[ belum punya judul ]

image

 

tadi pagi sewaktu memeriksa foto-foto perjalanan ke jepang tiga tahun silam, saya terantuk di foto ini. 

tak ada yang istimewa pada foto ini. tapi, saban melihatnya, saya jadi teringat alasan mengapa saya memotret patung bayi bertopi merah yang mengelilingi patung dewi kesuburan jepang di sebuah kuil yang tak saya ketahui namanya, di sekitaran asakusa, tokyo. 

pagi itu, menjelang subuh, saya memutuskan berkeliling seorang diri di sekitar kuil sensoji. kata seorang petugas toko kelontong yang mengobrol dengan saya semalam, mungkin saya bisa menemukan hal-hal yang menarik di lorong-lorong di sekitaran kuil yang masih terjaga keasliannya. lorong-lorong itu katanya sangat otentik, memberikan gambaran suasana kehidupan masyarakat jepang keseharian. ia benar, pagi itu saya terantuk pada pemandangan seorang lelaki tua yang sedang belajar naik sepeda di depan kuil kecil. anaknya, seorang lelaki muda, mengawasi dari jauh. ia mengekori dari jarak beberapa meter di belakang sepeda ayahnya. lelaki tua itu sempat jatuh, anaknya berkata sesuatu yang dijawab dengan kibasan tangan. lelaki tua bangkit kembali, ia mencoba menaiki sepedanya. oleng sepeda itu berjalan, si anak mengekor dari belakang. ia sempat membungkukkan badan kepada saya, yang urung memasuki gerbang kuil karena tak ingin mengusik mereka.

memasuki kuil kecil, saya disambut patung-patung bayi bertopi merah. di tengah-tengah ada patung seorang perempuan yang sekujur tubuhnya dirangkaki bayi-bayi bertopi merah juga. entah kenapa, tiba-tiba mata saya banjir air mata. saya sesegukan tanpa suara.

tiba-tiba seorang perempuan menghampiri saya, ia mahasiswa magang. ‘itu patung dewi kesuburan. yang datang ke sini biasanya mereka yang menginginkan anak, atau anak yang ingin mengucapkan terima kasih kepada orangtuanya.’

saya menyeka air mata sambil menahan malu. ia mengulurkan tisu.

‘kuil ini tak ada di peta.’ saya menunjukkan peta wisata yang saya dapatkan dari hostel. perempuan muda menggeleng. ‘jarang turis yang berjalan sampai jauh ke dalam lorong di daerah asakusa. mereka berhenti di kuil besar.’

‘kenapa saya tiba-tiba menangis?’ saya entah kenapa melontarkan pertanyaan itu kepadanya.

‘kita kadang tak tahu alasan kita menangis,’ sahutnya bijak. ‘tapi mungkin kuil ini memberi pengaruh kepadamu,’ ia menyambung. 

saya menatapi perempuan muda yang rambutnya sebahu itu. bajunya putih, roknya hitam panjang melampai dengkul. ‘saya tiba-tiba teringat kepada papa saya dan entah mengapa air mata mengucur begitu saja,’ aku saya malu-malu.

ia mengamati patung dewi kesuburan sebelum mengarahkan pandangannya ke gerbang kuil. ‘aku melihat kau menatapi bapak dan anak di depan gerbang kuil tadi,’ katanya.

saya tertawa kecil dan merasa jengah karena tertangkap basah. saya tadi memang memilih berdiri di seberang jalan, di depan gerbang kuil, mengamati bapak dan anak tadi. ‘kau kenal mereka?’

‘sudah dua minggu aku magang di kuil ini. bapak tadi baru sembuh dari lumpuh. ia ingin segera bisa mengendarai sepeda seperti biasanya. setiap pagi seusai sembahyang, mereka berlatih di depan kuil ini. anaknya selalu menemani.’ kata perempuan itu, hari ini si bapak jatuh tak sebanyak biasanya.

saya diam-diam menyukai sosok si anak yang berjalan mengekor beberapa meter di belakang si bapak. sewaktu bapaknya terjatuh, refleks ia ingin menolong, tetapi saya melihat ia menahan dirinya. alih-alih menolong, ia malah berkata sesuatu yang dijawab si bapak dengan kibasan tangan.

kuil kecil itu ada di salah satu lorong-lorong di sekitar kuil sensoji, asakusa. saya tak ingat lorong yang mana. pagi itu saya berjalan tanpa berharap bertemu apa-apa. tapi sebagaimana yang dikatakan petugas toko kelontong, saya justru bertemu sesuatu. setiap kali melihat foto ini, saya terkenang pada pagi di asakusa, di kuil kecil, yang membuat saya menangis sesegukan karena terkenang kepada papa saya.

dulu, sewaktu kecil, papa menuntun saya berjalan dan mengajari naik sepeda. ia juga membiarkan saya jatuh. katanya, tak ada seorang pun yang bisa naik sepeda tanpa pernah jatuh sebelumnya. 

akan ada hari ketika semua berbalik. kita yang menjaga orangtua. seperti si anak yang melihat dari jauh sang ayah yang tengah berjuang untuk kembali bisa mengendarai sepeda, kembali jatuh untuk bisa mengayuh tanpa oleng dan limbung. lalu dalam diam mengekor sambil menatap awas dari belakang.

‘kau mau berdoa?’ perempuan muda itu bertanya. saya mengangguk.

di kuil kecil yang dipenuhi patung bayi bertopi merah merayapi tubuh dewi kesuburan, saya berdoa. doa yang tidak berisi permintaan, melainkan berterima kasih untuk memiliki papa yang mengizinkan saya terbang bebas ke mana pun, tetapi tetap memberikan sarang. yang mengizinkan saya jatuh, tetapi dalam diam mengulurkan tangan. terima kasih sebab ia yang menjadi papa saya. [13]

*) saya belum menemukan judul yang pas untuk tulisan ini. kalau ada yang ingin beride, tinggalkan di komentar, ya. terima kasih.

Author: windy ariestanty

a writer who loves traveling and falling in love with places she hasn't visited and people she hasn't met. she thinks that she is the wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *