sadar takut

image

 

Saya termasuk orang yang percaya, rasa takut yang muncul ketika sedang melakukan sesuatu merupakan indikasi bahwa apa yang tengah saya kerjakan adalah hal besar.

 

PADA April 2012, saya diundang menjadi pembicara untuk sebuah konferensi internasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Konferensi ini membahas soal dunia perjalanan dan pengembanganindustri pariwisata. Tanpa berpikir panjang, saya mengiakan. Tentu saja sifat
saya yang satu ini sering membuat saya berhadapan dengan banyak ‘tantangan’,
kalau tak mau disebut ‘persoalan’. Sama seperti yang terjadi saat itu.

Pada hari ketika panitia mengirimkan link website yang
berisi informasi, jadwal acara, dan siapa saja yang menjadi pembicara,
pertanyaan itu baru muncul di kepala saya. ‘Siapa saja pembicara lainnya?’

Saya meramban beberapa menit sebelum kemudian melorot lemas
di tempat duduk saya. Pembicara lainnya berasal dari Amerika Serikat, Inggris,
Fillipina, Australia, India, dan Singapura. Beberapa nama yang selama ini hanya
saya kenal lewat pemberitaan dan sepak terjang internasionalnya. Dan, saya
satu-satunya pembicara yang berasal dari negara tak berbahasa Inggris. Fakta
itu menimbulkan kecemasan dalam diri saya.

Piglet—dalam ‘Sadar Penuh Hadir Utuh’ karya Adjie Silarus disebut Monkey Mind—di kepala saya berseru,
‘Mampus lo! You just created a new
problem
!’

Tapi, kata ‘iya’ sudah saya layangkan. Dan saya paling
pantang mundur. Jadi pembicara di Indonesia, sih, bukan masalah buat saya. Saya
sering menjadi pembicara di berbagai forum. Mulai dari forum remaja sampai
forum yang pesertanya kaum professional dan berusia jauh di atas saya. Jumlah
pesertanya pun beragam, dari puluhan hingga ratusan orang. Selama ini saya
lancar-lancar saja.

Tapi kali ini berbeda. Ini pertama kalinya saya jadi pembicara
di forum berskala internasional dan dipanelkan dengan pembicara-pembicara dari
negara lain. Belum lagi, presentasi harus saya lakukan dengan bahasa Inggris
sepenuhnya. Rasa tidak percaya diri pelan-pelan merambati saya. Saat itu, Piglet
kembali berkata, ‘Bagaimana kalau aksen
bahasa Inggrismu janggal? Bagaimana
kalau di tengah-tengah presentasi, kamu kesulitan berbicara bahasa
Inggris? Atau kalau ada yang bertanya dan kamu nggak ngerti?
Kamu akan
tampak bodoh di forum itu.’

Saya menarik napas. Piglet sempat mengusulkan saya
membatalkan kehadiran saya daripada mempermalukan diri di forum tersebut.
Namun, suara lain muncul. Anak kecil dalam diri saya—saya menamakannya Little
W—justru meloncat-loncat bersemangat. ‘Apa yang kamu takutkan? It’s a new challenge. Take me to higher
level.  Let’s have fun,
Big W!’

‘Hey, bagaimana kalau presentasinya jelek? Bagaimana
kalau  bahasa Inggrisnya belepotan?’
Piglet menukas. ‘Ia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.’

Little W menjawab, ‘Dia tidak akan tahu seberapa tinggi dia
bisa melompat kalau dia tidak pernah melompat.’

Jawaban itu berhasil membungkam Piglet. Saya teringat
dengan tulisan tentang filosofi kosong di Life
Traveler,
buku perjalanan naratif yang saya tulis dan menjadi salah satu
alasan mengapa panitia mengundang saya sebagai pembicara. Akan sangat sulit
untuk saya belajar dan melakukan hal baru kalau tak membiarkan diri saya
kembali kosong, kembali ke titik mula, kembali tidak tahu apa-apa. Saya putuskan
menutup laman website acara, membaca e-mail panitia sekali lagi, fokus kepada
topik yang mereka minta, dan mengerjakan presentasi tanpa memikirkan soal
pembicara lainnya.

***

MALAM sebelum acara, saya tidak bisa tidur. Piglet kembali menguasai saya. beragam
pikiran bermunculan. Bagaimana kalau saya lupa caranya berbicara dengan bahasa
Inggris? Bagaimana kalau saya tidak tahu harus menjawab apa? Bagaimana kalau
presentasi saya tidak cukup baik? bagaimana kalau saya dianggap bodoh oleh
peserta dan pembicara lainnya, seperti yang dikatakan Piglet?

Kembali perasaan takut dan cemas menyelubungi saya. Saya
masuk ke kamar mandi dan bercermin. Mengajak bicara Little W. Gadis kecil itu
tertawa. Dia bilang, dia tak mengenali saya yang mencemaskan hal-hal tak perlu.
‘Kalaupun besok kamu nggak keren, memangnya kenapa? Anggap ini arena bermain,
Big W!’ katanya, ‘kamu hanya perlu sepenuhnya berada di sana. Just do your best. Now is the best. Next, we
do better
.’

Pukul 4 pagi, setelah berlatih presentasi berkali-kali, saya
menyusup masuk ke balik selimut. Memejamkan mata, merebahkan tubuh, dan
membiarkan otak bekerja sembari saya tidur.

Pukul lima pagi, saya sudah duduk di sofa dekat jendela
yang saya tepikan tirainya. Langit fajar terpampang. Hari itu tiba juga. Hari
di mana, saya hanya perlu berangkat dari titik kosong dan menikmati arena
permainan yang ada di ballroom tempat konferensi internasional berlangsung.

I know it is not
easy at all, Big W. But you know well how powerful your mind is. Stop worrying,
just jump in. Beat your mind
,’ Little W menyemangati. 

Seperti yang saya
sepakati dengan dia, ini adalah arena bermain. Maka hari itu, saya memilih
menggunakan kaus bertuliskan ‘I Love Indonesia’ dan celana jins favorit saya.
Menjadi otentik ketika terintimidasi bukan hal yang mudah.

Semula saya membayangkan forum akan disajikan dengan kasual,
sebagaimana forum-forum yang membahas soal perjalanan kerap diadakan di
Indonesia. Tapi, rupanya yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, berbeda. Lebih
dari 500 orang ada di ruangan itu. Asal mereka pun beragam. Kembali perasaan
jiper dan tidak percaya diri menguasai saya.

‘Tuh, kan! Lihat sendiri hasil dari kelakuanmu yang terlalu
spontan!’ Piglet berseru. Sewaktu melihat para pembicara satu per satu
menyampaikan materi mereka, suara Piglet semakin kencang memenuhi benak saya. ‘Mati
lo! Lihat mereka keren banget, kan? Mereka nggak punya kendala sama bahasa,
loh. Cuma lo sendiri yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris.’

Dua jam sebelum sesi saya, saya memutuskan pindah duduk ke
pojok belakang ballroom. Fokus menyimak semua materi yang disampaikan sekaligus
mengamati para audiens. Mendadak perut terasa mulas. Saya sadar, ini hal besar
untuk saya. Bila saya berhasil melewati tantangan yang satu ini, maka dengan
sendirinya saya telah membuat ‘cagak’ baru untuk diri saya sendiri.

Perlahan saya
mengembuskan napas. Memejamkan mata sebentar dan mulai mengatur
pernapasan. Saya pernah mengikuti kelas pilates dan meditasi. Sadar napas
adalah hal yang selalu diingatkan oleh pelatih untuk membantu saya kembali ke pusat
diri. Perlahan-lahan suara-suara di kepala saya hilang.

Mendadak menjadi tidak penting lagi buat saya untuk tampil
keren dengan aksen bahasa Inggris sempurna. Saya hanya ingin menyampaikan
presentasi sebaik mungkin saat itu. Dan itu tak akan bisa saya lakukan kalau
saya terus membandingkan diri saya dengan yang lain. Ini bukan ajang kompetisi
adu pintar atau adu keren. Ini soal saya berbagi apa yang selama ini saya tahu
dan lakukan. Bukankah karena alasan itu mereka mengundang saya?

Seseorang menepuk pundak saya dari belakang. Shane Dallas,
The Travel Camel. Salah satu pembicara asal Australia yang ramahnya bukan
kepalang. ‘Sebentar lagi giliranmu, kan? Saya akan ada di sini untuk
mendukungmu!’ katanya sambil tersenyum. ‘You
will be fine
,’ katanya sambil duduk di sebelah saya.

Saya mengangguk. Little W bersorak. Kembali ia memenangkan
pertarungan dengan si Piglet. Otak saya kembali kosong. Yang ada hanya
keinginan untuk bermain dan menikmati apa yang akan saya jalani dalam dua jam
ke depan bersama 3 pembicara lainnya.

Moderator memanggil nama saya dan tiga pembicara lain.
Shane berdiri, berjalan di samping saya lalu mengambil kursi paling depan
bersama dengan beberapa rekan pembicara yang sudah mengisi sesi-sesi
sebelumnya.

Saya memulai presentasi dengan sebuah pengakuan kepada
audiens bahwa ini pertama kalinya saya menjadi pembicara di forum internasional
di negara lain. Saya deg-degan sampai-sampai tangan-kaki saya gemetar. Mereka
tertawa. ‘And, my English is not so good
by the way but I will not say sorry for that
,’ sambung saya. Seluruh
penjuru ruangan tertawa. Mereka mengira saya sedang bercanda. Perlahan-lahan
perasaan tenang menyelimuti saya. Menyadari dan mengakui apa yang saya rasakan
justru menolong saya.

Saya menikmati sesi presentasi saya. Sesungguhnya saya
tidak tahu dari mana keberanian saya muncul. Saya berbicara sambil meloncat,
berjalan mengelilingi panggung, bahkan membuat lelucon yang membuat sesi saya
penuh gelak tawa. Ketika remote yang berfungsi untuk menggerakkan slide presentasi tidak berfungsi, saya bisa dengan sigap meminta seseorang panitia
mengoperasikan laptop dan memindahkan slide ketika mendengar saya
mengatakan ‘Click click’ kepadanya.

Itu adalah dua jam yang paling mendebarkan sekaligus menyenangkan.
Semua yang saya cemaskan tidak terjadi. Bahkan di akhir presentasi, saya
mendapatkan tepuk tangan meriah, tak hanya dari para audiens, tetapi juga para
pembicara lain yang mengikuti forum saya. Shane dan Ali Watters (pembicara dari
Amerika Serikat) menyambut saya dengan lengan membentang di ujung panggung dan
mengatakan bahwa saya membuat forum tadi menjadi menyenangkan untuk semua
orang. ‘And your English is not bad. Liar!’
kata Shane. Sampai hari terakhir konferensi, setiap kali saya bertemu peserta
atau para pembicara lain, mereka selalu menyapa dan memanggil saya dengan
sebutan, ‘Click Click Girl from Indonesia’.

Hari itu saya belajar untuk selalu merangkul rasa takut
saya sekaligus melatih kesadaran diri ketika perasaan itu menghampiri saya. Merasa takut adalah hal yang wajar dan manusiawi.
Namun, memutuskan tidak mencoba karena takut gagal ternyata lebih mengerikan
buat saya. [13]

image

note: ada 20 tiket kelas “Sadar Penuh” dari Adjie Silarus untuk pembeli PO yang beruntung. mungkin kalian yang beruntung itu.

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *