tenggat waktu

‘Deadline saved my life’.

Di tengah kepulan asap rokok dan riuh suara di meja sekeliling kami, saya tersenyum simpul ketika Feby Indirani mengatakan hal itu dengan wajah tenang.

gettyimages.com

picture taken from gettyimages.com

Kata-kata itu terus terngiang di telinga saya. dalam perjalanan pulang setelah meeting panjang di Senayan City. Feby benar, deadline lah yang menyelamatkan hidup dia dan saya selama ini.

Deadline membuat saya dan dia memiliki pencapaian-pencapaian.

Saya tak pernah membayangkan apa jadinya hidup saya tanpa deadline.

Saya hafal betul rasanya ketika berlari mengejar deadline. Racing against the time. Adrenaline yang berpacu. Begadang semalam suntuk. Penat yang merajai tubuh. Dan berkaleng-kaleng pokka green tea di atas meja kerja. Laptop yang hanya berhibernasi tak akan mati sebelum semua selesai.

Saya mencandui rasa ketika deadline tercapai. Ketika semua tuntas pada waktunya. Semua selesai pada saatnya. Terlebih lagi, saya menyukai prosesnya.

***

Saya pikir, ada jutaan orang di luar sana, selain saya dan Feby, atau teman-teman di GagasMedia dan Bukune, yang harus berkejar-kejaran dengan waktu.

Kami hidup dengan ‘garis mati’ ini. Hidup kami punya batas waktu setiap bulannya. Kelar satu deadline, deadline lain menanti. Kami, orang yang bekerja di industri media ini, tak pernah benar-benar selesai dengan satu tenggat. Perjalanan kami adalah merunut waktu, menandai kurun, dan memungut kesempatan.

Kami bersetia pada masa. namun, juga membencinya hingga mati rasa.

Persoalan deadline adalah persoalan persepsi. Saya percaya itu. Deadline bisa menjadi momok, juga bisa menjadi pelontar yang membawa kita ke batas yang mungkin kita sendiri tak percaya. Sebagian lagi menganggap ini target.

Mengejar tenggat buat saya adalah perjalanan yang mendebarkan. Saya kerap bertanya-tanya, apa yang saya temui ketika harus berjibaku dengan waktu. Seperti sebuah kepergian, saya hanya perlu menyiapkan tiket, uang, dan rancangan perjalanan yang menjadi acuan. Bukan harga mati tentunya. Sebab, perjalanan adalah cara.

Tiket saya adalah apa yang sedang saya kerjakan. Naskah yang ada di meja saya. Uang saya adalah kesiapan saya menangani naskah. Sebelum mengerjakan naskah, saya memastikan saya cukup tahu apa yang ada di tangan saya. Dan rancangan perjalanan saya adalah jadwal dan target edit yang saya buat sendiri demi mencapai deadline.

Dalam perjalanannya, saya terkadang harus tinggal lebih lama di satu bab. Membaca berulang-ulang untuk memahami isi bab. Mencari referensi kanan-kiri. Tak jarang, saya harus mengotak-atik rute, karena ternyata memilih rute A kurang efektif ketika dipraktikkan.

Kejutan-kejutan juga menanti. Revisi yang datang terlambat ke meja adalah bom waktu yang kerap membuat kami berderap. Banting haluan dan memutar otak. Kalau komunikasi dengan penulis terasa seret, kepala pun ikut mumet. Apalagi kalau ide tiba-tiba macet.

Sementara kami tahu, tenggat waktu adalah garis mati. Tanpa opsi.

***

‘Kalau kau ingin tahu betapa berharganya satu detik, tanyakan kepada orang yang nyaris mati,’ kata mantan bos saya. Waktu kuliah, saya bekerja di sebuah harian online. Bos saya berkantor di Jakarta, sementara saya kirim berita setiap sore dari Malang. Kami berkomunikasi intens lewat email dan telepon.

Deadline is combined by two words: dead and line. Period.

Dari dia saya belajar banyak hal. Mengatur waktu dan jadwal. Menghitung presisi waktu. Saya jadi orang yang mencintai sekaligus membenci waktu.

Saya pernah sekali melewati garis mati itu. Dan itu mengantarkan seseorang kepada kematiannya.

Tapi, saya hidup dari kecemasan itu. Dewasa karena masalah yang mendadak hadir dan harus dipecahkan. Saya merayakan kepanikan yang diam-diam muncul dan waswas yang membuat semakin waspada.

Dan seperti Feby bilang, yes, deadline absolutely saves my life. Jika tak ada deadline, saya tak akan pernah sampai di sini.

Tidak.

Tenggat hidup saya terus berganti. Setiap bulan. Tapi saya menggilainya. Satu detik buat saya sangat berharga. Membuangnya dengan menunggu adalah haram. Saya tak bisa bersahabat dengan itu. Namun, perjalanan menyadarkan saya, menunggu adalah bagian dari kejutan yang melatih ketanggapan kita.

Orang yang tak ingin menunggu pasti akan berupaya mendapatkan sesuatu ketika sedang menunggu.

Seperti tulisan ini. Ia muncul ketika saya sedang menunggu tenggat.

Jakarta, 24 November 2010

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *