35 hari sebelum 35

Aku mematok fase pertama hidupku pada angka 35. Ketika hari-hari bergulir menuju angka ini, maka kuputuskan untuk melakukan hal itu. Hal yang sudah lama aku inginkan. Mengepak tas lalu pergi selama 35 hari. Ke mana?

KE mana saja. 

Pergi ke mana saja terdengar enak dan gampang. Sayangnya, ini sungguh berkebalikan. Kau bisa bilang ke mana saja dengan mudah kalau kau adalah Doraemon. Punya pintu ajaib yang bisa membuat kau berpindah tempat dengan mudah, lepas dari konsep waktu. Sayangnya, aku yang ingin ke mana saja ini hanya punya 35 hari dan tak punya Pintu ke Mana Saja. Pergi ke mana saja menjadi sebuah omong kosong, sebuah konsep utopis. Jadi, dengan sedikit deg-degan, kuputuskan pergi ke tempat yang kutunda-tunda datangi karena belum menemukan waktu yang pas.

Kataku kepada diri sendiri, 35 hari dan mari mencukupkan diri.

35 hari itu dimulai di Maroko demi memburu sebuah kota kecil berwarna biru yang berada di Pegunungan Rif. Sebuah kota kecil yang terletak di pedalaman, di antara Tetouan dan Tangier, bernama Chefchaouen. Kota kecil yang bahkan mengeja namanya saja aku mengalami kesulitan. Sejak menemukan artikel pendek tentang kota ini, aku memantapkan diri ke  Maroko. Dulu, aku terobsesi ke Maroko karena Ibnu Battuta. Berambisi melakukan perjalanan dengan menyusuri jejaknya. Dari Maroko, lalu menyeberangi Selat Gibraltar, menjejakkan kaki di kota-kota cantik Andalusia, Spanyol. Namun, ambisi yang tak disertai amunisi menciptakan ilusi. Aku hanya berkhayal, tak kunjung mengepak tas dan membeli tiket. Sampai akhirnya artikel dan tanggal-tanggal di kalender menggerakkanku.

***

TAKUT kehabisan waktu adalah kecemasan yang menghantuiku sepanjang hidup. Waktu selalu menjadi momok. Manusia menunda dengan berkilah belum tiba saatnya. Atau, pada kasus-kasus lain, manusia menjalani waktu sekadar untuk bertahan.

Aku tak ingin seperti itu. Aku tak ingin melewati 35 tanpa melakukan apa yang selalu aku ingin-inginkan.

35 hari untuk merayakan 35. Maka, kuputuskan untuk pergi apa pun taruhannya.

Setidaknya, satu kali di dalam hidupmu, kau harus melakukan hal gila.

Dalam kasusku, aku memutuskan melakukan hal gila berkali-kali. Bedanya kali ini pada besar taruhan. Aku bertaruh untuk semua pencapaian dan kenyamanan yang kumiliki dalam 10 tahun terakhir.

***

‘BODOH!’ sahut sahabatku dari seberang telepon. Dia seorang yang sangat realistis. Kupikir kami cocok berteman karena sisi dia yang itu—selain dia juga suka jalan-jalan. Setiap tahun, kami berjanji menyediakan waktu untuk jalan bersama ke desa atau kota-kota kecil di negara mana pun yang keluar dari kocokan ‘destinasi’ kami. Tapi 2013 ini, kami memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri.

‘Bela-belain amat mau keluar dari kerjaan demi jalan-jalan sebulan lebih,’ lanjutnya.

‘Jadi, lo baru sadar kalo lo berteman dengan orang bodoh selama ini?’ Aku menangkis ucapannya tanpa ada perasaan tersinggung sedikit pun. Kuberi tahu aku tak punya pilihan selain terus menjalankan rencana. Bila kantor tak mengizinkan aku mengambil cuti selama itu, maka itu bisa kupahami dan dengan penuh kesadaran diri aku akan mengundurkan diri.

Aku lebih memilih melakukan hal yang dianggap bodoh itu daripada menyesal seumur hidup karena tak pernah mencobanya. Aku tak mau membayangkan, pada satu hari aku bercerita kepada seseorang, ‘Aku pernah ingin traveling selama sebulan lebih sebelum 35.’

‘Kau melakukannya?’ Siapa pun orang itu bertanya dengan mata yang melebar.

‘Tidak. Aku tidak pernah melakukannya.’

Selain persoalan kehabisan waktu, ternyata tidak mewujudkan mimpi pada waktu yang sudah kupatok adalah hal yang mengerikan.

Mimpi dan waktu sepertinya jarang berteman baik.

Jadi, kuputuskan melakukannya dan mengambil semua risiko karena keinginan ini. Kurasa kautahu bahwa kau tak pernah tahu hasilnya sampai kau benar-benar mencoba dan memberi tahu orang tentang apa yang sangat kau inginkan. Aku coba mengingat-ingat, selalu ada saat di mana aku memutuskan menyimpan keinginanku dan menyembunyikan perasaanku hanya karena alasan-alasan—ah, aku menghindari menggunakan istilah ‘ketakutan’—yang sebenarnya aku ciptakan sendiri.

Tak ingin mendapati kenyataan tak sesuai harapan, salah satunya. Aku tahu aku bekerja keras melatih ‘otot-ototku’ untuk bisa menerima penolakan.

Ketakutan itu selalu ada. Selalu. Aku tak selalu seberani yang dikira orang.

***

‘GUE cuma mau pergi,’ jawabku. Lelaki yang menanyakan keinginanku ini seorang yang luar biasa. Ia tak sekadar atasan melainkan juga seorang guru dan teman. Ia yang sedari awal memberi tahu bahwa aku harus bersiap-siap kesepian. Katanya, semakin tinggi posisi seorang, semakin pula ia sendirian.

‘Gue nggak pernah ngelarang,’ katanya sambil mengisap rokok. Dia bilang ia pernah ada di faseku, ingin melanglang buana. Dan ia juga melakukannya ketika ia muda. Ia mengenali adrenalin itu, katanya. ’35 hari sebelum 35,’ ulangnya sambil terkekeh, ‘tapi lo harus minta izin lagi sama satu orang lagi. Kalau dia bilang enggak, gue nggak bisa apa-apa.’ Orang yang dia maksud adalah atasanku yang lain—partner bisnisnya, yang juga darinya aku belajar soal industri penerbitan. ‘Kalau dia nggak ngasih?’ tanya lelaki itu kali ini sambil  mematikan batang rokoknya yang sudah nyaris habis.

‘Gue paham. Gue ambil konsekuensinya.’ Aku memang tak punya rencana batal. Sebelum cuti 35 hari kukantongi, aku telah membeli tiket dan memesan sejumlah penginapan di Maroko dan beberapa negara Eropa.

‘Maksud lo?’

‘Mengundurkan diri. Apa pun keputusan manajemen, gue nggak punya rencana membatalkan perjalanan gue.’

Dia mengambil batang rokok yang baru. ‘Kenapa harus 35?’

Aku bertanya apakah ia pernah mendengar kalimat yang mengatakan bahwa siklus perempuan itu seperti susu. Semakin lama semakin basi. Berbeda dengan lelaki yang diibaratkan wine. Semakin tua semakin enak. Makin mahal pula. Melewati 35, aku sudah ingin melakukan hal yang lain lagi. Mungkin juga perjalanan yang lain. Aku mau melakukan semua hal bodoh, gila, dan gegabah yang kemudian dimaklumi orang, ‘Wajar, dia masih muda.’

Lelaki itu tertawa. Dia bilang dia akan membicarakan ini dengan rekan bisnisnya. Aku baru menghadap rekan bisnisnya sebulan kemudian, dua hari sebelum aku mengajukan visa Schengen. Aku butuh tanda tangan lelaki itu untuk surat keterangan bahwa benar aku bekerja di perusahaan ini.

‘Jadi, Windy mau apa?’ Lagi-lagi pertanyaan itu aku terima.

‘Saya mau pergi, Pak.’

‘Berapa lama?’

’35 hari.’

‘Memangnya kamu punya tabungan cuti?’

‘Tidak. Makanya saya mau minta cuti sebanyak itu di luar cuti tahunan.’

Lelaki itu menatapku. ‘Memangnya bisa?’ tanya dia sambil tersenyum meledek.

‘Ini saya dalam rangka mengupayakan.’ Aku tertawa mendengar jawabanku sendiri. Lelaki yang duduk di depanku pun turut tertawa lebih nyaring. Dia bilang tak akan ada perlakukan istimewa untukku. Kubilang aku tak minta diperlakukan istimewa. Aku hanya minta cuti. Saat-saat seperti ini aku merasa beruntung punya dua atasan yang memiliki kadar humor seperti mereka. Sejurus kemudian kami bicara serius. Aku keluar dari ruangannya dengan bersenandung kecil. Cuti 35 hari tanpa gaji berhasil kukantongi.

***

‘APA hal yang paling kalian takutkan ketika traveling?’

Pertanyaan itu diajukan oleh seorang peserta yang mengikuti diskusi The Journeys 3 di Kumpul Penulis–Pembaca GagasMedia–Bukune 2013 pada Desember lalu. Bergantian para penulis The Journeys 3 yang hadir menjawab.

Aku baru pulang dari perjalanan 35 hariku 2 minggu sebelumnya. 35 hari yang luar biasa. Di ingatanku masih melekat lorong-lorong biru di medina, Chefchaouen, toko buku-toko buku unik di Obidos, sebuah desa medieval yang berada di dalam kastil, di Portugal. Kota-kota cantik di wilayah Andalusia, Spanyol dan karya-karya Gaudi di Barcelona memukauku. Aku juga kembali ke Paris, Brugge dan Praha, sekaligus memperluas daya jelajah hingga Slovakia, Hungaria, dan Austria. Aku bahkan masih tak percaya aku sampai di Cinque Terre.

Bagaimana bila saat itu aku tidak memutuskan pergi? Bagaimana bila hal-hal buruk yang kudengar soal Maroko membuatku urung ke sana? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja.

‘Kalau Windy?’ Theo, sang moderator menanyaiku. ‘Kalau elo, apa yang paling lo takutkan?’

Aku melihat Theo sesaat, lalu mengedarkan mata melihat ke orang-orang yang ada di hadapan kami. Saat itu juga aku tahu jawabannya.

‘Yang paling saya takutkan adalah memutuskan untuk tidak berjalan.’ [13]

*)all photos taken by @windyariestanty with iphone5

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *