lari

image

Saya sebenarnya tak pernah suka lari. Tapi, banyak hal yang membuat saya terus berlari.

Saya menduga, pasti ada yang akan menyeletuk dan berkata, ‘Lari dari kenyataan?’ Atau kalau kata karib saya Wandi, ‘Lari dari kenyataan percintaanmu yang absurd?’

Sayangnya, bukan itu. 

Sejak duduk di bangku SD sampai SMA, anehnya saya melulu dikirim sekolah untuk mengikuti lomba lari. Saya berlari untuk dua nomor pertandingan: jarak pendek dan jarak jauh. Saya jarang berlari pada jarak menengah. Saya tak tahu kenapa oleh guru saya, saya selalu didaftarkan di dua nomor pertandingan itu. Kata guru saya, saya orang yang harus cepat sekali secara waktu atau panjang sekali secara jarak. Dia bilang, saya kontradiktif. Saya bilang, saya hanya tak suka berada di tengah.

Di sekolah dan di kelas, saya bukan satu-satunya pelari tercepat. Akan tetapi, bila ada lomba lari atau ujian lari di sekolah, saya tak pernah keluar dari tiga besar. Sebenarnya, bukan karena saya suka berlari lalu saya bisa melesat cepat, melainkan lebih karena saya tak suka tertinggal.

Saya kompetitif. Tidak hanya terhadap orang lain, bahkan terhadap diri saya sendiri.

Biasanya orang yang kompetitif itu ambisius. Sayangnya, saya justru berkebalikan. Saya tidak ambisius. Ini yang kata guru olahraga saya membuat saya tak menekuni lari dengan serius dan menganggap sekadar kewajiban yang harus dipenuhi ketika sekolah mengutus. Lagi-lagi katanya, saya kontradiktif.

Saya tak pernah memenangkan lomba lari apa pun di setiap pertandingan lari antarsekolah, mulai dari tingkat kabupaten, kotamadya, sampai provinsi. Saya sudah bilang, kan, saya kompetitif tetapi tidak ambisius. Dan saya tak suka jadi pelari. Itu satu-satunya cara yang saya tahu agar di pertandingan-pertandingan mendatang, saya tak lagi diikutkan.

Saya keliru. Setiap ada pertandingan lari, nama saya selalu ada mewakili sekolah.

Saya berhenti berlari pada tahun-tahun awal kuliah, tetapi kembali berlari ketika berada di Cherokee, North Carolina, USA. Setiap pagi, saya menyempatkan diri jogging. Pada hari libur, rute lari saya lebih panjang. Saya akan menyusuri jalur trekking di hutan belakang rumah atau yang mengarah ke Big Cove, ke hutan yang lebih besar, yang di tengahnya mengalir sungai tempat para pemancing ikan trout mencari arus kecil.

Berlari di hutan ini menyenangkan. Beberapa kawan lokal mengingatkan, ada beruang di hutan. Namun, saya sudah menghafal posisi bunker perlindungan yang terbuat dari baja. Sampai hari terakhir saya di sana, saya belum pernah dikejar beruang di hutan. Bertemu anak-anak beruang madu pernah. Itu kalau mereka berniat menampakkan diri. Karena ini rumah mereka, maka saya biasanya akan mengambil jalan memutar setelah dari jarak tertentu mengintip mereka bermain di antara pepohonan tumbang.

Alam tak akan menjahatimu, bila kau tak menjahatinya. Saya belajar itu. Di hutan ini juga, saya belajar bergerak tanpa membuat suara dengan memperhatikan langkah dan gerak. Itu cara sederhana agar saya tak mengganggu penghuninya.

Berlari di hutan adalah hari yang selalu saya tunggu. Padahal, bangun pagi hari di Cherokee itu menyiksa: dingin. Kota kecil ini diselimuti kabut tebal sepanjang tahun, tak peduli pada musim panas sekalipun sebab lokasinya di antara Pegunungan The Great Smokey. Tapi, itu semua tak pernah mengurungkan niat saya berlari.

Bangun lebih pagi ketika matahari belum tampak, saya melihat apa yang tak terlihat pada siang. Kelinci hutan yang mengintip dari lubang yang digalinya, tupai terbang yang berlompatan di antara ranting pohon, bahkan berang-berang sungai. Saya juga pernah melihat elk—rusa penarik kereta sinterklas. Sehabis lari, saya suka duduk di balik batu besar di pinggir sungai yang ada di hutan, menyaru di antara pepohonan, batu, dan daun-daun yang gugur. Tupai-tupai itu bisa turun dari pohon lalu menghampiri saya. Kalau yang ini jenis tupai merah. Mereka berdiam di tungkai kaki saya yang menjulur kelelahan karena habis berlari.

Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya mereka tahu, saya bukan batu dan bukan batang pohon yang teronggok. Mereka tahu saya hidup, soalnya mereka suka menggerigiti kaki sambil mata-mata bulatnya memandangi saya. Rasanya geli. Kadang, saya tidak mampu menahan, menggerakkan kaki saya sedikit. Bukannya berhenti, mereka malah melompat ke paha. Saya membiarkan. Tak jarang saya jatuh tertidur sampai terdengar kecipak berlebihan di air sungai.

Ketika matahari sudah meninggi, beberapa pemancing akan terlihat. Tak banyak. Hanya sekitar dua atau tiga. Itu berarti saya sudah harus pulang. Saya punya jalur pulang rahasia di hutan ini. Sebuah terowongan tak terpakai. Mulut terowongan yang tertutup bebatuan dan lumut membuat banyak yang mengira itu jalan buntu. Ketika keluar dari terowongan, di ujung satunya, bila tak kalah cepat dengan beruang, saya bisa memetik buah beri hutan yang sudah ranum. Buat saya, hutan ini petualangan. Arena bermain saya.

Dan itu semua saya temukan karena berlari.

Kembali ke Indonesia, saya tetap berlari. Setiap pagi hingga lulus kuliah (itu tahun terakhir saya di  bangku kuliah) dan bekerja di Jakarta. Sewaktu masih tinggal di Benhil, saya rutin lari setiap pukul 5 pagi.

Saya sempat berhenti berlari ketika awal-awal pindah ke Cilandak. Jalanan di Cilandak terlalu padat. Sementara, pergi ke Senayan bukan pilihan saya. Saya bukan tipe orang yang suka berlari beramai-ramai di tempat ramai yang ada di tengah kota.

Namun, tinggal di kota besar macam Jakarta, saya belajar tidak mengeluhkan keadaan. Jadilah jalanan Cilandak arena bermain saya pada subuh. Saya pikir, ini baik untuk melatih mata agar mampu melihat hal yang berbeda setiap hari dan menangkap detail-detail kecil di jalan.

Dua setengah tahun lalu saya kembali berlari. Sempat mengombinasikannya dengan pilates. Bila akan traveling jauh dengan medan tak tentu, saya juga lebih giat berlari dari biasanya. Ketika pindah ke Ubud, saya tetap berlari, tetapi tidak melakukan pilates. Di Ubud, sambil berlari saya membuat proyek yang diberi nama ‘The God of Small Things’. Berlari sambil memotret hal-hal kecil dengan menggunakan iPhone. 

Jalur lari saya di Ubud berubah setiap hari, mengikuti ke mana rasa ingin tahu saya. Saya bisa berlari di kampung belakang  bungalow saya, menyusuri jalan setapak yang di kirinya ada sungai kecil dan sisi kanan sawah membentang. Atau, saya bisa ke bukit, memarkir motor di sebuah sekolah yang ada di dekat jembatan, lalu menyusuri jalan di samping pura, sebelum kemudian berlari di jalur yang menanjak. Biasanya, selesai lari, saya main ke Pasar Ubud, menikmati bau bunga-bunga sesajen dan dupa yang belum habis terbakar.

Saya berlatih peka dan fokus lewat proyek sederhana ini.

Meditasi saya adalah bergerak. Dan salah satu meditasi mendasar yang penting adalah meditasi kesadaran. Berlari membuat saya mendapatkan keduanya.

Berlari mengajarkan saya tak hanya fokus kepada titik selesai, tetapi mengamati apa yang ada di sepanjang lintasan.

Berlari mengajarkan saya fokus tanpa kehilangan kesadaran atas apa yang terjadi di sekeliling saya. Dan ketika berlari di jalanan, ini terasa lebih menantang. Berlari mengajarkan saya peka napas dan ritme ayunan. Dan peka napas adalah bagian dari menyadari gerak serta apa yang dirasakan tubuh.

Berlari mengajarkan itu semua.

image

Berlari bukan sekadar olahraga agar saya tetap sehat. Berlari yang sebenarnya tidak saya sukai ini menjadikan jalur yang saya lalui sebagai lintasan pikiran saya. 

Setiap berlari, selain menjaga fokus dan kesadaran akan sekeliling, pikiran saya melakukan percakapan-percakapan. Ide-ide baru bisa muncul. Kadang, saya sengaja menjadikan jadwal lari sebagai waktu untuk memikirkan sesuatu. Bercakap-cakap dengan diri sendiri. Keputusan bisa saya ambil di tengah berlari.

Sesekali saya mengubah jalur lari saya. Tak jarang, saya mematikan musik di itunes, tetapi tetap menyumpal kuping dengan earphone. Tujuannya hanya satu, berlatih mendengar. Berlatih peka menangkap bunyi  di sepanjang jalur lari meski ada yang menyumbat.

Berlari, tak ubahnya seperti proses menulis. Kelima panca indra (bahkan enam, bila punya) saya harus berfungsi karena ini pun meditasi saya.

Saya sebenarnya tak suka berlari. Namun, ada banyak hal yang membuat saya berlari.

Salah satunya, agar saya tak berhenti mengejar diri saya sendiri.

Saya kompetitif, tetapi tidak ambisius. Saya hanya tak mau tertinggal, apa lagi dengan diri sendiri.

Berlari membuat saya tak pernah meninggalkan diri saya. Mungkin waktu tempuh saya tak secepat yang lain, jarak tempuh saya tak sejauh yang lain, namun saya memastikan saya tiba di titik henti dengan kesediaan mengalami apa pun yang ada di lintasan.

Itu yang mengayakan diri saya. Itu yang membuat saya menyukai berlari. Sama seperti menulis.  [13]

*) gambar diambil dari globeimages.net. kira-kira seperti itulah jalan yang dulu saya telusuri sebelum berbelok ke hutan.

**) foto ini diambil sehabis saya lari dan tiba-tiba dipanggil ke hotel tempat kerja sambilan. saya suka lari menggunakan jaket atau sweater.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *