(lebih) baik

teman saya baru saja menyampaikan perasaannya kepada seseorang yang disukainya. lelaki yang selama ini menjadi temannya dan diam-diam dicintainya.

‘ini cinta pertamaku. dan aku patah hati,’
tulisnya kepada saya di pesan facebook. kami berada di negara berbeda. ‘aku menangis tak terkendali ketika ia memelukku.’

tapi, bukan patah hati yang membuat teman saya menangis. ia sudah tahu lelaki itu memiliki kekasih yang akan segera dinikahinya. ia hanya merasa perlu menyampaikan apa yang selama ini dirasakannya. ia hanya ingin lelaki itu tahu. ia tak ingin menyesal karena tak pernah memberi tahu orang yang disukainya tentang perasaan dia. terlebih lagi, ia tak mau menjalani hidup dengan terus bertanya-tanya soal perasaan lelaki itu kepadanya.

saya diam-diam merasa iri kepada perempuan muda yang pipinya selalu berwarna merah dadu ini meski ia tak memulas apa pun di sana. di balik sikap kikuk dan naifnya, di balik tubuh rampingnya yang semampai, di balik rasa tidak percaya diri yang kerap menyerangnya, ia punya keberanian dan kekuatan luar biasa menghadapi penolakan.

katanya, ia tak bisa menahan air matanya tumpah ketika lelaki yang ia sukai memeluknya sambil berbisik, ‘akan ada lelaki yang lebih baik untukmu.’ teman saya menjawab, ‘tolong, jangan bilang begitu. aku benci mendengarnya. itu seperti aku selama ini telah jatuh cinta kepada lelaki yang tak cukup baik.’

perempuan yang jatuh cinta (meskipun kemudian ia patah hati), tak menunggu lelaki yang lebih baik dari yang mereka cintai saat ini. kami tak pernah tahu mana yang lebih baik, karena jatuh cinta selalu soal waktu yang sedang dijalani. bukan kemarin, bukan besok.

tak ada laki-laki yang lebih baik dari yang sekarang kami cintai. kami jatuh cinta begitu saja dan mengambil risiko bahwa lelaki itu mungkin tak cukup baik di mata orang lain.

jadi benar cinta itu buta? tidak. cinta membuat seseorang merasa cukup. menerima.

‘aku bangga kepadamu. sakitnya akan hilang pelan-pelan,’ balas saya pendek. [13]

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

2 thoughts on “(lebih) baik”

  1. Saya membacanya menangis. Karena ini yang saya alami sekarang. Tapi belum ke tahap mengungkapkan rasa. Tapi mau menuju kesana. Saya lelah menebak nebak isi hatinya padaku. Aku ingin mengetahui. Meski jawabannya nanti tidak sesuai harapanku. Setidaknya saya tahu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *