lalu, untuk apa tahu?

image

Katanya, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi, sejak dua hari lalu, saya bertanya-tanya, buat apa tahu kalau semua sudah terlambat?

SAYA tercenung melihat kalimat-kalimat yang ada di percakapan BBM. Beberapa detik kemudian, kata ‘goblok’ meluncur keluar. Setelah sekian lama—akibat dia salah mem-BBM, saya dan dia terlibat dalam percakapan ‘apa kabar’.

Saya mengenal dia beberapa tahun lalu. Seorang Prancis-Kanada yang jatuh cinta kepada Indonesia. Awalnya datang ke Indonesia hanya untuk surfing, hingga kemudian dia memutuskan tinggal di Indonesia. Negeri dengan curah matahari yang tinggi dan pantai yang membuat dia ingin menjelajah keseluruhan pulaunya.

Sejak perkenalan pertama, saya dan dia rupanya sama-sama tahu. Kami saling menjaga jarak. Teman saya suka dia. Harus saya akui dia menarik. Dengan tinggi melebihi 185 cm, rambut pirang kecokelatan, dan mata biru, saya rasa, mudah untuk dia menarik perhatian lawan jenis. Belum lagi, gaya cuek dan sifat moody-nya yang kerap bikin orang jengkel.

Kami berteman. Tidak terlalu akrab, tetapi tidak juga sekadar begitu-begitu saja. Kalau sedang berdua, kami mengobrol apa saja. Mulai dari agama, tuhan, perempuan-perempuan yang dikencaninya, sampai traveling. Dia bisa menceritakan tentang masa kecilnya di Prancis dan masa remajanya di Kanada. Bibirnya pernah jontor karena terkena bola sepak. Ia pernah dihukum oleh ayahnya di kamar mandi karena menolak pergi ke gereja. 

Satu hari, kami tak sengaja berpapasan di selasar. 

I dated a girl two days ago,’ katanya tanpa diminta setelah kami saling menepukkan telapak tangan di udara, bertos ria.

Saya menaikkan alis. ‘Dia cukup pintar kali ini?’

Hm. I don’t care. She is hot. But…, seriously, I thought she doesn’t really understand the concept of her religion.’ Saya melirik jam tangan saya. Dia menyadarinya. ‘Are you busy? I’ve been looking for you to tell this story. I can’t tell it to your friend.

Saya memutuskan untuk mendengar ceritanya. Kalau sampai dia tak tahan ingin menceritakan sesuatu, biasanya karena ada sesuatu yang janggal. Lagian, sudah berbulan-bulan saya tak bertemu dia. Kami berbicara di selasar, tidak mencoba menemukan tempat yang lebih enak untuk mengobrol. 

Tell me then.

Dua hari lalu dia mengencani seorang perempuan. Mereka berkenalan di sebuah bar di daerah Pondok Indah. Bar itu memang tempat favoritnya. Beberapa kali dia mengajak saya ke sana, tetapi selalu saya tampik. Saya enggan bertemu teman-teman ekspatnya yang lain. Saya tahu, dia sering membawa perempuan bergantian ke bar itu. Dan saya tidak mau jadi salah satu dari mereka. 

Seperti saya duga. Semua berakhir di tempat tidur. Lalu, ketika bangun keesokan paginya, dia menawari membuatkan roti tangkup dengan ham untuk perempuan itu.

Do you want a sandwich with ham?’

‘Ham? Pork?’

‘Yes, it’s pork.’

‘Hm, I am a moslem. I don’t eat pork.’

‘Why?’

Si perempuan menjawab, ‘That’s haram in my religion.’ 

Saya tergelak. ‘As I thought! You see my point, right?’ Mata birunya membelalak dan tangannya bergerak-gerak, tanda dia memang sedang bersemangat bercerita. ‘And then what did you say to her?’ Saya penasaran dengan jawaban teman saya ini.

Dia menatap saya tajam. Tidak lagi terlihat main-main atau cengengesan seperti biasanya. ‘Saya balik bertanya kepadanya,  “Jadi agamamu hanya sebatas daging babi? Kamu tidak makan babi karena menurut agamamu ini haram. Bukankah agamamu juga mengharamkan kamu tidur dengan laki-laki di luar nikah? Mengharamkan minum minuman beralkohol? Dan, kamu bahkan punya tato di pinggangmu? Kamu sudah melakukan semua yang diharamkan dan dianggap dosa oleh agamamu. Lalu apakah hanya dengan tidak memakan daging babi cukup membuat kamu menjadi muslim?’

Saya tahu dia kritis dan pintar. Juga terkadang menyebalkan ketika dia tahu dia benar. ‘Lalu perempuan itu ngomong apa?’ Saya tiba-tiba kasihan dengan perempuan itu. Dia pasti tidak berharap, seusai bercinta yang dihadapinya pada pagi hari justru percakapan soal keyakinan. Dan semua bermula dari sekadar bertanya apakah daging ham di roti tangkupnya terbuat dari babi.

Babi mendatangkan bencana. Tidak hanya untuk keyakinannya, tetapi juga kelangsungan hubungannya.

Dia mengedikkan bahu. ‘Entah. Saya bahkan tidak ingin dengar lagi semua alasannya. Saya tak paham orang-orang yang begini. Lebih kasihan lagi keimanannya hanya sebatas daging babi itu.’ Sejak pagi itu, ia berhenti mengencani perempuan yang menolak makan daging babi atas nama agama, tetapi tidak keberatan tidur dengannya.

Itu artinya mengakali agama, kata dia yang atheis.

SEJAK percakapan itu, kami bertemu beberapa kali, dia sempat mengundang saya ke pesta ulang tahunnya yang hanya selisih sehari dengan saya. Bisa ditebak, saya tidak datang. Pertemuan lainnya terjadi, dan saya hanya melambaikan tangan, tidak berniat menghampiri atau duduk dan berbicara. Sampai satu ketika dia menghentikan langkah saya di pintu lab dan memberitahu kalau dia akan pulang ke negaranya.

Why?’

It’s time to go home.

Saya berkelakar dia akan merindukan Indonesia dan perempuan-perempuannya. Dia tertawa dan membenarkan. ‘Tapi sepertinya, sebelum pulang, saya akan buat satu tato yang mengingatkan saya kepada Indonesia.’

Saya lalu memberitahu dia tentang tattoo artist yang bisa menato dengan cara tradisional, menggunakan bambu. Desain tatonya pun bisa dipilih berdasarkan motif-motif body painting khas daerah-daerah di Indonesia. 

‘Kamu punya alamatnya?’ Saya mengangguk lalu berjanji mengirimkan alamat itu ke emailnya. ‘Eh, bagaimana kalau kamu menemani saya ketika ditato?’

Sudah lama saya ingin melihat penatoan dengan cara tradisional. ‘Apa ongkos saya menemani kamu?’

‘Saya pikir, saya tak keberatan menghabiskan sepanjang malam bareng kamu sambil mengobrol dan ngebir.’

Saya pun mengiyakan.

Saya tak pernah menemaninya ke tukang tato dan tak pernah duduk sambil ngebir hingga larut malam setelah dia ditato. Kami bahkan tak pernah bertemu lagi sejak itu.

Semuanya tinggal janji yang bahkan tak pernah coba kami berdua penuhi.

Saya lupa tentang dia. Teman-teman saya masih berhubungan dengan dia lewat facebook, sementara saya dan dia bahkan tak saling mengukuhkan pertemanan kami lewat jaringan media sosial yang satu ini. Kami—saya pikir, memilih melupakan satu sama lain.

Hingga e-mail dari dia masuk ke e-mail saya. Menyapa dengan gaya slengekan seperti biasanya. Kembali percakapan-percakapan kami terjadi. Obrolan tentang ini-itu. Kemudian saya tahu, dia belum ke tattoo artist yang saya sebutkan. ‘I think I still hope that one day I will go to the tattoo artist with you. I really want to know what’s gonna happen between us on that day. What will we talk, what will we do all night? Have you ever thought about it? I really really want to know,’ tulisnya.

Saya pun sama. Saya penasaran, apa yang akan terjadi bila kami benar-benar melakukan hal itu. Selama beberapa hari kami terlibat percakapan intents lewat BBM. Dia sempat ke Jakarta sebentar, sayangnya saat itu saya sedang berada di Ubud, Bali. 

Lagi-lagi kami tak bertemu. Dan sekali lagi, kami saling melupakan.

DUA hari yang lalu, ketika sedang menahan kantuk seusai menjadi pembicara di sebuah workshop penulisan di Balikpapan, sebuah pesan masuk ke BBM saya. saya mengerenyit. 

Hey, punk!’

Saya tak segera membalas. Coba mengingat-ingat, siapa pemilik nama itu. Sialnya, saya tak mengenali sama sekali pengirimnya.

Sorry, wrong punk. Haha!’

Saya bahkan tak mengingat namanya. Profil picture-nya bergambar seorang anak kecil. Saya tak ingat punya teman beranak bule. Jadi saya hanya membalas dengan, ‘…’ .

Jawaban segera masuk ke BBM saya. Dia bertanya apa kabar, apakah saya sudah memiliki tato baru, apakah saya masih berada di Bali, apa yang saat ini sedang saya lakukan.

Saya baru sadar, itu dia! Ingatan saya memanggil semua potongan-potongan percakapan terakhir yang kami bicarakan lewat BBM sewaktu saya masih tinggal di Ubud dan dia datang ke Jakarta.

Kami bertukar kabar. Bercerita kembali ini-itu. Lalu dia memberitahu satu hal yang tak pernah saya mau tahu.

Dia hanya ingin memberi tahu dan merasa perlu memberi tahu bahwa dia menyukai saya. Sekadar memberi tahu. ‘Seandainya sedari awal saya sudah memberi tahu kamu tentang apa yang saya rasakan. Seandainya kondisi saya saat ini berbeda, saya pasti sudah mengejar kamu sampai dapat.’

Untuk menutupi keterkejutan, saya membalas dengan bercanda, mengatakan bahwa keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. 

Or… not yours! Haha!’ Dia membalas.

Dalam hati saya menjawab, memang saya yang tidak beruntung.

Perempuan yang dikencaninya hamil. Sekalipun dia tidak percaya kepada lembaga pernikahan, dia bertanggung jawab penuh atas perempuan itu. Mereka kini hidup berdua di negara asalnya. Anak kecil yang ada di profil picture BBM-nya adalah anak lelakinya bersama perempuan itu.

Saya senang dia bukan lelaki bajingan yang tidak bertanggung jawab.

‘Kamu tahu, saya suka kamu dari pertama kali melihat kamu. Harus diakui ketertarikan awal adalah masalah fisik. Tapi, semakin ngobrol, semakin saya tahu, saya tidak hanya tertarik dengan kamu karena fisik.’

Saya tak mau tahu itu. Tak ada lagi bedanya buat saya.

‘Too much?’

‘Nope. Thanks for being very honest.’

‘I should tell you. I should. But now, I am having my family here. I love my son. And I think I should take care of his mother too.’

‘You should.’

‘Should tell you or should take care of her?’

Saya tidak mau tahu. Sudah tidak ada bedanya lagi buat saya. ‘You should take care of your son and his mom.’

Dia tidak segera merespons jawaban saya. Saya pikir, dia tidak akan membalasnya. Saya keliru. 

‘Have you ever been attracted to me? I always think that we can be a perfect couple.’

Pengakuannya tak akan mengubah apa pun. Saya tak tahu, apa gunanya saya tahu ketika semua sudah terlambat. Saya bukan dia. Saya memilih tak memberi tahu bahwa dia tak bertepuk sebelah tangan.

Kenyataannya, kami pasangan yang sempurna hanya pada tataran ‘I think.’ 

JADI, apa gunanya saya tahu bila semua telah terlambat? Saya pikir, kami hanya dua orang bodoh yang berusaha mengakali perasaan. 

Lesson learned. [13]

*)photo taken by @windyariestanty, location: seoul, korea.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *