
Sebagian besar dari kita, para penulis—atau mungkin semua—sangat suka bagian ini: menciptakan tokoh. Kita senang membayangkan siapa nama tokoh buatan kita, seperti apa fisiknya, dan bagaimana tokoh ini akan menjalankan peranannya membangun cerita fiksi kita.
Namun, tokoh di dalam fiksi bukan sekadar nama yang bagus dan penggambaran fisik yang menarik. Tokoh-tokoh di dalam cerita kita adalah orang. Manusia. Supaya tokoh di dalam ceritakita tampak manusiawi-realistis sekaligus berhasil menjalankan peranannya membangun cerita, maka kita harus mengetahui cara-cara manusia ‘mengenal’ di dalam kehidupan nyata.
Penokohan memang salah satu elemen penting dalam penulisan fiksi. Saya tahu, kita penulislah yang menciptakan mereka. Namun, pembaca tentunya ingin tokoh-tokoh yang ada di dalam fiksi kita mirip dengan manusia nyata, bisa dipercaya, dan bahkan mungkin menimbulkan perasaan-perasaan tertentu.
Setiap cara manusia ‘mengenal’ di dalam kehidupan nyata ini bisa digunakan di dalam penulisan fiksi. Tokoh ciptaan kita menjadi memikat, nyata, dan masuk akal.
1. Tokoh dilihat dari perbuatannya
Apa yang ada di benak kita bila melihat seorang perempuan menangis tersedu-sedu di sebelah perempuan lain yang berdiri memandanginya dengan wajah merah menahan amarah dan tangan memegang kertas robek?
Lalu apa yang kita juga pikirkan ketika melihat seorang anak laki-laki sedang sedang dipukuli oleh pemilik kios di pasar karena ketahuan mencuri sekerat roti?
Hanya dengan melihat saja, kita memiliki penilaian dan kesimpulan sendiri tentang anak perempuan yang pemarah dan anak laki-laki yang mencuri. Benak kita mengirimkan penilaian-penilain atas kenyataan yang terlihat mata. Manusia sama dengan perbuatannya yang terlihat itu.
Kata Orson Scott Card—penulis yang memenangi penghargaan Hugo dan Nebula untuk novel fiksi ilmiah terbaik dua tahun berturut-turut—manusia sama dengan perbuatannya yang terlihat itu merupakan bentuk penokohan yang terkuat dan paling menarik, juga yang paling gampang.
Kalau seorang perempuan menangis tersedu-sedu di samping perempuan yang wajahnya memerah menahan marah, maka ia pasti korban kejahatan si perempuan yang tak menangis. Jika seseorang mengambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa izin maka kita tahu dia seorang pencuri.
Ini cara yang mudah, sekaligus dangkal, menurut Orson Scott Card. Di dalam beberapa cerita, mungkin penokohan seperti ini cukup. Namun, di dalam kebanyakan cerita, sebagaimana di dalam kehidupan nyata, hanya mengetahui tindakan seseorang ketika kita kebetulan melihatnya tidaklah cukup untuk benar-benar mengetahui atau mengenal orang tersebut.
Apa yang terlihat oleh mata, belum tentu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya.
2. Motif
Apa yang kita pikirkan tentang seorang perempuan yang menangis tersedu-sedu dan seorang perempuan yang menatapnya dengan wajah memerah menahan marah? Belum lagi, di sebelah tangannya sedang menggenggam kertas yang sobek?
Apakah Anda masih tetap memiliki penilaian yang sama bila mengetahui bahwa perempuan yang sedang menahan marah itu sebenarnya adalah korban dari keusilan si perempuan yang menangis tersedu-sedu? Ia marah karena perempuan yang menangis mengambil kertas berisi ‘sesuatu yang dirahasiakannya’ lalu membacakannya keras-keras di depan kelas. Perempuan itu berusaha merebut kembali kertas miliknya dan ketika itulah kertas terkoyak, si perempuan terdorong jatuh hingga menangis tersedu-sedu.
Atau bagaimana jika kita mengetahui bahwa si anak laki-laki kecil itu terpaksa mencuri sekerat roti dari kios di pasar untuk memberi makan adiknya yang sudah 2 hari belum makan? Ia sudah berusaha meminta sebelumnya, tetapi si pemilik kios tak mau memberikan makanan barang sedikit pun?
Motiflah yang memberikan nilai moral kepada tindakan seseorang. Perbuatan seorang tokoh, buruk maupun baik, tidak pernah memiliki nilai mutlak secara moral. Mereka yang tampak sebagai korban atau lebih lemah, bisa jadi justru adalah ‘tokoh antagonis’ dan tengah memainkan peranannya untuk meraih simpati. Sebaliknya mereka yang terlihat lebih dominan, bisa saja saat berusaha melawan setelah mengalami penggencetan yang membuatnya terpojok.
Dalam kehidupan nyata, kita memang tidak mungkin memahami motif di balik tindakan semua orang. Akan tetapi, di dalam fiksi yang kita ciptakan, kita membantu pembaca memahami motif tokoh-tokoh dengan jelas. ‘Inilah salah satu alasan mengapa orang membaca fiksi,’ kata Orson Scott Card, ‘untuk sedikit memahami mengapa orang lain berperilaku begini atau begitu.’
Tokoh memang bisa dilihat dari perbuatannnya, tetapi lebih dari itu, tokoh bisa dipotret dengan lebih utuh dari motif di balik perbuatannya.
3. Masa lalu
Masa lalu memberikan pengaruh pada karakter seseorang, juga bisa merevisi pemahaman kita tentang seseorang.
Dalam sebuah pertemuan, entah di pesta atau di sebuah perjamuan, ketika kita dikenalkan kepada seseorang, kita memiliki kecenderungan untuk menilai seseorang hanya dari penampilan, tindakan, dan ucapannya.
Namun, bagaimana bila sebelum kita bertemu dengan orang tersebut, teman kita telah terlebih dahulu menceritakan latar belakangnya. Bahwa orang yang akan dikenalkan kepada kita dulunya pernah mendapatkan perawatan intensif di sebuah rumah sakit jiwa karena dikhianati oleh kekasihnya? Atau ia sejak kecil hidup sendiri karena orangtuanya terbunuh dalam sebuah kecelakaan pesawat?
Atau coba bayangkan, kamu sedang melakukan kencan buta yang diatur oleh seorang sahabat. Ternyata, pasangan kencanmu orang yang sangat menarik, humoris, dan seru diajak bicara apa saja. Lalu di salah satu topik percakapan, dia memberi tahu akun goodreads-nya dan ketika kamu mengecek akun tersebut ternyata dia pernah mereviu buku yang kamu tulis dan memberikan kritik yang sangat pedas. Dia bahkan menganggap kamu sebenarnya tak bisa menulis.
Cerita-cerita masa lalu seseorang membuat kita memandang mereka secara berbeda. Manusia dilihat dari apa yang pernah mereka lakukan dan alami. Kita menyusun citra kita juga berdasarkan apa yang kita alami. Ingatan kita membawa versi kita sendiri tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Masa lalu adalah diri kita menurut keyakinan kita. Ketika kita menciptakan tokoh fiksi, menceritakan sesuatu tentang masa lalunya juga akan membantu pembaca memahami siapa tokoh itu pada saat ceritanya terjadi.
*) bersambung. poin-poin lainnya yang berkaitan dengan penciptaan karakter akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.
**) sumber bacaan: orson scott card
***)gambar: gettyimages.com
Terimakasih atas informasinya, ditunggu artikel selanjutnya hehe