hari itu: tentang dia yang datang dan tak pernah pergi *)

Kau tahu, kehilangan dan kepergiaan bukan hal yang pandai aku bicarakan. Jadi tentangmu, ya, tentangmu, aku akan mengingat saat pertama kau datang. Kau yang datang dan tak pernah pergi sejak hari itu.

Hari itu,

kita bicara tentang buku-buku yang kaubaca. Tentang resensi-resensimu yang dimuat di beberapa media. Tentang mimpimu. Tentang apa yang membuatmu datang ke ruanganku.

Hari itu aku bertanya, ‘Apa yang paling membanggakanmu?’

Kau tertawa. ‘Resensi bukuku dimuat di koran, Mbak. Koran nasional.’ Jawabanmu kusambar cepat. ‘Ah! Aku tahu rasanya. Buku apa yang kauulas?’ Kau sebutkan sebuah judul buku yang kutahu dan pernah kubaca. Kita berdua tertawa lalu membahas bagian-bagian yang kita sukai dan bagian mana yang kita rasa itu gagal. Lalu kita bicara tentang buku penulis lain yang kita pikir tak mengalami kemajuan di dalam teknik menulisnya.

Kita membicarakan itu dan itu pada pada pertemuan pertama kita, hari itu.

***

Hari itu,

kau datang dan resmi menjadi bagian dari kami.

Kau tahu, aku dan kau punya kemiripan. Kita berdua enggan membicarakan kehilangan. Kita memilih memendamnya. Kita menyimpan itu rapat-rapat.

Menuliskannya adalah pilihan bila dirasa perlu dilakukan.

Maka hari ini, aku memutuskan menuliskannya. Aku tetap seseorang yang tak ingin membicarakan kehilangan itu. Aku akan bicara tentang kau yang datang dan tak pernah pergi.

Kau yang dengan semangat membicarakan diskusi-diskusi sastra yang kau ikuti. Kau yang akan dengan senang hati membagi isu-isu terbaru itu lewat e-mail. Kau tahu benar tak setiap saat aku bisa mengikuti isu-isu di sosial media. Kau, entah bagaimana, bisa mengumpulkannya lalu mengirimkan ke e-mailku agar aku tak ketinggalan dan bisa membahasnya. Kau hanya menulis pesan singkat di e-mail-e-mail itu, ‘Mbak W, apa yang kau pikirkan tentang ini?’

***

Hari itu,

di salah satu saung yang ada di pekarangan belakang kantor, kau bercerita tentang kau yang merasa kesulitan menyikapi yang berbeda. Kau paham benar perbedaan itu mengayakan. Tapi kau tak tahu lagi bagaimana menyikapi perbedaan. Kau bertanya, ‘Jika kau, apa yang akan kau lakukan, Mbak W?’

Hari itu kubilang, mengapa mencemaskan perbedaan?

Aku masih ingat caramu menatapku. Tatapan yang meminta penjelasan. Lalu dengan memainkan pulpen di tangan kukatakan,

‘Mungkin bukan perbedaan yang sedang kau cemaskan, melainkan penolakan yang muncul karena perbedaan itu.’

Kita bersitatap. Kau tersenyum tipis. ‘Mengapa kau selalu tahu cara mengatakan sesuatu dengan tepat?’ tanyamu.

Kau salah. Aku tak pernah tahu. Justru kaulah yang mampu menerjemahkan itu sehingga terdengar tepat. Kau seorang editor. Kau, kau sangat tahu itu.

***

Hari itu,

kau duduk di tempat yang sama ketika pertama kali kita bertemu. Bedanya, kau tak mengenakan kemeja putih seperti saat itu. Kau hari itu berkaus merah.

Kaubilang kau ingin mencoba sesuatu yang baru. Menjajal sesuatu di luar tempat kita. Dan kau tahu benar, soal mereka yang datang dan pergi, bukan hal baru yang harus kuhadapi.

Hari itu, sama seperti hari pertama kali kita bertemu, kita membicarakan bermacam-macam. Tentang buku terbaru yang kaubaca, film terbaru yang kautonton. Kau bahkan menceritakan soal diskusi sastra terbaru yang kau ikuti, juga bagaimana senangnya kau menjadi moderator di sebuah perbincangan buku yang menghadirkan penulis kesukaanmu. Tak lupa, kau bicara tentang konsep sebuah buku yang ingin kau kembangkan.

Kita bicara ini dan itu. Tentang semua yang kau sukai. Dan apa yang sebagian besar kau sukai pun aku sukai.

Aku menyukai pengetahuanmu yang luas. Gairahmu ketika membicarakan apa yang kausuka. Menyukai semangatmu yang menulariku. Aku pernah mengatakan semua itu kepadamu.

‘Mbak W, betapa aku sangat merindukanmu,’ katamu tiba-tiba, ‘betapa aku sangat menginginkan percakapan-percakapan seperti ini denganmu lebih sering.’

Aku terhenyak. Diam-diam di dalam hati mengutuki diri sendiri yang tak terlalu sering menghabiskan waktu bersamamu dan teman-teman. Ketidakmampuanku menjadi teman diskusimu sepanjang waktu. Ketidakmampuanku hadir pada saat kau membutuhkan. Aku meminta maaf untuk ketidakmampuanku menyediakan yang terbaik untuk semua kualitas yang kaupunyai.

Terlebih, aku minta maaf untuk ketidakmampuanku menjadi teman belajarmu setiap saat selama kita berada di tempat yang sama.

Kita bersitatap. Kita menangis tanpa suara.

Kau yang duluan berbicara memecahkan keheningan. ‘Tak perlu meminta maaf, Mbak W. Mbak W sudah memberi yang terbaik, mengajari aku untuk lebih percaya diri dan yakin dengan apa yang kukerjakan.’

Hari itu, sebelum kau meninggalkan ruanganku, kita berpelukan. Aku bisikkan terima kasih karena dulu kau sudah memilih kantor ini. Kalaupun hari ini kau putuskan untuk tak lagi bersama, aku tetap berterima kasih karena pernah meyakini inilah tempat terbaikmu untuk belajar.

‘Tetap seperti ini, ya, Mbak W,’ katamu sambil mengetatkan pelukan, ‘tetap menjadi Mbak W yang selama ini aku kenal.’ Kita berdua tahu, kita tak suka mengucapkan selamat tinggal. Buat kita berdua, mereka yang datang tak pernah benar-benar pergi meskipun ia memutuskan berada di luar.

‘Kapan pun kamu butuh aku, telepon. 24 jam. Aku pasti mengangkat teleponmu,’ janjiku.

Sampai hari ini, kau tak pernah meneleponku.

***

Hari itu,

aku kaget mendapati pesan berurutmu di Direct Message (DM)-ku. Daripada menelepon atau berkirim email, kau justru menuliskan pesan lewat Twitter.

Kau ucapkan selamat tahun baru sekaligus menanyakan kabarku. Lalu kau ceritakan aktivitasmu selama berada di luar kandang. Soal riset-riset yang kau lakukan, soal betapa senangnya kau membaca reaksi pembaca mengenai buku hasil konsepanmu sebagai editor yang telah terbit.

Kau bilang kau akan berkirim email mengenai ide sebuah buku. Kau bilang kau ingin bertemu aku untuk mendiskusikannya.Sejak hari itu sampai dua hari lalu, aku belum pernah bertemu denganmu. Aku pun belum  menerima email yang kau janjikan.

Yang kuterima justru kabar bahwa kau telah berpulang.

***

Hari itu,

aku mengenang hangat pelukanmu dan renyah tawamu setiap kali kita bercakap-cakap. Mengutuk diri yang tak bisa hadir ke pemakamanmu.

Kau tahu benar aku dan kau bukan orang yang pandai membicarakan kehilangan dan kepergian meski kita mengenal dua hal itu dengan sama baiknya. Jadi, kuputuskan untuk menulis tentang kau yang datang dan tak pernah pergi.

‘Aku hanya memilih di luar, Mbak W. Aku tidak pergi, kontak aku kapan pun Mbak W butuh.’ Aku masih teringat kata-katamu sebelum pintu ruanganku kaututup hari itu.

Hari itu, terakhir kalinya aku melihatmu. [13]

*) tulisan ini untuk ibnu rizal, sahabat dan rekan kerja yang hangat, berpengetahuan luas, pantang menyerah, dan teguh. Sahabat yang datang dan tak pernah pergi.

**) image ‘return to sender’ taken from gettyimages.com

.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *