LAMPAU /Yang Menjelma Kini, Mewujud Lalu/

image

* Ditulis oleh Sandi Firly untuk GagasDebut Virtual Book Tour

Lampau semula berawal dari cerita pendek yang saya tulis dengan judul Perempuan Balian. Cerpen ini diterbitkan koran Kompas pada Juni 2012, dan kemudian juga terpilih dan termuat dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012.

Namun, saya merasa cerita tentang Perempuan Balian ini masih bisa saya tuliskan lebih panjang lagi dalam bentuk sebuah novel. Terlebih lagi, saya juga memiliki pengalaman terhadap setting cerita, yakni Loksado, sebuah kecamatan di pedalaman Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, yang sebelumnya sudah berkali-kali saya kunjungi.

Saya pun kemudian menarik kembali kenangan-kenangan masa lalu ketika mengunjungi kampung Malaris, Loksado, serta saat mengarungi jeram Sungai Amandit yang cukup deras dan berbatu-batu besar. Juga gunung Kantawan yang begitu menawan.

Salah satu ritual yang menarik di Loksado adalah upacara Aruh yang biasanya dilaksanakan saat akan memulai masa tanam, panen, serta pengobatan. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Balian, yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Dan tokoh ini mesti seorang laki-laki, tdalam struktur masyarakat setempat tidak dikenal seorang perempuan menjadi Balian. Paling tinggi jabatan seorang perempuan dalam ritual ini hanyalah sebagai pinjulang, atau pembantu Balian laki-laki.

Lalu, saya kemudian mengandaikan bagaimana bila ternyata ada seorang perempuan yang memiliki ilmu setinggi seorang Balian laki-laki? Dan dalam buku referensi yang saya baca, memang ada seorang perempuan yang memiliki ilmu setara dengan seorang Balian laki-laki.

Dalam proses penulisan, saya kemudian memasukkan tokoh Sandayuhan (Ayuh), seorang anak laki-laki dari Balian perempuan bernama Uli Idang. Ayuh sendiri adalah sebuah nama dari seorang pemuda yang diyakini sebagai nenek moyang dari suku Dayak di Pegunungan Meratus dulunya. Ayuh inilah yang kemudian justru menjadi tokoh utama dalam novel Lampau. Karena memang tokoh Ayuh yang kemudian paling berkembang, mulai dari masa kecil, perjuangannya dalam mendapatkan pendidikan, hingga kemudian merantau sampai Jakarta.

Seperti kebanyakan anak-anak desa, waktu SD Ayuh juga tertarik dan jatuh hati dengan seorang anak perempuan pindahan dari Jakarta, bernama Ranti. Perasaan ini lama terpendam, hingga dia bertemu kembali dengan Ranti di Jakarta pada acara launching novelnya—proses Ayuh menjadi seorang penulis ini cukup panjang, dimulai saat dia menyukai membaca buku sastra waktu kecil di kampung lewat buku-buku di tempat pamannya Amang Dulalin, kemudian membuat catatan-catatan perjalanan saat meninggalkan kampung halaman, bersekolah di pesantren, bekerja di pelabuhan Banjarmasin, terbawa sebuah kapal ke Surabaya, berteman dengan seorang preman di Jakarta, hingga bertemu dengan Alia Makki—perempuan yang membantunya menyalin catatan-catatan menjadi sebuah naskah novel. Alia Makki ini kemudian menjadi perempuan dewasa pertama yang dijatuhcintai Ayuh —hingga kemudian dia kembali bertemu Ranti, gadis kecil yang dulu disukainya karena selalu wangi dan bersih.

Di tengah kebimbangannya antara Ranti dan Alia Makki, Ayuh mendapat kiriman surat bahwa ibunya, Uli Idang, sakit. Dan ibunya mengharapkan dia pulang untuk melakukan pengobatan. Kebimbangan pun melanda Ayuh. Tidak saja dua gadis yang sama memikatnya, Ranti dan Alia Makki, tapi juga keinginan ibunya agar dia melakukan ritual acara seorang Balian. Sementara Ayuh sendiri telah memeluk Islam—proses yang juga panjang sejak dia masuk di pesantren.

Terlepas dari ceritanya sendiri, novel ini adalah salah satu upaya untuk mengenalkan eksotika lokalitas Kalimantan, khususnya wilayah pedalaman Loksado, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Sejauh ini, memang sangat sedikit penulis yang memakai setting Kalimantan. Dan dalam benak sebagian masyarakat kota (terutama Jakarta), Kalimantan masih dipandang sebagai sebuah wilayah yang berhutan rimba, terisolir, dengan tradisi ”ngayau” yang dipercaya masih ada—hal ini juga ”diperkuat” ketika terjadi amuk rusuh di Sampit (Kalteng) tahun 2001. Padahal ada puluhan suku Dayak yang hidup di Kalimantan, dan Dayak Loksado yang diceritakan di dalam Lampau hanyalah salah satunya.

Tentu saja Lampau dibuat tidak untuk ”terjebak” pada sebuah novel yang seolah sebuah buku panduan pariwisata. Kendati memang ada digambarkan tentang kehidupan masyarakat Dayak Loksado, termasuk keindahan alamnya.

Sejak semula, Lampau memang akan dibuatkan sekuel lanjutannya. Bukan saja karena ending cerita yang menggantung—terutama pilihan hati Sandayuhan, apakah Ranti atau Alia Makki, juga tokoh-tokoh di dalamnya yang tetap terus bisa berkembang, seperti Amang Dulalin yang memendam cinta kepada gadis berkewarganegaraan asing bernama Anna. Tentu saja juga alam Loksado, Pegunungan Meratus, yang masih banyak menawarkan keindahan yang menawan.[]

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *