
Saya memiliki pemahaman baru untuk kata ‘Dahsyat’. Dan pengertian baru itu saya dapatkan justru dari teman-teman baru saya di Misool, Raja Ampat.
BEGITU memasuki Selat Panah-Panah dengan gugusan pulau yang membentang, saya masih belum sepenuhnya sadar seperti apa tanah yang bakal saya tinggali selama seminggu ke depan. Namun, mata saya mulai memicing, coba mengukur luasnya laut yang bakal saya arungi dengan speedboat 2 mesin yang masing-masing berkekuatan 200 PK. Dwi Aryo Handono—saya memanggilnya Aryo, rekan dari The Nature Conservancy yang menjemput di Sorong berkata, ‘Selamat datang di Raja Ampat. Kita baru saja melewati gerbangnya.’
‘Mana?’ Itu pertanyaan bodoh pertama yang saya lontarkan kepada Aryo.
‘Ini,’ katanya sambil mengerenyitkan dahi dan menunjuk ke lautan dengan pulau-pulau. ‘Memang waktu dibilang Raja Ampat, lo punya bayangan apa?’
‘Nggak ada,’ jawab saya pendek sambil membuang pandangan ke sekeliling.
Raja Ampat.
Saya tak punya mimpi akan tiba di salah satu lokasi yang paling ingin dikunjungi para pencinta wisata bawah laut pada tahun ini. Hidup saya berjalan dengan cara yang tak diduga. Saya menginjakkan kaki di Raja Ampat bukan untuk menyelam, melainkan mengajar menulis.
Jadi, jangan tanyakan kepada saya ‘apakah sungguh indah taman lautnya?’ Saya sama sekali belum menyusuri surga di bawah laut sana. Siapa pun boleh berkata saya menyia-nyiakan kesempatan, mubazir, bodoh, atau apa pun karena menghilangkan kesempatan bagi mata saya mencicipi semua itu. Sah saja, kok, dan saya tak akan menyangkal. Saya sendiri pun sempat berpikir, harusnya saya memaksakan diri melakukan hal itu agar lengkap sudah perjalanan saya ke Raja Ampat.
Sayangnya, tidak.
Orang datang ke Raja Ampat untuk ‘melaut’, saya ke mari untuk ‘mendarat’.
Tiga hari di Pulau Misool Raja Ampat, tak sedikit pun saya merasa rugi atau mubazir meski tak turun menyelam. Di pulau pertama ini, saya menemukan surga saya sendiri, lengkap dengan para malaikatnya.
***
TUHAN pun berumah di bawah laut. Saya mengamini hal itu, sebagaimana George Bernard Shaw bilang bahwa tempat terbaik untuk menemukan Tuhan adalah taman dan Farid Gaban menambahkan, ‘Tak terkecuali taman laut’.
Saya menemukan taman bermain saya di sini. Bukan di bawah laut, di antara terumbu karang yang warna-warni, melainkan di darat. Di tenda berwarna biru tempat melatih menulis yang didirikan di ujung desa, di sebelah pemakaman umum, tepat di samping kantor The Nature Conservancy, Pulau Misool. Saya menemukan kesenangan ketika menyusuri jalanan kampung Harapan Jaya yang terbuat dari semen bukannya aspal, yang di ujung desa jalanannya menghilang, berubah menjadi jalan setapak berpasir yang ditumbuhi tanaman tepi pantai.
Mengajar menulis adalah tantangan. Saya menyukainya karena ‘ruang kelas itu’ menciptakan kesempatan untuk terus belajar. Saya menemukan mata pelajaran-mata pelajaran untuk diri saya sendiri setiap kali masuk ke kelas ini. di mana pun itu dan siapa pun teman belajarnya. Saya belajar, tak hanya memahami cara orang berpikir, tetapi juga bagaimana berkomunikasi lewat beragam cara. Kedua hal itu yang membuat saya tak ragu mengiyakan ketika Jaka Setia dan Aryo mengajak bertemu di sebuah kafe di Plaza Senayan untuk mencari tahu soal kemampuan saya mengajar sekaligus jadwal yang pas.
Saya masih ingat pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Aryo tak lama setelah ia mendudukkan pantatnya di sofa di pojok kafe. ‘Pernah mengajar menulis anak kecil?’ Saya mengangguk. Saya pernah mengajar menulis anak SD. ‘Oh, ini bakal sedikit lebih sulit dari itu,’ katanya kalem. Mendengar hal itu saya tak banyak komentar. Mengajar menulis anak kecil memang membutuhkan keahlian tersendiri. Tak cukup sekadar bisa mengajar. Belakangan saya baru tahu dari Aryo bahwa ia mencari seorang tutor menulis yang pernah mengajar di wilayah Indonesia bagian Timur. Sedangkan saya hanya pernah menangani kelas untuk guru-guru luar biasa yang mengajar dan berasal dari pulau-pulau terpencil di Indonesia. Bermodal pengalaman itu, saya meyakinkan diri untuk menjajal tantangan yang satu ini. Bukankah tak pernah ada cara yang salah? Persoalannya hanya terletak pada apakah cara yang digunakan tepat atau tidak.
Untuk tahu, saya harus mencoba. Sayangnya, ini bukan kelas coba-coba. Tantangan saya ada di depan mata: membuat mereka bisa menulis dalam dua setengah hari. Saya memasang taruhan untuk kemampuan saya dengan risiko yang bahkan tak berani saya ukur.

Teman belajar menulis saya di Pulau Misool ada enam belas orang. Latar belakang mereka berbeda, mulai dari ketua adat sampai mantan pemburu penyu yang sekarang justru menjadi penggiat konservasi lingkungan. Mereka datang dari kampung berbeda dengan kemampuan membaca dan menulis yang juga berbeda.
Celaka! kata saya dalam hati, ini bukan lagi soal mau mencoba. Ini soal seberapa jauh saya sendiri mau kembali ke titik paling dasar dari belajar dan mengajar menulis, yaitu:
menulis itu sendiri.
Teori sehebat apa pun tentang menulis semuanya adalah omong kosong belaka kalau mereka tidak melakukan aktivitas dasarnya.
Di sini, kemampuan saya diuji. Mereka mengasah kepekaan saya membaca apa yang terjadi di kelas dan melakukan pengembangan bahkan perubahan saat itu juga, merangsang untuk lebih kreatif menyampaikan materi agar mereka tertarik sekaligus paham, melatih menyederhanakan banyak hal karena perbedaan pengetahuan. Ini sungguh bukan perkara mudah untuk saya. Itu mata pelajaran saya di sini dan gurunya adalah enam belas orang yang sangat dahsyat.
Di taman bermain saya kali ini, saya memang bertemu Tuhan. Tuhan yang mahalucu. Yang menyisipkan leluconnya lewat banyak cara.
Di satu sesi, saya membuat permainan soal menyampaikan informasi dengan lengkap. Saya meminta mereka menyampaikan tanpa mengubah kalimat sama sekali.
‘Nah, sekarang kelompok ini, coba sebutkan apa informasi yang harus disampaikan.’
Murid yang paling ujung dari Kelompok Satu menjawab, ‘Nanti malam Windy akan masak ikan bakar untuk dimakan beramai-ramai.’
‘Hah? Kok, jadi Windy? Namanya, kan, Sriwedari?’ Saya balik bertanya. Saya mengabaikan soal kalimat yang berubah 180 derajat. Kalimat aslinya adalah ‘Nanti malam Sriwedari akan memasak ikan bakar untuk makan malam para peserta pelatihan menulis.’
‘Kitorang pengin Windy yang bakar ikannya!’ jawab mereka sambil terkikik menahan geli. Saya hanya bisa melongo.
Permainan pun saya ulangi. Saya bilang kelompok yang kalimatnya sempurna akan mendapatkan cokelat dari saya nanti malam. Mereka mengangguk mantap, siap menerima tantangan. Saya membisikkan kalimat berikutnya ke Kelompok Dua, Aryo membisikkan kalimat yang baru ke Kelompok Satu.
Kalimatnya: Pagi ini saya pergi ke pasar untuk membeli kangkung, sawi, dan cabai, masing-masing sebanyak 2 kilogram.
Lima belas menit berselang. Saya bertanya ke Kelompok Dua, apa kalimat yang didengar oleh orang terakhir. Orang terakhir di Kelompok Dua menyahut, ‘Pagi ini saya pergi ke pasar membeli kangkung, sawi, dan rica masing-masing 2 kilogram!’ Anggota kelompok dua bersorak senang. ‘Cokelat! Cokelat! Cokelat!’ teriak mereka.
‘Kenapa kalian ubah cabaiku jadi rica?’ Saya bertanya. ‘Siapa yang mengubah?’
Rahim mengangkat tangan. ‘Di sini cabai, kan, disebut Rica.’
‘Tapi saya meminta kau menyebut cabai, bukan Rica.’
Rahim memandang saya lekat. ‘Tapi Mbak Windy, kan, ada di Misool. Di sini disebut Rica.’ Kembali ia menegaskan alasannya.
Temannya-temannya bersorak sambil tergelak.
Saya masih menahan geli. ‘Rahim, kita menulis dan bicara di sini dengan bahasa Indonesia. Saya tahu bahasa kalian cabai disebut rica.’
Balif maju. ‘Cabai dan rica itu sama pedasnya. Kenapa harus diributkan?’
Mendengar hal itu, kontan lima belas orang lainnya berteriak seru, ‘Dahsyaaaat!’
Kali ini saya tak mampu menahan tawa. Saya bersujud di pasir pantai sambil memegang perut yang sakit karena tertawa geli.
Selama dua setengah hari, saya meminta mereka bermain jadi wartawan, berburu bahan tulisan di kampung dan pulau mereka.
‘Mbak Windy, saya mau pergi ke sebelah’e.’
Kali ini saya sudah lebih pintar dibanding hari pertama. ‘Sebelah itu sebelah mana? Pulau sebelah?’
Rico menyengir, memamerkan giginya yang berwarna oranye kemerahan karena kerap mengunyah pinang. ‘Pulau sebelah.’
‘Berapa lama?’
‘Satu jam perjalanan. Kitorang mu wawancara di kampung sebelah.’
‘Pulang-pergi artinya dua jam?’ tanya saya berusaha memasang wajah serius. Sebenarnya, saya selalu ingin tertawa setiap kali mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Mereka tengil sekaligus polos.
Rico nyengir mendengar kesimpulan saya, sadar bahwa itu terlalu lama. Semalam saya sudah dibisiki oleh Nita, salah satu outreach di Misool, kalau mereka bilang ‘ke sebelah’ itu bisa berarti kampung lain, kalau mereka bilang ‘ke kampung sebelah’, itu bisa berarti kampung di pulau lain. Kalau mereka menunjuk dengan jarinya, lihat ke mana arah jarinya. Itu menunjuk jauh atau dekat. ‘Tidak boleh. Kamu wawancara yang ada di kampung ini saja. Tidak boleh keluar dari pulau ini,’ jawab saya. Rico menyingkir, teman-temannya langsung mengerumuni. Mereka kembali kasak-kusuk.
‘Kalian tak bisa tipu saya lagi’e!’ teriak saya ke mereka.
Rico dan teman-temannya menoleh, lalu berteriak ke saya sambil mengacungkan ibu jari, ‘Dahsyaaaat!’
***

SIAPA PUN bisa jadi guru untuk satu sama lain.
Mereka bilang saya datang ke sana untuk mengajari mereka menulis. Sebenarnyalah, saya yang belajar banyak dari mereka. Tiga hari di Misool mereka memberi lensa baru untuk cara saya memandang. Dahsyat bukan melulu sesuatu yang bombastis. Tindakan sekecil apa pun bisa menciptakan perubahan.
Hanya diperlukan sebuah tindakan: menulis. Dan semua keraguan di dalam diri mereka bahwa mereka bisa menulis luluh lantak. Buat saya, bisa membuat mereka menghasilkan dua blog berisi tulisan-tulisan yang dikerjakan selama dua setengah hari adalah luar biasa.
http://wowo-misool.tumblr.com dan http://batanme.tumblr.com
Saya tak bicara tentang sebuah tulisan yang bagus. Saya bicara tentang betapa hebatnya mereka mau menghilangkan kata ‘ingin’ pada kalimat ‘Saya ingin menulis’ dan mengubahnya menjadi ‘Saya menulis.’ Banyak yang gagal di tahap ini sekalipun telah belajar tentang teori menulis hingga berjibun-jibun.
Sedangkan mereka?
Mereka menulis. Itu dahsyat.