i hope you dance —sebuah jurnal

image

And when you get the choice to sit it out or dance, I hope you dance….. I hope you dance.

Pada sebuah musim panas yang menguarkan aroma persik, ia berdiri di pintu kamar, menyodorkan sebuah benda. 

‘Untuk kamu.’ 

Saya yang sedang menyuapkan es krim sambil memandang ke luar jendela, melihat pepohonan di hutan samping kamar pun menoleh. ‘Hey, sudah pulang? Apa itu?’

‘Buka saja. Aku menemukan ini di Atlanta,’ jawabnya sambil menghampiri saya yang tak bergeser barang sejengkal pun dari jendela.

Saya bergegas membuka kertas putih polos yang membungkus benda itu. Sebuah jurnal. ‘Wah, bagus! Terima kasih.’

Dia bergerak, duduk di pinggir ranjang besi yang berseprai kuning pucat. Saya kurang suka seprai dengan corak, seperti tenggelam di dalam keramaian yang mendesak-desak. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur dan memainkan walkman usang yang setia menemani saya. Hanya ada satu kaset yang melulu saya putar dan saya dengar: album pertama Mocca ‘My Diary’. ‘Kamu bisa menulis di jurnal itu. Tentang apa saja.’

Saya menaham senyum. Diam-diam senang karena rupanya ia menyimak dengan baik percakapan kami sebelumnya. Bahwa saya butuh buku tulis baru untuk menuliskan kisah-kisah yang saya alami selama tinggal di Cherokee. Buku tulis yang saya bawa sudah hampir habis halamannya. ‘Terima kasih. Kamu baik.’

‘Aku suka baca tulisan-tulisanmu.’ Dia suka mencuri lihat setiap kali saya sedang menulis sesuatu di buku kecil yang selalu saya bawa ke mana pun. Saya mencatat apa saja, menyelipkan banyak dedaunan kering di setiap halamannya sebagai penanda. Sebenarnya, saya enggan membiarkan orang lain membaca jurnal saya. tapi entah kenapa, saya mengizinkan dia membaca apa saja yang saya tulis. ‘Terjemahkan ke bahasa Inggris bisa?’ pintanya ketika melihat tulisan-tulisan panjang berbahasa Indonesia. Lalu, mulailah saya mendongengi dia dengan bahasa Inggris yang belepotan. 

Saya membuka halaman jurnal yang diberikannya. Aroma kertas memenuhi penciuman saya. Jurnal ini terlalu bagus untuk ditulisi. Di sebuah halaman pembuka, sebelum saya mendapati halaman-halaman kosong dari jurnal itu, sebuah tulisan tertera. ‘I hope you dance. I hope you never lose your sense of wonder,’ baca saya lamat-lamat.

Tanpa memandang ke arah saya dia berkata, ‘Aku suka rasa ingin tahumu.’

‘Jurnalnya terlalu bagus, nanti aku malah sayang menulisinya.’ Saya melontarkan apa yang ada di benak saya ketika pertama kali melihat jurnal itu. 

‘Kalau habis, aku akan membelikanmu jurnal-jurnal lain. Jadi menulis saja apa yang ingin kamu tulis.’

Lelaki itu kini bangkit dari tempat tidur dan meraih bola basket yang tergeletak di dekat kaki ranjang. Ia memain-mainkan bola itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Saya mengamati tangannya yang terampil memainkan bola dan tak pernah bisa membohongi betapa saya selalu menyukai buku-buku jarinya yang panjang. 

Lalu saya berjanji, saya akan terus menulis, mengisi jurnal itu dengan cerita-cerita apa saja. ‘Bagaimana bila kamu sudah tidak di sini lagi?’ tanyanya.

‘Selama kamu masih menemukan tulisanku, selama itu aku masih hidup,’ jawab saya.

Dia tertawa. ‘Hanya itu cara untuk tahu kamu masih hidup? Seseorang bisa saja tetap membaca tulisan seseorang yang sudah meninggal bukan?’

‘Hanya itu yang bisa aku lakukan.’

Lelaki itu memandang saya lekat. Jantung saya berdetak dalam iramanya yang tak lagi konstan. Gelisah yang saya suka. Resah yang mencandu. ‘Kalau begitu, boleh meminta satu hal lagi?’

Tak seperti biasanya, kali ini saya tak terlalu berani menatap dia. Maka, sambil bertanya, ‘apa’, saya alihkan pandangan kepada jurnal di pangkuan. Cengiran lebar si anak kecil yang ada di sampul jurnal seolah meledek kepengecutan saya. 

‘Suatu hari, menulislah tentang aku. Tentang pertemuan kita.’

Sore itu, pada semua musim panas berangin yang meniupkan aroma persik, saya menyetujui permintaannya.

*** 

Cerita pertama tentang dia yang saya tulis ada di halaman pertama jurnal pemberiannya. Tentang seorang lelaki yang membuat saya mengejar biru pada langit. Yang membuat saya memburu batas cakrawala setiap kali menengadah.

Hari itu, saya mencarinya. Mendapati ia sedang duduk di anak tangga, sambil makan siang dan mengobrol dengan beberapa teman Indian kami. Saya berbaur dengan mereka, hingga kemudian yang tersisa hanya kami berdua. ‘Nih,’ kata saya sambil menyurukkan jurnal itu ke hadapannya.

Ia menaikkan sepasang alis lebatnya. Ekspresi mukanya seolah berkata, ‘Apa ini?’

‘Aku menulis.’

Senyum khasnya mengulas. ‘Aku baca di rumah boleh?’

Saya mengangguk lekas-lekas sebab saya sendiri tak bisa membayangkan bila ia membacanya di depan saya.

Itu surat cinta pertama yang saya tulis untuk dia. Surat cinta dalam bentuk cerita tentang dia.

Wajah saya memanas. Saya tahu, musim panas itu saya jatuh cinta.

Ia mengembalikan jurnal itu keesokan harinya ketika mengantarkan saya pulang. 

‘Ini jurnalmu,’ katanya ketika saya hendak turun dari mobil. Saya menerima jurnal itu sambil memandangi wajahnya. Lagi-lagi ia tersenyum. Senyum yang saya suka sampai hari ini. ‘Tulisannya bagus,’ ujarnya dengan muka memerah. Itu pertama kalinya saya melihat seorang lelaki berwajah merah jambu. ‘Aku mencoba menulis sesuatu di jurnal itu. di halaman paling akhir.’

‘Kamu?’

Dia menenggelamkan wajah ke roda kemudi yang dilingkari sepasang tangannya, seolah itu bisa menutupi wajahnya dari saya. ‘Kamu menulis apa?’ kejar saya. 

‘Baca sendiri, deh.’

Sore itu, saya bergegas masuk kamar tanpa melepas sepatu lalu membuka halaman terakhir jurnal pemberiannya.

Dia menulis tentang saya. Itu bukan surat cinta pertama yang saya terima dari seseorang. Tapi itu surat cinta pertama yang membuat saya selalu terkenang seperti apa rasanya jatuh cinta. 

Jatuh cinta yang sederhana.

***

Kami berpisah pada awal musim dingin. Perpisahan karena jarak, bukan karena berhenti mencintai. 

Malam terakhir saya di Cherokee, ia datang untuk memberikan sebuah amplop berisi sobekan halaman terakhir jurnal. ‘Aku pikir, aku harus memberikan halaman ini kepadamu,’ katanya. Beberapa hari sebelumnya ia meminta jurnal itu. Ia merobek halaman terakhir yang berisi tulisan tentang saya oleh dia.

image

‘Kamu menulis apa?’ tanya saya lirih. Saya tak tahu, kapan lagi saya akan bertemu dia dan menikmati kencan-kencan tak lazim kami. 

Dia tak menjawab, hanya duduk di ranjang besi yang berseprai kuning pucat. Tangannya—yang sangat saya sukai buku-buku jarinya—memainkan bola basket yang tergeletak di dekat kaki ranjang.

Hubungan percintaan kami tak abadi. Tapi, jurnalnya selalu saya simpan. Ada di lemari buku di kamar saya. Dan setiap kali saya melihat jurnal itu, saya terkenang kepadanya. Kepada tulisan terakhir yang ia torehkan, yang menjadi paragraf pembuka tulisan ini. 

Juga kepada janji saya untuk terus menulis. [13]

*)foto-foto: koleksi pribadi.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *