
Sunset is the saddest light and the shape of cloud is the most romantic line.
Perempuan itu duduk di pojokan halaman kuil. Sepasang kakinya yang terjulur digoyang-goyangkan. Aku menduga, ia kelelahan. Tadi, aku melihat ia berjalan tergesa mendaki anak tangga menuju kuil ini bersama ketiga orang temannya. Keempatnya perempuan.
Ini awal musim gugur di Jepang. Memasuki September hingga November, cuaca di Jepang serba tak tertebak. Bisa panas menyengat—seperti saat ini, bisa tiba-tiba hujan. Apalagi, kota kecil ini berjarak tak terlalu jauh dari Tokyo yang sejak awak September dihantam typhoon beberapa kali. Kamakura – Tokyo hanya membutuhkan 60 menit perjalanan dengan kereta api.
Namun, sore ini tampaknya langit musim gugur menderang. Di kejauhan, aku melihat awan putih berarak. Warna langit masih biru meski hari telah menjelang sore. Dari tempat aku berdiri, tepat di ujung anak tangga terakhir menuju kuil, cakrawala tampak membentang luas. Mengingatkanku kepada pesawat-pesawat terbang yang kuakrabi dulu pada masa muda, yang mengangkasa, menjelajahi biru dan gumpalan putih berarak.
Langit adalah sebuah kanvas besar.
Kuil ini salah satu tempat favoritku. Setiap sore, bila pelanggan di toko servis khusus kamera kuno yang kubuka setelah pensiun dari pekerjaanku sebagai insinyur pesawat terbang tak terlalu ramai, aku akan ke sini. Tak lupa, sebuah kamera analog—salah satu dari koleksi kamera tuaku—akan kutenteng.
Seperti sore ini. Aku kembali ingin memotret langit pada senja hari.
‘Itu kamera lama?’ Suara perempuan mengagetkanku. Perempuan itu, yang tadi setengah berlari menaiki anak tangga, kini berdiri di sampingku dengan sepasang mata memancarkan rasa ingin tahu.
Aku tak menjawab, malah memandanginya. Ternyata ia lebih tinggi dari yang kuduga. Kulitnya berwarna kecokelatan. Aku kesulitan menebak, apakah itu warna aslinya atau akibat terlalu sering terkena sinar matahari.
‘Kamera di tanganmu…. Itu kamera lama bukan?’ Sekali lagi ia bertanya, bahkan melangkah lebih mendekat.
‘Ya, ini kamera lama,’ jawabku tanpa memberi tahu jenis kamera yang ada di tanganku. Aku menduga ia tak terlalu tahu seberapa tua kamera ini. Ia hanya menebak-nebak dari bentuk kamera yang kotak memanjang dan ukurannya yang besar. Perempuan itu tak menenteng kamera, ia hanya memegang sebuah ponsel yang sedari tadi kulihat menjadi alat rekam gambarnya. Sebuah tas ransel kecil tergantung di punggungnya.
‘Kau memotret dengan menggunakan film?’ Nada suaranya terdengar takjub. Sepasang matanya membesar. Aku berusaha menyembunyikan tawa. ‘Iya, masih menggunakan film.’ Aku selalu suka memotret dengan kamera yang masih menggunakan gulungan film seluloid.
Sebuah lenguhan panjangan terdengar diikuti dengan mulutnya yang membentuk huruf O. Aku tak bisa tidak tersenyum kecil. ‘Kau bukan orang sini, ya?’ tanyaku akhirnya. Ia menggeleng. Matanya tak lepas memandangi kamera yang ada di tanganku. ‘Kau mau lihat?’ Aku menyerah, mengulurkan kamera itu kepadanya.
Perempuan itu melambai-lambaikan tangan kanannya ke udara, tanda ia menolak. ‘Tidak. Aku tak berani memegangnya. Aku hanya ingin melihat apa yang kau foto dari tadi.’
‘Aku belum memotret apa pun,’ sahutku.
‘Aku tahu. Aku dari tadi mengamatimu. Apa yang kau lihat dari tadi?’
‘Langit,’ jawabku singkat. Sedari tadi aku berdiri di sini, memandangi langit dan menunggu kapan saat paling tepat untuk membidikkan kameraku. Aku suka pergi ke tempat-tempat yang agak tinggi di kota ini, menunggu langit berubah warna menjelang senja. Sebagai salah satu kota kuno, Kamakura tak memiliki bangunan-bangunan tinggi menjulang. Jadi, setiap kali aku pergi ke dataran yang lebih tinggi, lanskap kota akan terlihat jelas tanpa ada penghalang. Kau bisa melihat gunung dan laut. ‘Ya, tadi di kereta, aku melihat pemandangan gunung dan laut,’ ia membenarkan. Ia ke sini dengan kereta dari Tokyo.
Aku menyarankan ia ke Kuil Hasedera. Ada satu titik agak tinggi di kuil itu, kalau berdiri di sana, ia bisa memandang ke laut lepas yang menghampar di sisi selatan kota ini. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya bersemangat. ‘Aku tadi ke sana. ‘Ada banyak patung Buddha kecil-kecil yang lucu, kan?’ ia mengonfirmasi. Patung-patung Buddha yang lucu itulah, katanya, yang membuat ia memutuskan pergi ke Kamakura dan melupakan rencana awal berkeliling di Tokyo.

Patung Buddha yang lucu? Aku menahan tawa. Kubilang, cara ia menggambarkan unik. Ia tak mengatakan apa pun selain cengirannya kian melebar. Hasedera adalah kuil bagi Dewi Kesuburan. Mereka yang datang ke sana biasanya berdoa agar diberi keturunan. Karenanya, patung-patung Buddha dibuat mungil-mungil, seperti anak kecil dengan ekspresi lucu.
‘Kau suka senja?’ sambungnya. Aku agak terkejut dengan pertanyaannya yang berbelok jauh dari percakapan kami soal kuil. Kubilang, untuk ukuran perempuan muda seperti dia, dia melontarkan pertanyaan yang sangat aneh kepada lelaki tua sepertiku. Usiaku tahun ini memasuki tujuh puluh lima tahun. Sewaktu kukatakan hal ini kepadanya, ia malah bertanya lagi soal pertanyaan macam apa yang seharusnya diberikan kepada orang tua. Anak muda jarang suka berbicara dengan orang tua, sahutku. Dan ia hanya tergelak lalu kembali menanyakan hal yang sama, apakah aku menyukai senja.
‘Aku suka warna langit ketika senja. Warnanya tak pernah sama,’ jawabku akhirnya sambil kembali mengarahkan pandangan ke langit. Semburat merah muda menuju ungu mulai mewarnai langit. Tapi ini belum waktunya menjepret. Tunggu sebentar lagi, pikirku sambil mengintai dari kotak bidik.
Ia tak beringsut. Aku merasa ia mengamati. ‘Kau tak tinggal di sini, ya?’
‘Tidak,’ sahutnya cepat.
‘Kau sedang berlibur? Jalan-jalan?’
‘Iya. Sudah hampir dua minggu aku di Jepang,’ jelasnya tanpa aku minta. ‘Kau tinggal di kota ini?’ Ia balas bertanya. Aku mengangguk lalu memberi tahunya bahwa toko servis kamera yang kumiliki berada tak jauh dari kuil Tsurugaoka Hachimangu, kuil tempat kami berada sekarang. ‘Wah, kau punya toko servis kamera?’
‘Iya, khusus untuk kamera lama dan kuno,’ tukasku, ‘tapi aku juga bisa memperbaiki kamera baru dan digital.’
Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, kuceritakan kepadanya bahwa aku menyukai kamera-kamera lama sejak aku masih bekerja sebagai insinyur pesawat terbang. Aku mengoleksi kamera-kamera itu. sebagai seorang insiyur, mengoprek tentunya hal yang menyenangkan. Tak ubahnya seperti mesin pesawat yang harus kuutak-atik, kamera pun demikian. Dari sekadar hobi, lambat-laun menjadi keahlian. Apa lagi pada zaman sekarang, ketika kamera digital menyerbu, tempat-tempat yang menerima servis kamera kuno makin langka.
‘Jadi kau belajar otodidak untuk memperbaiki kamera-kamera itu?’
‘Aku seorang insinyur,’ sahutku sambil tertawa, ‘awalnya hanya sekadar ingin membantu orang-orang yang kesulitan mencari tempat untuk memperbaiki kamera lama mereka. Namun, begitu aku pensiun, aku berpikir menjadikan ini sebagai usaha sekaligus kegiatan untuk mengisi waktuku.’
‘Berapa koleksi kameramu?’
‘Seratus lebih. Yang ini baru kudapat, makanya aku ingin mencobanya hari ini.’
Tak lama, seorang perempuan lain—yang aku kenali sebagai salah satu dari tiga temannya menghampiri. Ia bertanya kepadaku soal di mana bisa menemukan Fuji film 110 mm untuk kamera jenis 110 milik kawannya. Tokoku tak menjualnya, tetapi film yang dicarinya bukan benda yang mudah didapatkan di toko-toko kamera biasa di Kamakura. Kuminta ia menyampaikan ke temannya, perempuan muda yang berambut ikal tadi, bahwa ia harus sangat sabar keluar-masuk toko.
‘Kau memotret dengan itu saja?’ tanyaku kepada perempuan itu kemudian. Ia tersenyum sambil mengacungkan ponsel di tangannya. ‘Iphone ini alat utamaku mengambil gambar,’
‘Generasimu serba digital.’
‘Tak ada yang salah, kan? Kau memotret dengan kamera digital juga?’ Ia lanjut bertanya. Aku menggeleng. Aku tahu, kamera kian canggih. ‘Iya, tentu tak salah,’ responsku. Aku tak mau ia salah tangkap. Namun, aku sendiri menikmati mengambil foto dengan kamera analog. Memasang gulungan film, memilih ASA film, menunggu dan mengamati arah datangnya cahaya agar warna pada foto yang kuambil ‘keluar’, lalu hal yang paling kusukai adalah masuk ke kamar gelap untuk melihat hasil ‘buruanku’.
‘Aku belajar lebih menghargai apa yang aku punya. Ini bukan lagi masalah waktu, kejelian, dan momen. Ini soal kesempatan yang aku miliki. Kadang, ketika menggunakan kamera digital, kita berpikir, jepret saja semua. Kan, tidak menghabiskan film. Kita menjadi kurang menghargai setiap kesempatan yang kita punya, juga kesempatan orang lain untuk mendapatkan momen karena kurang peka pada sekitar.’
Setiap film yang kupunya adalah kesempatan yang kumiliki. Bila film itu habis, habis pula kesempatanku.
Ia terdiam sesaat sambil melihat ke Iphone di tangannya. Aku bertanya apakah aku boleh melihat foto-foto yang diambilnya. Segera, ia menunjukkan hasil jepretannya. ‘Maaf, aku tadi memotretmu,’ jelasnya.
Aku melihat foto diriku berlatar belakang kuil merah, sedang berdiri memandang langit sambil memegang kamera. Aku tak keberatan sama sekali meskipun aku terlihat sedih di sana.

‘Kau suka memotret sunset?’ Aku jadi ingin tahu, apakah ia juga menyukai senja dan langit.
‘Aku suka menangkap cahaya,’ ujarnya sambil tertawa, ‘dan semburat cahaya yang dihasilkan senja, menurutku, justru semburat yang paling menyedihkan.’
Aku tertawa mendengar istilahnya dan tanpa sadar mengulangi apa yang ia katakan, ‘Menangkap cahaya.’ Tapi menurutku ia tak sepenuhnya salah. Warna-warna senja memang warna-warna yang liris, penuh emosi. Ia mengartikan itu sebagai sedih. Aku sendiri suka melihat pesawat yang melintasi angkasa dan mengamati bentuk-bentuk awan pada saat matahari hampir terbenam.
‘Bentuk-bentuk awan adalah garis-garis yang paling romantis, kalau menurutku.’
Aku mengangkat kamera. Ini waktunya membidik. Ia melakukan hal yang sama.
‘Kau tahu soal cahaya dan langit biru?’ Aku sudah lama tak bercakap-cakap panjang dengan orang asing, apalagi menggunakan bahasa Inggris, jadi kulontarkan pertanyaan yang jawabannya kuketahui berkat kesukaanku kepada langit dan pesawat.
Dia menggeleng. ‘Partikel-partikel debu,’ jawabku tanpa menunggu ia mengucapkan sesuatu. Partikel-partikel kecil dalam udara menyebarkan cahaya yang melewatinya. Namun, karena lebih banyak cahaya biru yang tersebar dibandingkan warna lain, maka langit terlihat biru.
Ia lalu berkata, ‘Kalau begitu, langit tak selalu biru.’
Aku masih memandangi langit. ‘Tidak. Karena itu warna senja bisa bermacam-macam.’
Sesaat kami asyik dalam pikiran kami masing-masing sampai kemudian ia berkata, ‘Aku sepertinya harus mencari ketiga kawanku yang lain.’ Aku memberi tahunya bahwa ketiga kawannya telah turun beberapa menit yang lalu ketika kami asyik mengobrol. ‘Baiklah, aku harus pergi,’ sahutnya.
‘Kalau kau punya kamera kuno yang ingin diperbaiki, datang saja ke tempatku. Aku akan senang hati memeriksa dan memperbaikinya. Kau tak perlu membayar,’ tawarku. Kukatakan kepadanya bahwa aku senang bisa mengobrol dengannya dan melatih bahasa Inggrisku.
Perempuan berambut pendek itu tertawa sambil berkata, ‘Sayang sekali, besok malam aku sudah meninggalkan Jepang.’ Aku sedikit kaget, kukira ia bersekolah di Jepang dan baru dua minggu berada di sini. Ia tertawa dan menggeleng mendengar apa yang kukatakan. ‘Are you a traveler?’
‘I am a writer.’ Ia mengatakan itu sambil tersenyum. ‘Aku belum tahu namamu sama sekali.’ Tangannya terulur, aku menyambutnya. ‘Kawata. Namaku Kawata. Kau, siapa namamu?’
‘Windy.’
‘Itu nama Indonesia?’ Aku mengerenyit. Dia tertawa sambil menggeleng. ‘Bukan! Itu nama Inggris. Aku lahir ketika angin bertiup kencang. Kakekku yang menamaiku itu.’
‘Haik.’ Aku mengangguk paham. ‘Jadi, kamu penulis?’
Ia mengangguk cepat. ‘Kau tahu penulis Jepang yang bernama Kawabata? Yasunari Kawabata?’
‘Ya, dia salah satu penulis Jepang.’
‘Aku menyukainya. Namamu mirip dia.’
‘Kau memang penulis kalau begitu,’ pujiku sambil membenarkan letak kacamata yang turun. Kukatakan kepadanya, aku sendiri belum pernah membaca karya Kawabata. Anak muda Jepang bahkan belum tentu mengenal Kawabata. Ia penulis lama, kalau tak mau dibilang klasik. ‘Kau tahu Daido Moriyama?’ Ia menyebutkan nama lain.
‘Aku tahu dia. Kau menyukainya?’ Perempuan ini tahu fotografer legendaris Jepang. Aku tahu Moriyama, tetapi bukan penggemar aliran fotografinya. Aku memiliki beberapa buku fotonya di toko.
Dia lagi-lagi mengangguk bersemangat, kacamata hitam yang bertengger di kepalanya jatuh karena gerak yang berlebihan. ‘Baiklah. Aku harus pergi sekarang. Sayonara, Mr. Kawata,’ kata sambil tertawa lalu memungut kacamatanya.
Aku menyaksikan punggungnya menjauh, menuruni anak tangga kuil, menuju ke gerbang. Angin berembus, menerbangkan dedaunan yang gugur berserakan di kakiku, seolah mengikuti kepergiannya. [13]
*) all photos taken by @windyariestanty with iphone4