Semakin jauh kakiku melangkah, suasana goa semakin hening dan dingin. Yah, aku juga tidak berharap akan menemukan pertunjukan barongsai, sih.
Terus, mana nih, harta karunnya? Sekeping logam emas pun tidak kutemukan. Atau tidak kelihatan, tepatnya. Seandainya ada lampu penerangan terang benderang, mungkin akan terlihat pundi-pundi emas berlian di sepanjang dinding goa.
LOH, KOK? Aku malah jadi serius begini nyari harta karunnya? Hahaha! Jadi malu. Lagian kalau beneran ada, pasti sudah ludes dijarah orang lain. Dan keberadaannya bukan di goa yang setiap hari didatangi turis ini.
Namun, aku pantang menyerah! Langkahku tak akan terhenti sampai goa ini benar-benar buntu. Seandainya ada lubang kecil pun akan aku masuki sampai bisa kutembus!
Tiba-tiba, goa terasa bergemetaran sekitar dua detik! Sepertinya ia membenci ambisiku! Atau ada sesuatu di lantai lumpur tempat pijakanku, ya?
Lalu, terdengar bebunyian aneh. Seperti suara angin berembus kencang dan lenyap secara berkala. Mungkin suara kepakan kelelawar. Atau ada kunti sedang mengibaskan rambutnya?
Goa bergemetar sekali lagi. Kali ini, agak lebih lama.
Aduh, jadi kebayang kalau tiba-tiba ada gempa, kumpulan stalaktit itu pasti akan menimpa kepalaku dengan dahsyatnya.
Sialnya sinar senter mulai meredup, berarti aku harus keluar goa sesegera mungkin! Aku lantas berbalik arah, lalu merapat ke dinding goa agar bisa berjalan lebih cepat dan terarah.
Aneh. Biasanya perjalanan pulang lebih cepat dibandingkan perjalanan datang. Ini, kok, sebaliknya, ya? Aku tidak mungkin salah arah mengingat goa ini hanya satu jalur tanpa cabang.
Ternyata, saat meraba-raba dinding, tanganku juga terasa bergetar. Berarti ini bukan lagi sekadar lumpur yang berulah.
Aku berusaha menenangkan diri. Mungkin ini gelaja alam biasa yang aku tidak tahu namanya. Di internet, tidak kutemukan fakta kalau Goa Lalay sering tremor. Atau mungkin getaran ini akibat anak krakatau yang masih aktif itu? Aku pernah baca di koran, akibat aktivasi anak krakatau meningkat, dalam sehari wilayah kepulauan vulkanik di selat sunda itu bisa terjadi gempa ribuan kali. Dan, bisa jadi imbasnya sampai di desa ini, kan?
Mungkin setelah selamat dari goa, aku yang akan menambahkan fakta itu.
Lampu senterku menyinari aliran sungai sekitar tiga meter di depanku. Horeee! Tuh kan, aku tidak salah jalan! Aku melangkahkan kaki lebih cepat. Dan…
…tiba-tiba saja kakiku terantuk sesuatu. Sepertinya, ada batu di balik lumpur. Badanku hilang keseimbangan hingga terjatuh ke undakan lumpur dengan penuh pesona hingga senter terlempar ke tengah sungai. Senter itu tersangkut bebatuan atau tahi apa pun itu karena sinarnya seakan menembus air hingga menyorot sebuah stalaktit di atasnya.
Aku mencoba merangkak, tetapi kakiku gak bisa digerakkan sama sekali, seperti terjepit sesuatu.
Bulu romaku meremang.
Bagaimana jika aku pingsan? Lalu, aku mati dan tak ada yang tahu keberadaan jasadku?
Sorotan lampu senter semakin meredup. Kian meredup.
Hingga akhirnya gelap total.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
*) sebuah nukilan dari ‘Ramalan dari Desa Emas’, sebuah novella karya Valiant Budi Yogi di dalam ‘Kāla Kālī’, terbitan GagasMedia. ‘Kāla Kālī juga menghadirkan novella karya Windy Ariestanty.