satu satu *) **)

image

Tanpa batas, kau pilih itu untuk menandai usiamu yang kini sebelas.

Hari ini aku tak berkantor. Kau tahu ini pertama kalinya aku tak berkantor ketika kau berulang tahun.

Namun tahun ini, aku ingin menyelamatimu dalam diam. Sendirian saja. Coba  melihat satu satu tahun yang sudah pernah kita jalani bersama. Jatuh dan bangun. Tawa dan cemas menjelang tenggat waktu. Gairah yang menggelegak bersamaan dengan ide-ide baru yang berhamburan dari mulut-mulut penggerakmu. Jiwa-jiwa yang tumbuh besar bersamamu. Menanam mimpi dan menimbun kepercayaan bahwa dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik bila semakin banyak anak muda yang gemar membaca dan menulis.

Aku pelan-pelan jatuh cinta kepadamu. Kepadamu yang tak pernah takut berbeda. Kepadamu yang dengan lantang mengatakan tak akan ada penulis-penulis hebat yang baru lahir bila yang muda tak diberi kesempatan. Kepadamu yang saat itu berani memilih jalan itu sendirian. Yang mengizinkan siapa saja menghujat, yang membiarkan mereka mengataimu pandir, yang mencibir.

Biar saja.

Aku pelan-pelan menyukaimu yang ‘memasabodohkan’ semua itu dan terus melakukan apa yang kauyakini harus kau lakukan. Kau tak tuli. Kau mendengar apa pun yang dilontarkan orang. Kau bilang ini hanya soal pilihan cara. Untuk membuat yang muda menyukai membaca dan menulis, maka kau harus melihat dari kaca mata yang muda. Apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka gelisahkan. Apa yang mereka inginkan. Kau tak bisa memaksa mereka untuk menyukai apa yang tak mereka sukai. Seorang teman akan diterima dan dianggap sahabat setelah mereka saling mengenal dan sanggup memahami satu sama lain. Memahami, bukan menghakimi.

Kau punya ceritamu. Kau punya sejarahmu. Dan kau biarkan orang saja yang membicarakannya, entah dengan terang-terangan atau berbisik-bisik. Katamu, mengenali sejarah sendiri itu perlu, tetapi membangga-banggakan sejarah hanya dilakukan oleh mereka yang tak sanggup berbuat apa-apa pada kekinian.

Kau teman bermain yang luar biasa menyenangkan. Rumah yang hangat. Partner yang mendewasakan. Kau teman belajar yang mengayakan.

Terima kasih untuk satu satu tahun yang sudah kita lewati. Pada pertemuan dan perpisahan yang meminta kita bersama-sama meregang. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan satu satu dari jiwa-jiwa muda yang berani bermimpi dan mewujudkannya.

Terima kasih telah mengajariku soal rendah hati. Merunduk setara bumi, bergerak seperti air, selalu mengalir ke dataran rendah, lalu bermuara kepada sesuatu yang tanpa batas.

Selamat satu satu, Gagas. Sebuah angka yang menjadi pengingat bahwa berproses tak mengenal batas. [13]

*) baca: sebelas. red.

**) sebuah ode untuk teman-teman di dalam gagasmedia group.

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *