menangis

image

 

Aku sudah lama tidak menangis.

***

Kemarin, sambil menyetir, aku berusaha mengingat-ingat mengapa aku tak kunjung menangis dalam tahun-tahun belakangan ini.

Dua hal yang aku ingat membuat aku menangis dalam tiga tahun terakhir adalah:

Ketika aku terbangun pada pagi hari dan mendapati diriku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku menangis karena menahan sakit sekaligus ketakutan membayangkan akan lumpuh seumur hidup.

Peristiwa itu cukup memukulku. Aku harus rutin mengalami perawatan, bolak-balik ke dokter, dan mulai belajar tidur. Gerakku terbatas dan dibatasi oleh durasi pain killer yang bekerja seusai diminum. Ia membunuh rasa sakit sekitar 3 sampai 5 jam, yang aku manfaatkan dengan baik untuk pergi ke dokter, terapi, dan mencuri waktu nongkrong di mal menemui beberapa kawan. Begitu rasa sakit mulai menjalar, aku sudah berbaring manis di tempat tidurku, mengonsumsi obat yang membantuku tidur dengan rasa sakit.

Saat itu aku belajar, bahwa bergerak adalah tanda hidup dan betapa aku masih suka bergerak seenaknya. Aku jadi lebih menghargai gerak sekecil apa pun. Ketika penyanggah punggung dilepas dan aku bisa membungkuk untuk mengambil kertas yang jatuh, aku menangis. Betapa gerak sesederhana itu dulu tak pernah aku hargai.

Dua bulan di rumah dengan gerak terbatas akibat mengalami pembekuan syaraf pun mengajari aku bergantung kepada orang lain.

Itu dua bulan yang mengerikan sekaligus penuh kepasrahan dalam hidupku. Dua bulan itu pun aku menyadari siapa-siapa saja orang yang meluangkan waktu untukku. Mulai dari membawakan makanan, mengantar ke dokter, menjaga selagi tidur, sampai sekadar menelepon atau datang untuk menjadi kawan bicara. Mereka tahu aku sombong, tak akan menelepon dan berkata, ‘Tolong aku.’ Menyadari aku dikelilingi orang-orang baik yang bisa membaca kesombonganku membuat aku menjadi pasrah. Satu hari aku menelepon Jeffri dan bertanya, ‘Maukah kau mengantarkanku fisioterapi dan membelikanku pokka greentea?’

Atau mendapati Christian, Resita, Syafial, dan Em datang ke rumah dengan alasan butuh tanda tangan. namun, sesampainya di rumah, mereka hanya duduk, mengobrol, dan memastikan aku sudah makan.

Aku masih ingat Patres mengirimkan pesan yang berisi racauan soal ia yang sedang belajar memasak. ‘Mbak W mau mencoba pecal buatanku? Aku ke sana besok, ya, sehabis kamu fisioterapi.’

Ia datang, membawakan aku sekotak pecal buatannya, pokka, dan duduk di dekat televisi menemani ngobrol hingga matahari condong ke Barat.

Aku berterima kasih untuk orang-orang itu. Mereka yang membantuku merasa lebih baik pada dua bulan yang serupa mimpi buruk.

Aku pun belajar, mereka yang rajin mengatakan, ‘Aku peduli kepadamu’ bisa jadi orang yang sama sekali tak peduli. Mereka berharap dipercaya mereka peduli, walau sesungguhnya mereka tahu mereka pun tidak sungguh-sungguh peduli.

Namun, kau tak bisa menuntut seseorang untuk peduli, kan? Peduli lahir tanpa paksaan dan berasal jauh dari dalam diri.

Hal kedua yang membuat aku menangis lepas kendali berhari-hari ketika Christian memutuskan tidak lagi bersama-sama di GagasMedia. Aku menangis 2 minggu penuh dan tak keluar rumah sama sekali. Tak ada yang tahu soal ini. Aku berkilah sedang banyak urusan sehingga tak bisa berada di kantor. Padahal, yang terjadi adalah aku tidak sanggup berada di kantor dan mendapati ia pergi melewati pintu tanpa kembali. Perasaan itu lebih parah dari patah hati. Seorang kawan dengan baik hatinya beberapa kali datang ke rumah sambil membawakan makanan. Ia hanya mendapatiku tergolek di tempat tidur tanpa semangat. Bertanya apakah aku mau ke bar, ngebir, dan mendengarkannya membacot?

Aku menggeleng. Bangkit dari tempat tidur lalu menyurukkan diri ke sofa di depan televisi. ‘Yaelaaah, kirain lo mau ngapain? Ya, udah, sih, abangnya mau pergi juga, dilepas yang ikhlas, dong.’

Saat itu aku meradang. Aku merasa aku tak dimengerti. Aku menghadapi banyak kepergian dan ditinggalkan lalu aku masih dituntut untuk mengerti? Aku saat itu  merasa muak menjadi orang yang mengambil peranan ‘mengerti’.

‘Ya, udah. Terus lo maunya apa, dong?’ tanya kawanku setelah meminta maaf.

Pertanyaan itu justru membuat aku menangis deras sampai bahuku terguncang-guncang. Saat itu, aku merasa menangis adalah satu-satunya hal yang bisa membantuku merasa lebih baik. Perasaan kehilangan itu tidak akan lantas lenyap, namun menangis hanya satu-satunya cara yang aku tahu. Menangis membuatku merasa dipahami.

Temanku membiarkan aku menangis. Ia menyorongkan sekotak tisu ke dekat wajahku lalu bilang, ‘Gue nggak nyangka bakal lihat lo nangis karena persoalan ini.’

Selain dua peristiwa itu, belum ada lagi hal yang membuat aku menangis hingga kelelahan dan mata sembab sampai hari ini. Kalau harus jujur, dalam tiga pekan ini ada beberapa hal yang membuat sedih, sedikit marah, sesekali kesal, dan banyak kecewa.

Namun, itu tak memancing tangisan. Padahal, kekecewaan buat aku adalah kata yang lebih kuat dari marah. Meskipun, marah sendiri bagiku adalah kata yang sangat keras dan harus diikuti alasan mendasar. Ia menghentak dan bisa terasa sangat destruktif.

Menangis, aku tahu tidak akan menyelesaikan persoalan. Tapi pada beberapa hal, untukku menangis adalah bantuan yang sesungguhnya diperlukan. Sebuah bantuan kecil yang jarang mau diakui sebagai bantuan. Yang diam-diam membuat merasa lebih baik  meskipun tak menyelesaikan apa pun.

Kadang ketika sedang merasa tak berdaya, kita hanya perlu sedikit merasa lebih baik, kan? Dan itu membuat kita kemudian merasa kita akan sanggup mengatasinya.

***
Pagi ini, aku membaca sebuah kisah yang bercerita soal anak-anak di sebuah daerah terpencill di Afrika. Penganan termanis yang mereka tahu hanyalah tebu. Seorang pejalan kemudian membagikan cokelat-cokelat yang ada di tasnya kepada anak-anak ini.

‘Ini apa?’ tanya mereka menatapi permen-permen cokelat yang dibungkus kertas berwarna emas di tangan mereka.

‘Makanan termanis di dunia,’ jawab lelaki itu.

Bocah-bocah itu tergesa menjejalkan butiran cokelat itu ke mulut. Mata mereka berbinar. ‘Ini apa tadi namanya?’

Cerita sederhana itu membuat air mataku mengalir disusul gelenyar hangat pada daerah dada yang menimbulkan sedikit perasaan lega. Lalu aku tersadar, aku, belakangan ini, merindukan menangis. Mungkin karena itu aku menulis soal ini. [13]

*)foto milik penulis, diambil di schönbrunn, wina, austria.

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

2 thoughts on “menangis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *