merah itu (bukan) cinta

Aku membenci menstruasi karena membuat aku teringat kalau aku perempuan.

Jangan salah, aku tak pernah membenci kelaminku yang perempuan. Tidak. Namun, kalau boleh memilih, aku ingin lahir sebagai manusia saja. Tanpa kelamin. Androgini. Aseksual.

Jangan tanya kenapa. Aku sedang tak ingin membahasnya. Selalu ada malam panjang untuk perdebatan yang muncul akibat pernyataan itu.

Sebentar saja, jangan masukkan kodrat dalam percakapan kita. Aku sedang tak bicara tentang kodrat. Cukup, sediakan waktu dan kuping saja untukku. Begitu selesai, buang cerita ini dari memori otakmu. Bukan sesuatu yang harus diingat. Ini hanya gerundelan di masa datang bulan. Cerita sampah yang tak usah diteruskan.

Saat ini, aku sedang ingin berbicara tentang darah. Darah yang mengalir dari vaginaku setiap bulan. Itu kalau lagi teratur. Setahun sekali, kalau ia lagi kumat tak ingin teratur. Tapi, aku nyaris tak pernah peduli kapan ia akan datang. Teratur atau tidak. Masa bodoh. Lebih bagus kalau ia tak datang. Tak perlu merasa sakit hingga berguling-guling.

Aku membenci menstruasi.

Membenci rasa sakit pada perut. Rasa perih di bibir vagina. Dan rasa miris melihat merahnya yang mengalir di antara selangkangan. Darahnya mengingatkan aku pada merah yang perih. Merah yang menyayat. Merah yang (bukan) cinta. Merah yang penuh luka.

Penuh luka. Penuh dendam. Luka dan dendam milik perempuan. Perempuan itu menangis di sudut kamarku. Meratapi perih di kelamin dan perutnya. Dia tidak sedang datang bulan. Namun ia meringis memegang perut. Perempuan itu baru saja menggugurkan kandungannya. Ia pendarahan. Ia memerah.

Aku meringis. Lantai kamarku yang putih kini dinodai merah. Dari sela kakinya, darah merembes. Mengalir turun ke paha, betis, mata kaki hingga memerciki lantai kamar. Aku bergidik. Menahan napas. Menahan sakit yang juga mendera perutku.

Ia menangis. Aku meringis. Digigitnya bibir bawah hingga berdarah. Luka. Luka yang tak sebanding dengan perih di hatinya. Aku beringsut. Mengambil tissue di meja kamar. Mengelap lantai di bawah kakinya. Aku pun perih. Seperti pembalut, tissue itu menyerap merah.

Perempuan itu tergugu. Aku terpaku. Bicara sepertinya tak akan cukup membuat perasaannya membaik. Bisu adalah pilihanku. Dan kami membatu sambil menatap merah. Merah itu darah.

Ke mana lelaki itu? Ke mana cinta itu? Merah sepertinya (bukan) cinta.

Aku mendendam. Mendendam kepada merah.

Aku membenci menstruasi.

Ia mengingatkanku pada merah. Merah yang sakit.

Rasa sakit di perut rahim terus berteriak. Menendang-nendang selaput rahim agar darahnya menggelontor. Aku meringis, menahan perih. Sakit. Lalu, rasa hangat tiba-tiba terasa di selangkangan. Sesuatu mengalir. Darah kotor itu ke luar, tertampung di roti jepang yang menempel pada celana dalam. Aku memejamkan mata. Menahan sensasi yang turun dari perut menuju titik di bawah sana. Dan setelah itu, apakah aku dianggap bersih?

Aku benci menstruasi.

Darahnya mengingatkanku kepada kelaminku. Kenapa darah begitu dekat dengan perempuan?

Aku benci menstruasi.

Sebab ia melarang perempuan bercinta.

image: the red that wraps your heart, taken from www.gettyimages.com

tentang kehilangan

Lama,

aku telah tahu saat seperti ini akan datang. Saat di mana tiba-tiba kita merasa tak ada lagi waktu di esok hari. Saat di mana kita tahu, kita tak akan lagi berada di tempat yang sama esok pagi.

Kehilangan seperti matahari. Sesuatu yang pasti. Kalau tidak sekarang, besok akan terjadi. Ini hanya persoalan hari. Tak ada cara yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya. Kita hanya bisa menundanya untuk sesaat saja.

Aku tahu,

saat aku beranjak tidur dan terbangun esok, tak ada yang bisa aku ubah. Datang dan pergi adalah hal yang akan terus terulang. Berjumpa dan berpisah adalah dua sisi mata uang yang akan terus berdampingan. Hidup dan mati adalah roda kehidupan yang terus bergerak dengan konstan dan linear. Seperti hukum sebab-akibat, semua reaksi muncul karena ada aksi. Semua aksi memunculkan reaksi.

Sadari saja,

pertemuaan adalah ucapan selamat tinggal yang diisyaratkan pada permulaan. Menemukan adalah pertanda kehilangan yang datang lebih awal.

Begitulah, fragmen kehidupan terus diputar.

Apakah kau setuju denganku kali ini ?

Aku tak akan memintamu untuk tinggal. Aku ingin. Tapi aku tahu, itu tak akan banyak berarti. Kalau ada yang bisa membuatmu tinggal tanpa aku harus meminta, tolong beritahu.

Aku hanya tahu satu cara :

terima kasih untuk semuanya.

maaf, bila aku tak selalu menjadi seseorang yang manis.

Jakarta, 11 November 2009

picture: just let it go, taken from www.gettyimages.com

jatuh cinta diam-diam

Apakah kau pernah jatuh cinta diam-diam?

Menyukai seseorang tanpa suara. Menatap dari kejauhan. Atau berusaha keras menyembunyikan debar agar tak terdengar?

Diam-diam. Dan parahnya, kau seperti, seolah, merasa, dia juga terlihat menyukaimu. Kau bahkan tak tahu, apakah itu nyata atau semu. Yang kau tahu, kau menyukainya.

Kau jatuh cinta sendirian.
Dan itu sudah cukup membuat harimu menjadi merah jambu.

*** 

I think that’s possibly maybe am falling for you.

Jatuh cinta itu sesuatu yang tiba-tiba. Tak perlu rencana. Aku menduga, orang yang berpikir ketika jatuh cinta, sebenarnya bukan jatuh cinta. Ia justru sedang berusaha jatuh cinta, menemukan alasan untuk menyukai. Dan beranggapan, alasannya cukup masuk akal.Something that makes you think, well it’s worth falling in love with them.

Then, I thought, you were not falling. 

Kau tidak pernah merencanakan untuk jatuh. Kau juga tak akan bermimpi terpeleset kulit pisang di tengah jalan lalu terjatuh. Semuanya terjadi begitu saja. Begitulah jatuh cinta. seperti terpeleset. Tanpa alasan. Tanpa kau tahu mengapa. Ia mengintai menunggu saat yang tepat dan mungkin saat logikamu lengah. Mendadak kau sadar, ya, kau telah jatuh cinta ketika matamu berkedip.

Aku jatuh cinta kepadanya di pinggir lapangan sepak bola kampus. Di tengah rintik hujan yang sepertinya enggan untuk turun deras, tapi juga tak mau kalau hanya sekilas.

Aku jatuh cinta kepadanya, tak lebih dari satu kedipan mata. Ketika mata kami saling berserobok tak sengaja saat menunggu hujan reda. Itu hanya sekian detik, namun sampai hari ini, aku masih bisa mengingat bagaimana ujung alis mata kanannya berjengit dan bola matanya berkilat usil. 

‘Jangan suka ngeliatin mata cowok dengan tatapan setajam itu,’ ujarnya sambil tersenyum usil. Aku tahu, ini pertama kalinya kami saling bertatapan dalam diam, tanpa gelak tawa seperti biasanya. Suaranya lirih, hanya cukup terdengar oleh kami berdua, di antara gemuruh air hujan yang menimpa atap seng peneduh di pinggir lapangan bola. 

Aku tersenyum. Membuang tatapan ke depan. Coba menyimak percakapan kawan-kawan yang duduk di depan kami. 

‘Coba kamu sering-sering senyum,’ sambungnya. Aku menoleh, menautkan kedua alis tanda bertanya. ‘Kamu lebih manis kalau senyum seperti tadi.’ Ia mengisap rokoknya dalam tanpa melihat ke arahku. Lalu, larut dalam percakapan kawan-kawan yang lain.

Hari itu, di balik punggung kawan-kawanku, aku jatuh cinta kepada salah satu teman dekatku.

Diam-diam. Sendirian. 

*** 
Aku menyimpan cerita dan rasa itu rapat-rapat. Tak ada satu pun teman karib yang tahu. Bahwa dalam persahabatan kami yang ibarat serial televisi ‘Beverly Hills’, aku pernah jatuh cinta kepada salah satu di antara mereka.

Orang yang jatuh cinta diam-diam, seperti kata Raditya Dika dalam Marmut Merah Jambu (MMJ), harus bisa melanjutkan kehidupannya dalam keheningan.

Di antara tawa kami sebagai sekelompok teman dekat, tiba-tiba hening itu bisa hadir. Menyelusup tanpa dikendaki. Seperti ketika aku jatuh cinta begitu saja kepadanya. Berada di dekatnya, kadang membuatku kikuk. Merasa dekat, sekaligus berjarak. Kadang, ada saat di mana kami bisa tak berbicara sama sekali walaupun duduk bersebelahan. Saling memunggungi dan sibuk berbicara dengan yang lain. Aku dengan tawaku. Dia dengan kelakarnya. Padahal, kami ada di tempat yang sama, dalam kelompok yang sama. Dan bermain bersama. 

Satu ketika, seperti hari-hari sebelumnya, setiap malam minggu, setelah masing-masing mengapeli pacarnya, kami semua akan berkumpul di rumahku. 

Malam itu, dia datang lebih dulu. Satu jam lebih awal dibandingkan yang lainnya. Aku ingat, percakapan yang kami pilih malam itu, siapa nama yang pantas untuk burung kakak tua pacarnya.

‘Jadi burung kakak tua itu aku namai kamu,’ katanya tertawa. 
‘Enak aja. Namain aja nama kamu sendiri, atau nama pacar kamu,’ sanggahku 
‘Tapi burungnya mirip kamu. Cerewet.’ Dia mengatakan itu sambil tersenyum kalem. Dia tidak pernah tahu, saat itu sebenarnya aku ingin bilang, ‘Kamu juga manis kalau senyum kayak gitu.’

Sampai hari ini, dia tak pernah tahu kalau aku menyukai senyumnya dan juga matanya yang berkilat usil.

Terlebih lagi, dia pun tetap tak pernah tahu, kalau aku pernah jatuh cinta diam-diam. Kepadanya. 

Begitulah. Sebuah rasa yang disimpan diam-diam membuat kami menjauh dalam jarak yang begitu dekat.


*** 
Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa mendoakan, kata Raditya Dika. Aku mungkin harus bersepakat dengan Raditya Dika kali ini. ‘Orang yang jatuh cinta diam-diam, pada akhirnya menerima.’

Menerima bahwa semuanya memang baik seperti ini. Bahwa kenyataan kadang tak sesuai yang ada dalam angan. Setelah sekian lama tak bertemu, pada pertemuan kami yang tak rencana, dia muncul di depanku. 

Tak diharapkan. Tak diundang. 

‘Aku yang kasih tahu dia kalau kamu datang!’ kata salah satu kawanku. Aku lupa fakta itu. Kami semua tetap berteman. Tanpa ada yang tahu, aku pernah jatuh cinta kepadanya.

‘Kamu apa kabar?’ tanyanya sambil tersenyum. Ia berdiri di hadapanku. Tersenyum sambil menatap tajam. Tiba-tiba, aku seperti kembali ke pinggir lapangan sepak bola beberapa tahun lalu. Bedanya, kali ini dia di depanku, bukan di sampingku. Senyumnya tak berubah. Tatapannya juga masih sama.

Tatapan yang membuat aku jatuh cinta dalam satu kedipan kelopak mata.

Kembali kami berkumpul di pinggir lapangan bola. Mengenang hari-hari lalu. Aku dan dia pun tetap seperti dulu. Dalam keramaian, tiba-tiba aku tetap merasa ada keheningan masuk kembali di antara kami. Di antara gelak tawa bersama, ketika punggung kami bertemu, dengan merendahkan suara ia bertanya, ‘Apakah Arie* sudah bilang kalau dia suka kamu?’ tanyanya tiba-tiba.

Aku tercekat. Arie* adalah salah satu teman baik kami. Sahabatnya. Sahabatku. Tanpa membalikkan badan, aku menjawab, ‘Dia tidak pernah bilang.’

Aku merasa sesuatu menyentuh bagian belakang tubuhku. Dia menyandarkan punggungnya ke punggungku. ‘Dia menyukai kamu. Tapi sepertinya, dia memilih diam.’

Lalu, kami kembali hening. Membiarkan punggung yang berbincang.

*** 
Pada akhirnya, jatuh cinta bisa memunculkan keragu-raguan dalam diri setiap manusia, menebak-nebak dalamnya hati seseorang. Dan berharap, ada kita di sana. Pada kenyataanya, kita bisa jadi sedang jatuh cinta sendirian.

Raditya Dika, lewat MMJ, mengingatkan kita kepada rasa itu: keraguan yang kita lakukan ketika jatuh cinta. Kali ini, saya tak hendak menyebutnya kebodohan. Tapi, apa yang dilakukan Radit di dalam MMJ buat saya adalah keragu-raguan yang melankolis sekaligus kontemplatif, hebatnya lagi dibalut komedi. Ragu-ragunya orang yang sedang jatuh cinta. Keraguan yang membuat kita memilih tidak menyampaikan rasa kita. Atau ragu-ragu untuk melanjutkan hubungan yang sudah dibina.

Namun, menulis memang adalah seni memilih sudut pandang, Radit—terlepas dari profesi saya sebagai seorang editor—menikmati cara Raditya Dika memilih sudut pandang pada tiap ceritanya. Di sini, silakan bagi Anda yang menyukai lelucon kasar dan seksis, untuk kecewa. Anda tak akan menemukan cerita lucu yang seperti itu. MMJ akan mengajak Anda tertawa kecil. Mungkin bisa terkikik geli, tetapi sambil tetap menyimpan rapat-rapat apa yang ada di dalam hati. Buku ini mengajak Anda tertawa dalam diam. Tapi juga bisa sebaliknya, diam dalam tawa geli Anda.

MMJ mengajak Anda merayakan kegelisahan yang absurd tadi: jatuh cinta. 
Anda bisa tetap memilih ragu dan diam. Atau mengambil langkah berani membaginya. 

Saya termasuk orang yang percaya, tulisan yang baik adalah tulisan yang membuat pembacanya ingin menulis apa yang dia rasakan.

Dan saya,
menyukai rasa yang ditinggalkan si marmut berwarna merah jambu ini.

Jakarta, 27 Mei 2010

*) bukan nama sebenarnya.

*) picture taken from gettyimages.com 

Ps: saya memang bukan fans Raditya Dika. Tapi, saya menyukai Raditya Dika sebagai penulis. Di buku ini, Raditya Dika mengejutkan saya dengan teknik menulisnya yang berkembang pesat. Ini yang sangat saya sukai dari dia: selalu belajar menulis dengan lebih baik. 

tentang cinta yang itu-itu saja *)

Musim hujan ini, aku tiba-tiba teringat kepadamu. Merindumu. Mengangankanmu. Dalam kenangan muram kaca jendela yang mengabur, dan tempias hujan yang meninggalkan bercak pada kanopi di tepi jendela.

image

Hujan selalu membuat aku terkenang kepadamu. Pada sepasang kelingking yang saling mengait di bawah hujan. Pada basah yang meninggalkan lembap di telapak kaki hingga gigilnya merajai hati.  Pada noda cokelat di atas sepatu kanvas karena tanah becek.

Aku tahu, aku jatuh cinta kepadamu. Bukan hanya sekali. Tapi, berkali-kali.

Kali ini, musim hujan datang terlambat. Hampir saja kenangan itu mengering. Mengerut seperti kertas basah yang usang. Yang kau keringkan di bawah sinar matahari.  ‘Kita merindu matahari ketika hujan tak kunjung usai,’ katamu.

‘Untuk apa?’

‘Untuk menghangatkan.’

Tapi, di tepi jendela itu, diam-diam aku berharap hujan tak berhenti. Aku suka dinginnya. Aku suka lembapnya. Aku tak risau dengan noda di sepatu yang tak akan hilang. Aku suka jari kita yang mengait. Aku suka kulit tangan kita yang bergesekan.

Aku suka kau. dan aku tak merindu matahari.

Aku hanya ingin kau terus ada di sini. Kaulah musim panasku, yang mengeringkan sepasang kaus kaki basah dan meninggalkan rasa hangat di hati.

Kaulah yang membuat aku jatuh cinta berkali-kali kepada hati yang sama. Hatimu.

Ini mungkin tentang cinta yang itu-itu saja. Kau boleh bosan.

Tapi aku tak bisa bosan mencintainya. Tidak sedetik pun. [13]

Jakarta, 8 Maret 2010

*) sebuah cerita yang belum usai

**) picture taken from gettyimages.com