jangan bunuh harapan di republik abu-abu

Pak, saya tidak sedang tidur dan bermimpi kan?’ tanya El Yana sore itu kepada salah satu teman saya, Rahmat Hidayat, yang mengabarkan rencana kami untuk merenovasi rumahnya.


El Yana (39), lebih kerap dipanggil Ana oleh warga sekitar Kramat Tunggak entah sejak kapan menganggap bermimpi pun adalah barang mewah untuknya. Mungkin, bukan hanya untuk Ana, namun hampir bagi sebagian besar warga Kramat Tunggak, di wilayah utara Jakarta ini.

Sore itu, Rahmat Hidayat mengabarkan kepada Ana bahwa kami berniat memperbaiki rumahnya yang sudah bobrok. Bagi saya dan teman-teman, Ana adalah sosok pahlawan yang bergerak dalam diam. Yang berusaha meraih kemenangan, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga orang lain. Yang dalam diamnya, terus berteriak dengan lantang bahwa ia tidak akan menyerah.

Dengan berbekal pendidikan SMA-nya, Ana membaktikan dirinya sebagai pengajar sekaligus kepala sekolah di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kramat Tunggak. Ana tahu dengan pasti, menjadi tenaga pengajar di sini tak akan mendatangkan pemasukan dari sisi ekonomi.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Ana menjadi penjual keliling minuman probiotik asal Jepang. usai berdagang, ia mengajar. Bagaimana tidak, PAUD yang dikelola Ana termasuk illegal karena belum terdaftar di Departemen Pendidikan. Selain itu status lingkungan PAUD pun tidak diakui pemerintah daerah karena tidak terdaftar di kelurahan. Untuk masuk ke PAUD resmi pun menjadi sulit sebab mereka bukan warga terdaftar.

Bukan rahasia umum lagi kalau daerah yang kini terkenal dengan Islamic Center ini dulunya adalah wilayah Red Light Distric di Jakarta. Bahkan disinyalir merupakan kedua terbesar di Asia Tenggara.

Namun, siapa yang menyangka di balik gerakan pembangunan ‘moral’ yang dilakukan pemerintah, tertinggal sejuta pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas. Kramat Tunggak, kerap juga disebut Republik Abu-abu. seolah menjadi teritori sendiri. Jarang disentuh, kalau tak ingin dikatakan ‘terlupakan’.

‘Untuk mendaftarkan PAUD dibutuhkan biaya sebesar 5 juta,’ kata Ana. Uang sebesar itu bisa didapatkan dia dari mana? Sementara untuk biaya pengembang PAUD pun hanya diperoleh dari iuran murid sebesar Rp1000/bulan. Saat ini tercatat ada 143 Siswa, yang terdiri dari Play Group, TK A dan TK B. Para pengajar berasal dari warga sekitar dan juga sukarelawan.

Ana tahu apa yang ia lakukan bukan soal uang. Apalagi tentang mendapatkan Bintang Jasa dari Presiden. Itu sama sekali tak ada di benaknya. Ia hanya ingin agar anak-anak di daerah Kramat Tunggak ini bisa mengecap pendidikan. Tidak tertinggal. Kata orang, pendidikan adalah kunci masa depan yang cerah.

Ana ingin memberikan kunci masa depan yang cerah itu di Republik Abu-Abu Kramat Tunggak. Sebuah wilayah yang sebagian besar penduduknya berstatus ilegal, kesulitan mendapatkan pendidikan karena bukan warga terdaftar lantaran menyandang status bekas PSK (Pekerja Seks Komersial) atau PSK.

Untuk dia, sang pahlawan dalam diam

Menyusuri lorong-lorong Kramat Tunggak, kita akan diajak bertemu realitas pilu. Seperti warna abu-abu, serba di antara, sekaligus tampak kelabu dan berdebu. Bendera merah-putih lusuh—yang menjelang 17 Agustus—diikatkan pada galah yang berdiri tak tegak sebagai penyanggah jemuran.

Dan realitas di hadapannya membuat Ana sadar bermimpi itu hanya buang-buang waktu. Sama juga buang waktunya dengan mendengarkan janji-janji manis dari orang lain.

‘Kalau ini mimpi, tolong bangunkan saya, Pak.’ Ana masih tak percaya ketika Rahmat menegaskan dia tidak sedang bermimpi. Kami akan menggalang dana untuk merenovasi rumahnya yang hampir roboh sehingga cukup layak huni dan juga menambah fasilitas mengajar di PAUD-nya.

Untuk Ana, sang pahlawan yang sesungguhnya, kami mengajak kawan semua melakukan sesuatu yang nyata. Yang bisa membuat ia kembali berani bermimpi dan percaya masih ada harapan di Indonesia.

Mari berbuat sesuatu. Sesederhana apa pun itu.

Profil Ana


  • Nama                                     : El Yana, biasa dipanggil Ibu Ana

  • Umur                                     : 39 tahun
  • Pekerjaan                              : Kepala Sekolah Paud , Pedagang keliling Yakult
  • Pendidikan                            : SMA
  • Nama suami                         : Rian Ajat Sudrajat
  • Pekerjaan suami                  : Tukang las
  • Anak                                      : 2 orang

  • Aktivitas                               : Mengajar Tematik untuk 3-5 Tahun & TK B                                                                                                                Kader POSYANDU

Profil PAUD Kramat Tunggak

  • Jumlah murid                          : 143 Siswa, yang terdiri dari Play Group, TK A dan TK B.

  • Yayasan pendukung              : Yayasan Wadah Titian Harapan
  • Iuran per anak                        : Rp. 1000 / Bulan
  • Status lingkungan : Wilayah PAUD sebagian besar tidak diakui oleh   Pemerintah Daerah. Wilayah tidak terdaftar di kelurahan.
  • Status Pendidikan   : Sulit untuk masuk PAUD Resmi. Bukan warga terdaftar.
  • Para Pengajar : Warga setempat, sukarelawan
  • Kegiatan Belajar

Waktu Belajar:

  PAUD: Senin – Jumat, pukul 07:30 – 10:00

  Bimbel SD:  Senin-Rabu, pukul 13:30 – 17:00

  Bimbel SMP: Senin-Rabu, pukul 19:30 – 21:00

        Kegiatan Lain : Marawis (Saat ini dihentikan karena alat sebelumnya Pinjaman),

  • Sarana pendukung : Komputer (2 Berfungsi, 1 Rusak) 

 Kebutuhan saat ini

  • Perangkat komputer (itdak harus baru) untuk belajar anak-anak.
  • Peralatan Marawis (Sebelumnya pinjaman).
  • Timbangan Bayi dan alat ukur tinggi untuk Balita
  • Ruang Belajar Terbuka karena ruangan yang ada saat ini dipergunakan juga untuk keperluan Posyandu. Lahan sudah ada, tetapi belum bisa dibangun karena kendala dana (Sekitar 8-10 Juta)

Partisipasi dan dukungan

Jumlah dana yang dibutuhkan untuk renovasi rumah Ibu Ana dan pengembangan PAUD Kramat Tunggak sebesar Rp45.000.000

Tahap pembangunan pertama adalah merenovasi rumah Ana yang nyaris roboh dan tidak  layak huni. 

Tahap pembangunan kedua adalah membangun ruang kelas PAUD yang saat ini masih jadi satu dengan POSYANDU. 

Partisipasi dan dukungan tersebut bisa berupa:

  1. dana segar
  2. bahan bangunan
  3. perangkat komputer
  4. alat-alat Posyandu
  5. peralatan Marawis

Partisipasi atau dukungan berupa dana segar bisa disalurkan melalui :

 

  1. Bank Mandiri 127 00 0497345 7, cabang Cilandak KKO, atas nama Windy Aristanty

partisipasi atau dukungan berupa peralatan dan nondana bisa menghubungi:

  1. Lintang Putri 0813 8578 5779
  2. Vico Alexis Tani 0816 148 0751
  3. Rahmat Hidayat 0815 822 4795

informasi lebih lanjut mengenai gerakan ‘merah-putih untuk abu-abu’ bisa menghubungi

  1. Lintang Putri 0813 8578 5779
  2. Vico Alexis Tani 0816 148 0751
  3. Rahmat Hidayat 0815 822 4795
  4. Ferlita 0811 140 893

Untuk Merah-Putih di Republik Abu-Abu, mari kaitkan tangan kita!

Salam Indonesia Satu,

merah-putih untuk abu-abu

*) foto koleksi pribadi rahmat dan vico

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *