waktu

semalam, seorang sahabat bermain ke kandang. kami menonton revenge dan scandal di televisi kabel. di tengah-tengah keasyikan kami menonton, ia bertanya, ‘apa yang bisa membuat lo mempertahankan seseorang. hm, pacar lo katakanlah.’

layar televisi sedang menayangkan olivia pope yang bertengkar dengan presiden AS, yang juga merupakan kekasihnya. olivia pope adalah kekasih gelap sang presiden. saya sebut gelap karena mereka tak bisa terang-terangan memberi tahu bahwa mereka memiliki hubungan. pertama, pacarnya adalah presiden AS, kedua lelaki yang menjadi orang nomor satu AS itu telah beristri.

dan, di episode kali ini, saya juga baru tahu, istri sang presiden (yang dulunya adalah gubernur di salah satu negara bagian AS) memiliki hubungan gelap juga dengan seseorang yang ternyata dulunya adalah wakil suaminya ketika menjabat gubernur. ya, namanya juga skandal. skandalnya mulai dari urusan politik sampai tempat tidur.

saya bertanya kepada sahabat saya apakah pertanyaannya itu terlepas dari apa pun jenis hubungan yang dijalani. hubungan terang maupun hubungan gelap.

sahabat saya tertawa. ‘Ya, hubungan yang tak mengenal gelap-terang.’

saya lama menjawabnya. sebab, ini pertama kali saya ditanya apa yang membuat saya akan bertahan di sisi seseorang. sementara, saya sendiri hampir meyakini saya memiliki daya tahan yang rendah untuk mempertahankan sebuah hubungan. kata jeffri–pada percakapan kami siang hari di kantor–bagian paling sulit dari mempertahankan sebuah hubungan adalah menjaga konsistensi. tidak berhenti di tengah-tengah ketika merasa ada yang tak bekerja pada hubungan itu.

saya bersepakat dengan apa yang dikatakan jeffri. namun, apa yang sesungguhnya akan membuat saya bertahan dan berusaha menjaga konsistensi itu? yang membuat saya tak berhenti di tengah-tengah.

rasa-rasanya, ini pertanyaan yang paling mendasar lagi.

saya melihat sahabat saya yang matanya terus terpancang ke layar televisi, lalu kembali mengingat-ingat apa yang saya percakapkan dengan jeffri. dua orang sahabat pada hari yang sama membuat saya berpikir soal sebuah hubungan.

‘Sepertinya soal seberapa ia menyediakan atau menciptakan waktu atau kesempatan untuk kami.’

‘Hah? gue pikir itu bukan hal yang penting buat elo. kebersamaan menjadi penting buat elo?’

‘bukan. bukan itu. menciptakan waktu atau kesempatan yang gue maksud bukan soal kebersamaan fisik. tetapi seberapa jauh kita menyediakan diri untuk mendengar dan berkomunikasi.’ saya lalu bertanya kepadanya apakah ia pernah mendengar orang bilang, ‘gue sibuk, nggak punya waktu’. saya bukan orang yang percaya itu. buat saya bukan saya tidak punya waktu, melainkan memang saya tak mau menciptakan kesempatan itu.

saya pikir banyak hal bergeser di dalam pemahaman saya. mundur ke beberapa tahun lalu, saya pernah mengikuti kelas kepemimpinan. di mana dalam waktu tiga bulan saya ditantang untuk melakukan banyak hal di luar semua aktivitas rutin saya di kantor. aktivitas-aktivitas itu berkaitan dengan menciptakan waktu untuk hal-hal lain yang selama ini tidak saya lakukan lantaran merasa tak punya waktu untuk melakukannya. saya memang dibuat pontang-panting. tapi dalam rentang 24 jam sehari, saya bisa mengerjakan banyak hal yang saya pikir tak bisa saya kerjakan karena tak ada waktunya. saya masih bisa mengajar di sebuah sanggar anak-anak, saya masih bisa melakukan kerja sosial, saya masih bisa bermain, dan saya masih bisa memanjakan diri saya sendiri. pekerjaan saya tetap lancar dan tak terbengkalai. saya juga masih ingat ketika saya berpikir saya sangat sibuk dan kesulitan mencari waktu bahkan untuk ke rumah sakit menjenguk teman saya. sesuatu menampar saya hari itu, hanya orang malas yang berkilah ia tak punya waktu. maka saya memilih bangun pagi hari, menembus kemacetan untuk sampai di rumah sakit, menghabiskan waktu satu setengah jam di sana, lalu menyetir balik ke jakarta untuk mengejar meeting berikutnya. hari itu saya menang.

pada akhirnya saya belajar, ini soal seberapa jauh saya mau menciptakan waktu itu sendiri. bila saya merasa hal itu penting, maka saya akan melakukan semua cara untuk bisa mewujudkannya. bila saya merasa orang itu penting, maka saya pasti akan ‘menciptakan’ waktu untuknya.

bila ia tak cukup penting atau bila saya pun tak cukup penting buat dia, maka saya atau dia tak akan repot-repot menciptakan waktu itu untuk kami berdua.

saya pikir untuk saat ini itu salah satu hal yang bisa membuat saya bertahan.

sahabat saya terpekur lama. saya rasa itu karena ia sedang menikmati adegan ciuman antara istri presiden dengan mantan selingkuhannya di ruangan ibu negara. saya sempat menyimak percakapan mereka. sang mantan wakil gubernur hendak menyentuh salah satu lukisan ibu negara di ruangan itu. ibu negara mengingatkan untuk jangan menyentuhnya, ‘lukisan ibu negara tak boleh disentuh.’ lalu mantan wakil gubernur menjawab, ‘ya, seperti ibu negara yang juga tak boleh disentuh.’ kata-kata mantan wakil gubernur itu justru menjadi pemicu mereka berciuman.

‘hm, ya, bila hal atau seseorang itu penting, maka kita memang akan menciptakan waktu untuk hal atau seseorang itu,’ sahutnya sambil mengalihkan pandangan dari televisi lalu menyorongkan mangkuk berisi spaghetti yang tadi saya masak. kami berdua malam itu selain makan semangkuk berdua juga setuju bahwa menciptakan waktu atau kesempatan perlu keaktifan kedua belah pihak. tak akan ada kesempatan atau waktu yang tercipta untuk keduanya bila salah satu tak menginginkan.

dan ketika waktu itu tercipta, bukankah itu pun satu pertanda bahwa masing-masing dari kita diinginkan sekaligus menginginkan? [13]

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *