
‘Ketidaksadaran memang jauh lebih mengerikan daripada ketidaktahuan,’ suara itu menyusup ke gendang telinga bersamaan dengan rasa sakit yang menikam ulu hati saya. Sontak tubuh saya menggigil, bukan karena hujan yang kian menderas, melainkan untuk perasaan yang tak asing ini.
***
Akhirnya, kau tiba di sini. Aku menunggumu.
Saya menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengenyahkan suara itu. Ini bukan saat yang tepat. Saya sedang tidak bersiap. Nyeri kembali menyerang lambung. Gigi saya bergemeletuk, mengunyah tergesa obat maag berbentuk tablet yang diberikan tenaga medis barusan.
‘Beri jalan, beri jalan! Anak ibu ini sakit!’ teriak lelaki berbaju putih yang berjaga di sisi luar tenda. Saya menepi, menyelip di sela tubuh-tubuh lain yang juga berada di tenda ini karena alasan yang sama—jatuh sakit.
‘Tak ada lagi ruang!’ sahut tenaga medis yang tadi memberi saya obat. ‘Hanya anaknya yang bisa masuk. Minta si ibu menunggu di luar. Di sini butuh udara segar, banyak yang pingsan,’ sambungnya.
Si ibu berhenti merangsak masuk, namun tangan kecil si anak menariknya. Lelaki muda yang berjaga di sisi luar tenda—yang tubuhnya pun telah kuyup—tampak kebingungan. ‘Bu, maaf, hanya anaknya yang bisa masuk. Kami akan mengurus anak ibu,’ ia menjelaskan.
‘Maaaa,’ rengek si anak. Ia tak mau terpisah dari ibunya.
‘Anak saya tak mau masuk sendirian.’
Semua saling tatap. Seorang pemuda yang juga berpakaian putih bertuliskan ‘Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)’ berkata, ‘Ibu, bolehkah anaknya diajak bicara dan diberi pengertian? Minta ia masuk sendirian tanpa Ibu. Kami akan mengurusnya. Di sini tak ada lagi ruang.’
Ibu terdiam, ia menatap anaknya yang terus memegangi tangannya. Lalu dengan suara rendah, ia mengajak anak itu berbicara. Anak menggeleng. ‘Kalau di sini saja boleh, Mas?’ tanya si Ibu. Ia memilih berdiri tepat di hadapan saya, yang juga berdiri, tak jauh dari pintu tenda. ‘Yang penting, anak saya ndak kehujanan.’
‘Tapi anaknya dijaga, ya, Bu, supaya tak terinjak. Soalnya banyak yang keluar-masuk,’ sahut pemuda itu. Matanya berserobok dengan mata saya. ‘Kamu sudah lebih baik? Kamu masuk sedikit lagi agar tak kena hujan,’ sarannya.
Saya menggeleng. ‘Sudah lebih baik. Di dalam butuh udara segar, kan?’ Padahal, sekujur tubuh saya sedang diserang dingin. Saya memasukkan tangan ke saku jaket, mencari hangat. Sial, jaket saya lembap oleh hujan.
Dia tersenyum dan mengangguk. ‘Iya, tempatnya tak cukup…..’ Belum selesai ia berbicara, teriakan dari luar tenda terdengar. ‘Ada satu lagi yang pingsan!’ Suara itu timbul-tenggelam di antara deru hujan dan sambutan keagamaan yang disampaikan di tengah acara puncak perayaan Waisak di Borobudur.
Para tenaga medis menatap orang-orang yang berbaring. Beberapa belum sadar dari pingsannya. Tak ada lagi tempat. Tanpa sadar, saya turut menghela napas. Namun, belum lagi masalah tempat terpecahkan, sekelompok pemuda yang membopong seorang perempuan pingsan telah berada di pintu tenda.
‘Yang pingsan sudah di sini!’ teriak pemuda tadi. Kacamatanya buram karena air hujan, tetapi ia seolah tak punya waktu untuk mengelapnya.
Saya kian mundur, hingga tertekan sandaran kursi tempat pemeriksaan. Sebuah tangan terulur, menyanggah tubuh saya agar tak jatuh. Tangan itu milik seorang perempuan paruh baya yang bertugas di bagian pemeriksaan. Saya mengulas senyum tanda terima kasih, ‘Kalau tak kuat, beri tahu,’ katanya singkat.
Saya membeku. Suara perempuan itu seperti datang dari sesuatu yang jauh di balik cahaya.
–
Kehebohan sedang terjadi di meja panitia yang melayani penukaran kupon dengan lampion. Ya, tenda kesehatan ini jadi satu dengan tenda panitia yang mengurusi lampion dan sejumlah hal lainnya. Hiruk pikuk di luar, sebenarnya terjadi juga di dalam tenda ini dengan kondisi yang berbeda.
‘Ada apa?’ Pemuda tadi bertanya kepada temannya. Kacamatanya telah kembali bening, saya bisa melihat sepasang mata sipitnya sekarang. Warnanya hitam.
‘Mereka mau refund uang lampion,’ jawab suara dari belakang punggung saya. Tergesa saya memiringkan sedikit tubuh dan menolehkan kepala, mencuri lihat apa yang terjadi di belakang punggung saya.
Seorang biksu sedang diperiksa tekanan darahnya oleh seorang petugas medis. Di belakang punggung biksu, panitia tampak kerepotan melayani orang-orang yang ingin mengambil kertas penukaran lampion dan mereka yang ingin mengurus pengembalian donasinya karena cuaca tak mendukung lampion diterbangkan.
Antrean lampion di luar tenda telah mengular sejak sore. Ini puncak acara yang ditunggu. Sebagian besar orang datang ke sini karena ingin menyaksikan pelepasan seribu lampion ke udara. Peserta perayaan bisa ikut melepaskan lampion yang telah ditempeli doa dengan memberikan donasi sebesar Rp100.000. Hujan yang turunnya tak diharapkan membuat semua meragu, apakah akan ada lampion diterbangkan? Lampion kertas tak akan bisa terbang dalam cuaca yang begini.
Tapi, refund donasi? Saya tercekat.
‘Oh, ada yang refund lagi?’ Respons pemuda itu. Wajahnya datar. Panitia pun terus melayani tanpa banyak suara. Tak ada sama sekali adu urat mulut berkaitan dengan ini. Mereka mengambil apa yang diberi, mengembalikan apa yang diminta. Padahal, siapa juga yang bisa mengendalikan dan menyalahkan cuaca?
Perut saya kembali menggelegak. Sial, bertahanlah, maki saya dalam hati. Namun rasa mual keburu memenuhi rongga mulut. Tubuh saya menolak berkompromi. Perut mengeras dan mengembung, seperti orang hamil muda. Saya ingin keluar dari tenda ini. Berjalan menembus hujan rasa-rasanya lebih baik daripada berada di sini dan menyaksikan yang barusan.
Tinggallah. Kau perlu berdiam dan melihat sesuatu.
Sekali lagi saya menggelengkan kepala, mencoba mengusir suara yang menyusup. Tepat ketika saya hendak melangkah keluar, pemuda tadi berkata, ‘Tinggal saja dulu di sini, tidak apa-apa. Di luar hujan deras.’
‘Tapi, yang sakit banyak. Saya sudah mendingan.’ Saya beralasan.
‘Masih susah buat keluar. Orang banyak. Temanmu pun belum terlihat.’ Saya sampai lupa, Alex dan Abdi meminta saya menunggu di sini sampai mereka kembali. Mereka pergi mencari sesuatu untuk saya makan. Saya kembali beringsut mundur, alasan itu membuat saya tinggal.
Kau cenderung menghindari apa yang tak suka kaulihat. Tapi, tidak kali ini. Kau memang harus melihatnya.
Saya mengembuskan napas. Belum habis udara itu saya keluarkan dari hidung, tiba-tiba sepasang orang asing menerobos masuk. Pemuda berbaju putih dan berkacamata berkata, ‘Maaf, ini hanya untuk orang sakit.’
‘Kami perlu berteduh. Dia juga sakit,’ sahut lelaki berambut pirang sambil merengkuh perempuan berambut pirang panjang di sampingnya. Semua mata memandangi pasangan ini. Pemuda itu tak menepi, ia tak memberi jalan sama sekali.
‘Maaf, hanya untuk orang sakit.’
‘Iya, dia juga sakit.’ Pasangan itu terus maju. Siapa pun yang melihat tahu, mereka tak sakit. Mereka hanya tak ingin kehujanan karena tak membawa payung dan jas hujan.
Kau mulai menilai. Suara itu muncul lagi. Belajarlah percaya bahkan ketika kau meragu.
Saya melengos. Semua terlalu jelas. Kenapa pula harus percaya kepada pembohong? Saya mendebat dalam hati.
Lihat apa yang sedang dilakukan oleh pikiran mereka.
Saya mengira pemuda berbaju putih-berkacamata akan mendorong tubuh kedua orang itu atau membuat barikade dengan merentangkan tangannya, menghalangi mereka masuk. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ia menepi sambil berkata, ‘Kalau kamu memang sadar kondisimu jauh lebih buruk daripada orang-orang yang ada di dalam tenda ini, silakan masuk.’
Hening.
Keduanya geming, Mereka tak masuk ke tenda dan memilih berdiri di luar.
Saya tersedak. Sesuatu kembali menghantam ulu hati saya.
Keheningan yang melingkupi itu pecah ketika tiba-tiba seorang lelaki asing yang lain lagi-lagi memaksa masuk. Kali ini, pemuda itu merentangkan tangan. ‘Ada perlu apa? Ini hanya untuk orang sakit.’
Lelaki itu melongok ke dalam. Kami semua menatapnya. Risih, ia membuang pandang, lalu berbicara kepada pemuda berbaju putih-berkacamata sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. ‘Mengapa saya tak bisa menelepon dan mengirimkan pesan?’
Yaelah, rutuk saya dalam hati. Ngelesnya jago banget, sih.
Kau tak mendengarku? Lihat apa yang sedang dilakukan oleh pikiran mereka.
Ya, ya, ya. Bertindak adil dimulai sejak dari pikiran. Saya menjawab suara itu seenaknya.
‘Tak ada sinyal di sini. Mohon disadari, kita sedang beribadah,’ jawab pemuda berbaju putih-berkacamata lugas tanpa terkesan intimidatif. Tiba-tiba saya mengalihkan fokus saya ke pemuda ini. Sekian lama dia ada di hadapan saya, saya justru tak pernah benar-benar memperhatikan dia.
‘Sinyalnya ada!’ Suara lelaki asing meninggi, kurang puas dengan jawaban yang diterima. Ia menunjukkan ponselnya ke pemuda itu, ‘Tapi tak bisa menelepon dan tak bisa mengirimkan pesan. Tak bisa juga internet.’
‘Memang tak bisa di sini.’
Pantas, kata saya dalam hati. Walaupun mendapatkan 3G, namun saya sama sekali tak bisa menelepon dan berkirim pesan. Ngecek email, ngetwit, nge-path, semua bergantung kepada keberuntungan. Entah karena hujan sehingga sinyal buruk, atau memang di lokasi perayaan Waisak, sinyal sengaja diacak. Tak ada penjelasan dari pemuda itu.
Lelaki asing mengomel tanpa ada reaksi dari si pemuda sama sekali. Ia tak marah, juga tak terlihat kesal, tetap berdiri, tenang, dan melihat ke arah lelaki asing yang mengenakan batik biru. Suara omelan lelaki asing itu tenggelam oleh suara pidato sambutan yang berasal dari altar di Barat Borobudur. Tak mendapatkan respons apa pun, ia berbalik, pergi menuju kerumunan.
Perut saya kian mulas. Ini jauh di luar bayangan saya ketika mengiyakan permintaan kawan untuk menemaninya menyaksikan Waisak. Saya cuma mau lihat lampion.
Tubuh saya menggigil, bahkan kedua tangan saya sedingin es, lebih dingin dari biasanya. Perasaan ngeri tiba-tiba merayap, menjalar di sepanjang punggung, menciptakan kegelisahan luar biasa. Saya mendadak takut untuk melihat lebih banyak. Saya takut bertemu dengan sisi buruk manusia.
Buka mata lebar-lebar. Ketidaksadaran itu seperti lubang gelap tak berdasar. Lebih mengerikan daripada ketidaktahuan. Melumpuhkan.
Suara itu kembali terdengar. Saya sudah tak ingin menolaknya. Percuma. Ia selalu tahu waktu paling tepat untuk menciptakan pertemuan.
Sekali lagi, saya terjebak. Sialan kau!
–
‘Saya ingin keluar,’ kata saya.
Pemuda berbaju putih-berkacamata menatap saya dari kepala hingga kaki. ‘Sudah kuat?’
Saya pikir, saya sudah berbuat curang. Dengan kondisi yang sudah lebih baik, saya masih berada di sini. mengamati semua yang terjadi di dalam tenda putih. Di luar sana, suara gelisah ‘pengunjung’ bergemuruh, mengudara bersama suara hujan.
‘Windy!’ Suara Alex dan Abdi terdengar berbarengan. ‘Sudah mendingan? Pulang?’ tanya Alex memastikan.
Saya mengangguk buru-buru, berusaha meraih tangan Alex yang terulur, tetapi kemudian terhalang oleh tubuh-tubuh lain yang keluar-masuk. Pemuda berbaju putih-berkacamata masih di sana, menatap saya lekat seolah memastikan saya memang sudah kuat. ‘Kamu benar mau keluar dari tenda ini?’
Ini seperti pertanyaan jebakan. Sebagian dari diri saya tahu, semakin lama berada di sini, saya akan melihat semakin banyak hal-hal yang tak ingin saya lihat. Untuk seorang pencandu kontradiksi, ini bisa jadi menarik, ditambah lagi saya juga tak perlu kehujanan, seperti nasib ratusan atau ribuan orang di luar sana. Tapi….
‘Saya akan keluar.’
‘Baiklah.’
‘Keluar dari Borobudur. Pulang.’ Saya tak tahu, mengapa saya merasa perlu memberi tahu dia.
‘Oh? Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu cari?’
Saya terhenyak. Pemuda itu tersenyum. Apa yang saya cari di sini? Awalnya saya hanya ingin menemani kawan saya sambil melihat pelepasan lampion yang ramai dibicarakan orang.
Lampion? Saya bahkan lupa bahwa lampion pun belum dilepaskan. Kertas kupon lampion masih berada di saku saya, belum saya tukarkan.
‘Kamu sudah lebih kuat?’ Suara perempuan paruh baya yang bertugas memeriksa terdengar. ‘Sudah,’ jawab saya cepat. Ia mengulurkan tangannya. Mengelus lengan saya. ‘Kamu akan baik-baik saja?’
‘Saya akan baik-baik saja. Boleh plastik hitam ini buat saya?’ Saya menunjuk plastik hitam lebar yang tadi difungsikan sebagai jas hujan oleh seorang biksu.
‘Plastik itu sudah jelek,’ sahut si pemuda. ‘Iya, coba cari yang lain,’ perempuan itu membenarkan.
‘Ini cukup.’ Saya menudungi kepala dengan plastik lalu berusaha menerobos keluar. ‘Terima kasih!’
‘Selamat Waisak.’ Tangan pemuda itu terulur, membenarkan letak tudung plastik di kepala saya sebelum menepi memberi jalan. Mata kami bertemu. Kacamatanya kembali buram, basah oleh air hujan. Saya mendadak merasa seperti diguyur air es.
Saya mengenal dia.
–
Bertiga, kami menjauhi Borobudur Ketika menyusuri pelataran panjang yang membentang di depan Borobudur, saya menolehkan kepala. Menatap candi itu sekali lagi.
Saya belum pernah masuk Borobudur pada malam hari. Borobudur terlihat magis sekaligus memesona. Cahaya dari lampu sorot yang ditembakkan ke langit membuat kabut-kabut tipis yang turun terlihat seperti selaput berwarna kekuningan transparan. Langit tampak gelap kelabu, tak pekat. Langkah saya tersendat. Kembali dada saya berdesir. Sesuatu seolah merayap di punggung.
Sampai sini saja? Suara itu kembali muncul.
‘Iya, sampai di sini saja,’ jawab saya dalam hati.
Kesadaran itu luar biasa, bukan? Saya melompati kubangan air tanpa menjawab pertanyaannya. Seperti kau yang melompati kubangan air karena mengetahui keberadaan kubangan itu dan menyadari bila tak melompat, sepatumu akan basah. Kau mampu menggerakkan tubuhmu untuk melompat karena menyadari. Dia menyadari, saya sengaja tak menjawab.
Kau marah?
Kau tak marah? Saya balik bertanya. Kadang-kadang dia sering melontarkan pertanyaan yang tak memerlukan jawaban. Ah, lebih sering ia bertanya untuk memancing reaksi saya. Saya sering mengoloknya manipulatif. Tapi, ia tak pernah marah. Ia tahu, ia tidak manipulatif dan saya pun tahu itu.
Marah tak akan membuat semuanya lebih baik. Marah kepada yang tak tahu dan tak sadar, itu artinya kau pun tak sadar.
Mereka tahu ini Waisak.
Mereka tahu. Namun, ketidaksadaran membuat sekadar tahu menjadi tak cukup.
Saya berhenti, membeli sebotol air mineral dari salah satu penjual di dekat gerbang keluar. Tenggorok saya terasa kering. Ketika meneguk air dari botol, saya tahu, saya telah ditipu. Itu hanyalah air matang yang dimasukkan ke botol minuman mineral. Bahkan labelnya pun hanya dilem ala kadarnya. Saya menggeleng-gelengkan kepala, menyisipkan label minuman itu ke saku, lalu terus meneguk air dari botol.
Hahaha. Saya mendengar ia tertawa. Kamu tahu kamu baru saja tertipu, kan?
Selalu ada yang mengambil keuntungan di tengah keramaian, bahkan di tengah upacara keagamaan.
Kau tak lupa, kan?
Saya mengulurkan tangan, menjangkau keluar dari lindungan plastik. Hujan masih turun meski tak sederas tadi. Lupa apa?
Pulang dan tidurlah. Aku akan menemuimu nanti.
Langkah saya berhenti. Nanti?
Di atas malam. Sebelum pagi.
‘Kenapa, Kak W?’ Pertanyaan Alex menarik saya keluar dari percakapan di kepala. Ia menatap saya yang sedang memandangi Borobudur.
‘Magis, ya.’ Perkataan itu lebih mirip seperti sebuah pernyataan di telinga saya.
Alex memandangi Borobudur. ‘Lo mau motret? Mau gue ambilin kamera lo yang ada di tas?’ Saya menggeleng. Dari siang tadi, sudah diputuskan ini waktunya untuk menyimpan kamera.
***
Ingatan saya hanya mampu merekam ketika Alex mengguncang bahu saya dan menyodorkan secangkir teh hangat dan madu. Selebihnya, gelap. Saya meringkuk di bawah selimut, mengistirahatkan tubuh, melelapkan pikiran, tetapi bersiaga agar tak lenyap.
Saya mau sadar ketika ia hadir.
…
Sebelum pagi…. Kata-kata itu memanggil saya dari kejauhan, membuat saya terbangun, lalu buru-buru menyingkap tirai jendela.
Subuh! Saya tertidur. Dia tak datang.
Dengan kaus kutung dan celana pendek, saya bergegas keluar. Hari masih gelap, namun dari balik punggung gunung, semburat oranye mulai terlihat. Saya putuskan berjalan ke arah datang cahaya. Wajah pemuda berbaju putih dengan lensa kacamata yang buram karena air hujan muncul di benak saya.
Betapa bodohnya saya semalam. Menyadari keberadaannya yang begitu dekat, tepat ketika akan pergi. Padahal, sedari awal dia ada di sana, menciptakan percakapan dengan caranya.
Namun, bukankah kerap dalam keseharian saya juga terkecoh? Hanya melihat apa yang terlihat dan ingin dilihat, bukan yang seharusnya dilihat? Ketidaksadaran membutakan saya. Padahal, ‘dia’ berumah di mana saja, tersebar hingga ke partikel terkecil di semesta ini, hadir dalam beragam bentuk—yang saya suka, bisa juga tidak. Hanya dibutuhkan kesadaran untuk mampu melihatnya.
Kesadaran membuat manusia melihat, berpikir, dan bertindak yang seharusnya.
Bagaimana mungkin saya lupa itu? Sesuatu yang paling mendasar, yang mampu membuat manusia mengendalikan pikiran dan hatinya dari kehendak atau bertindak negatif.
Ironis. Semalam, di tengah Perayaan Waisak, saya justru kehilangan hal yang terpenting itu sebagai manusia: kesadaran.
Kau sudah bangun. Selamat sadar.
Suara itu kembali terdengar, diantarkan oleh angin yang bersiut, menimbulkan suara serupa seruling. Pucuk-pucuk daun bergemerisik. Suara kokok ayam terdengar.
Dia datang. Dia menepati janjinya. Di atas malam, sebelum pagi.
Ya, saya sudah bangun. Selamat Waisak. Semoga semua makhluk berbahagia. [13]
*)photo taken by @windyariestanty. location: candi sewu, magelang, jawa tengah. may 25th, 2013