
SEJUJURNYA, aku lupa nama lelaki ini.
Kami bertemu di geladak kapal yang melintasi Selat Gibraltar dari Tangier, Maroko, menuju Algeciras, Spanyol. Waktu itu, aku yang mati kebosanan pergi ke geladak. Bagian itu kosong. Dari situ, sambil melihat buih yang mengular sebagai jejak kapal, aku melihat segumpal asap putih di tengah laut.
Itu asap dari sebuah cerobong kapal laut. Tanpa sadar, aku menyenandungkan sebuah lagu yang muncul dari ingatan masak kanak-kanak.
‘Itu lihat ada titik jauh di tengah laut.
Makin lama makin jelas bentuk rupanya.
Itulah kapal api yang sedang berlayar.
Asap yang putih mengepul di udara….’
Senang bisa mengingat lirik itu dengan baik, sekali lagi kunyanyikan dengan sedikit lebih keras. Kali ini sambil menari. Melompat-lompat senang. Aku punya banyak alasan untuk merasa senang. Aku sebenarnya masih tak percaya bahwa kami (aku dan kedua orang teman seperjalananku) berhasil melalui seminggu kemarin dengan baik. Maroko seperti dunia dalam kisah-kisah Seribu Satu Malam. Tak ada sama sekali rasa sesal lantaran tak berhasil menyambangi makam Ibnu Batutta siang tadi di Tangier. Kami salah pelabuhan. Kapal yang akan membawa kami memasuki Spanyol ternyata berada jauh di pinggiran Tangier, bukan di tengah kota sebagaimana semula kami bayangkan. Namun, di perjalanan, kau memang tak akan selalu mendapatkan apa yang kaumaui, kan?
Aku masih bernyanyi sambil menari. Langit telah gelap. Geladak kapal disinari cahaya kekuningan, berasal dari lampu di tiang-tiang kapal yang menjulang. Kapal yang kami gunakan besar sekali. Di dalamnya seperti lorong-lorong di bandara internasional yang beraroma wangi. Kau bisa menemukan toko-toko kecil bebas pajak yang berjualan minyak wangi beragam merek. Ada juga toko-toko yang menjajakkan makanan. Tadi, kami membeli secangkir kopi dan cokelat hangat. Dua cangkir untuk bertiga. Ada sisa penganan yang kami beli di pelabuhan tadi dan sebotol air putih. Perjalanan kami masih panjang, tidak menghambur-hamburkan uang adalah tindakan bijak. Persoalan lainnya, kami belum berhasil memecahkan lembaran Euro kami ke nilai yang lebih kecil. Kedai-kedai makanan di kapal menolak memberikan kembalian berupa pecahan yang lebih kecil karena cadangan di kotak kasnya tak cukup.
Sebuah tepuk tangan menghentikan nyanyian dan tarianku. Aku menoleh kaget mendapati bahwa di geladak ini, aku tak lagi sendirian. Ada tamu tak diundang.
‘Itu bukan lagu bahasa Inggris,’ komentar lelaki itu tanpa diminta. Tingginya mencapai seratus Sembilan puluh. Rambutnya pirang. Seingatku, tadi sewaktu menyusuri koridor di lambung kapal, aku sempat melihatnya sedang bersama beberapa awak kapal. Aku melewati mereka begitu saja.
‘You are not invited,’ sahutku.
Dia tertawa. ‘Aku tak perlu diundang. Aku insiyur kapal ini. Kamu sendirian?’
‘Sekarang tidak. I thought I was alone.’
Ia berjalan mendekat, meninggalkan anak tangga tempat di mana ia tadi duduk. Anak tangga itu menuju ke area yang tak boleh dimasuki penumpang. Satu-satunya tangga menuju ke mari ada di sisi kananku. Kalau ada yang naik, aku pasti bisa melihat. ‘Tadi lagu apa?’ tanyanya begitu tiba di sampingku. Aku terlihat seperti liliput bila dibandingkan dengannya.
‘Lagu tentang kapal api yang berlayar di laut,’ jawabku.
‘Kamu bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik?’ tanyanya lagi.
Aku menjengitkan alis yang artinya menurutmu?
Dia tergelak. Dia bilang ia butuh memastikan aku bisa berbicara bahasa Inggris dengan lancar karena ia butuh teman bicara. Aku memandanginya dengan penuh selidik. Seminggu ini, kecenderungan untuk berhati-hati menghadapi lawan jenis sedang meningkat. Beberapa pengalaman selama di Maroko membuat aku berusaha menjaga kadar ramah agar tak disalahartikan. Ia menanyakan asalku. Dia bilang aku perempuan Indonesia pertama yang ia temui selama hidupnya. Dia sendiri berasal dari Kroatia. Bekerja di kapal sebagai insinyur dan lebih sering menghabiskan waktunya di laut daripada di darat.
‘Kau mau kuajak ke sebuah tempat yang tak bisa diakses penumpang?’
‘Di mana?’
‘Tempat kami para pekerja di kapal hidup.’
Rasa ingin tahu memegang kendali. Cepat aku mengangguk.
‘Oke, ini peraturannya. Kau dan aku tak boleh jalan beriringan. Kalau sampai ketahuan aku memasukkanmu ke sana, aku bisa dihukum. Kau ikuti aku dari belakang. Jaga jarak. Nanti sampai di satu pintu, aku akan memberimu kode. Setuju?’
Aku mengangguk. Ia mengedipkan sebelah matanya.
Aku merasa seperti sedang di film-film tentang agen rahasia. Waktu kecil, aku sering membayangkan jadi salah satu agen itu. Hm, sebenarnya sampai SMA aku masih suka berkhayal menjadi agen rahasia.
Sampai di sebuah pintu berwarna putih, ia masuk. Aku berdiri beberapa meter dari pintu itu. Lorong tempat aku berada tampak lengang. Tak ada yang lewat. Pintu terbuka, kepalanya menyembul. Ia menggerakkan jarinya, mengajak aku masuk. Aku masuk. ‘Ini area pribadi kami. ini kamar-kamar para awak kapal.’
‘Kita akan ke mana?’
‘Aku harus menyusupkanmu ke kamarku.’
Langkahku terhenti. Ia rupanya menyadari hal itu. ‘Aku janji, aku tak akan menyentuhmu.’
‘Itu janji laki-laki?’
‘Ini janji laki-laki. Well, but I’ve to admit you’re attractive. Tapi, yeah, janji.’
Begitulah janji dibuat. Aku memilih percaya.
Ia berhasil menyusupkan aku masuk ke kamarnya setelah menyusuri lorong-lorong yang penuh pintu. Sejujurnya, aku suka rasa waswas yang menjalariku. Ini seperti sebuah petualangan.
‘Kau punya teman sekamar?’ tanyaku sambil duduk di kursi di depan meja kecil. Ia duduk di ranjangnya dengan berselonjor kaki. Tempat tidurnya dua tingkat. Satu kamar diisi berdua, tetapi ia sendirian.
‘Kenapa kau sendirian?’
Ia tak menjawab, justru mendekat ke arahku. Dengan suara rendah dia bilang ia harus memutar lagu bervolume tinggi agar tak ada yang bisa mendengar suara kami bercakap-cakap. Aku menyingkir dari kursi, memberi ruang kepada tubuhnya yang besar. Layar di laptop menampilkan seorang perempuan berambut cokelat keriting berada di dalam pelukannya. ‘Pacarmu?’ Ia mengangguk. Saat itu aku bisa melihat mata lelaki ini berwarna abu-abu.
‘Aku satu-satunya orang Kroatia di kapal ini. Dan, tak banyak yang bisa berbicara bahasa Inggris di kapal ini.’
Dia tak punya teman. Awak kapal yang tak fasih berbicara bahasa Inggris memilih tak berbicara dengannya kalau tak terpaksa. Ia cenderung bekerja sendirian selama di kapal. Sesekali memang ia mengobrol dengan kapten, tetapi lebih banyak ia sendirian.
‘Kau tahu rasanya bisa berbicara tetapi tak berbicara?’ Ia tiba-tiba bertanya itu. Aku menatap tepat ke matanya. ‘Kenapa kau tak belajar bahasa mereka?’ Kebanyakan awak kapal orang Maroko dan Spanyol Daripada menggunakan bahasa Inggris, mereka lebih sering berbahasa Spanyol dan Prancis. Ia tak bisa keduanya.
‘Belajar dan berbicara dua hal yang berbeda, kan?’ Dia memajukan badannya. Aku mendorong punggungku hingga terdesak sandaran kursi. Dia tertawa geli lalu menarik diri. ‘Aku ingin berbicara. Ngobrol seperti ini.’ Dia sudah tak berbicara selama enam bulan. Dia belum pernah ke Indonesia padahal ia sering berlayar sampai ke Australia. ‘Tapi kau tahu Indonesia?’
Ia mengangguk. ‘Pantai-pantai yang indah,’ sahutnya sambil mengetikkan sesuatu di laptop. ‘Aku ingin ke sini bersama pacarku.’
Bali. ‘Ya, kupikir kau akan suka.’ Kami meramban di internet, ia menunjukkan tempat-tempat yang bisa aku kunjungi bila ke Kroatia. ‘Kau harus ke negaraku ke suatu hari nanti,’ usulnya.
Ia bertanya aku berasal dari mana. Kujawab Jakarta. Rupanya ia tahu Jakarta ibukota Indonesia. ‘Hm, city girl. Tak heran kau berambut pendek.’ Tangannya terulur dan berhenti di udara ketika ia menyadari sepasang mataku menatap ke tangannya tanpa berkedip. ‘Boleh?’
Aku mengizinkan ia memegang rambutku. ‘Aku tak pernah berkencan dengan perempuan berambut pendek.’ Ia mengatakan itu dengan sebelah tangan memainkan rambutku.
‘Tak ada yang berambut pendek di negaramu?’
‘Kupikir yang membuat rambut ini pas di kamu karena bentuk wajahmu. Tak semua perempuan cocok berambut pendek. Wajahmu mungil. Berbeda dengan perempuan-perempuan di negaraku.’
Ia bertanya apakah aku keberatan berdiri. Aku menggeleng. Kami berdiri berjejeran. Namun, sebelumnya aku bergerak ke arah pintu. Kali ini pintu berada di belakang punggungku setelah sebelumnya aku terkunci pada kursi. Kalau ada apa-apa, aku bisa lebih cepat kabur, itu juga pikirku. Susah percaya kepada janji seorang lelaki meskipun tadi aku memilih percaya.
Ia hanya memandangiku dari kepala sampai kaki. Aku melontarkan beberapa pertanyaan soal pacarnya. Bertanya sudah berapa lama mereka berpacaran, setiap berapa kali ia menemui pacarnya, dan apa yang mereka lakukan selagi bertemu. Ia biasanya mendapat cuti cukup lama, sekitar sebulan sebelum kemudian kembali melaut selama minimal enam bulan.
‘Bagaimana rasanya tak berbicara?’ Aku menanyakan itu.
‘Menyiksa. Lebih tersiksa lagi karena kau bisa berbicara tetapi tak punya teman bicara dan tak ada orang yang benar-benar paham apa yang kau bicarakan.’ Aku bertanya apakah itu bisa membuatnya gila? Katanya nyaris. Jaringan internet saja tak cukup. Manusia butuh interaksi yang sebenarnya. Ia mendekat. ‘Kau kecil dan ramping. Apakah semua orang Indonesia sepertimu?’
Kujawab tidak. Kubilang ia akan menemukan orang Indonesia dengan beragam bentuk fisik sebab ini negara yang multietnis.
Ia menyuruhku berputar. Entah kenapa aku mengikuti maunya. ‘Apakah kaki-kaki perempuan Indonesia sepertimu?’
Kujawab lagi tidak. Tinggi orang Indonesia beragam. Dan beluma da penelitian soal kaki orang Indonesia yang pernah kubaca selama ini. ‘Apakah kau punya ketertarikan khusus pada kaki?’ Dia tergelak. Kusuruh ia tak tertawa terlalu keras karena khawatir ada yang mendengar. ‘Tidak. Tapi aku suka melihat kakimu.’
Aku mendengar bunyi peluit. Tampaknya sebentar lagi kapal akan merapat di Algeciras. ‘Aku harus kembali ke atas. Khawatir teman-temanku mencari.’
‘Give me a kiss,’ pintanya sopan.
‘Kau bilang kau tak akan menyentuhku.’
‘Tapi aku tak bilang kau tak boleh menyentuhku.’
Aku menggeleng. Aku tahu dampak dari sebuah ciuman.
Ia menawar, ‘Satu ciuman di pipi?’
‘Satu pelukan.’ Aku memeluknya yang ia balas dengan erat.
‘Kau tak takut kepadaku?’
‘Tidak,’ Aku memilih tidak memberi tahunya soal aku yang sempat meragukan janjinya. ‘Soalnya kau sudah janji. Dan itu janji laki-laki. Aku membantumu memenuhi janji itu.’ Aku menjawab pertanyaannya sambil melepaskan pelukan. Ternyata benar, pelukan memang bisa memenangkan banyak hal.
Ia mengedipkan mata. ‘Kau mau membawa bir?’ tanyanya sambil menunjuk ke arah tumpukan kaleng bir. ‘Aku mau cokelat saja.’ Ia bergerak mengambil sekantong cokelat Snickers, ‘Ini cukup untuk mengganjal perutmu dan teman-teman sampai kalian menemukan hotel.’ Rupanya ia menyimak ceritaku. Tadi aku sempat bercerita soal kami yang tak bisa membeli makanan karena penjualnya tak punya kembalian. Ia sempat menawariku uang kecil yang aku tolak. Cokelat lebih dari cukup.
‘Oke, ini aturannya,’ sambungnya cepat. ‘Kita harus berjalan cepat menuju pintu utama. Aku akan keluar duluan untuk melihat apakah di lorong ada orang atau tidak. Begitu keluar dari pintu tadi, kita berpisah begitu saja, seperti dua orang yang tak saling kenal. Deal?’
Kali ini aku yang mengedipkan sebelah mata.
Ia tertawa kecil. ‘Hei, terima kasih sudah mau menjadi teman bicaraku. 30 menit tadi aku seperti hidup. Rasanya menyenangkan.’
‘Hei. Itu tak gratis. Kau membayarku dengan sekantung cokelat ini.’
Ia menyentuhkan tangannya ke kepalaku sambil tersenyum lalu keluar. Dari celah pintu yang tak tertutup rapat ia memberi kode. Lorong bersih. Berdua kami berjalan dengan tergesa, menuju pintu yang memisahkan dunia pekerja di atas kapal dengan para penumpang. Ia melewati pintu itu duluan. Disusul oleh aku. Kami saling memunggungi, menuju arah yang berbeda tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan.
***
SEBENARNYA, ia menuliskan nama dan alamat emailnya di selembar kertas yang lupa aku letakkan di mana. Katanya, itu alamat email yang tak diketahui pacarnya. Ia pun menyimpan alamat emailku, katanya kalau ia singgah ke Indonesia, ia akan mengirimiku email.
Aku memang lupa namanya. Tapi, aku tak lupa percakapan kami malam itu, tentang perasaan tersiksa dan kesepian karena tak berbicara sementara kita tak bisu. Tentang kebutuhan berbicara. [13]
*) Pagi di Pelabuhan Algeciras, Spanyol. Photo taken by @windyariestanty with iPhone 5.