the next big things—sebuah hadiah ulang tahun.

image

Imagine a world in which each child is born with an intact capacity to love.

KARTU kecil putih terjatuh dari jurnal yang sedang kubolak-balik halamannya untuk memeriksa catatan terakhir pelajaran bahasa Spanyol. Sambil mengerutkan kening, aku membungkuk dan memungut kertas yang terjatuh di depan rak buku yang ada di kamar. Kartu kecil bertuliskan itu adalah kartu nama Robin Lim.

Sesaat aku tercenung. Menimang-nimang jurnal yang ada di tangan. Baru menyadari kalau Robin menyelipkan kartu namanya di sana, di antara pesan-pesan yang ditulisnya secara acak pada halaman-halaman jurnal.

The next big thing,’ ejaku dalam hati, membaca tulisan yang ada di sampul jurnal. Lalu, sebuah suara yang pernah sangat kuakrabi selama empat bulan, seperti menyelusup ke balik ingatan, memanggil-manggil.

‘Ya, karena aku selalu memercayai kamu memiliki hal-hal besar yang akan dilakukan.’

Itu suara Robin, itu kata-kata yang diucapkannya ketika ia memberikan jurnal ini pada satu selasa siang, di ruang tamu rumah Winé, menantu perempuannya, sebagai hadiah hari jadiku setahun lalu.

***

 

‘AKU memercayaimu,’ kata Robin Lim kepadaku di awal pertemuan kami ketika ia menyetujui aku menulis memoar tentangnya, ‘ayo, kita kerjakan proyek ini.’

Itu satu tahun enam bulan lalu. Dan dua hari lalu, seorang kawan, Agustinus Wibowo, lewat aplikasi whatsapp menyampaikan ciuman dan pelukan Robin Lim untukku. ‘Ibu Robin titip cium dan peluk juga buat kamu,’ tulis Agus. Agus saat itu sedang berada di Ubud dan menginap di rumah keluarga Robin Lim.

Aku katakan kepada Agus, betapa aku saat itu juga ingin berada di Ubud, duduk bersama mereka di dapur dan bercengkrama. ‘Ibu Robin pun ingin kamu di sini. Ayo, kita Oktober ke Ubud sambil mengunjungi Bu Robin bersama.’

Kubilang, aku pasti akan kembali ke Ubud cepat atau lambat untuk menemui Robin Lim. Memoarnya sudah hampir jadi. Aku harus segera ke sana untuk menemuinya.

She told me, “Agus, please bring Windy home”.’ Aku benci mendengar Agus menceritakan itu semalam ketika kami bertemu. Ada sesuatu yang berputar di perut, membuatku merasa mulas. Aku tahu, aku kangen Ubud bukan karena Ubud, melainkan karena orang-orang yang ada di sana.

Aku mau cepat-cepat ke sana, sementara proses menulis memoar Robin Lim tak semudah yang awalnya kubayangkan. Aku tersendat-sendat, melulu merasa tulisanku tentang dia tak cukup baik.

4 bulan berada di Ubud adalah salah satu roller coaster di dalam hidupku. Ubud seperti sebuah perbatasan, yang membuatku berayun, menyaksikan hal-hal yang serba di antara.

Kelahiran. Kematian. Memberi. Menerima. Menemukan. Kehilangan. Menyukai. Membenci.

Dan itu menyeretku kepada Selasa, 3 April 2012 ketika sebuah kelahiran dihadiahkan Robin, sepaket dengan jurnal yang saat ini tergeletak di kasur.           

image

AKU punya janji makan siang dengan Robin Lim, Will, dan Winé hari itu. Robin Lim mengundangku. Ia bilang, ia ingin merayakan hari ulang tahunku dengan makan siang di sebuah restoran di Ubud. aku boleh memilih restoran mana saja dan ia yang akan mentraktirku karena begitulah budaya Amerika ketika seseorang berulang tahun.

Kami janji makan siang bersama pukul 12 siang, tetapi pada pukul 2 siang, barulah aku dan Winé mendengar teriakannya memanggil kami dari arah pintu masuk rumah Winé.

‘Winé! Windy!’

‘Kami di sini, Mom!’ jawab Winé. Winé dan aku yang sedang duduk di dipan depan tv segera bangkit. Perut kami sudah keroncongan. Robin masuk sambil tersenyum lebar. Ia menghampiriku dengan tangan terkembang, ‘Selamat ulang tahun. Dan ini untukmu. Aku yakin kamu suka.’

Aku menerima tas putih yang diulurkan Robin. ia menghadiahiku sebuah buku catatan. ‘Catat semua ide besarmu di buku ini,’ katanya sambil sekali lagi mencium pipiku.

‘Kita pergi sekarang, Mom?’ tanya Winé

‘Ya. Kalian sudah memutuskan akan makan di mana?’

Winé mengusulkan kami makan di sebuah restoran Jepang. ‘Oke. Kita pergi….’

 Telepon genggam Robin berbunyi. Aku dan Winé saling melemparkan pandangan mengerti.

‘Aku harus ke Bumi Sehat dulu. Ada perempuan yang akan melahirkan.’ Robin memberi tahu kami.

‘Jadi, kita tidak jadi pergi sekarang?’ Winé mengonfirmasi.

‘Jadi. Temui aku di Bumi Sehat. Kita pakai mobil kecil saja ke sana. Oke?’ Tanpa mendengar jawaban aku dan Winé, perempuan itu melesat keluar.

Aku dan Winé memutuskan menyusulnya ke Bumi Sehat, seperti yang tadi dikatakannya.

Dugaan kami tepat. Tak ada yang namanya sebentar dalam urusan menolong orang melahirkan. Begitu kami tiba di Bumi Sehat, Robin sudah berada di kamar bersalin. Seorang perempuan yang sudah berjuang dari subuh tadi, diduga akan segera melahirkan siang ini.

Ia mengalami masa persalinan yang panjang. Kata Robin, memang begitu. Proses persalinan bisa berlangsung sangat cepat, bisa juga lebih panjang. Karenanya seorang bidan bisa berjaga semalaman untuk menolong seorang ibu melahirkan. Menunggui perempuan melahirkan itu butuh kesabaran. Robin memperjuangkan hak perempuan yang satu ini, mengalami persalinan yang manusiawi dan lembut—gentle birth.

‘Apakah Windy ada di luar?’ Suara Robin terdengar. Aku dan Winé yang sedang mengobrol di dapur Bumi Sehat berhenti berbicara dengan beberapa kawan Bumi Sehat. ‘Ibu manggil kamu, ya?’ tanya Winé. Aku mengangkat alis, tanda tak yakin.

Rena, salah satu bidan muda tiba-tiba muncul di dapur. ‘Mbak Windy, dipanggil Ibu, disuruh masuk ke ruang bersalin.’

‘Sana, buruan!’ Winé menyenggol sikutku. Bergegas aku menuju ruang bersalin yang terletak di belakang ruang administrasi Bumi Sehat.

Di dalam ruang bersalin sudah ada suami perempuan yang sedang melahirkan, beberapa volunter, tenaga medis Bumi Sehat, dan Robin yang sedang memegang tangan perempuan itu.

‘Ibu memanggilku?’ tanyaku ragu. Ada banyak orang di sana, bisa dipastikan, Robin tak butuh bantuanku. Biasanya, aku sering mengikuti Robin ketika ia sedang membantu persalinan. Yang aku lakukan tak banyak, hanya mengambil barang-barang yang dibutuhkannya dan melakukan apa yang diinstruksikannya untuk kulakukan.

‘Ambilkan dia bangku kecil,’ kata Robin kepada Rena. Rena menyorongkan sebuah dingklik untuk kududuki. ‘Apakah dari tempat kau duduk, kau bisa melihat proses melahirkan ini dengan jelas, Windy?’ Robin bertanya lagi.

Aku mengangguk. Sangat jelas. Aku duduk tepat mengarah ke bagian yang mana kepala bayi akan keluar lebih dulu. ‘Aku sudah minta izin kepada mereka agar kau boleh ada di ruangan ini,’ beri tahu Robin kepadaku tanpa diminta. Aturannya memang begitu. Siapa pun boleh masuk menyaksikan proses melahirkan selama perempuan yang sedang dalam proses bersalin dan keluarganya tak keberatan.

‘Ini Windy. Dia berulang tahun hari ini.’ Robin mengatakan itu kepada semua yang ada di ruangan. ‘Jadi, mari kita beri ia hadiah, sebuah kelahiran.’

Aku membeku di bangku dingklik, menatap Robin tanpa berkedip—yang justru sedang melihat ke arahku dengan tersenyum. ‘Ini hadiahmu yang sebenarnya. Bayi ini berbagi tanggal lahir yang sama denganmu,’ kata Robin.

3 April 2012, sebuah kelahiran dihadiahkan Robin kepadaku. Ia bilang pada tanggal yang sama, aku juga lahir dari rahim seorang perempuan. Ada orang-orang yang menunggui tangis pertamaku. Ada seorang perempuan yang mempertaruhkan hidupnya di dipan persalinan.

Aku pernah menjadi bayi yang juga melewati pintu perbatasan, pintu antara itu. Kelahiran dan kematian.

***

PEREMPUAN yang terbaring di kasur itu mengerang. Semua yang ada di ruangan menyemangati. Menguatkannya dengan mengatakan mereka percaya perempuan itu pasti bisa melahirkan bayinya. Sesungguhnya perempuan itu sudah nyaris kehilangan tenaga, ia sudah sangat capai.

Ini bukan kelahiran pertama yang aku saksikan. Empat bulan bersama Robin, aku telah menyaksikan banyak cara persalinan. Empat bulan bersama Robin, aku bergelut dengan mereka yang berusaha tetap menjaga kemanusiaan di dalam diri mereka. Proses melahirkan bisa jadi sangat kejam ketika beragam kepentingan masuk. Namun, kau tak akan bisa melahirkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan mencintai bila sedari mula mereka tak lahir dengan kepercayaan bahwa mereka dicintai.

image

Kata Robin, seorang perempuan sanggup melahirkan karena ia merasa dipercaya. Dipercaya menciptakan kekuatan yang membuat siapa saja sanggup melakukan sesuatu, bahkan di luar dugaannya sendiri. Kekuatan untuk mencintai, salah satunya. ‘Perempuan bertaruh hidup karena ia mencintai apa yang dikandungnya. Bayi bisa merasakan bila ia dicintai.’

Perempuan itu telah bergelut dari pukul 2 dini hari, baru menjelang pukul 4 sore, tangis bayinya terdengar.

‘Windy, kau lihat tadi, kan?’ tanya Robin ketika aku masih melongo menyaksikan semuanya. ‘Aku melihatnya, Bu,’ jawabku mengawang-awang.

‘Kemarilah. Beri bayi ini ucapan selamat datang.’

Aku bangkit, menghampiri kasur persalinan. Ibu bayi mendekap bayi itu di dada sambil tersenyum melihatku. ‘Selamat ulang tahun,’ katanya dengan air mata berurai. Bidan dan tenaga medis yang ada di sekitar menyingkir. Aku berdiri menatap bayi yang menangis. Bayi itu lahir sehat. Robin memelukku dari samping.

‘Kau melihat manusia yang berbagi hari lahir yang sama denganmu. Bayi yang melakukan banyak hal-hal besar kelak.’

Aku balas memeluk Robin. Itu hadiah ulang tahun luar biasa yang pernah kuterima. Sebuah kelahiran.

Sebuah kehidupan. [13]

*) semua foto adalah koleksi pribadi.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *