berguru kepada joker

Apa yang sangat ingin kaulihat ketika sedang bercermin? Sosok dirimu yang sebenarnya atau justru bayangan dirimu yang ingin kau tampilkan di depan orang lain?

BERTEMU Joker—novel debut Valiant Budi Yogi—kedua kalinya membuat saya terantuk pertanyaan itu.

Bagi saya, Joker adalah cermin itu sendiri. Membacanya seperti mengumpulkan kepingan-kepingan cermin pecah. Lalu ketika sampai di halaman terakhir, cermin pecah itu menjadi utuh dan di sanalah bayangan terpantul lagi. Mengajak siapa saja untuk berani melihat bayangan diri yang sesungguhnya. Bukan melulu sosok yang ingin ditampilkan dan dilihat orang lain.

Val, demikian saya kerap memanggilnya, adalah seorang yang lihai memainkan teka-teki. Ia jago merangkai plot, mencecerkan (seolah) fakta, dan menggiring asumsi. Namun, semua keahliannya itu justru tak akan terlihat menonjol bila Val tak memiliki kemampuan bercerita yang menarik. Dan saya tahu, ia menempa dirinya untuk menjadi tukang cerita yang menarik. Joker hadir sebagai sebuah paket ‘kejutan’ yang utuh. Yang meninggalkan ‘O’ besar di bibir ketika sampai di titik terakhir.

Bukan hal yang mengherankan bila pada 2007, Joker mengantarkan Val masuk sebagai nominator penulis muda berbakat di sebuah perhelatan penghargaan untuk para penulis. Dan bila kali ini GagasMedia memutuskan untuk menerbitkan ulang karya perdana Valiant Budi Yogi, saya rasa itu juga bukan tindakan berlebihan. Setelah semua kerja kerasnya, Val layak mendapatkan semua ini.

 ***

PADA tengah malam, lewat layanan BBM, Val bertanya kepada saya, ‘Apa yang lo rasain, sih, ketika mengedit ulang Joker?’

Kami tahu, kami berdua sama-sama tak percaya kalau akhirnya, Joker bisa ‘dilahirkan’ kembali. Ini seperti déjà vu. Mengulang lagi semua dari awal. Bagaimana tidak, selama tiga setengah tahun, Valiant dan saya telah melakukan banyak perjalanan. Ia bahkan telah mengeluarkan karya-karya lainnya. Namun, jauh di bawah sadar, Joker tak pernah putus ikatannya dari dia dan saya. Dan kami sama-sama berharap Joker bisa hadir kembali.

Saya sempat tercenung sebelum kemudian memutuskan mengetik jawaban.

Seperti sedang duduk bersisihan dengan mantan pacar yang putusnya baik-baik dan ketika bertemu, kami mengenang banyak hal.

Dan memang itu yang terjadi. Selama mengedit ulang Joker, saya seperti menaiki mesin waktu. Diajak kembali merunut sejarah. Kembali pada saat pertemuan pertama saya dengan Val di lantai 2 sebuah bengkel di kawasan Arteri yang menjadi kantor GagasMedia saat itu.

Saya juga mengenang obrolan-obrolan kami, rentetan sms yang tak kunjung putus dan hanya berhenti pada Sabtu-Minggu (ini karena Val menghargai hari libur saya), pertengkaran-pertengkaran, dan debat kusir saya dengan Valiant tentang Joker. Saya masih ingat, dibutuhkan kuping yang panas karena menempel terlalu lama di gagang telepon hanya untuk menghasilkan tagline JokerAda Lelucon di Setiap Duka.

Valiant, si Penulis Debut dan saya, si Editor Baru. Kombinasi yang sempurna bukan?

Kami berdua baru sama-sama belajar saat itu. Saya belajar menjadi editor, Val belajar menjadi penulis. Saya belajar menghadapi penulis, Valiant belajar menghadapi editor. Guru kami adalah Joker, si Cermin Sempurna untuk dua murid yang sangat keras kepala.

Dan ketika saya kembali ‘bergaul’ dengan Joker, saya pun kembali belajar. Saya pun kembali ‘dipaksa’ melihat proses belajar yang dulu saya lalui dan mengkritisi apa yang sudah saya pelajari. Saya dihadapkan dengan proses menjadi diri saya.

Pada akhirnya, Joker memberi saya lebih. Ia tak sekadar mempertemukan saya dengan seorang penulis yang pantang menyerah dan memiliki semangat belajar tinggi, tetapi juga mempertemukan saya dengan seorang sahabat luar biasa. Sahabat yang selalu mendukung, bahkan ketika tidak saling bersepakat.

Tak semua persahabatan yang lekang dimulai dari kisah yang manis. Kami mengawalinya dari keberanian untuk sama-sama jujur menghadapi proses lahirnya sebuah karya dan mengambil risiko dari kejujuran itu.

Terimalah.

Izinkan Joker sekali lagi mewarnai perjalanan kita: dia, saya, dan—kamu. Menjadi sahabat sekaligus cermin. Sebab, tak semua yang tampak seperti yang terlihat. Tak semua yang bunyi  seperti yang terdengar. [13]

*) tulisan ini dimuat sebagai pragagas untuk edisi cetak ulang Joker.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *