Selamat datang di tigabelas, a home where sweet and bitter can be together.
Saya selalu percaya, foto yang bagus itu bukan pekara ‘kamera’ apa yang sedang kita pegang, tetapi manusia di balik lensa bidiknya.
Setelah diajak berpelesir virtual menikmati pesona Laut, mencicipi sajian Kuliner di beragam tempat, melihat indahnya paras Potret, terpekur memandang panorama Senja, menyusuri labirin Pasar, dan mencumbui sudut Kota, kini, perkenankan saya, Windy Ariestanty, tuan rumah ronde ketujuh, mengajak kalian kembali kepada entitas utama yang menggerakkan sebuah perjalanan sekaligus menghidupkannya: manusia.
Ini tentang kita. Tentang mereka. Tentang manusia-manusia di dalam perjalanan. Yang bertemu sapa, bertatap pandang, menukar senyum, dan saling berbagi cerita.
Ini sebuah ‘bidikan’ tentang perjalanan yang mengantarkan kita kembali ke dalam diri kita. Pulang ke rumah lewat pertemuan di luar diri. So, let say it out loud, ‘Hello, human!’
In the end, when we travel, we should go beyond the places to know more about us as people. I correct. As human.

sunglasses and crocs. kacamata hitam dan crocs buat saya adalah simbol dari kapitalisme hari ini. mendapati seorang perempuan tua penjual lotre di atas trotoar kota hanoi mengenakan keduanya, membuat saya tercenung. vietnam dan uncle ho terkenal dengan isme komunis-nya. namun, manusia sebenarnya tak peduli ideologi yang mendasari negara tempat ia bernaung. manusia tak lahir dengan ideologi kapitalisme, komunisme ataupun isme-isme lainnya. ia lahir dengan ideologi yang melekat hakiki: kemanusiaannya. sayangnya, ini pula yang kerap manusia alpa. lokasi: hanoi, vietnam. tak jauh dari danau hoan kiem, tempat penduduk berkumpul menikmati hari mereka.
—–
Aturannya:
Submisi – 15 – 22 November 2012
Foto harus merupakan milikmu sendiri dan bukan berupa kolase foto (gabungan dari beberapa foto).
Host foto ‘Hello, Human! (manusia)-mu di situsmu sendiri. Web, blog, Flickr, Picasa, Photobucket, dsb terserah.
Submit foto pada kolom comment artikel ini dengan format berikut:
- Nama/nama blog (nama twitter bila ada)
- Link blog
- Judul/keterangan foto (max 1 paragraf)
- Link foto (ukuran foto sekitar 600 px, jangan terlalu besar)
- Ada kemungkinan foto yang kamu kirim akan di-re-host di web tuan rumah. Terutama kalau terlalu besar atau bermasalah.
- Submisi lebih cepat lebih baik sehingga fotomu bisa tampil paling atas.
- Foto yang tidak patut tidak akan diupload di sini. Kebijaksanaan tuan rumah (misal: mengandung kebencian SARA, nyeleneh, menghina pihak lain).
- Pengumuman pemenang: 2-3 hari setelah batas submisi.
Mengapa mengikuti Turnamen Foto Perjalanan?
- Ajang sharing foto. Bersama, para travel blogger Indonesia membuat album-album perjalanan yang indah. Yang tersebar dalam ronde-ronde turnamen ini. Untuk dinikmati para pencinta perjalanan lainnya.
- Kesempatan jadi pemenang. Pemenang tiap ronde menjadi tuan rumah ronde berikutnya. Plus, blog dan temamu (dengan link ybs) akan tercantum dalam daftar turnamen yang dimuat di setiap ronde yang mendatang. Not a bad publication.
Siapa yang bisa ikut?
- (Travel) blogger – Tak terbatas pada travel blogger profesional, blogger random yang suka perjalanan juga boleh ikut.
- Setiap blog hanya boleh mengirimkan 1 foto. Misal DuaRansel yang terdiri dari Ryan dan Dina (2 orang) hanya boleh mengirim 1 foto saja.
- Pemenang berkewajiban menyelenggarakan ronde berikutnya di (travel) blog pribadinya, dalam kurun 1 minggu. Dengan demikian, roda turnamen tetap berputar!
- Panduan bagi tuan rumah baru akan diinformasikan pada pengumuman pemenang. Jika pemenang tidak sanggup menjadi tuan rumah baru, pemenang lain akan ditunjuk.
Nggak punya blog tapi ingin ikutan?
- Oke deh, gak apa-apa, kirim sini fotomu. Tapi partisipasimu hanya sebatas penyumbang foto saja. Kamu nggak bisa ikut berkompetisi karena kamu nggak bisa jadi tuan rumah ronde berikutnya.
- Eh tapi, kenapa nggak bikin travel blog baru aja sekalian? WordPress, tumblr, dan blogspot gampang kok, pakainya. Jangan pake multiply ya, karena multiply akan segera gulung kasur.
Hak dan kewajiban tuan rumah:
- Menyelenggarakan ronde Turnamen Foto Perjalanan di blog-nya
- Memilih tema
- Melalui social media, mengajak para blogger lain untuk berpartisipasi
- Mengupload foto-foto yang masuk
- Memilih pemenang (boleh dengan alasan apa pun)
- Menginformasikan pemenang baru apa yang perlu mereka lakukan (panduan akan disediakan)
Daftar Turnamen Foto Perjalanan:
1. Laut – DuaRansel
2. Kuliner – A Border that breaks!
3. Potret – Wira Nurmansyah
4. Senja – Giri Prasetyo
5. Pasar – Dwi Putri Ratnasari
7. Hello, Human! (manusia) – Windy Ariestanty
8. You!
Pendiri dan koordinator Turnamen Foto Perjalanan: Dina DuaRansel.com
◦ email: dina@duaransel.com, twitter: @duaransel, facebook: fb.com duaransel
◦ Pertanyaan seputar penyelenggaraan dsb? Hubungi Dina
Untuk menilik status terbaru beserta FAQ Turnamen Foto Perjalanan, silakan cek Turnamen Foto Perjalanan untuk Traveler Indonesia: http://www.duaransel.com/turnamen-foto-perjalanan-traveler-indonesia/
Dan jangan lupa kirimkan fotomu paling lambat tanggal 22 November 2012!
In the end, when we travel, we should go beyond the places to know more about us as people. I correct. As human.
1. susan & adam | @PergiDulu

Every day we eat bakso, rendang sapi, bistik dan sop buntut but we rarely stop to think where it came from. These men in Pasar Baru in Bandung have the grisly task of dicing and chopping their way through the carcasses of dead cows and despite their gruesome job, they still manage time-out to laugh and joke with their friends.
2. George Guling | @GeorgeGuling

‘Cium’. Saat berjalan menuju lereng bukit giyanti, magelang. Tiba-tiba tiga anak kecil menghampiri saya. “mas foto, hehehe” kata seorang anak kepada saya. “Ayoo.. senyum ya, satu dua tiga, senyum.” Dan ini hasilnya, anak kecil itu sepertinya mendengar kata ‘cium’ bukan ‘senyum’ hehehe 🙂
Coba perhatikan ekspresi wajah di tiap mereka dan berimajinasilah. Menggemaskan sekali, kan ?! – Hi, traveler !
3. Shu Travelographer | @travelographers

Di Balik Kawat Besi – Di tengah perjalananku mengitari sebuah tempat pembantaian terbesar dalam sejarah manusia Cheoung Ek Genocidal Center di kota Phnompenh Cambodia, dari balik pagar kawat yang terbuat dari besi tampak seorang anak menjulurkan tangannya untuk meminta sedekah dariku. Kebetulan aku sedang duduk tertegun menatap gundukan tanah yang menjadi saksi bisu puluhan ribu bahkan jutaan korban telah mati dikubur ditanah ini. Anak kecil yang tidak mengenakan baju ini terpaksa mengais rejeki ditengah terik matahari dan hembusan debu yang berterbangan demi bertahan hidup, dikarenakan sebagian besar keluarganya telah menjadi korban kebiadaban rezim Khmer terdahulu.
4. Dini Lintang Asri | @dinilint

‘Cetok-Cetok’. Dengan senyum manisnya, ibu asli suku Sade, Lombok ini mempersilakan saya untuk ikut instruksinya melanjutkan tenunannya yang rapi. Saya balas dengan senyum dan duduk di alat tenun. Dengan bahasa suku Sade yang saya tidak mengerti sama sekali, si ibu menjelaskan satu demi satu, sambil membantu tangan saya menggerakkan setiap kayu dan benang. Hingga di satu kata yang kami berdua paham, cetok-cetok, tanda saya harus mengerahkan tenaga untuk menggerakkan kayu dan benang sehingga jalinan benang menjadi padat. Inilah interaksi manusia, satu bangsa, beda bahasa, tetapi saling mengerti artinya. Bahasa manusia 🙂
5. hiralalitya | @hiyrasoygeboy

Si Nenek dan si Kantong. Pagi-pagi sekitar pukul 04.30 pagi nenek ini tersenyum pada saya ketika saya lewat di depannya. Sepulang dari main di pantai saya melihat sosok nenek yang tadi pagi saya lihat, dengan itik dikepalanya. Dia bercerita tentang Itik dikepalanya tersebut, yang dia diberi nama kantong. Karena kemanapun si nenek pergi si itik akan dibawanya di kantong. Nenek pun bercerita bahwa ibu si kantong meninggal karena terserang flu burung. si nenek yang kebetulan tidak bisa punya anak ini pun merawat kantong dan menganggap seperti anaknya. Dia bercerita setiap makhluk hidup itu wajib diberikan kasih sayang walaupun kantong hanya seekor itik.
Perjalanan ini yang mempertemukan saya dengan si nenek yang mengingatkan saya untuk saling berbagi kasih sayang.
6. Indra Ramadhan | @indramadhan

Assalamualaikum Chiang Mai. Di antara pedagang makanan di kawasan wisata Doi Suthep, Chiang Mai, mata saya tertuju pada sebuah warung makanan berlabel ‘Halal’ ini. Iseng saya tanya kembali,“Halal food?” dan ibu penjaga warung langsung menyapa saya dengan senyum,“Assalamualaikum!!” 🙂
7. Ita | @itacasillas

See The World. This picture was taken from Mt. Coot-tha, Australia. It disenchant me that wanderlust can born in every people, doesn’t require age or tribe. People always hung their dreams high and pursue to make them real. People, dream, and reality always become a mystery…
8. Katrin | @khatsa

Old Lady in Angkor Wat. Ketika baru saja aku menenggak habis isi botol air mineral di tengah teriknya matahari Kamboja, mataku bersirobok dengan mata yang seolah selalu tersenyum milik nenek yang sedang duduk di depan salah satu pintu menuju menara-menara Angkor Wat. Secara otomatis, kaki ini melangkah menuju tempatnya duduk, seraya menyodorkan botol plastik yang sudah kosong. Dia menerima botol yang kusodorkan sambil tersenyum dan berkata,’Thank you, thank you’. Entah kenapa, peristiwa yang cuma terjadi 2 menit itu ingin sekali aku abadikan sebagai “souvenir” dari perjalanan ke Angkor Wat kali ini. Pertama kali memeriksa jepretan di layar kamera, yang menjadi perhatian pertamaku, justru bukan pada sang nenek, tetapi pada relief dua apsara yang seolah memandang ke arah tempat duduk sang nenek. Seolah mengawasi abdi yang bertugas menjaga kebersihan rumah mereka.
9. uconk | @uconk

Sandro dan Atis. Mereka berdua adalah dua sahabat kecilku, yang selalu setia berteman dan bermain bersama di hutan Napoi dan sungai Miri. Cukup lama juga jalinan pertemanan ini, sejak mereka masih dimandikan sama ibunya di pinggir kali hingga kita bisa berenang dan bareng-bareng milir dari ujung muara sungai Napoi hingga ujung lewu (desa). Foto ini saya ambil ketika pada saatnya harus kembali pulang ke Jawa setelah 5 tahun bermain bersama mereka. Saat ini mereka sudah kelas 3 SMP dan masih terus kontak.
10. Annisa Sabrina | @sabrinahartoto

Anak Laut. Foto ini saya ambil di Pulau Mansinam, pulau kecil dan tentram selemparan batu dari kota Manokwari, Papua Barat. Selesai snorkeling di salah satu pantainya yang teduh, kami tiba-tiba didatangi segerombolan anak-anak SD setempat. Mereka segera melepas baju seragam mereka lalu dengan tangkas menyusuri pohon yang menjorok ke tengah laut. Tanpa takut, mereka melompat dengan berbagai gaya akrobatik ke dalam air yang biru. Tawa riuh rendah menandakan keriaan mereka sore hari itu. Berulang kali mereka merambat dahan pohon untuk kembali terjun bebas ke laut. Suatu hiburan sederhana bagi anak-anak laut yang tinggal di pulau yang sepi. Bukti bahwa manusia tidak perlu banyak hal untuk bahagia.
11. Lidya | @ryuusei_rin

To Those Who Waits. Ini diambil pas bulan Ramadhan lalu, tepatnya dalam perjalanan menuju kantor, persis di seberang kantor. Foto ini sengaja diambil dari belakang. For some reason yang juga belum bisa gue pahami, siluet, bayangan, atau bagian punggung sama menariknya seperti wajah buat gue. Orang di dalam foto ini adalah seorang ibu penjual timun suri. Sepanjang bulan Ramahdan, beliau bakal duduk di pinggir jalan menunggui dagangannya. Dari pagi sampai malam dan terus begitu. Entah bagaimana gue tergerak buat motret si ibu. Buat gue pribadi, potret orang itu kaya dengan emosi. Bukan cuma cerita tapi juga rasa. Pertama tentu saja milik objek foto. Lalu ada juga fotografernya. Dan terakhir ya penontonnya alias orang yang melihat foto itu.
12. Fitria Sudirman | @fittfitria

Banyak pelajaran yang bisa didapat dari perjalanan. Tak perlu banyak untaian kata untuk menyampaikan makna, hanya butuh sebatas ekspresi untuk mengajarkan kehidupan. Foto ini tidak sengaja terambil ketika saya mencoba kamera. Namun, beberapa detik dari momen itu berhasil membuat saya termenung, berpikir tentang hidup, dan menyadari bahwa gempuran modernisasi dan globalisasi ternyata masih menyisakan beberapa titik originalitas. Lokasi: Malioboro, Yogyakarta. Februari 2012.
13. Tantri Swastika | @tantriswstka

Lia Dowansiba. Namanya Lia Dowansiba, seorang anak dari Desa Lebau, Manokwari Utara. Dia dengan sejuta imajinasinya, seperti anak-anak lain seusianya, mengisi hari-hari saya selama melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Kabupaten Manokwari. Setiap kali bermain ke pondokan kami, Lia selalu minta kertas gambar dan pensil warna untuk kemudian minta digambarkan sesuatu kepada kami. Lia seperti juga anak yang lain senang sekali dengan aktivitas menggambar dan mewarnai karena di sekolah mereka jarang sekali melakukan kegiatan ini. Saya ingat betul ketika Lia ditanyai kedondong itu berwarna apa, Lia menjawab dengan tersenyum kalau kedondong itu berwarna biru. Obrolan terlama saya dengan Lia terjadi saat Lia bercerita tentang pengalamannya dengan suanggi, atau sosok gaib yang diyakini oleh masyarakat Papua.
14. Tatz Sutrisno | @t4tz18

Rehat Sejenak…. Tampak lelah, Bapak ini saya ‘abadikan’ ketika sedang istirahat bersadar pada teras gedung utama Wat Phra Kaew di Temple of the Emerald Buddha, Grand Palace – Bangkok. Beliau merupakan salah satu petugas yang bekerja di tempat tersebut. Mengatur ribuan manusia yang lalu lalang ke objek wisata termasyur di Bangkok setiap harinya bisa jadi amat melelahkan, ditambah kekuatan fisik yang tidak lagi prima dimakan usia. Rehat sejenak mungkin bisa mengobati sedikit penatnya.
15. Rianda Rizky Permata | @riandarp

Cerita Usang di Dalam Kereta. Disini saya hanya berusaha memperlihatkan bahwasanya di dalam gerbong Kereta Api pun ada cerita menarik yang bisa diangkat ke dalam media foto kalo kita mau “peka”. Selain itu alasan lain adalah karena saya jarang naik KA jadi peristiwa kecil inipun harus dan wajib saya angkat hehe…Sebenarnya hanyalah sepenggal cerita sesosok bapak paruh baya, lama memandang wajahnya saya temukan sedikit kegelisahan yang membuat saya terusik untuk terus mengintainya dari balik kamera. Ini hanyalah sebuah prasangka saya saja, semoga saja hanya sebuah prasangka, sosoknya terlihat sangat bersahaja, raut mukanya tenang tapi matanya jelas memperlihatkan sebuah kegelisahan hidup. Dua kerutan di dahi itu membuat saya bertanya-tanya, sudah berapa tahunkah pola itu mengukir hidupnya? lihat matanya dan rasakan kegelisahannya.
16. Mia Haryono | @myaharyono

Joey McIntyre was Outside the Window. Ada yang bilang di dunia ini ada 7 orang dengan wajah yang memiliki kemiripan. Tujuh orang tersebut tidak memiliki hubungan darah dan tersebar ke berbagai sudut di ruang bumi ini. Dan yang aku temui ketika berada di dalam Atomium, Brussels, Belgia, adalah seorang pria yang sangat mirip dengan Joey McIntyre, penyanyi yang juga salah satu personil New Kids On The Block. Dua orang yang mirip, yang satu artis dengan kekayaan melimpah. Sedangkan satu lainnya sedang bergelantungan dari ketinggian 100 meter di luar jendela, karena profesinya sebagaicleaning service. Sadar akan para pengunjung wanita yang terpesona pada ketampanannya, ia pun dengan ramah menebarkan senyumannya.
17. Ary Hartanto | @desainary

Minnie Mouse. Ragam manusia penuh warna di dunia, wajah tampan atau cantik rupawan tapi itu bukan alasan untuk menjadi baik. Demikian pula sebaliknya.Tidak untuk ‘manusia’ satu ini, personifikasi yang menghibur yang hadir di masa kecil saya mendadak hadir di lorong sepi kampung padat di Kota Bogor. Minnie Mouse, kali ini sendiri tanpa Mickey Mouse…
18. @justHityou




















































Kalau buat turnamen kaya gitu bagusnya pake lensa apa mas? mohon pencerahannya, maklum masih pemula hehe