kesempatan

image

Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di rumah sakit. Dan sudah banyak pula saya menciptakan alasan agar tak perlu ke rumah sakit.

Rumah sakit mengingatkan saya kepada sebuah lorong panjang yang berwarna semen. Dinding kamar bercat putih kekuningan akibat warna yang menua dan tangis sesengukan seorang lelaki karena sang istri meninggal di depan matanya.

Rumah sakit mengingatkan saya kepada malam panjang ketika saya memutuskan tidur berjejer di sebelah tubuh yang terbujur kaku dan ditutupi selimut hingga pagi tiba.

Buat saya, rumah sakit mengingatkan kepada kesempatan yang telah habis. 

***

Namun hari ini, saya mencoba mengalahkan semua alasan yang muncul, yang menghentikan saya ke rumah sakit. Hari ini, saya mengalahkan suara-suara pikiran yang berebutan di kepala, memutuskan mengalahkan keengganan saya mencium bau obat demi menemui dua orang yang penting bagi saya. 

Ini pertama kalinya, setelah belasan tahun, saya pergi ke rumah sakit sendirian. Tak memiliki pilihan membuat saya bertindak realistis dan tak tergantung kepada orang lain. Sabtu malam, Jadwal saya dengan jadwal Dominique, sahabat saya, tak pas. Ia pergi lebih dulu ke rumah sakit di sela-sela agenda pengepasan pakaiannya. Sementara saya baru bisa pergi malam hari setelah agenda rapat selesai. Namun, malam itu, ketika menyusuri jalan tol Jakarta yang tak kunjung senyap, rasa enggan merayap. Saya urungkan niat ke rumah sakit, tak jadi menemani Yunika. Padahal, itu yang saya janjikan ke Dominique.

Malam itu rasa cemas bercampur enggan menimbulkan rasa pening yang luar biasa di kepala saya. Tiba di rumah, saya tidur membujur di atas kasur sambil menatap langit-langit—sama persis seperti belasan tahun lalu di rumah sakit. Ketika pusing kian tak tertahankan hingga seolah saya melihat kunang-kunang berputar di kepala, saya menimpakan bantal ke wajah. Terbenam dalam-dalam sembari berharap semua rasa sakit yang mendadak melanda segera sirna.

Malam itu, sekali lagi saya kalah dengan rasa takut.

Kesibukan mengalihkan saya dari semua kecemasan dan ketakutan harus ke rumah sakit sendirian. Namun, waktu yang saya miliki kian sedikit. Saya akan pergi cukup lama. Bagaimana bisa saya pergi tanpa menemui Mas Rhages dan Yunika di rumah sakit?

Piglet—saya menamai pikiran saya ini—mengatakan Yunika dan Mas Rhages pasti paham kondisi saya. Saya harus menyiapkan ini dan itu, mengerjakan ini dan itu, memikirkan ini dan itu. Nanti saja, sepulang saya dari perjalanan yang ini, saya akan menjenguk Mas Rhages di rumahnya.

Lalu saya terbayang wajah Dominique, yang menelepon saya dengan nada khawatir dan memutuskan melesat ke rumah sakit demi menemui dua orang yang penting bagi kami itu. Saya sadar saya baru saja melakukan sabotase terhadap diri saya sendiri. Bersembunyi di balik pemakluman orang lain, demi memanipulasi kepengecutan saya.

Tersentaklah saya, hari ini 10 Oktober, saya bahkan telah melewati tanggal 7 Oktober tanpa sadar padahal itu hari kelahiran sahabat saya yang lain. Bergegas saya menelepon Agie, mengakui betapa saya selama ini dimanja oleh pemaklumannya bahwa seorang Windy tak suka mengingat hari dan tanggal. ‘Saya selalu menyukai kamu. Tak berkurang. Dan saya tahu kamu mencintai saya,’ kata Agie. ‘Kamu tak pernah lupa saya. Kamu hanya tak pernah pandai mengingat waktu. Belasan tahun kita bersahabat, saya hafal kebiasaanmu. Saya memang sempat kecewa, tetapi saya tahu kamu sibuk. Saya tahu kamu tak permah lupa saya, kamu hanya tak ingat tanggal, Ndy. Itu dua hal yang berbeda. Tak membuat kamu tidak menjadi sahabat terbaik saya.’

Saya menangis. Agie menangis. Kami menangis sambil tertawa mengingat kebodohan saya pada masa kuliah, saat itu saya salah mengingat tanggal ulang tahunnya. Saya bilang kepada Agie, saya tak merasa baik dengan kondisi ini. Saya melingkari besar-besar setiap tanggal ulang tahun orang-orang penting dalam hidup saya, namun kerap kali pada waktunya, saya tak ingat itu hari apa dan tanggal berapa. Dan saya menikmati pemakluman orang-orang terdekat untuk kelemahan saya yang satu ini.

Pagi tadi, bukan soal saya melewati hari ulang tahun sahabat saya, melainkan soal betapa saya kerap mengabaikan apa yang bersetia kepada saya karena telah terbiasa. Karena saya tahu mereka memaklumi saya.

Sekali lagi, saya menyadari, betapa manipulatifnya saya, bahkan kepada diri saya sendiri.

‘Tempelengan’ yang saya dapatkan dari percakapan dengan Agie menimbulkan keberanian. Saya sadar, ada satu hal yang juga harus segera saya lakukan. Kalau tidak, sepenuhnya saya jadi pengecut dan manipulator ulung. Saya mengamati jadwal, memutar otak untuk mengakali waktu. Selamanya waktu hanya 24 jam, lalu apakah saya akan mau menciptakan kesempatan untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan namun terus saya tunda-tunda sejak hari Sabtu kemarin?

Piglet kembali bersuara. ‘Hari ini jadwalmu cukup padat. Jakarta macet, kau tak akan bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu bila ke rumah sakit.’ Itu terdengar masuk akal, saya nyaris mengamini. Namun nomor Yunika yang sudah terlanjur saya tekan mengenyahkan Piglet. Suara Yunika yang menyahut di seberang membuat saya ingin segera ke rumah sakit. Saya mau memeluknya dan mengatakan dia tak pernah sendirian. Saya mau jadi seperti Agie dan Yunika bagi saya selama ini. Yang selalu menciptakan kesempatan untuk mendukung saya di seluruh waktunya tak peduli sesempit apa pun waktu yang mereka miliki.

Yunika pernah menyusul saya ke Malaysia, terbang langsung dari Jakarta hanya untuk menghadiri sebuah konferensi internasional yang mana saya menjadi pembicaranya. Dia bilang, ‘Gue mau ada di sana dan ngelihat lo ada di panggung itu presentasi.’ Dan betapa senangnya saya ketika melihat wajahnya yang familiar di antara wajah-wajah asing peserta konferensi. Turun dari panggung, saya berlari memburu dan memeluknya. Saya punya suporter terhebat!

Saya tak mau menyesal. Saya tak mau mengeluh soal tak punya waktu dan belum memiliki kesempatan. Terlebih lagi, saya tak mau lebih lama lagi menyabotase diri saya sendiri.

Pagi tadi, saya bangga dengan pencapaian yang saya lakukan. Pukul 10.15 saya berada di ruang intermediate sebuah rumah sakit, mengalahkan rasa takut, keringat dingin, dan mulas yang memusar di perut. Pagi tadi, saya menebus kelalaian saya kepada sahabat saya yang lain dengan berada di tempat saya seharusnya berada sejak dua hari lalu.

Ya, saya akhirnya pergi ke rumah sakit sendirian. 

Pagi tadi, ketika saya berdiri di tepi ranjang tempat sahabat saya terbujur karena sakit yang menyerangnya, mendengar Yunika membisikkan kata-kata kepada Mas Ragesh, ‘Lihat, si Kuntul juga ada di sini sekarang,’ sekali lagi saya menangis. Saya menangis karena akhirnya saya tahu bahwa saya lebih memilih menghadapi semua ketakutan saya daripada tidak pernah berada di ruang ini sama sekali.

Saya lebih memilih mencium aroma obat, melihat kembali potongan-potongan kejadian belasan tahun lalu yang mengingatkan saya kepada lorong panjang rumah sakit berwarna semen yang menuju ke kamar mayat.

Saya memilih menghadapi itu semua demi bisa menggenggam tangan Mas Rhages, merasakan tangannya merespons genggaman tangan saya, menceritakan kepadanya apa yang akan saya lakukan dan berjanji pulang dengan banyak cerita untuknya dan Yunika. 

***

Lesson learned, i should keep creating possibilities.

Rumah sakit mengingatkan saya kepada sebuah kesempatan yang telah habis. Dan itu belum berubah sampai saya menuliskan ini. Ketika jam menunjukkan pukul 11, saya merasa telah menang. Kesempatan saya menjenguk memang telah habis, tetapi saya tahu, saya bisa berada di sana meskipun sendirian karena memilih melakukannya.

Saya menang karena telah memutuskan menciptakan kesempatan untuk hal yang awalnya saya hindari, saya merasa menang karena telah mengizinkan diri saya sendiri mengakui, ada saat di mana saya tidak berdaya dan memutuskan menjadi pengecut. 

Bila saat itu tiba lagi, ingatkan saya, bahwa saya pernah menang melawannya. [13]

Jakarta, 10 Oktober 2013

PS: untuk para sahabat yang selalu menciptakan kesempatan untuk mendukung satu sama lain.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *