apakah itu kamu?

Lama pertanyaan ini menggayut di benak. Tentang kamu. Seorang—atau sebenda—yang tak cukup kata untuk dirapal. Bahkan terkadang kupikir, bahasa apa pun tak akan mampu mendeskripsikanmu dalam tunggal. 

Bagiku, kamu absolut tapi penuh relativitas. 

Kamu hadir dari balik ketidaksadaran. Menyelinap sopan tanpa disadari. Tiba-tiba, di sanalah kamu berdiam. Terus menatap, tanpa bicara.

Kadang aku rikuh dengan semua kesabaranmu. Keberadaanmu yang timbul-tenggelam. Antara ada dan tiada. Namun, pada saat tak terduga, menyeruak masuk dan mengendalikan semuanya. Tanpa diundang. Sialnya, kamu tahu, memang hanya kamu yang mampu melakukannya.

Tak perlu ajakan. Karena bahasa itu tak ada dalam kamusmu. Kamu selalu diinginkan, begitulah menurutmu. Jadi, aku biarkan saja kamu di sana. Memilih tempatmu sendiri. Menjadi penonton setiaku. Bukan, pecinta setiaku. Ini kelakarku. Dan saat itu kaubilang tak apa. Tak ada bedanya. Cinta itu tetap ada di situ. Tak perlu dicari, siapa mencintai siapa, siapa dicintai siapa.

Katamu, kamu selalu cinta aku. Banyak hal yang bisa berubah di dunia ini, tetapi ada satu yang selalu sama. Dari dulu sampai sekarang. Kamu selalu mencintaiku. ‘Aku ini cinta matimu,’ bisikmu malam itu lewat angin. ‘Bagaimana kalau aku yang cinta matimu?’ tanyaku, tak mau kalah. Kamu tersenyum simpul. Senyum yang dikulum itu selalu aku suka. ‘Tak ada bedanya, bagiku,’ jawabmu tenang, membuat ego kemanusiaan menguap entah ke mana. 

Jadi, sampai aku mati, bahkan di sebuah kehidupan yang abadi kelak, kau jaminkan cintamu itu tak akan berubah. ‘Hanya kepadaku, kamu selalu pulang,’ ujarmu yakin.

Entah kenapa, alpa begitu lekat pada diri manusia. Aku alpa akan kamu. Kadang, memang ada rindu, namun gampang pula aku tak hirau. Nanti saja. Toh kamu selalu ada di sana. 

Ya, kau selalu ada di sana, bukan?

***

‘Kapan kau akan meninggalkanku?’ tanyaku setelah sekian lama aku tak menemuimu.
‘Apa itu kapan?’
‘Kau tak muak dengan semua sifatku? Aku pelupa, aku sombong, bahkan mungkin, aku tak cinta kepadamu,’ kataku di suatu malam. Kita berdua duduk dalam gelap. Kau mendekapku. Semesta terasa kecil. Aku seperti satu di antara ribuan bintang yang melihat bumi dari sebuah sudut di jagat raya.
‘Sudah kubilang, aku ini cinta matimu. Aku ini tempat kau selalu pulang. Aku ini kekasih abadimu.’

Aku seperti melangkah di udara. Melayang. Melambung. Terbang ke galaksi. Semesta seperti bernyanyi. Itu kidung cinta yang indah. Kaubilang, bintang di sebelah kejora tersipu mendengarnya. ‘Lihat, pipinya memerah.’
Aku tertawa. ‘Itu Mars,’ kataku. 
‘Kamulah Mars itu,’ jawabmu. ‘Kau tak perlu menjadi kejora untuk tampak cemerlang. Seperti Mars, kamu memang sudah berbeda dari sananya. Siapa pun menyadari keberadaanmu. Tak perlu menunggu langit cerah.

 Kau berteman dengan malam. Kau bersahabat dengan gelap. Keduanya tak akan melenyapkanmu. Keduanya memantapkanmu.’

‘Dan seperti itulah aku bagimu,’ bisikmu. ‘Menguatkanmu, sekaligus melemahkanmu.’

Aku berusaha mencari matamu. Tapi yang kutemukan hanya dalam. Dalam yang tak berdasar.

‘Bagaimana aku bisa tahu itu kamu?’ tanyaku.
‘Apakah kau bisa mendengar suara angin?’
‘Apakah itu kamu?’
‘Bukan. Tapi, kalau kau mendengar angin serupa bunyi seruling, dan kau bisa melihatnya, saat itu kau tahu, aku sesuatu yang paling abadi untukmu.’

Melihat angin? You must be kidding me!

‘Apakah itu mungkin?’

‘Bukan mungkin, melainkan bisa.’ Katamu, kadang aku hanya ingin melihat sesuatu yang berwujud fisik saja. Padahal, keberadaan sesuatu bisa saja tidak kasat mata. Seperti cinta. Kau tak tahu seperti apa rupa cinta. Tapi cinta yang terbesar, bisa kau lihat dalam diriku, yang menjelma dalam dirimu.

‘Kamu memang pujangga ulung.’ Aku melengos.

 ‘Bahasa memang tercipta untuk memuja keindahanku.’ Lagi, kamu tersenyum. ‘Tapi kau tahu, tak ada bahasa yang benar-benar mampu menerjemahkan keberadaanku. Kamu sungguh tahu itu.’


‘Jadi, bagaimana aku bisa melihat angin?’ Aku coba mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kamu selalu benar. Dan aku tak ingin membenarkan omonganmu di hadapanmu.

Kau hanya menunjuk ilalang di padang rumput yang bergerak-gerak. Kau mengajakku ke dahan pohon, dan menyaksikan pucuk-pucuk daun yang bergoyang. Lalu, tanganmu terulur menyentuh rambutku.

Aku tersentak. Ini pertama kali tanganmu menyentuh rambutku. Ujung rambutku terlepas dari tanganmu, tersapu angin. Angin berdesir. Berembus. Semakin kencang, hingga pohon berderak. Rumput bergemerisik. Ia berdesau. Desaunya terdengar seperti suara tiupan seruling.

‘Kau baru saja melihat dan mendengar angin, Anakku.’

Aku terdiam. Begitu banyak hal sepele yang aku lupakan. Begitu banyak kejadian luar biasa, yang aku kecilkan.

Tanganmu meraih pipiku. Merangkumnya dalam satu genggaman. Matamu tetap dalam. Aku tahu, aku tenggelam di dalamnya.

‘Dan izinkan aku masuk ke dalam dirimu. Menjadi bagianmu. Jadilah kekasihku. Selamanya.’ Itu cara paling sederhana untuk saling mencintai. 

‘Apakah itu kamu?’
Kamu tertawa mendengar pertanyaanku. Tawa yang gemerincing, bergaung seperti sebuah genta. 

‘Kamu. Aku ada di dalam kamu.’

Sesederhana itu.


Starbucks-PIM 2, October 17th, 2009
kepada dia, ‘g’. untuk satu malam dengan satu bintang dan satu bulan di langit gelap.
*) image taken from www.gettyimages.com



windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *