perpisahan yang baik #2

satu kali kau perlu melakukan hal bodoh dan gila untuk seseorang yang kau sukai.

AKU sudah sampai di Paris.

Saya yang sedang memainkan ponsel terkejut melihat pesan lewat aplikasi whatsapp itu muncul di layar. Pesan dari teman yang pernah saya ceritakan di sini. Tergesa saya membalasnya. ‘Seriously?

Ya. Sedang menunggu koper. Dari bandara sini menuju Paris, aku naik apa?

‘Dia tidak menjemputmu?’

Tidak. Aku bahkan tidak memberi tahunya kalau aku ada di Paris hari ini.

‘Bagaimana kalau dia tak ada di apartemennya?’ Saya mulai merasa agak khawatir. Teman saya menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan kepastian dari hubungannya. Ia butuh penjelasan dan menginginkan sebuah perpisahan yang baik. Untuk itu, ia rela menempuh penerbangan internasional dari Osaka, Jepang ke Paris, Prancis.

Dia ada di apartemennya akhir pekan ini. Itu kalau ia tak berbohong.

Cepat! Aku mengandalkan wifi. Dengan apa aku bisa ke tengah kota dari sini?

‘Kau di airport mana?’ Ia memberi tahu saya ia berada di Paris Charles de Gaulle. Saya mulai merasa teman saya gila. Ia bahkan tak tahu cara sampai ke apartemen (mantan) kekasihnya sama sekali. Ia hanya mencatat alamatnya. Saya belum pernah mendarat di bandara itu meskipun sudah dua kali ke Paris. Penerbangan saya dari Bercelona ke Paris waktu itu mendarat di Paris Beauvais Tillé. Segera saya meramban di internet. Teman saya bukan orang yang manja. Jadi, ketika untuk hal seperti ini saja ia meminta saya yang berpikir, itu berarti ia sedang tak bisa berpikir. ‘Dasar nekat,’ rutuk saya dalam hati sambil mencari info yang ia butuhkan.

‘Kau bisa naik kereta. Ada kereta yang akan membawamu ke Paris.’

Di mana aku bisa menemukan keretanya?

‘Terminal 1 dan Terminal 2. Hm, kau bisa bertanya pada bagian informasi.’ Saya menjawab pertanyaannya sekaligus memberi saran.

Come on! I can’t speak French and I am afraid they can’t speak English.

Saya menghela napas. Alasannya terdengar menyebalkan. Ini bukan pertama kalinya ia keluar negeri. Kenapa tiba-tiba persoalan bertanya jadi rumit di dia? Saya bilang ia ada di bagian internasional. Setidaknya petugas-petugas atau orang-orang yang berada di terminal kedatangan itu bisa berbicara bahasa Inggris meskipun sedikit-sedikit.

Bagaimana kalau mereka menipuku? Bagaimana kalau aku hilang? Bagaimana kalau aku tak mengerti mereka bicara apa?

Saya rasanya ingin membanting ponsel. Saya sedang melakukan banyak pekerjaan saat itu, sementara teman saya sedang sangat menuntut perhatian. Teman saya yang mandiri berubah sangat menyebalkan dengan semua kecemasan yang tak pernah saya bayangkan akan keluar dari mulutnya. ‘Listen. You are already in Paris. Seharusnya kau memikirkan hal ini sebelum kau berangkat. Bukan setelah kau berada di Paris. Bagaimana kalau lelaki itu bohong dan ia bahkan tak ada di Paris?’

Can you just do it for me, please? I need someone. I’m afraid now. Bukan tentang aku berada di Paris dan tak tahu apa-apa, melainkan soal apa yang akan aku hadapi justru setelah bertemu dia.

Saya tercenung. Tiba-tiba saya sadar, teman saya sedang berusaha  mengendalikan rasa cemasnya dan hanya saya yang saat ini bisa ia andalkan.

Hang on. I am gonna find all the information. Take your luggage. Find a coffee shop or anything, just sit there till I get all the info. Okay?’

Saya mencari semua informasi yang ia butuhkan lewat internet, mengopi-pasta info-info itu ke whatsapp. Ketika semua sudah lengkap, ia pun berkata, ‘Thanks, Sweety. Wish me luck. i am off now.’ Ia mengandalkan jaringan internet bandara untuk bisa mengontak saya lewat whatsapp dan menghindari roaming. Sekarang saya yang cemas.

Keep me updated!’

Sure, you are the only one I have, katanya sambil mengirimkan tiga emotikon ciuman.

Semalaman saya tak tenang. Kedua ponsel saya yang selalu dalam mode ‘silent’ bahkan tanpa getar, saya setel berbunyi dengan volume tinggi. Saya tak ingin ketika ia sedang membutuhkan saya, saya justru tak segera meresponsnya. Ia seorang diri di Paris dan menyiapkan diri untuk patah hati. Perempuan yang patah hati bisa jadi memilih sendirian atau semalaman meraung ke teman terdekatnya.

Pesan yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang. Ia berhasil menemukan apartemen lelaki itu dan untungnya lelaki itu sedang tak ke mana-mana. Ia tak bohong.

Aku bertemu dia.

‘Lalu?’ Saya lega.

Seperti biasanya, ia memperlakukanku dengan baik.

‘Kalian berbicara?’

Mereka berbicara. Mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dengan sebuah akhir yang manis. Sebuah perpisahan yang layak buat mereka kenang.

‘Kau gila. Dan bodoh.’

Kau pernah melakukan hal gila dan bodoh untuk seseorang yang kau sukai?

Saya terdiam agak lama. ‘Kau tahu, kecil sekali potensi aku melakukan hal yang kau lakukan.’

Aku tahu kau menganggapku bodoh kali ini. Tapi, sekali saja di dalam hidupku, aku ingin melakukan hal bodoh dan gila untuk orang yang aku sukai. Aku tak ingin menyesal dan aku tidak menyesali ini sama sekali.

Sulit untuk saya mengiakan.

‘Apakah terasa sakit?’

Ya. Sekaligus melegakan.

Saya hanya menuliskan, ‘Hugs.’

Ia membalas dengan tulisan yang sama.

Aku patah hati.

‘Btw, kenapa tak ada emotikon memeluk, ya?’ Saya malah menanyakan hal itu.

Aku ingin melihat kau melakukan hal bodoh dan gila untuk seorang lelaki suatu hari nanti.

Lalu ia pamit. Ia bilang ia harus bersiap-siap. Ia dan mantan pacarnya akan makan malam sebelum ia kembali ke Jepang. Makan malam terakhir. Di Paris, kota di mana banyak orang ingin mengukuhkan cintanya dengan cara romantis, sahabat saya justru melepaskan cintanya dengan cara manis. Menciptakan kenangan yang baik pada hari-hari terakhir mereka bersama.

***

image

IA tak jadi ke Jakarta, meskipun ia patah hati. Tapi yang terpenting, ia tak patah hati dengan rasa sakit berlebihan dan kantong pailit.

Ya, kadang saya bisa menjadi sangat praktis melihat sesuatu.

Hari ia tiba di Jepang, ia mengirimi saya whatsapp. Kembali merecoki saya dengan pertanyaan dan permintaan yang kadang mengganggu. Seperti minta dikirimi foto ketika saya menghadiri pernikahan sahabat saya yang lain. Akan tetapi yang membuat saya kehilangan kata-kata justru sewaktu ia bilang, I know you may think I am silly and stupid. But this silly and stupid girl loves you so much.

Saya mengirimkan balasan 5 jam setelah pesan terakhirnya saya terima. ‘Your silliness and stupidity make me love you even more. Jamak rasanya mendengar orang berjuang agar hubungannya bertahan, tetapi teman saya justru sebaliknya. Ia berjuang untuk sebuah hubungan yang sudah akan selesai demi sebuah akhir yang baik untuk dikenang.

Malam itu, saya menarik selimut dengan satu pertanyaan menggayuti pikiran, ‘Bagaimana kau ingin mengakhiri percintaanmu?’ [13]

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *