jatuh cinta diam-diam

Apakah kau pernah jatuh cinta diam-diam?

Menyukai seseorang tanpa suara. Menatap dari kejauhan. Atau berusaha keras menyembunyikan debar agar tak terdengar?

Diam-diam. Dan parahnya, kau seperti, seolah, merasa, dia juga terlihat menyukaimu. Kau bahkan tak tahu, apakah itu nyata atau semu. Yang kau tahu, kau menyukainya.

Kau jatuh cinta sendirian.
Dan itu sudah cukup membuat harimu menjadi merah jambu.

*** 

I think that’s possibly maybe am falling for you.

Jatuh cinta itu sesuatu yang tiba-tiba. Tak perlu rencana. Aku menduga, orang yang berpikir ketika jatuh cinta, sebenarnya bukan jatuh cinta. Ia justru sedang berusaha jatuh cinta, menemukan alasan untuk menyukai. Dan beranggapan, alasannya cukup masuk akal.Something that makes you think, well it’s worth falling in love with them.

Then, I thought, you were not falling. 

Kau tidak pernah merencanakan untuk jatuh. Kau juga tak akan bermimpi terpeleset kulit pisang di tengah jalan lalu terjatuh. Semuanya terjadi begitu saja. Begitulah jatuh cinta. seperti terpeleset. Tanpa alasan. Tanpa kau tahu mengapa. Ia mengintai menunggu saat yang tepat dan mungkin saat logikamu lengah. Mendadak kau sadar, ya, kau telah jatuh cinta ketika matamu berkedip.

Aku jatuh cinta kepadanya di pinggir lapangan sepak bola kampus. Di tengah rintik hujan yang sepertinya enggan untuk turun deras, tapi juga tak mau kalau hanya sekilas.

Aku jatuh cinta kepadanya, tak lebih dari satu kedipan mata. Ketika mata kami saling berserobok tak sengaja saat menunggu hujan reda. Itu hanya sekian detik, namun sampai hari ini, aku masih bisa mengingat bagaimana ujung alis mata kanannya berjengit dan bola matanya berkilat usil. 

‘Jangan suka ngeliatin mata cowok dengan tatapan setajam itu,’ ujarnya sambil tersenyum usil. Aku tahu, ini pertama kalinya kami saling bertatapan dalam diam, tanpa gelak tawa seperti biasanya. Suaranya lirih, hanya cukup terdengar oleh kami berdua, di antara gemuruh air hujan yang menimpa atap seng peneduh di pinggir lapangan bola. 

Aku tersenyum. Membuang tatapan ke depan. Coba menyimak percakapan kawan-kawan yang duduk di depan kami. 

‘Coba kamu sering-sering senyum,’ sambungnya. Aku menoleh, menautkan kedua alis tanda bertanya. ‘Kamu lebih manis kalau senyum seperti tadi.’ Ia mengisap rokoknya dalam tanpa melihat ke arahku. Lalu, larut dalam percakapan kawan-kawan yang lain.

Hari itu, di balik punggung kawan-kawanku, aku jatuh cinta kepada salah satu teman dekatku.

Diam-diam. Sendirian. 

*** 
Aku menyimpan cerita dan rasa itu rapat-rapat. Tak ada satu pun teman karib yang tahu. Bahwa dalam persahabatan kami yang ibarat serial televisi ‘Beverly Hills’, aku pernah jatuh cinta kepada salah satu di antara mereka.

Orang yang jatuh cinta diam-diam, seperti kata Raditya Dika dalam Marmut Merah Jambu (MMJ), harus bisa melanjutkan kehidupannya dalam keheningan.

Di antara tawa kami sebagai sekelompok teman dekat, tiba-tiba hening itu bisa hadir. Menyelusup tanpa dikendaki. Seperti ketika aku jatuh cinta begitu saja kepadanya. Berada di dekatnya, kadang membuatku kikuk. Merasa dekat, sekaligus berjarak. Kadang, ada saat di mana kami bisa tak berbicara sama sekali walaupun duduk bersebelahan. Saling memunggungi dan sibuk berbicara dengan yang lain. Aku dengan tawaku. Dia dengan kelakarnya. Padahal, kami ada di tempat yang sama, dalam kelompok yang sama. Dan bermain bersama. 

Satu ketika, seperti hari-hari sebelumnya, setiap malam minggu, setelah masing-masing mengapeli pacarnya, kami semua akan berkumpul di rumahku. 

Malam itu, dia datang lebih dulu. Satu jam lebih awal dibandingkan yang lainnya. Aku ingat, percakapan yang kami pilih malam itu, siapa nama yang pantas untuk burung kakak tua pacarnya.

‘Jadi burung kakak tua itu aku namai kamu,’ katanya tertawa. 
‘Enak aja. Namain aja nama kamu sendiri, atau nama pacar kamu,’ sanggahku 
‘Tapi burungnya mirip kamu. Cerewet.’ Dia mengatakan itu sambil tersenyum kalem. Dia tidak pernah tahu, saat itu sebenarnya aku ingin bilang, ‘Kamu juga manis kalau senyum kayak gitu.’

Sampai hari ini, dia tak pernah tahu kalau aku menyukai senyumnya dan juga matanya yang berkilat usil.

Terlebih lagi, dia pun tetap tak pernah tahu, kalau aku pernah jatuh cinta diam-diam. Kepadanya. 

Begitulah. Sebuah rasa yang disimpan diam-diam membuat kami menjauh dalam jarak yang begitu dekat.


*** 
Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa mendoakan, kata Raditya Dika. Aku mungkin harus bersepakat dengan Raditya Dika kali ini. ‘Orang yang jatuh cinta diam-diam, pada akhirnya menerima.’

Menerima bahwa semuanya memang baik seperti ini. Bahwa kenyataan kadang tak sesuai yang ada dalam angan. Setelah sekian lama tak bertemu, pada pertemuan kami yang tak rencana, dia muncul di depanku. 

Tak diharapkan. Tak diundang. 

‘Aku yang kasih tahu dia kalau kamu datang!’ kata salah satu kawanku. Aku lupa fakta itu. Kami semua tetap berteman. Tanpa ada yang tahu, aku pernah jatuh cinta kepadanya.

‘Kamu apa kabar?’ tanyanya sambil tersenyum. Ia berdiri di hadapanku. Tersenyum sambil menatap tajam. Tiba-tiba, aku seperti kembali ke pinggir lapangan sepak bola beberapa tahun lalu. Bedanya, kali ini dia di depanku, bukan di sampingku. Senyumnya tak berubah. Tatapannya juga masih sama.

Tatapan yang membuat aku jatuh cinta dalam satu kedipan kelopak mata.

Kembali kami berkumpul di pinggir lapangan bola. Mengenang hari-hari lalu. Aku dan dia pun tetap seperti dulu. Dalam keramaian, tiba-tiba aku tetap merasa ada keheningan masuk kembali di antara kami. Di antara gelak tawa bersama, ketika punggung kami bertemu, dengan merendahkan suara ia bertanya, ‘Apakah Arie* sudah bilang kalau dia suka kamu?’ tanyanya tiba-tiba.

Aku tercekat. Arie* adalah salah satu teman baik kami. Sahabatnya. Sahabatku. Tanpa membalikkan badan, aku menjawab, ‘Dia tidak pernah bilang.’

Aku merasa sesuatu menyentuh bagian belakang tubuhku. Dia menyandarkan punggungnya ke punggungku. ‘Dia menyukai kamu. Tapi sepertinya, dia memilih diam.’

Lalu, kami kembali hening. Membiarkan punggung yang berbincang.

*** 
Pada akhirnya, jatuh cinta bisa memunculkan keragu-raguan dalam diri setiap manusia, menebak-nebak dalamnya hati seseorang. Dan berharap, ada kita di sana. Pada kenyataanya, kita bisa jadi sedang jatuh cinta sendirian.

Raditya Dika, lewat MMJ, mengingatkan kita kepada rasa itu: keraguan yang kita lakukan ketika jatuh cinta. Kali ini, saya tak hendak menyebutnya kebodohan. Tapi, apa yang dilakukan Radit di dalam MMJ buat saya adalah keragu-raguan yang melankolis sekaligus kontemplatif, hebatnya lagi dibalut komedi. Ragu-ragunya orang yang sedang jatuh cinta. Keraguan yang membuat kita memilih tidak menyampaikan rasa kita. Atau ragu-ragu untuk melanjutkan hubungan yang sudah dibina.

Namun, menulis memang adalah seni memilih sudut pandang, Radit—terlepas dari profesi saya sebagai seorang editor—menikmati cara Raditya Dika memilih sudut pandang pada tiap ceritanya. Di sini, silakan bagi Anda yang menyukai lelucon kasar dan seksis, untuk kecewa. Anda tak akan menemukan cerita lucu yang seperti itu. MMJ akan mengajak Anda tertawa kecil. Mungkin bisa terkikik geli, tetapi sambil tetap menyimpan rapat-rapat apa yang ada di dalam hati. Buku ini mengajak Anda tertawa dalam diam. Tapi juga bisa sebaliknya, diam dalam tawa geli Anda.

MMJ mengajak Anda merayakan kegelisahan yang absurd tadi: jatuh cinta. 
Anda bisa tetap memilih ragu dan diam. Atau mengambil langkah berani membaginya. 

Saya termasuk orang yang percaya, tulisan yang baik adalah tulisan yang membuat pembacanya ingin menulis apa yang dia rasakan.

Dan saya,
menyukai rasa yang ditinggalkan si marmut berwarna merah jambu ini.

Jakarta, 27 Mei 2010

*) bukan nama sebenarnya.

*) picture taken from gettyimages.com 

Ps: saya memang bukan fans Raditya Dika. Tapi, saya menyukai Raditya Dika sebagai penulis. Di buku ini, Raditya Dika mengejutkan saya dengan teknik menulisnya yang berkembang pesat. Ini yang sangat saya sukai dari dia: selalu belajar menulis dengan lebih baik. 

tentang cinta yang itu-itu saja *)

Musim hujan ini, aku tiba-tiba teringat kepadamu. Merindumu. Mengangankanmu. Dalam kenangan muram kaca jendela yang mengabur, dan tempias hujan yang meninggalkan bercak pada kanopi di tepi jendela.

image

Hujan selalu membuat aku terkenang kepadamu. Pada sepasang kelingking yang saling mengait di bawah hujan. Pada basah yang meninggalkan lembap di telapak kaki hingga gigilnya merajai hati.  Pada noda cokelat di atas sepatu kanvas karena tanah becek.

Aku tahu, aku jatuh cinta kepadamu. Bukan hanya sekali. Tapi, berkali-kali.

Kali ini, musim hujan datang terlambat. Hampir saja kenangan itu mengering. Mengerut seperti kertas basah yang usang. Yang kau keringkan di bawah sinar matahari.  ‘Kita merindu matahari ketika hujan tak kunjung usai,’ katamu.

‘Untuk apa?’

‘Untuk menghangatkan.’

Tapi, di tepi jendela itu, diam-diam aku berharap hujan tak berhenti. Aku suka dinginnya. Aku suka lembapnya. Aku tak risau dengan noda di sepatu yang tak akan hilang. Aku suka jari kita yang mengait. Aku suka kulit tangan kita yang bergesekan.

Aku suka kau. dan aku tak merindu matahari.

Aku hanya ingin kau terus ada di sini. Kaulah musim panasku, yang mengeringkan sepasang kaus kaki basah dan meninggalkan rasa hangat di hati.

Kaulah yang membuat aku jatuh cinta berkali-kali kepada hati yang sama. Hatimu.

Ini mungkin tentang cinta yang itu-itu saja. Kau boleh bosan.

Tapi aku tak bisa bosan mencintainya. Tidak sedetik pun. [13]

Jakarta, 8 Maret 2010

*) sebuah cerita yang belum usai

**) picture taken from gettyimages.com

tenggat waktu

‘Deadline saved my life’.

Di tengah kepulan asap rokok dan riuh suara di meja sekeliling kami, saya tersenyum simpul ketika Feby Indirani mengatakan hal itu dengan wajah tenang.

gettyimages.com

picture taken from gettyimages.com

Kata-kata itu terus terngiang di telinga saya. dalam perjalanan pulang setelah meeting panjang di Senayan City. Feby benar, deadline lah yang menyelamatkan hidup dia dan saya selama ini.

Deadline membuat saya dan dia memiliki pencapaian-pencapaian.

Saya tak pernah membayangkan apa jadinya hidup saya tanpa deadline.

Saya hafal betul rasanya ketika berlari mengejar deadline. Racing against the time. Adrenaline yang berpacu. Begadang semalam suntuk. Penat yang merajai tubuh. Dan berkaleng-kaleng pokka green tea di atas meja kerja. Laptop yang hanya berhibernasi tak akan mati sebelum semua selesai.

Saya mencandui rasa ketika deadline tercapai. Ketika semua tuntas pada waktunya. Semua selesai pada saatnya. Terlebih lagi, saya menyukai prosesnya.

***

Saya pikir, ada jutaan orang di luar sana, selain saya dan Feby, atau teman-teman di GagasMedia dan Bukune, yang harus berkejar-kejaran dengan waktu.

Kami hidup dengan ‘garis mati’ ini. Hidup kami punya batas waktu setiap bulannya. Kelar satu deadline, deadline lain menanti. Kami, orang yang bekerja di industri media ini, tak pernah benar-benar selesai dengan satu tenggat. Perjalanan kami adalah merunut waktu, menandai kurun, dan memungut kesempatan.

Kami bersetia pada masa. namun, juga membencinya hingga mati rasa.

Persoalan deadline adalah persoalan persepsi. Saya percaya itu. Deadline bisa menjadi momok, juga bisa menjadi pelontar yang membawa kita ke batas yang mungkin kita sendiri tak percaya. Sebagian lagi menganggap ini target.

Mengejar tenggat buat saya adalah perjalanan yang mendebarkan. Saya kerap bertanya-tanya, apa yang saya temui ketika harus berjibaku dengan waktu. Seperti sebuah kepergian, saya hanya perlu menyiapkan tiket, uang, dan rancangan perjalanan yang menjadi acuan. Bukan harga mati tentunya. Sebab, perjalanan adalah cara.

Tiket saya adalah apa yang sedang saya kerjakan. Naskah yang ada di meja saya. Uang saya adalah kesiapan saya menangani naskah. Sebelum mengerjakan naskah, saya memastikan saya cukup tahu apa yang ada di tangan saya. Dan rancangan perjalanan saya adalah jadwal dan target edit yang saya buat sendiri demi mencapai deadline.

Dalam perjalanannya, saya terkadang harus tinggal lebih lama di satu bab. Membaca berulang-ulang untuk memahami isi bab. Mencari referensi kanan-kiri. Tak jarang, saya harus mengotak-atik rute, karena ternyata memilih rute A kurang efektif ketika dipraktikkan.

Kejutan-kejutan juga menanti. Revisi yang datang terlambat ke meja adalah bom waktu yang kerap membuat kami berderap. Banting haluan dan memutar otak. Kalau komunikasi dengan penulis terasa seret, kepala pun ikut mumet. Apalagi kalau ide tiba-tiba macet.

Sementara kami tahu, tenggat waktu adalah garis mati. Tanpa opsi.

***

‘Kalau kau ingin tahu betapa berharganya satu detik, tanyakan kepada orang yang nyaris mati,’ kata mantan bos saya. Waktu kuliah, saya bekerja di sebuah harian online. Bos saya berkantor di Jakarta, sementara saya kirim berita setiap sore dari Malang. Kami berkomunikasi intens lewat email dan telepon.

Deadline is combined by two words: dead and line. Period.

Dari dia saya belajar banyak hal. Mengatur waktu dan jadwal. Menghitung presisi waktu. Saya jadi orang yang mencintai sekaligus membenci waktu.

Saya pernah sekali melewati garis mati itu. Dan itu mengantarkan seseorang kepada kematiannya.

Tapi, saya hidup dari kecemasan itu. Dewasa karena masalah yang mendadak hadir dan harus dipecahkan. Saya merayakan kepanikan yang diam-diam muncul dan waswas yang membuat semakin waspada.

Dan seperti Feby bilang, yes, deadline absolutely saves my life. Jika tak ada deadline, saya tak akan pernah sampai di sini.

Tidak.

Tenggat hidup saya terus berganti. Setiap bulan. Tapi saya menggilainya. Satu detik buat saya sangat berharga. Membuangnya dengan menunggu adalah haram. Saya tak bisa bersahabat dengan itu. Namun, perjalanan menyadarkan saya, menunggu adalah bagian dari kejutan yang melatih ketanggapan kita.

Orang yang tak ingin menunggu pasti akan berupaya mendapatkan sesuatu ketika sedang menunggu.

Seperti tulisan ini. Ia muncul ketika saya sedang menunggu tenggat.

Jakarta, 24 November 2010