cherokee, perjalanan kembali ke masa lalu

“Welcome… I will tell you a story. A very old story….”

KALIMAT itu diucapkan oleh seorang lelaki tua Indian. Ia tiba-tiba muncul di hadapan saya yang tengah berdiri di depan api unggun, di sebuah gua kecil. Lelaki itu mengenakan pakaian tradisonal Indian yang terbuat dari kulit binatang dan tanaman rami. Tangan kanannya memegang tongkat. Matanya yang tajam, lurus menatap ke arah saya.

Ia bercerita pada saya, tentang sebuah legenda yang telah hidup beratus-ratus tahun lalu. Legenda suku Indian, penduduk asli Amerika. Suara beratnya terdengar bijak ketika bertutur. “After this, you will know who the Cherokee are…,” kemudian ia melangkah pergi. Perlahan, nyala api unggun pun meredup. Dan gua itu kembali gelap. 

image

Suku Indian Cherokee menyebut lelaki tua itu The Old Medicine Man. Saya bertemu dengannya di awal langkah kaki memasuki Museum of The Cherokee Indian, Cherokee Indian Reservation, North Carolina (NC). Anda pun akan bertemu dengan lelaki Indian tua ini bila mengunjungi museum yang terletak di US 441 and Drama Road, Cherokee, NC. Ia adalah sebuah hologram yang menjadi pembuka petualangan pengunjung kembali ke masa lalu. Di museum ini, sejarah tak hanya didengungkan oleh benda-benda purbakala. Sejarah perjalanan suku Indian Cherokee dalam bentuk hologram, audio visual, replika, dan patung-patung lilin seolah mengantarkan kita memasuki gerbang masa lalu. 

Suku Indian Cherokee telah hidup di Amerika jauh sebelum penjajah kulit putih pertama datang ke Amerika. Legenda Cherokee menceritakan bagaimana Bumi dibentuk oleh seekor elang besar. Elang ini terbang rendah di atas tanah yang baru terbentuk dan mengeringkan tanah yang masih basah dengan sayapnya. Ia menekan permukaan tanah untuk menciptakan lembah dan menaikkan bukit serta puncak pengunungan The Great Smokey. Kemudian muncullah dua orang manusia di Bumi. Mereka adalah Kananti dan Selu, lelaki dan perempuan pertama. Seluruh suku Indian Cherokee adalah anak dari kedua manusia pertama ini. Legenda ini konon menggambarkan bagaimana hubungan antara perasaan orang-orang Cherokee terhadap tanah mereka. Tanah mereka adalah bagian dari jiwa mereka.

image

Ketika Revolusi Amerika (1775-1783) yang merupakan peperangan antara Inggris melawan Koloni Amerika berakhir, para pemukim kulit putih meminta agar suku Indian Cherokee memberikan sebagian tanahnya pada mereka. Hal ini menimbulkan peperangan baru. Seribu kota milik Indian Cherokee rusak. Akhirnya, Indian Cherokee memutuskan untuk memberikan sebagian tanah mereka. Pemberian tanah ini ditukar oleh pemerintah US dengan janji akan selalu melindungi suku-suku asli Amerika ini.

Di bawah pemerintahan Presiden Washington, suku Indian Cherokee hidup berdampingan secara damai dengan kaum kulit putih. Mereka mulai mengadopsi struktur politik dan ekonomi kaum kulit putih. Suku Indian Cherokee juga kemudian membentuk sebuah pemerintahan republik yang bernama The Cherokee Nation.

Peradaban yang semakin maju juga ditandai dengan diciptakannya alphabet Cherokee oleh Sequoyah pada tahun 1821. Kebudayaan Indian memang lebih mengutamakan bahasa tutur, yang mana penceritaan dongeng dan mimpi sangat dijunjung tinggi. Karena itulah Sequoyah berusaha menciptakan alphabet yang dapat mengembangkan bahasa Cherokee. Setiap simbol dalam alphabet yang terdiri dari 86 karakter mewakili satu suara dalam bahasa Cherokee. Cherokee dalam bahasa suku Indian Cherokee disebut dengan Tsalagi (baca: Ja la gee). Diambil dari sebuah kata dalam bahasa Indian Creek yang berarti : “People of Different Speech.” Hari ini, bahasa Cherokee dan hurufnya ibarat bahasa Jawa dan Hanacaraka-nya. Apabila sekolah-sekolah di Jawa menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajarannya, maka demikian juga dengan sekolah-sekolah di Cherokee, North Carolina. 

Perkembangan peradaban Indian Cherokee ternyata dibarengi dengan tekanan terhadap mereka. Kulit putih menganggap bahwa Indian Cherokee mendapatkan tanah yang lebih makmur dibandingkan tanah mereka. Mereka meminta pemerintah memindahkan Indian Cherokee ke daerah tenggara Amerika, tepatnya di sebelah barat sungai Mississippi. Sebuah daerah, yang bahkan orang kulit putih pun tak ingin membayangkan tinggal di sana. Mereka menyebutnya : “The Great American Desert.” Tahun 1828, ketika Andrew Jackson terpilih sebagai Presiden Amerika, inilah awal malapetaka bagi Indian Cherokee.

Indian Cherokee terusir dari tanahnya akibat “The Indian Removal Act” yang dilakukan oleh Andrew Jackson. Sebuah kebijakan yang diambil Jackson untuk memindahkan suku asli ini dari tanahnya ke daerah Barat (Oklahoma). Kebijakan ini pulalah yang mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan rasis—anti Indian lainnya di beberapa negara bagian Amerika. Jackson sepertinya lupa, bahwa nyawanya pernah diselamatkan oleh dua orang Indian Cherokee dalam peperangan melawan penjajahan Inggris pada tahun 1812. Dua orang Indian itu adalah Sequoyah dan John Ross. Bahkan, pasukan Jackson sepenuhnya didukung oleh suku Indian Cherokee.

***

HARI itu, 1 Oktober 1838. John Ross, lelaki Indian yang menjadi kepala suku dari Indian Cherokee, untuk terakhir kalinya melihat tanah yang menjadi rumah mereka. Ratusan kereta kuda telah siap mengangkut suku Indian Cherokee. Anak-anak dan perempuan telah dinaikkan ke kereta. John Ross menghela napas. Ada kekhawatiran dalam dirinya. Perjalanan ini akan sangat berat. Sementara persediaan sandang pangan mereka tak cukup. Belum lagi sebagian dari mereka telah terlebih dahulu jatuh sakit. 

Lelaki Indian ini teringat pada sekolah, rumah, dan ladang yang telah mereka bangun di tanah ini. Dia dan suku Indian Cherokee lainnya tak ingin meninggalkan rumah mereka. Namun, mereka tak memiliki pilihan lain. 17 ribu orang suku Indian Cherokee harus pergi ke barat.

Langit mendung. Suara petir bergemuruh di angkasa. Beberapa orang saling berpegangan tangan. Ini adalah pertanda buruk dalam kepercayaan mereka. John Ross naik ke kereta kuda. Orang-orang berkumpul di sekitarnya. Mereka memanjatkan doa dalam bahasa Cherokee. “Kita meminta perlindungan Tuhan dalam perjalanan ini!” kata John Ross. “Amin,” jawab yang lain. Perlahan, kereta-kereta kuda itu bergerak menuju barat. Meninggalkan kepulan debu di tanah yang telah menjadi bagian dari jiwa mereka, Tennessee.

Perjalanan suku Indian Cherokee menuju barat dikenal dengan “The Trail Of  Tears”. Sebuah tragedi dalam perjalanan sejarah suku bangsa Indian Cherokee sebab memakan korban ribuan jiwa. Berlangsung selama 139 hari, The Trail of Tears memakan korban jiwa sebanyak 4000 orang. 

***

 “AAAAAHHHH….,” lengkingan menyayat hati keluar dari bibir Tsali ketika peluru menembus tubuhnya. Tubuh tua Tsali rebah ke tanah dengan bersimbah darah. Tangisan menyayat hati menggema, membelah malam pada musim panas. Tsali dihukum mati karena membunuh dua orang tentara kulit putih, demi membiarkan kawan-kawannya melarikan diri dari kamp penampuangan suku Indian di tanah ‘pemberian’ kulit putih. Tsali menukar kebebasan kawanan Indian Cherokee yang melarikan diri dengan nyawanya. Tepuk tangan bergemuruh, para penonton berdiri dari bangkunya, memberikan penghormatan bagi Tsali, sang pahlawan suku Indian Cherokee. 

image

Itulah sepenggal adegan dalam pertunjukkan Outdoor Drama: Unto These Hills. Sebuah pertunjukan drama yang akan membawa kita menyaksikan sejarah Cherokee. Setelah siang harinya mengunjungi museum, maka menyaksikan outdoor drama di malam hari seperti memasuki mesin waktu yang melemparkan kita ke masa ratusan tahun silam. 

Outdoor Drama Unto These Hills adalah sebuah pertunjukkan drama musim panas yang digelar pada malam hari. Pertunjukkannya bisa mulai disaksikan pada pertengahan Juni dan berakhir pada tanggal 21 Agustus setiap tahunnya. Berkisah tentang awal terbentuknya Bumi, perjuangan suku Indian Cherokee mempertahankan tanahnya, hingga penderitaan mereka dalam The Trail of Tears

Tiket untuk menyaksikan pertunjukkan ini cukup mahal. Orang dewasa dikenakan biaya sebesar US $ 16.00 dan US $ 8.00 untuk anak-anak. Di bawah enam tahun tidak dikenakan biaya. Sedangkan tiket dengan pemesanan terlebih dahulu, biayanya lebih mahal, yaitu US $ 18.00. Agak sulit memang untuk mendapatkan tiket outdoor drama di musim panas. Pertunjukkan drama ini tak pernah sepi. Setiap hari, ratusan orang berbondong-bondong datang dan menyaksikannya. Seluruh bangku terisi penuh. Tak heran apabila orang lebih suka melakukan pemesanan tiket terlebih dahulu daripada gigit jari karena kehabisan. Tiket telah termasuk biaya transportasi menuju Mountainside Theater, tempat di mana pertunjukkan diadakan. 

***

SETELAH museum dan outdoor drama, mengunjungi The Oconaluftee Indian Village akan semakin menyempurnakan petualangan kita. Perkampungan suku Indian yang lokasinya berdekatan dengan Mountainside Theater ini terbuka untuk umum mulai tanggal 15 Mei hingga 25 Oktober setiap tahunnya. Kita harus merogoh kocek senilai US $13 untuk dewasa, dan US $ 6 untuk anak-anak (6-13 tahun) bila ingin menikmati kehidupan di perkampungan suku Indian.

The Oconaluftee Indian Village dibangun oleh Cherokee Historical Assosiation, sebuah lembaga nirlaba. Mengunjungi perkampungan ini, kita diajak kembali ke kehidupan 225 tahun silam. The Oconaluftee Indian Village adalah replika dari perkampungan suku Indian lebih dari dua abad lalu. Seorang Indian berpakaian tradisional yang akan bertindak sebagai pemandu wisata untuk  menjelajah perkampungan ini.

Menyaksikan langsung kebudayaan dan gaya hidup suku Indian adalah pengalaman yang tak terlupakan. Kita diajak mengenal sejarah nenek moyang mereka dan menyaksikan kesenian dan kerajinan tangan para Indian. “One of Cherokee’s craft is the art of beadwork,” tutur pemandu wisata ketika rombongan berhenti di sekelompok perempuan Indian yang sedang membuat kerajianan dari biji-bijian. Biji-bijian itu dirangkai oleh mereka menjadi anting, kalung, gelang, dan hiasan pada tas serta keranjang dari bambu. Selain kerajinan tangan dari biji-bijian, Indian juga membuat kerajinan tembikar dan ukiran. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana para Indian ini membuat canoe dengan menggunakan api dan kapak. 

Di salah satu sudut perkampungan ini, kita akan menemukan penggilingan jagung. Jagung adalah salah satu makanan pokok suku Indian. Masa panen jagung merupakan penanda bahwa tahun telah berganti bagi suku Indian. Masa panen jagung berarti awal tahun baru. Ketika jagung-jagung di ladang telah matang, mereka akan menyelenggarakan The Green Corn Ceremony, upacara pergantian tahun.

***

image

MENGUNJUNGI daerah reservasi Indian Cherokee di Cherokee, North Carolina, ibarat kembali ke masa lalu. Kota kecil bersuhu sejuk ini terletak di sebelah barat North Carolina. Ia dikelilingi The Great Smoky Mountains. Pegunungan yang terkenal sebagai The ancestral homeland (Tanah leluhur)dari suku Indian Cherokee.

Dari Atlanta, Georgia, perjalanan menuju Cherokee ditempuh selama empat jam dengan kendaraan pribadi. Pertama kali memasuki kota Cherokee, ingatan saya melayang pada Winnetou, kepala suku Indian Apache yang ada dalam karya-karya Karl May. Tetapi, jelas suku Indian di Cherokee, tak sama dengan suku Indian Apache yang ada dalam cerita-cerita Karl May. Suku Indian Apache menempati daerah di Southern Arizona, New Mexico, dan Mexico. Sedangkan Indian Cherokee mendiami negara-negara bagian Georgia, Alabama, Tennessee, Virginia, West Virginia, Kentucky, South Carolina, dan North Carolina. 

Terdapat dua kelompok besar suku Indian Cherokee. Yaitu kelompok Eastern Band dan Western Band. Western Band adalah mereka yang melakukan perjalanan menuju Oklahoma (The Trail of Tears), sedangkan Eastern Band adalah yang menolak meninggalkan tanah mereka. Kelompok ini lari masuk ke dalam hutan di Smokey Mountains

Akhirnya, pada tahun 1889, pemerintah Amerika membuat The Qualla Indian Resevation di North Carolina sebagai rumah bagi The Eastern Band. Pembuatan daerah reservasi ini diprakarsai oleh seorang keturunan kulit putih bernama Will Thomas. Hari ini, The Qualla Boundary lebih dikenal dengan sebutan Cherokee Indian Reservation. The Eastern Band memiliki enam klan, yaitu Yellowhill, Birdtown, Painttown, Snowbird, Big Cove, dan Wolftown. Merekalah yang terus melanjutkan sejarahnya hingga hari ini. 

Di Cherokee sejarah hadir melampaui kata-kata. Kita bisa hidup di dalamnya, menyentuhnya, dan mengalami petualangan masa lalu. Ketika petualangan ini berakhir, you will know who the Cherokee are, and why they are still here….(13)

*)i lost all my photos of cherokee. images those are used on this post are taken from wikipedia and ashevilleguidebook.com

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *