pada suatu pagi yang tak bersalju

‘KALAU ingin belajar menulis padat,  Kawabata ini salah satu yang terbaik, kurasa,’ kata A.S Laksana pada suatu pagi melalui layanan SMS.

Saya yang masih setengah sadar dari tidur mendadak terbangun dan duduk tegak. Sambil membersihkan kotoran di mata yang membuat pandangan mengabur, saya membaca sekali lagi SMS itu. Mas Sulak, demikian saya biasa memanggilnya, memang menuliskan SMS itu. Dan buat saya, SMS itu bukan SMS biasa. SMS itu dari seorang penulis yang diam-diam saya kagumi kejeliannya dalam memilih kata.

Kalau kalian pernah membaca buku kumpulan cerpen berjudul, ‘Bidadari yang Mengembara’, yang dinobatkan sebagai Sastra Terbaik 2004 Indonesia versi Majalah Tempo, dialah penulisnya. 

***

‘NOVEL Kawabata ini seperti puisi panjang. Semua kata-katanya memiliki makna ganda. Dan itu luar biasa indah dan puitis.’ Petikan percakapan itu masih jelas ada di ingatan saya. Mas Sulak dalam proses menerjemahkan Snow Country, karya master piece Yasunari Kawabata ini, sempat berkali-kali menelepon saya untuk menceritakan proses pengalihbahasaannya. Bagaimana Kawabata mampu membuat ia tekun dan tertantang untuk bisa menghadirkan Snow Country dalam versi bahasa Indonesia yang seindah aslinya.

‘Kautahu,’ kata Mas Sulak, ‘adegan jendela senja itu luar biasa puitis.’

‘Adegan yang mana, Mas?’

‘Ketika tokoh utama bertemu dengan geisha itu di kereta api. Ketika senja memantulkan wajahnya di jendela kereta api, dan si tokoh utama menatap kecantikannya dari jendela senja buram kereta api. Itu luar biasa indah,’ terang Mas Sulak lamat.

‘Aku menyebut itu sebagai adegan jendela senja,’ lanjutnya seolah hendak menekankan. Ada jeda di intonasi suaranya yang entah kenapa, seperti juga menahan sekian detik jantung saya untuk berdetak.

Saya terdiam. Mencoba membayangkan jendela senja yang dimaksud Mas Sulak. Wajah cantik si geisha yang pipinya sewarna angsa baru dibului. Saya menduga-duga, kisah cinta yang ditulis Kawabata ini pastilah begitu menyihir sehingga Mas Sulak mau menghabiskan waktunya menelepon saya untuk membahas agedan-adegan di dalamnya yang membuat ia bersemangat dan tertantang untuk menerjemahkan.

Sejujurnya, saya tak pernah memiliki pertimbangan khusus ketika memutuskan untuk membeli rights penerbitan Snow Country karya Kawabata ini di Indonesia. Saya hanya tahu dia penulis Jepang yang legendaris. Snow Country adalah karya sastra abadi yang melulu dibahas, tak hanya di Jepang, tetapi juga dalam skala internasional. Pertama kali berkenalan dengan Kawabata ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Saya jatuh cinta dengan pilihan katanya ketika membaca Seribu Burung Bangau (Senbazuru).

Awal tahun 2009, tanpa sengaja saya menemukan Snow Country di sebuah toko buku khusus buku berbahasa asing.

Sesungguhnya saya hanya ingin kembali mengenang lorong di perpustakaan tua tempat saya menemukan Seribu Burung Bangau. Bau buku-buku tua dan warna muram rak kayunya. Kembali merasakan gairah di setiap pilihan kata Kawabata ketika saya membacanya di tepi jendela tua berdebu.

Dan tergeraklah saya membeli lalu membacalah Snow Country. Sebuah kisah cinta yang melemparkan saya ke sebuah daerah salju di Jepang. Menyelinap masuk, menjadi penikmat bisu cerita cinta Shimamura dan Komako. Sebuah kisah cinta yang telah gagal sejak pertama kali keduanya bertemu.

***

MAS Sulak berkali-kali menunda mengirimkan hasil terjemahannya kepada saya. Padahal berkali-kali pula ia menelepon untuk memberitahu buku itu telah selesai ia terjemahkan dalam waktu sebulan. ‘Aku rasa masih ada kata yang kurang pas,’ ujarnya di telepon beberapa hari lalu saat ia merasa kurang sreg dengan hasil terjemahannya. ‘Beri aku waktu satu hari lagi. Aku ingin mengecek semuanya lagi. Ini yang terakhir kali.’ Dan pagi ini, ia memenuhi janjinya. Terjemahan itu telah ia kirimkan ke e-mail saya disertai sebuah pemberitahuan lewat SMS.

Membaca SMS Mas Sulak seperti membaca haiku buat saya.

‘Sudah saya kirim satu setengah jam yang lalu.

Tapi tak usah buru-buru kaubuka karena ini hari libur kan?’ tulisnya.

Saya mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Buat saya, bekerja sama dengan Mas Sulak untuk menerjemahkan buku ini memberikan pengalaman yang menyenangkan. Saya yakin Mas Sulak tak pernah sadar, bahwa dia telah mengajari saya banyak hal dalam urusan tulis-menulis, jauh sebelum ia menerjemahkan buku di GagasMedia.

‘Aku harus kerja keras untuk mengalihkan makna ganda dalam kalimat-kalimatnya. Itu yang tidak mudah,’ kata Mas Sulak di SMS.

Saya tahu, menerjemahkan itu adalah proses yang tidak mudah. Penerjemah yang baik tentunya sangat berhati-hati agar karya terjemahannya tak mencederai karya asli penulis. Bagaimanapun, tak bisa dipungkiri, proses sulih-menyulih kerap kali mengurangi rasa sebuah cerita. Inilah tantangan menerbitkan karya terjemahan. Proses ini bukan sekadar mengubah kata-kata asing ke dalam bahasa ibu kita. Ia juga harus bisa menangkap dengan tepat apa yang dimaksudkan si penulis, namun tetap memudahkan si pembaca memahami dalam bahasa lokal.

‘Saya tahu. Terima kasih, Mas Sulak. Kami juga akan terus belajar agar bisa menerbitkan buku dengan lebih baik lagi,’ balas saya lewat layanan yang sama.

Tak lama, sebuah pesan masuk lagi ke inbox handphone saya. ‘Terbitkan lagi novel terjemahan yang bagus. Tapi harus cari penerjemah yang bahasa Indonesianya bagus. Dari situ pembaca bahasa Indonesia bisa belajar banyak. Dan tentu, menulis lebih bagus.’

Kali ini saya langsung berdiri tegak dan buru-buru mencari Miss O—nama macbook saya. Saya ingin segera membuka e-mail dan membaca Snow Country karya Kawabata yang diterjemahkan Mas Sulak.

Entah kenapa, saya juga tiba-tiba ingin hari segera berganti menjadi Senin. Saya ingin bisa segera ke kantor dan bertemu teman-teman saya. Lalu bersama-sama dengan mereka menerbitkan buku seperti yang Mas Sulak bilang. Buku yang bisa membuat pembacanya belajar banyak dan menulis dengan lebih bagus.

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *