pemburu langit – sebuah soal terbaik

image

‘Apa yang kaulihat di langit?’

‘Biru yang bukan sekadar biru. Apa yang kaulihat di langit?’

Aku mengangkat tangan, membuat area bidik segiempat dengan mempertemukan ibu jari dan telunjuk dari kedua tangan. ‘Aku melihat kamu.’

Setiap kali aku menengadah, aku melihat dia: –Biru. 

Biru bukan namanya, tetapi panggilan yang kuberikan untuk dia karena kegemarannya kepada biru. Juga kepada langit. Sejak memiliki ponsel yang dilengkapi kamera dan kamera saku yang bisa dibawa ke mana-mana, aku kembali senang berburu langit.

Semakin sering berburu langit, semakin aku tahu, langit memang tak sekadar biru. Kau akan melihat sekumpulan burung melintas, pesawat melesat, awan berarak, atau bulan pasi yang kesiangan. Dan seusai hujan turun, kau bisa melihat lengkung pelangi.

Aku memang harus berterima kasih kepada dia, Biru yang mengenalkan aku kepada langit. 

*** 

Jurnal dengan tulisan ‘Pemburu Langit’ dihadiahkan Jeffri pada ulang tahunku. Seperti biasa, tak dibungkus. Jeffri tahu, aku tak suka hadiah yang dibungkus kertas kado. Menumpuk sampah dan membuang uang, begitu hematku. 

Happy birthday, my sister!’ kata Jeffri sambil memeluk dari belakang kursi kerja. Aku balas memeluk. ‘Perlu list untuk kado supaya tak usah capek mikir mau kasih apa?’ Aku selalu memiliki list kado yang kuberikan ke Jeffri setiap tahunnya. Pilih salah satu yang sesuai dengan bujet, begitu pesanku selalu.

‘Nggak. Gue udah punya hadiah buah elo.’ Jeffri  menyodorkan benda berwarna cokelat.

‘Mesan ya?’ tanyaku sambil membolak-balik hadiah yang diberikannya lalu mengelus takjub tulisan ‘Pemburu Langit’ yang ada di sampul dan menjadi ‘pengunci’ agar halaman tak terbuka.

Jeffri mengangguk-anggukan kepalanya yang berambut jambul. ‘Semoga suka, ya!’

Aku tak punya alasan untuk tidak suka. Satu, jurnal itu dipesan khusus untukku. Dua, jurnal itu pemberian Jeffri, orang yang tak sekadar rekan kerja dan sahabat terbaik, tetapi juga sudah kuanggap saudara.

Pertama kali bertemu, Jeffri menuduhkan dari aliran gothic. Berpakaian serbahitam dengan mata bagian bawah celung dan gelap karena kurang tidur. Saat itu, ia mengira aku mengenakan celak mata.

Sementara itu, aku menganggapnya orang yang berjarak dan susah dibedakan kapan serius-kapan bercanda. Ia tak banyak bicara bila bertemu orang baru. Tapi, tunggu beberapa waktu kemudian. Kau akan bertemu dengan dia yang sesungguhnya.

Hari kedua, aku menganggap Jeffri orang yang harus kuwaspadai. Bagaimana tidak, ia menghabiskan cokelat yang kutawarkan kepadanya dan melahap tandas pisang yang menjadi makan siangku.

Hari ketiga, ketika Jeffri mendekat ke meja, aku telah menyisihkan pisang untuk makan siangku di laci, dan menyisakan 2 buah di meja. Ia melihatnya, dan seperti yang aku duga, ia menyambar pisang lalu memakannya sampai habis.

Hari keempat, orang di sekitarku memberi tahu Jeffri bahwa pisang dan pir yang ada di mejaku adalah makan siangku, bukan camilan. Komentar dia saat itu, ‘Hah? Kok lo nggak bilang, sih, itu makan siang lo?’

Di dalam hati aku menjawab, ‘Situ kagak nanya. Main samber aja.’

Sejak hari keempat, Jeffri tak lagi menghabiskan makan siangku. Setiap kali akan keluar mencari makan, ia justru bertanya, ‘Mau titip apa?’

‘Biskuit.’

‘Itu makan siang lo?’

‘Iya.’

‘Gothic dan cuma makan buah ama biskuit. Kok lo hidup, sih?’ 

Pertanyaan yang tak perlu dijawab karena ia mengatakannya sambil mengeloyor. Ia pulang dengan biskuit untuk makan siangku.

Sejak hari itu, kewaspadaanku kepada Jeffri berkurang. Namun, kebiasaannya mengembat apa pun makanan yang menjadi milikku tak berkurang sampai hari ini.

Kata Jeffri, bukan perkara enak atau nggak. Namun, apa pun yang aku makan atau minum, ia hanya menginginkannya selama itu punyaku.

Sial! Harusnya aku tahu hal ini sejak awal dan menjadi makin pintar menghadapinya. Sayangnya, aku tetap dungu, meletakkan makanan dan minuman apa pun di meja kerja, lalu ketika kembali, aku mendapati semuanya sudah berkurang.

Hanya ada satu tersangka: Jeffri. Dan memang dia yang melakukannya. 

Jeffri adalah seorang desainer andal. Aku menyukai desain-desainnya. Juga menyukai ketelitian dan kejeliannya kepada detail.

Tentunya, dua hal yang menjadi keunggulannya itu menimbulkan konsekuensi pada lama waktu pengerjaan. Namun, hal yang paling aku suka dari Jeffri adalah kemampuannya mendengarkan feedback untuk desainnya. Wajahnya yang minim ekspresi memang sangat menolong. Ia akan memanggut-manggutkan kepala tanda menyimak tanpa menunjukkan sikap defensif sama sekali. Ini kualitas Jeffri yang membuat siapa pun nyaman bercerita kepadanya.

Ia sabar menghadapiku. Ia membuat desain sampul Life Traveler sebanyak 21 kali karena aku tak kunjung suka. Ia meladeni semua celotehan dan sabar mendengarkan ide-ideku yang kadang absurd lalu menerjemahkan ke dalam bentuk desain. Ia ‘mendengarkan’ untuk mencapai sesuatu di dalam diri lawan bicaranya. Karenanya, desain-desain Jeffri selalu hangat dan terasa personal.

Namun, semakin lama aku berhubungan dengan Jeffri, semakin aku paham, berbicara dengan Jeffri harus runut. Ia orang yang sistematis dan suka menganalisis. Semisal kau memintanya melakukan a, lalu memberi petunjukan 1 lalu langsung ke 3, maka Jeffri akan terdiam. Ia akan sibuk memikirkan, ke mana 2 dan mengapa aku tak memasukkan 2 di dalam petunjuk?

Satu ketika, aku pernah mengerjai Jeffri. Waktu itu aku kongkalikong dengan Mas Fuad—saat itu ia menjabat sebagai koordinator penerbit. Kami berdua memanggil Jeffri. Mengatakan ada hal penting yang harus kami sampaikan kepadanya.

‘Windy harus pergi,’ kata Mas Fuad, ‘Ia mendapatkan pekerjaan baru di sebuah majalah traveling (sebenarnya ini benar, tetapi aku sudah menolaknya—red). Kita membutuhkan orang yang mengisi posisi Windy. Dan orang itu adalah kamu.’

Jeffri melongo. Muka datarnya saat itu memucat. Ia tak berbicara sepatah kata pun. Aku memasang wajah sedih. Ada gunanya juga ikut ekskul teater dari SD sampai SMA. Aku jadi bisa berakting. ‘Iya, Jef. Lo orang pertama yang kita ajak ngomong. Gue minta lo bantu gue jelasin ke teman-teman Gagas, ya.’

‘Gue sedih. Gue pasti kehilangan lo banget, Ndot.’ 

‘Gue juga, Prot,’ sahut Mas Fuad.

‘Tapi ini mimpu gue, Prot. Lo tahu, kan, kalau gue pengin keluyuran ke mana-mana?’

Jeffri diam. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca. Gue pengin ketawa, tetapi menyaksikan Jeffri yang seperti itu adalah kesenangan tersendiri saat itu. Jeffri melipat kaki ke dada. ‘Gue tahu. Gue senang akhirnya mimpi lo terwujud,’ jawabnya lirih. ‘Gue bakal jaga Gagas, kok, Ndot.’

‘Jadi, lo nggak keberatan, kan, gantiin Windy?’ Mas Fuad menanyakan.

‘Nggak. Gue pasti kesulitan di awal, tapi gue akan terima tantangan ini.’ Saat itu aku dan Mas Fuad sudah nggak sanggup lagi menahan tawa. Di satu sisi, aku tak tega melihat mata Jeffri yang berkaca-kaca. ‘Gue sedih, sih,’ sahutnya lagi.

Dan meledaklah tawa gue dan Mas Fuad. Jeffri bengong.

‘Lo kita kerjain, Prot!’ jelas Mas Fuad dengan tawa yang membahana. Jeffri menatapku dengan menyipitkan matanya. ‘Sialan lo!’ Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiriku dan memiting leherku dengan tangannya.

Sebenarnya, malam itu, aku dan Mas Fuad hendak menyampaikan ke Jeffri bahwa ia dipromosikan sebagai Koordinator Desain Grafis untuk GagasMedia dan beberapa penerbit lainnya. 

Saban mengingat peristiwa itu, Jeffri selalu menoyor kepalaku. ‘Gue nggak pernah ngebayangin lo ninggalin gue tau!’ katanya. Ah, Jeffri. Padahal sebenarnya, aku yang tidak bisa membayangkan kalau Jeffri tak ada lagi di kantor ini.

***

Nama lengkapnya Jeffri Fernando. Aku memanggilanya suka-suka. Juki, Jukito, Jeprot, Koko. Tergantung apa kepinginku. Ia tak pernah keberatan. 

Apa yang kaulihat di langit? Kalau pertanyaan ini diajukan kepadaku sekarang, aku punya jawaban tambahan.

Saban menengadah, aku tak lagi sekadar terkenang kepada Biru, tetapi juga kepada jurnal ‘Pemburu Langit’ pemberian Jeffri. Ia bilang wajar aku memburu langit karena langit tak berbatas. Dan itu membuat aku terus berlari untuk melakukan yang terbaik. 

Hampir sepuluh tahun jatuh-bangun, tertawa-menangis, membesarkan GagasMedia bersama. Setiap kali kupikir aku tak bisa, aku membayangkan ia mengatakan, ‘Ah, masak lo nggak bisa? Bisa. Cuma belum ketemu caranya.’

Apa yang kulihat di langit? Aku melihat satu lagi hal terbaik: Jeffri. 

Terbaik karena bisa membuat aku melakukan yang terbaik. [13]

*)foto koleksi pribadi

**)tulisan ini diunggah atas seizin jeffri fernando

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *