meregang

aku nyaris lupa soal ini sampai kemudian aku membaca ulang percakapan-percakapanku dengan perempuan hebat itu. perempuan yang memiliki hati lapang dan cinta tanpa takaran.

‘mengapa kau cemas soal apa yang harus kau lakukan bila kontainermu penuh?’ katanya. ‘kontainermu tak akan pernah penuh bila kau belajar meregang, sebagaimana yang dilakukan para perempuan hamil, windy.’ perempuan hamil selalu mengira perutnya sudah cukup membuncit dan tak akan lebih membesar lagi pada kehamilan enam sampai tujuh bulan. namun kenyataannya, uterus dan badannya terus meregang, memberi ruang kepada manusia di dalam dirinya.

dia memintaku belajar meregangkan kontainerku–hati, tempat kita menampung begitu banyak hal, seperti seorang perempuan hamil. ‘beberapa orang tak ingin berada di dalam sebuah hubungan karena mereka harus “meregang” untuk orang lain. aku tahu itu bisa sangat menyakitkan. pada titik tertentu kau akan menangis karena mengira sudah tak mampu lagi meregang. tapi untuk bisa menghadirkan manusia baru, kau harus terus membuka, membuka, dan membuka. ya, tak menutup kemungkinan kau akan terluka.’

aku tak menjawab. perempuan itu tersenyum simpul. ‘beri kesempatan kepada hatimu untuk membuka dan terus membuka. itu bisa menyakitkan. tapi, ya, kau harus belajar meregang untuk orang lain agar kau tak berbahagia dengan caramu sendiri.’ [13]

ubud, 9 maret 2012. pada sebuah percakapan dengan robin lim di dapur rumahnya.

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *