‘Feel the world with your heart. Rasakan dunia dengan hatimu, tidak hanya dengan penglihatanmu,’ kata Dina Dua Ransel kepada saya untuk Pathfinder.

DIPICU oleh rasa penasaran akan dunia dan jenuh dengan kehidupan yang monoton, Dina Rosita dan Ryan Koudys—pasangan suami-istri yang dikenal dengan julukan ‘Dua Ransel’—memutuskan untuk bertualang menyusuri dunia sekaligus menjadi digital nomad.
‘Kami ingin melihat dunia dengan mata kepala sendiri. Ingin merasakan dunia dengan hati dan pikiran sendiri,’ cerita Dina kepada saya. Dina dan Ryan memilih Barcelona, Spanyol sebagai titik mula perjalanan mereka mengelilingi dunia. Mereka hanya ingin menjelajahi Eropa. Mulai dari mana dan berakhir di mana tak masalah karena perjalanan dilakukan jangka panjang.
‘Kenapa Barcelona?’ tanya saya.
‘Kebetulan transportasi ke Barcelona paling murah dari daratan Amerika,’ jawab Dina lugas. Daratan Amerika adalah tempat mereka bertolak. Itu pertimbangan yang paling masuk akal mengingat perjalanan mereka adalah mengelilingi dunia. Tujuan sepertinya bukan masalah karena bumi ini bulat.
Awalnya Dina dan Ryan memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan memanggul ransel sampai mereka kehabisan dana dan harus kembali bekerja. Namun, setelah beberapa bulan terlampaui, keduanya tersadar bahwa pekerjaan bisa dilakukan selagi berpindah.
‘Jadi, kenapa harus berhenti?’ pertanyaan itu pun mengusik mereka. Dina dan Ryan berhitung. Selama mereka mampu membiayai gaya hidup nomaden ini mereka tak perlu surut. Diputuskanlah oleh mereka untuk menjadi digital nomad dan permanent traveler.
Sekarang, Sudah tiga tahun berlalu sejak keputusan besar yang mereka buat. Sampai hari ini, mereka pun terus berpindah. Loncat dari satu negara ke negara lain. Menjadi warga negara dunia. The world is their playground!
***
KENAPA harus berhenti?
Berhenti adalah hal yang paling ditakuti oleh para pejalan. Berhenti sama dengan mati. Para pejalan hidup dari bergerak. Meditasi mereka bukan diam. Meditasi mereka adalah mengayunkan langkah melihat dunia.
Dua Ransel menjadikan hati sebagai panca indera utama untuk melihat dan merasai nikmatnya dunia dalam keberagaman. ‘Juga petualangan,’ imbuh Dina soal apa yang dicarinya lewat traveling, selain autentisitas dan esensi lokal dari setiap tempat yang dikunjungi bersama Ryan. Tak heran keberagaman alam, tingkah laku dan budaya masyarakat, permasalahan sosial, karya senin, arsitektur, peninggalan sejarah, serta flora-fauna adalah hal yang paling menarik minatnya selama traveling. ‘Saya suka mencari apa yang menjadi ciri khas setempat, bukan sesuatu yang dibuat-buat untuk atraksi turis.’
‘Apakah tidak pernah merasa capek atau ingin berhenti sebentar?’ tanya saya penasaran.
Rasa capai tidak dipungkiri oleh Dina. Kalau keduanya merasakan itu, maka Dina dan Ryan akan melambatkan laju perjalanannya. Keduanya akan memutuskan berhenti di satu tempat, di mana pun itu asal nyaman, murah, dan memiliki akses internet yang lancar. ‘Kalau bisa yang alamnya indah. Kami akan beristirahat di situ.’
Berhenti sebentar pun adalah sebuah kesempatan untuk mencerna. Buat Dina yang sudah menjelajah lebih dari empat puluh negara ini, saat mereka ‘beristirahat’ adalah saat yang paling tepat untuk melihat ulang apa yang telah mereka dapatkan selama berjalan. Juga untuk bekerja dan sekaligus menyelami kehidupan lokal—terutama kulinernya—di tempat mereka memutuskan berhenti. Bahkan tak jarang, di tempat itu, Dina dan Ryan menemukan teman baru yang bahkan sampai saat ini masih bersahabat. Beberapa tempat yang pernah menjadi tempat ‘berhenti untuk beristirahat’ ini adalah Pulau Kreta (Yunani), El Nido (Filipina), Pulau Roatan (Honduras), dan Chiang Mai (Thailand). Hampir seluruh perjalanan dilakukan dengan lambat oleh Dua Ransel, kecuali ketika mereka sedang terburu-buru atau kurang sreg dengan tempat yang didatangi. Biasanya, keduanya akan singgah hanya untuk beberapa hari di sana.
Saya membayangkan perjalanan dan petualangan yang mereka lakukan. Dina bahkan pernah hampir hilang karena hanyut di Laut Karibia sewaktu paddle boarding di Pulau Roatan, Honduras. Tak hanya itu, perempuan bertubuh mungil ini juga pernah merayapi dinding tebing yang tegak lurus tanpa alat, tanpa pengaman, dan tanpa pemandu ketika pergi ke puncak Taraw Cliff di El Nido. ‘Saya bahkan sebenarnya tidak tahu kalau untuk mencapai puncak harus memanjat tebing bukan sekadar hiking lantaran mengira ada jalur zigzag landainya.’ Dua hal yang diakui Dina sebagai kekonyolan dalam perjalanan dan berharap tidak dilakukan oleh orang lain ini justru membuat adrenalin dan rasa cemburu menyelinap di hati saya. Buat saya itu petualangan. Dan kerap kali, kenekatan dalam sebuah petualangan menyaru dengan kebodohan. Tapi, itu bagian yang serunya bukan?
‘Lalu di mana rumah yang menjadi base camp kalian?’
Dina menjawab singkat. ‘Tidak ada.’ Pasangan yang bertemu sebelas tahun lalu di Tokyo ini menggunakan alamat orangtua untuk keperluan surat-menyurat. Saya tercengang. Bumi memang menjadi rumah bagi siapa pun. Namun, setiap pejalan pasti merindukan pulang. Ke mana perempuan ini memilih pulang.
‘Pernah merindukan “pulang”?’ Saya coba menelisik.
‘Ryan is my home. Berhubung saya melakukan perjalanan bersama Ryan, I’m always home.’
***
DINA dan Ryan bertemu di Tokyo ketika keduanya mengikuti sebuah program pertukaran pelajar. Ryan berasal dari Kanada, sedangkan Dina dari Indonesia. Pertama kali berkencan, Ryan mengajak Dina ke flea market (pasar loak) di Tokyo Stadium.
Dina tertawa mengenang kencan pertama yang sebenarnya tak disadari oleh perempuan ini di awal. Alih-alih pergi berdua, ia malah mengajak kawan-kawan yang lain untuk ikut. ‘Siapa yang menduga? Ngajak kencannya ke pasar loak sih!’ seru Dina. Kencan pun berlanjut, dari pasar loak ke Mc Donald dan toko 100 Yen. Keduanya adalah alternatif tempat makan dan belanja murah. ‘Sifat budget Ryan langsung terlihat pada kencan pertama kami dan masih konsisten hingga kini dalam budget traveling kami!’
Dina pun masih ingat ketika mereka berdua melakukan perjalanan berdua pertama kalinya sepuluh tahun lalu. Tujuan mereka Kyoto. Keduanya hanya memanggul tas punggung ala anak sekolah. Dari Tokyo, mereka naik kereta api lokal yang lambat. Itu alternatif transportasi paling murah. Keduanya bahkan seringkali harus berdiri. Dina sangat menikmati Kyoto yang terkenal dengan kuil-kuil tuanya. Favoritnya adalah Kiyomizu-Dera. Selama di Kyoto, keduanya menginap di rumah seorang ekspat yang iklannya mereka temukan di pusat informasi setempat.
‘Harganya murah. Mau tahu kenapa?’ tanya Dina. ‘Karena penuh dengan kecoak!’ sambung Dina yang menjadikan Samwise Gamgee—salah satu tokoh dalam The Lord of The Ring—sebagai sosok pejalan idolanya.
Tak ada hal yang menyurutkan langkah mereka. Tidak kecoak, tidak juga pengalaman yang membuat Dina nyaris hilang di lautan Karibia. Perempuan ini tak sekadar mencandu, tetapi selalu merindukan perjalanan yang memberikan ia perasaaan bebas dan luapan gairah karena suasana yang terus berubah serta hal-hal baru yang dipelajari. Bagi Dina, perjalanan adalah pembuka.
‘Pembuka mata hati dan wawasan. The more I travel, the more I realize I don’t know much. The world feels bigger and bigger. There are more and more stuff to discover.’
***

DAN perjalanan mengubah hidup keduanya. Dina menunjukkan daftar bagaimana perjalanan mengubah hidup mereka. Saya sempat terdiam sesaat ketika membaca daftar itu. Saya bertaruh, setiap pejalan pasti akan merunut perjalanan yang telah mereka lakukan. Bukan tempat mana saja yang telah mereka datangi, tetapi apa saja yang telah mereka alami di dalam setiap perjalanan itu.
‘My country is the world, and my religion is to do good.’ Dina mengutip Thomas Paine, di akhir ceritanya untuk Pathfinder. [13]
