitam-putih. Seperti piramida, semakin tua seseorang, lingkungannya semakin menyempit, dan pilihannya pun semakin sedikit. Yang gawat, kita kadang menganggap ini waktu yang tepat buat tobat!

***

‘SAYA hanya ingin merawat diri saya. Walaupun dibilang sudah uzur oleh anak saya, saya tetap ingin terlihat menarik,’ kata perempuan tua tadi.

Kali ini, ia berdiri dari kursinya. Sempurna. Rambutnya telah dicuci, dipotong, dan di-blow. Wajahnya sudah dirias. Ia mengenakan blus broken white polos dengan celana denim berwarna krem. Tangannya menenteng tas jinjing berwarna putih bersih dengan aksen emas. Samar, saya mencium bau parfum-nya ketika ia bergerak, melintasi punggung saya, lalu menghampiri Nenek Bertongkat Kaki Empat.

‘Tadi ke gereja pagi?’ tanyanya. Ah, rupanya mereka saling kenal. Nenek Bertongkat Kaki Empat mengangguk. Mereka kemudian bercakap dalam bahasa Belanda.

‘Iya, perempuan tua seperti kita ini serba salah. Mau menata rambut saja bingung. Rambutnya sudah habis. Kalau pergi ke salon, orang selalu bertanya, mau apa, buat apa.’ Perempuan tua itu kembali mengulangi pembicaraannya. 

Nenek Bertongkat Empat membenarkan. ‘Padahal kita hanya ingin merawat diri. Menikmatinya.’

‘Kalau kita berantakan, tidak terawat, yang malu juga kan suami kita, anak kita,’ Perempuan tua melanjutkan. ‘Ya sudah, ik mau pulang. Keburu anak-anak saya datang menjemput.’ Ia menepuk pundak Nenek Bertongkat Kaki Empat dan melambaikan tangan kepada Tante Pemilik Salon.

‘Iya, Tante. Hati-hati. Selamat ulang tahun perkawinan!’ seru Tante Pemilik Salon. Perempuan tua itu tersenyum sumringah lalu melangkah pelan ke pintu keluar dengan muka berseri.

Entahlah, kali ini saya merasa,
ia perempuan paling cantik yang pernah saya lihat keluar dari salon hari ini.

Saya tahu, ini bukan karena perawatan yang baru saja ia lakukan. Namun karena rasa bahagia terpancar dari wajahnya. Ada harapan di situ. Ada yang ia tahu pasti menunggunya: anak-anak dan suami. 

Kali ini, waktu tak lebih tamu yang mereka undang untuk merayakan dan menikmati kebersamaan yang tumbuh tua bersama mereka.

***

GROWING older is for sure. 
Sesuatu yang pasti. But then, I think, I would like to put: ‘… and a very sexy thing’ to continue those words.

Mungkin, ketika beranjak tua, saya tetap akan menjalankan rutinitas saya : sebulan sekali cream bath, tiga bulan sekali potong rambut, well boleh lah ditambah dengan luluran. Lalu, ketika saya berdiri telanjang di depan cermin, saya akan menghitung kerut yang muncul di sekitar mata saya, gelambir di leher saya, dan selulit di paha saya.

Hm, mungkin juga,

saya masih akan mengenakan celana jeans Levi’s koleksi saya yang sudah buluk dan robek-robek. Termasuk koleksi kaus hitam-putih saya. Semoga saja, sampai saya tua, ukurannya masih cukup.

Kalau ada yang bertanya mengapa saya melakukan hal tersebut—mungkin anak saya, mungkin tetangga saya, mungkin partner hidup saya—saya sudah menyiapkan jawabannya dari sekarang.

Untuk diri saya sendiri. 

Saya hanya ingin tumbuh tua bersama waktu, tanpa menyesali apa pun. Tanpa perlu melawannya.

Jakarta, 26 Oktober 2008

*)image taken from www.gettyimages.com