cinta basa-basi

pada hari cinta tak semua kisah cinta harus dikisahkan manis. ini soal cinta yang lain, yang seolah-olah cinta. cinta basa-basi.

aku menahan-nahan diri menceritakan hal ini. namun, pagi ini, sehabis membereskan rak buku dan menemukan kenangan-kenangan berdebu, kupikir, ada baiknya kuceritakan.

kawanku, seorang lelaki yang baik hati. ia mudah memberi dan suka sekali menyenangkan orang. kurasa ini kelebihan sekaligus kekurangannya. kisah cintanya tak pernah berakhir beres. aku tak paham mengapa bisa begitu. mungkin ini sama dengan hipotesis terbaru di dunia kedokteran soal penyakit kanker sebagaimana yang diceritakan raditya dika kemarin petang dalam perjalanan pulang kami ke jakarta. kata raditya dika ada penelitian baru yang mengatakan bahwa kanker diidap seseorang karena faktor dia kurang beruntung. ada sel yang memang jahat dan sel itu secara acak ada di tubuh orang-orang yang dikategorikan ‘bad luck’. 

kurasa, temanku ini pun seperti itu. ia memacari perempuan-perempuan yang entah kenapa semua kisah cintanya selalu berakhir dengan kebohongan dan masalah. ia menunjukkan whatsapp yang baru masuk. mantan pacarnya mengontak dan bilang kalau ia butuh uang untuk makan.aku mengerenyit. ‘mengapa ia masih minta kepadamu?’ tanyaku yang dijawab dengan sepasang bahu berkedik.

‘kau beri?’ ia mengangguk.

‘mengapa?’temanku diam sebentar. ‘dia selalu kembali kepadaku untuk meminta uang.’

‘hanya untuk itu?’ kejarku. temanku melirik sebentar, seorang pelayan kafe meletakkan segelas es lici pesananku di meja. ‘lalu?’ cecarku.

‘sewaktu ia pacaran denganku, aku membiayai seluruh hidupnya,’ cerita temanku. mereka putus karena perempuan itu ketahuan berbohong. ia menyelingkuhi temanku. padahal, sama sepertiku, temanku ini hanya meminta pasangannya jujur. kalau di tengah-tengah hubungan, kekasihnya menyukai orang lain, maka ia lebih memilih diberi tahu daripada diselingkuhi. tapi kadang, manusia selalu merasa ingin lebih diinginkan dan ingin dianggap baik, bukan? mungkin ini alasan orang tak bisa jujur. selain kenyataan bahwa ia punya ketergantungan secara finansial pada pasangannya.

ketika mendapati kenyataan ia dibohongi, temanku bilang ia meminta perempuan itu berhubungan saja dengan lelaki yang jadi pacar rahasianya dan keluar dari rumah temanku malam itu juga. ia memberikan dua pilihan: pulang ke bandung atau terserah tinggal di mana saja. ‘kalau mau pulang ke bandung, aku antar sampai travel. kalau mau tinggal di tempat lain, ke tempat laki-laki itu, aku antar ke tempat yang mau kamu tuju selama masih di jakarta,’ tawar temanku.

‘kamu baik,’ komentarku.

dia tertawa. ‘aku hanya melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawabku. setidaknya memastikan ia tak terlunta-lunta di jalan.’

lalu sekarang, setiap kali ada masalah keuangan, perempuan masih itu mencari temanku. ‘kau tahu kalau kamu dimanfaatkan olehnya?’

‘tahu.’

‘dan tetap dikasih?’

‘iya. tapi selalu tak sebanyak yang diminta.’

aku menggeleng. aku tak paham dengan semua yang ia ceritakan. temanku bodoh. tentu saja ini menurutku! tapi aku tahu dia tak bodoh. ia hanya terlalu baik hati dan ini yang dimanfaatkan oleh perempuan-perempuan itu.

‘aku iri. perempuan-perempuan itu bisa merengek dan meminta uang begitu saja kepada para lelaki. sementara aku, aku bekerja keras untuk semua yang aku inginkan,’ kataku sebelum meneguk es lici.

temanku lagi-lagi tertawa, ‘jangan berubah. aku mungkin hanya kasihan kepada perempuan-perempuan itu.’

‘kurasa, kau menikmati ketergantungan mereka kepadamu. kau menikmati perasaan yang muncul karena diandalkan perempuan-perempuan itu,’ tukasku. kasihan tidak cukup, menurutku.

temanku diam. di mataku, ia tetap laki-laki yang suka dianggap pahlawan, penyelamat. laki-laki punya ego itu, sedikit atau banyak. perempuan makhluk licik. kubilang begini karena aku dari spesies ini. aku salah satu dari perempuan yang bisa memanfaatkan sisi ‘keinginan laki-laki dianggap berjasa’ untuk mendapatkan sesuatu yang aku mau. mungkin bukan uang atau barang, melainkan pada wilayah lain, semisal memenangkan sebuah kesepakatan.

***

lain waktu, temanku yang lain bilang kalau ia mulai pusing menghadapi perempuan yang dipacarinya karena ia berhenti meminta barang-barang mewah dan menolak uang yang diberikan.

‘aku selalu khawatir bila perempuan berhenti meminta,’ cerita temanku sambil memegang kepalanya, seolah itu perihal yang rumit.

‘kalau begitu, tinggalin aja,’ saranku enteng.

‘belum. masih suka.’

‘kalau masih suka, kenapa pusing ketika ia berhenti meminta?’

‘perempuan kalau ia sudah berhenti meminta barang-barang, itu berarti ia pakai hati. ini bisa gawat.’ temanku ini bicara soal pacar gelapnya. tentu ini meresahkannya. ia tak mungkin meninggalkan perempuan ‘terang’-nya. kubilang jika memang begitu, mungkin ini tanda-tanda untuk ambil ancang-ancang mengakhiri hubungan.

‘lalu bagaimana dengan perempuan yang tak meminta barang, uang, dan juga tak meminta perhatianmu secara berlebihan? pernah mendapati perempuan seperti itu?’ tanyaku. aku jadi ingin tahu apakah ada perempuan-perempuan seperti itu dalam hidupnya.

‘itu perempuan mahal. bisa lebih pusing lagi ngadepinnya. gue bisa waswas sepanjang hari mikirin gue ini apa di hidupnya.’

‘kalau perempuan selingkuhanmu menyelingkuhimu?’ iseng aku bertanya.

‘nggak bisa. perempuanku punya aku, sekalipun ia selingkuhanku. kami lelaki tidak mau berbagi perempuan,’ jawabnya tegas. aku menyandarkan punggung ke kursi sambil menatap lekat-lekat temanku. ia terkekeh sambil balas menatap. ‘itu sifat laki-laki,’ sambungnya. ia bilang ia lebih suka menghadapi perempuan yang hanya butuh uangnya dan ingin dibelikan barang-barang mewah. perempuan-perempuan ini tidak akan merepotkannya. begitu ia merasa cukup, ia tinggal berhenti memberi, dan perempuan-perempuan itu akan pergi begitu saja dari hidupnya tanpa meninggalkan masalah.

‘sebaiknya menghadapi perempuan-perempuan seperti ini tak usah repot-repot. kita sedang tidak bicara cinta, kan?’

‘kita bicara cinta. cinta basa-basi,’ jawabku. [13]

windy ariestanty

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met yet. she thinks that she is the wind.

One thought on “cinta basa-basi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *